Awal pernikahan kami, saya dengan istri menyepakati rumah tangga yang kami bangun adalah sebuah forum pembelajaran. Antara suami dan istri menjadi pembelajar. Semuanya berlalu begitu cepat, permasalahan silih berganti datang. Istri saya mengingatkan bahwa kita menjadi pembelajar, begitu katanya.
Pada satu kesempatan saya bertanya padanya, “apa sih maksudnya menjadi pembelajar?” Katanya, “Pembelajar tidak mengenal benar dan salah sebab semuanya proses belajar. Tidak saling mencari pembenaran dan tidak saling mencari kesalahan. Jika belajar berbuat salah. Ya, namanya juga sedang belajar.”
Pada perjalanan kehidupan sehari-hari jika menghadapi masalah jauh menjadi terasa lebih ringan dan lebih mudah menghadapi sebab sebagai pembelajar kami tidak mengenal benar salah. Ya namanya baru belajar to mas..
Kamis, 14 September 2006
Sakit itu anugerah, jika disyukuri akan terasa nikmat
Seorang teman bertahun-tahun menderita sakit Asma menasehati saya, “Sakit itu anugerah, jika disyukuri akan terasa nikmat.” Mulanya saya tidak mengerti apa maksudnya. Entah kenapa pada satu malam, perut saya sakitnya bukan main. Hanya gara-gara lupa sarapan, terus asyik dengan kesibukan tak terasa sudah sore. Maag kambuh bukan main sakitnya. Sakit bisa menghadang siapa aja dan kapan aja. Tidak kenal waktu dan tidak kenal tempat.
Tentunya mencegah lebih baik daripada mengobati, Nabi SAW mengingatkan jagalah lima sebelum datangnya lima, salahsatunya adalah “jagalah sehatmu sebelum sakitmu.” Menjaga kesehatan terasa lebih penting disaat kita sudah merasakan sakit. Dan sakit itu sendiri juga anugerah Allah SWT yang mesti disyukuri adanya.
Saya agak keheranan dengan pendapat teman yang mengatakan bahwa sakit itu anugerah, bagaimana mungkin sakit bisa disebut sebagai anugerah Allah SWT? Karena disaat sakit itu muncul, mana mungkin bisa berpikir itu anugerah. Disaat saya banyak bertanya kenapa, sakitnya bertambah sakit.
Lemah tak berdaya, hanya mampu mengucap “La haula wala kuawata ila billah” Tidak untuk melawan rasa sakit, tidak berkeras hati untuk lekas sembuh. Hanya berserah diri, sakit sehat, hidup mati adalah kehendak-Nya.
Rupanya rasa sakitpun berkurang. Proses penyembuhannya lebih cepat dan yang lebih penting lagi saya bisa memahami sesungguhnya makna nasehat seorang teman, “Sakit itu anugerah, jika disyukuri akan terasa nikmat.
Tentunya mencegah lebih baik daripada mengobati, Nabi SAW mengingatkan jagalah lima sebelum datangnya lima, salahsatunya adalah “jagalah sehatmu sebelum sakitmu.” Menjaga kesehatan terasa lebih penting disaat kita sudah merasakan sakit. Dan sakit itu sendiri juga anugerah Allah SWT yang mesti disyukuri adanya.
Saya agak keheranan dengan pendapat teman yang mengatakan bahwa sakit itu anugerah, bagaimana mungkin sakit bisa disebut sebagai anugerah Allah SWT? Karena disaat sakit itu muncul, mana mungkin bisa berpikir itu anugerah. Disaat saya banyak bertanya kenapa, sakitnya bertambah sakit.
Lemah tak berdaya, hanya mampu mengucap “La haula wala kuawata ila billah” Tidak untuk melawan rasa sakit, tidak berkeras hati untuk lekas sembuh. Hanya berserah diri, sakit sehat, hidup mati adalah kehendak-Nya.
Rupanya rasa sakitpun berkurang. Proses penyembuhannya lebih cepat dan yang lebih penting lagi saya bisa memahami sesungguhnya makna nasehat seorang teman, “Sakit itu anugerah, jika disyukuri akan terasa nikmat.
Selasa, 12 September 2006
Kehidupan Adalah Kematian
Saya mengenal seseorang mantan guru SD, setiapkali ketemu dengan dia selalu menunjukkan wajah kedamaian seolah semua kebutuhan hidupnya sudah tercukupi. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi ditengah hidup yang kompetitif dan keras ini, berbagai macam cara dihalalkan sementara ada orang yang bisa hidup dengan damai tanpa masalah.
Seperti halnya saya selalu dipusingkan dengan yang bayar listrik, bayar rumah, telpon, Hana yang mulai beranjak gede, sudah mesti mikirin biaya sekolah. Disisi lain yang membuat saya hormat semua persoalan begitu mudah baginya. Saya masih ingat ketika bertanya padanya, “bagaimana kedamaian bisa hadir didalam hidup kita?” Katanya, “Kehidupan adalah kematian dari segala bentuk keinginan. Disaat kita bisa mati dari segala bentuk keinginan itulah kedamaian hadir ditengah hidup kita.”
Bagaimana dengan kedamaian yang anda dapatkan?
Seperti halnya saya selalu dipusingkan dengan yang bayar listrik, bayar rumah, telpon, Hana yang mulai beranjak gede, sudah mesti mikirin biaya sekolah. Disisi lain yang membuat saya hormat semua persoalan begitu mudah baginya. Saya masih ingat ketika bertanya padanya, “bagaimana kedamaian bisa hadir didalam hidup kita?” Katanya, “Kehidupan adalah kematian dari segala bentuk keinginan. Disaat kita bisa mati dari segala bentuk keinginan itulah kedamaian hadir ditengah hidup kita.”
