Minggu, 11 Februari 2007

Pelayan Anak Yatim

Jika ada kesempatan berkunjung dimasjid berkubah emas, Meruyung, Depok. Berkenanlah mampir di panti asuhan "Harapan Bunda" tepat disebelah masjid. Disitulah ada seorang perempuan separuh baya yang dalam hidupnya digunakan untuk melayani anak-anak Yatim. Perempuan itu biasa dipanggil anak-anak panti dengan sebutan bunda.

Seorang teman dengan penuh kekaguman, bagaimana mungkin ada orang yang didalam hidupnya dihabiskan sebagai pelayan anak yatim. Dia mengatakan, "Dengan bunda menjadi pelayan anak yatim, sesungguhnya dialah yang dilayani oleh Alloh SWT." sungguh mulia apa yang dilakukan bunda. Terima kasih bunda..

Kamis, 08 Februari 2007

Pesan Istri

Kebahagiaan buat saya selalu hadir kapan saja. Seperti pagi ini sebelum saya berangkat mendapat ciuman dari sikecil Hana. sambil dipeluk erat seolah tidak boleh berangkat kerja. Dengan wajahnya yang lucu ketika sedang cemberut bagian dari adegan yang menggemaskan.

Rasanya menjadi berat melangkahkan kaki meninggalkan hana dan istri, nampak istri melambaikan tangan dan berpesan, "Hati-hati licin, kalo jatuh dijalan miscall ya mas?" Tersenyum saya mendengarnya.

Emangnya kalo jatuh dijalan, miscall. terus ngapain?

Selasa, 06 Februari 2007

Ojek Payung

Jakarta hujan seharian, dimana-mana kebanjiran. Banyak orang menjadi kesusahan. Turun dari angkot terpaksa diri untuk berteduh. Hujan semakin tidak reda, hujan malah menjadi-jadi. Anak-anak berlarian menawarkan payung. salah satunya menghampiri saya, “berapa sampai halte?” “tanya saya. dua rebu, om..” jawab bocah itu.

Sesampai halte, saya ambil lembar seribuan dua. Saya serahkan uang itu padanya. Bocah kecil dengan kaosnya yang basah kuyup dengan wajah memelas. “Om, tambahin dong seribu lagi..?” Ketika saya serahkan lagi satu lembar seribuan, wajah bocah kecil itu berubah ceria, berteriak sambil melambaikan tangannya. “Makasih, om..” Itulah Jakarta ditengah hujan dan banjir masih ada keceriaan

Mudah Gembira

Pada diri orang yang mudah gembira, dia akan sulit menderita. Tubuh kita selalu mengikuti hati kita. Jika hati kita mudah gembira akan menjauhkan diri dari penderitaan. banyak orang yang jika saya tanya, hari ini sudah tersenyum berapa kali. Susah menjawabnya sebab senyuman mampir menjadi barang langka, tapi tidak bagi orang yang mengerti cara menikmati hidup maka dia akan mudah tersenyum pada siapapun.

Seorang terpelajar dengan kehidupannya yang sederhana ditengah uisanya yang setengah abad makin tambah kesibukkan dengan berbagai aktifitas masih juga energik. Saya tanyakan bagaimana resep menjaga staminanya. Dia katakan, “Jika kita mudah bahagia, semua kegiatan selalu menyenangkan. Semakin bertambah usia, semakin menikmati hidup. maka terjauh dari segala penyakit dan penderitaan.”

Hati Yang Hening

Ada seorang teman, profesional muda di salah satu company TI. Dia bertutur, dirinya tidak bisa menghadapi kegalauan hatinya, menyebabkan dirinya tidak bisa bekerja dengan baik. Mengaji, sholat sudah tidak mampu menenangkan hatinya. dia bertanya, bagaimana mengatasi kerisauan hatinya.

Saya katakan padanya, “Hati yang resah dan galau adalah hati yang terlalu banyak keinginan trus tidak terpenuhi, kenapa tidak membuat hati menjadi hening. menjalani hidup mengalir apa adanya, tidak ada yang dipaksakan.. Bukankah demikian hidup menjadi indah?”

Tak lama kemudian dia datang dengan wajah berseri-seri dan menyatakan bahwa dirinya sudah kembali bekerja. Katanya hidup berserah diri lebih mudah untuk menjalaninya.

Kekayaan Sejati

Ditengah hidup krisis penuh ketidakpastian. Hujan terus menerus. Banjir dimana-mana. Jika tidak kokoh pondasi keimanan membuat orang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rizki. Tapi tidak demikian dengan bapak penjual gorengan distasiun kereta api. Wajahnya murah senyum, ramah menghadapi pembeli. Dia bertutur memiliki tujuh anak. Semuanya bisa sekolah bahkan yang besar bisa sampai lulus SMA. Saya tanyakan padanya, Bagaimana dia bisa memiliki itu semua?”

“Mudah saja, jika kita hidup sederhana maka hadir kekayaan sejati. Hati menjadi tenang, kerja giat. Keluarga bahagia. apa lagi yang kita cari dalam hidup ini selain itu?” Katanya.

Jakarta Terendam

Hujan merendam Jakarta, semuanya jadi susah. harapan dan putus asa membaur menjadi satu. Awalnya jumat malam saya dikantor, seorang teman dari Kampung Melayu mengabarkan rumahnya terendam. saya segera menuju Kampung Melayu. Basah kuyup terguyur air hujan. Sampai malam bersama warga mendirikan tenda. Orang-orang berdatangan, ikut membantu dapur umum. Semua berkumpul menyatu. menyatukan hati. tidak lagi melihat kaya atau miskin. semuanya sependeritaan.

Teman bertutur, "Dengan banjir kita disatukan dalam kebahagiaan dan penderitaan." Saya memanggut memahaminya. Sungguh indah hidup ini jika kita selalu mengambil hikmah disetiap peristiwa.