Pada satu hari dirumah kedatangan tamu, kebetulan bapak yang menemani tamu itu. Tamu itu mengatakan bahwa dirinya mengikuti majelis zikir, hampir tiap hari dia mengamalkan amalan yang diberikan ustadznya. Kata ustadznya jika zikir itu dia ucapkan sekian ribu kali dia akan bertemu dengan guru sejati. “bapak, tiap kali saya mengamalkan bukannya saya ketemu guru sejati saya tapi malah ketemu omelan istriku yang marah-marah, bentak-bentak bahkan sampai berbuat kasar. Sebelum saya mengamalkan amalan ini. Istri saya selalu hormat dan sayang. Begitu saya lafadzkan zikir ini kok malah istri saya kurangajar ya..” Keluhnya. “Gimana dong pak?”
“Nanda, sebenarnya apa yang diucapkan ustadz itu bener dan istripun juga tidak salah sebab istri itulah yang menjadi guru sejati kehidupanmu dengan omelan, marah-marahnya.” Kata bapak “Jadi guru sejatimu sudah ketemu pada diri istrimu."
Senin, 11 September 2006
Sholat Khusyu’
Setiap kali saya sholat selalu tidak bisa khusyu’ banyak sekali yang tidak saya pikirkan muncul malah dipikiran sewaktu sholat. Bahkan ada teman bercerita saking tidak khusyu’ waktu sholat, jika kehilangan kunci dia sholat setelah itu dia akan tahu dimana dia menaruh kuncinya.
Pada satu kesempatan saya betanya pada bapak, bagaimana sih sholat biar khusyu’ itu. Kata bapak, “sewaktu sholat taruh aja kepala.” Maksudnya bagaimana pak, tanya saya. Jawab bapak, “Maksudnya pada waktu sholat jangan banyak berpikir.”
Pada satu kesempatan saya betanya pada bapak, bagaimana sih sholat biar khusyu’ itu. Kata bapak, “sewaktu sholat taruh aja kepala.” Maksudnya bagaimana pak, tanya saya. Jawab bapak, “Maksudnya pada waktu sholat jangan banyak berpikir.”
Kamis, 07 September 2006
Tamu Aneh
Pada satu hari dirumah bapak kedatangan tamu, saya tak begitu
mengenalnya. Tamu itu duduk terdiam, sesekali senyum melihat
kedatangan saya. Dia hanya duduk diam tanpa berkata-kata. Tak lebih
dari satu jam tamu itu pamit.
Melihat kelakuan tamu yang aneh itu, saya-pun bertanya pada
bapak. "siapa pak tamu itu?" "tidak tau" "maksudnya kemari mau
ngapain pak?" "tidak tau." Emangnya bilang apa?" Tidak ngomong apa-
apa."
Saya dibuat bingung oleh jawaban bapak. "Tamu kok aneh ya?" Kata
saya. "Sebenarnya tamu itu tidak aneh, dia mengajarkan kepada kita
bagaimana cara berdiam diri yang baik." Jawab bapak.
mengenalnya. Tamu itu duduk terdiam, sesekali senyum melihat
kedatangan saya. Dia hanya duduk diam tanpa berkata-kata. Tak lebih
dari satu jam tamu itu pamit.
Melihat kelakuan tamu yang aneh itu, saya-pun bertanya pada
bapak. "siapa pak tamu itu?" "tidak tau" "maksudnya kemari mau
ngapain pak?" "tidak tau." Emangnya bilang apa?" Tidak ngomong apa-
apa."
Saya dibuat bingung oleh jawaban bapak. "Tamu kok aneh ya?" Kata
saya. "Sebenarnya tamu itu tidak aneh, dia mengajarkan kepada kita
bagaimana cara berdiam diri yang baik." Jawab bapak.
Selasa, 05 September 2006
Ingin Menjadi Diri Sendiri
Biasanya di Labschool Cinere pada masa orientasi siswa baru banyak hal yang dilakukan untuk mengenalkan sekolah pada siswa baru tersebut. Setelah pengenalan dilakukan tiga hari tibalah hari pertama yang paling mendebarkan yaitu masuk kelas baru.
Salah seorang teman bercerita, bahwa ketika dirinya berdiri didepan kelas sebelum pelajaran dimulai, dirinya berbasa basi untuk perkenalan. “Nih, andi yang duduk paling depan, besok kalo besar pengen jadi apa?” “Pengen jadi presiden pak.” Jawab andi dengan lantang. “Kalo anton?” “anton pengen jadi jendral, pak.” Jawab anton. “Nah, kalo salim?” “Kalo salim, pengen jadi diri sendiri pak..”Kata salim. Mendengar jawaban itu seluruh kelas tertawa.
Mendengar cerita itu saya sejenak berfikir, apakah ada yang salah pengen menjadi sendiri?