Bagaimana dengan kedamaian yang anda dapatkan?
Menerima Berarti Memberi
Ada seorang ibu muda bertutur kepada saya lewat email bahwa suaminya telah berselingkuh dengan berbagai macam penderitaan dia telah lewati, disakiti hatinya sampai disaat sang suami membutuhkannya. Toh masih juga setia menemani suaminya.
Sungguh sangat luarbiasa ibu muda ini mampu menerima kenyataan hidup dengan ikhlas. Kemampuannya menerima itu berarti telah memberi obat penyembuh bagi suaminya. Saya katakan padanya, mari ibu pada kesempatan yang baik ini kita sama-sama berdoa semoga Allah SWT membimbing suami ibu kembali ke jalan yang benar sehingga dapat berkumpul bersama keluarga, anak dan istrinya.
Sungguh sangat luarbiasa ibu muda ini mampu menerima kenyataan hidup dengan ikhlas. Kemampuannya menerima itu berarti telah memberi obat penyembuh bagi suaminya. Saya katakan padanya, mari ibu pada kesempatan yang baik ini kita sama-sama berdoa semoga Allah SWT membimbing suami ibu kembali ke jalan yang benar sehingga dapat berkumpul bersama keluarga, anak dan istrinya.
Menerima Berarti Memberi
Ada seorang ibu muda bertutur kepada saya lewat email bahwa suaminya telah berselingkuh dengan berbagai macam penderitaan dia telah lewati, disakiti hatinya sampai disaat sang suami membutuhkannya. Toh masih juga setia menemani suaminya.
Sungguh sangat luarbiasa ibu muda ini mampu menerima kenyataan hidup dengan ikhlas. Kemampuannya menerima itu berarti telah memberi obat penyembuh bagi suaminya. Saya katakan padanya, mari ibu pada kesempatan yang baik ini kita sama-sama berdoa semoga Allah SWT membimbing suami ibu kembali ke jalan yang benar sehingga dapat berkumpul bersama keluarga, anak dan istrinya.
Sungguh sangat luarbiasa ibu muda ini mampu menerima kenyataan hidup dengan ikhlas. Kemampuannya menerima itu berarti telah memberi obat penyembuh bagi suaminya. Saya katakan padanya, mari ibu pada kesempatan yang baik ini kita sama-sama berdoa semoga Allah SWT membimbing suami ibu kembali ke jalan yang benar sehingga dapat berkumpul bersama keluarga, anak dan istrinya.
Memberi Berarti Menerima
Ada seorang teman yang selalu menyediakan uang receh dikantong celananya. Beberapa kali saya sempat menemaninya bepergian dia selalu memberikan uang recehnya, mulai dari pengamen sampai peminta-minta. Buat saya sebenarnya perbuatan itu bukanlah yang aneh. Cuman saya terkadang tergelitik untuk menemukan pencerahan dari perbuatan teman saya ini. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya padanya.
“Mas, kenapa sih mesti repot-repot menyediakan uang receh untuk dibagikan buat orang lain?” Kata saya padanya.. “Apa yang kita beri berarti kitalah yang menerima.” Jawabnya. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa apa yang diberikan buat orang lain itu sebenarnya dirinyalah yang menerima. Bukan orang lain.
“Mas, kenapa sih mesti repot-repot menyediakan uang receh untuk dibagikan buat orang lain?” Kata saya padanya.. “Apa yang kita beri berarti kitalah yang menerima.” Jawabnya. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa apa yang diberikan buat orang lain itu sebenarnya dirinyalah yang menerima. Bukan orang lain.
Senin, 11 September 2006
Berhentilah Berfikir
Setiap kali ada kawan yang datang pada saya dengan segudang cerita masalahnya berharap masalahnya selesai dengan mndengarkan nasehat atau petuah saya. Padahal saya sendiri jika ada masaalah belum tentu saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. Lantas kenapa saya mesti memberi nasehat pada orang lain. Begitulah pertanyaan kritis saya terhadap diri sendiri.
Pada satu kesempatan saya pusing dengan masalah saya yang tak kunjung selesai bertanya pada bapak. Bapak saya menyarankan, “Berhentilah berfikir.” Saya terhenyak mendengar jawabannya. Wah gawat nih saya kalo disuruh berhenti berfikir. Kata saya dalam hati.
Sejak itu saya berusaha mencari makna, apa maksudnya berhenti berfikir. Sampai kemudian datang kawan yang biasa datang dengan segudang masalah itu. Selesai bercerita dia bertanya apa solusinya. Saya katakan, “apa menurutmu makna berhentilah berfikir?” Seminggu kemudian kawan itu datang lagi, dia tidak bercerita. Hanya mengatakan, hari ini saya sudah berhenti berfikir loh.”
Apa ya maksudnya berhentilah berfikir?
Pada satu kesempatan saya pusing dengan masalah saya yang tak kunjung selesai bertanya pada bapak. Bapak saya menyarankan, “Berhentilah berfikir.” Saya terhenyak mendengar jawabannya. Wah gawat nih saya kalo disuruh berhenti berfikir. Kata saya dalam hati.
Sejak itu saya berusaha mencari makna, apa maksudnya berhenti berfikir. Sampai kemudian datang kawan yang biasa datang dengan segudang masalah itu. Selesai bercerita dia bertanya apa solusinya. Saya katakan, “apa menurutmu makna berhentilah berfikir?” Seminggu kemudian kawan itu datang lagi, dia tidak bercerita. Hanya mengatakan, hari ini saya sudah berhenti berfikir loh.”
Apa ya maksudnya berhentilah berfikir?
Langganan:
Postingan (Atom)