Salah seorang teman bercerita, bahwa ketika dirinya berdiri didepan kelas sebelum pelajaran dimulai, dirinya berbasa basi untuk perkenalan. “Nih, andi yang duduk paling depan, besok kalo besar pengen jadi apa?” “Pengen jadi presiden pak.” Jawab andi dengan lantang. “Kalo anton?” “anton pengen jadi jendral, pak.” Jawab anton. “Nah, kalo salim?” “Kalo salim, pengen jadi diri sendiri pak..”Kata salim. Mendengar jawaban itu seluruh kelas tertawa.
Mendengar cerita itu saya sejenak berfikir, apakah ada yang salah pengen menjadi sendiri?
Cemas itu Menyehatkan
Seringkali saya cemas karena mengharapkan sesuatu yang belum dapat kepastian. Misalnya jika saya hendak mengadakan seminar belum mendapatkan sponsor hal itu membuat saya cemas, bisa semalaman nggak bisa tidur. Paling yang saya kerjakan mengetik buat tulisan seperti sekarang ini saya lakukan. Salah satu yang membuat cemas lagi jantung saya suka berdebar-debar kencang.
Istri saya yang lulusan IIQ (Institute Ilmu Quran) bukanlah pakar menejemen kecemasan namun punya resep yang cukup membuat saya tenang. Katanya begini, “Mas agus ini mudah cemas menghadapi sesuatu itu bertanda sehat. Sebab setiap cemas kan jantung berdebar-debar, kalo jantung berdebar-debar, jantung lagi olah raga. Semakin berdebar semakin sehat.”
Oo, gitu ya? Berarti cemas itu sehat ya?
Istri saya yang lulusan IIQ (Institute Ilmu Quran) bukanlah pakar menejemen kecemasan namun punya resep yang cukup membuat saya tenang. Katanya begini, “Mas agus ini mudah cemas menghadapi sesuatu itu bertanda sehat. Sebab setiap cemas kan jantung berdebar-debar, kalo jantung berdebar-debar, jantung lagi olah raga. Semakin berdebar semakin sehat.”
Oo, gitu ya? Berarti cemas itu sehat ya?
Buanglah Kebencianmu
Pada satu kesempatan saya mendengarkan pengajian dimasjid. Seorang ustadz berceramah mengenai cara kita bahagia maka membuanglah kebencian. Pada satu sesi tanya jawab ada seorang penanya. “Ustadz, apakah saya juga harus membuang benci saya terhadap setan?”
“Iya, buanglah semua kebencian sebab kebencian selain merusak jiwa ada perbuatan dari setan yang bisa diambil hikmahnya bahwa karena kebenciannya terhadap manusia, setan terjerumus dalam api neraka yang kekal abadi .” Jawab sang ustadz.
Tak terbayangkan oleh saya apa jadinya manusia yang seluruh tubuhnya dipenuhi rasa benci ya?
“Iya, buanglah semua kebencian sebab kebencian selain merusak jiwa ada perbuatan dari setan yang bisa diambil hikmahnya bahwa karena kebenciannya terhadap manusia, setan terjerumus dalam api neraka yang kekal abadi .” Jawab sang ustadz.
Tak terbayangkan oleh saya apa jadinya manusia yang seluruh tubuhnya dipenuhi rasa benci ya?
Belajar Dari Hana
Biasanya dihari libur kegiatan yang paling menyenangkan buat saya adalah jalan-jalan pagi hari atau sore hari. Kesempatan jalan-jalan bersama Hana juga digunakan oleh istri saya untuk menyuapi. Makanannya beragam mulai dari bubur ayam sampai sayur bening. Istri saya selalu mengerti Hana akan mau makan jika ada temannya. Kelihatan ada sarah, anak tetangga sedang bermain istri saya menunjuk sambil mengatakan, “kita deket sarah.”
Seperti umumnya anak-anak seumurannya Hana kadang makannya lahap, kadang juga susah. Karena kesibukan ditengah pekerjaan, belakangan agak jarang menemani Hana Jalan-jalan.
Sore itu saya melihat Hana dengan ibunya ditemani sarah. Hana menggeleng-geleng kepalanya untuk disuapi. Ibunya memberikan tempe pada Hana, setelah itu Hana memberikan pada sarah. Baru kemudian Hana mau disuapin oleh ibunya. Istri saya menjelaskan Hana hanya mau makan jika ada makanan yang dibagi dengan temannya.
Dalam hati kecil saya mengatakan, “subhanallah, sore ini saya mendapatkan pelajaran berbagi dari Hana.”
Seperti umumnya anak-anak seumurannya Hana kadang makannya lahap, kadang juga susah. Karena kesibukan ditengah pekerjaan, belakangan agak jarang menemani Hana Jalan-jalan.
Sore itu saya melihat Hana dengan ibunya ditemani sarah. Hana menggeleng-geleng kepalanya untuk disuapi. Ibunya memberikan tempe pada Hana, setelah itu Hana memberikan pada sarah. Baru kemudian Hana mau disuapin oleh ibunya. Istri saya menjelaskan Hana hanya mau makan jika ada makanan yang dibagi dengan temannya.
Dalam hati kecil saya mengatakan, “subhanallah, sore ini saya mendapatkan pelajaran berbagi dari Hana.”
Langganan:
Postingan (Atom)