Selasa, 03 Maret 2009

Sungguh Indah Hidup Ini

Sore itu hp saya berbunyi, seorang teman mengatakan, "alhamdulillah mas agus, setiap kali saya menjadi relawan pada kegiatan Amalia menjadikan hidup saya lebih indah. Sungguh indah hidup ini mas.."

"Bolehkah saya mengajak teman untuk menjadi relawan?" tanyanya.

"silahkan aja mas, semakin banyak malah semakin bagus." jawab saya.

Saya bisa merasakan kebahagiaan itu. Ditengah kesibukan kerjanya. Kegiatan untuk berbagi sesama merupakan kegiatan refreshing sekaligus kegiatan untuk berbagi kasih sayang untuk sesama.

”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka putuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Mengalirkan pahala shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan juga anak yang sholeh merupakan keberkahan dalam hidup kita yang terus mengalir. keberkahan dalam hidup mendatang kebahagiaan buat kita dan juga teman2 yang menjadi relawan anak-anak Amalia. Dalam keheningan saya suka memanjatkan doa. "Ya Alloh, jadikanlah umur kami bermanfaat dengan berbuat kebaikan pada sesama."

alhamdulillah, kami mengucapkan jazakumullah khair, terima kasih buat teman2 dari balik papan, surabaya, dan di jakarta sekitarnya yang tidak bisa kami sebutkan
satu persatu. yang telah berkenan berpartisipasi dalam rangka kegiatan sebelumnya
maupun persiapan kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)"

apapun bentuk dukungan dan perhatian teman2 yang terus mengalir baik dalam bentuk teman2 yang telah bersedia menjadi relawan dan yang telah mewaqafkan buku2,– Majalah – Komik – Novel – Cerpen – Kaset –VCD, CD, DVD ( ISLAMI ) – IPTEK – buku Pelajaran sekolah – Komputer - baju layak pakai dan juga membantu dalam bentuk sembako.

Bagi teman2 yang telah berkeinginan berwaqaf pada kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)" silahkan kirimkan:

Rumah Amalia, Jl. Subagyo IV Blok ii, 1, No.23 Rt 001 Rw 09, Komplek Peruri, Sudimara Timur, Ciledug, Tangerang, 15151.

kegiatan "Amalia Cinta Rasul (ACR)" akan dilaksanakan pada Hari Kamis (hari libur nasional), 26 Maret 2009. Jam 08.00 s.d jam 16.00 WIB.

Dengan setulus hati Kami berdoa, "Semoga Alloh, senantiasa melimpahkan kesehatan & Rizki untuk teman2 semua.." Amin ya robbal 'alamin.

Senin, 02 Maret 2009

Baju Seragam Buat Bejo

Malam itu anak-anak pengajian Amalia sedang mengaji. Bejo datang ke rumah. Bejo mengabarkan bahwa dirinya sekarang telah bekerja disalah satu Bank Nasional di Jakarta. Saya turut berbahagia mendengar kabar gembira itu. Bejo adalah salah satu santri di pengajian. Sejak tamat SMA Bejo langsung bekerja dan kuliah pada malam hari. Ditengah kesibukannya pada saat hari-hari libur Bejo suka datang ke pengajian bahkan suka membantu mengajar anak-anak.

Sekian tahun yang lalu Bejo adalah seorang anak kecil kelas 5 SD yang menangis dijalan. Sejak ayahnya meninggal Bejo tidak lagi mau sekolah, katanya malu dengan teman-temannya karena baju seragamnya sudah jelek, sampai pada satu malam saya membawakan baju seragam sekolah buatnya. Matanya berbinar-binar dan Bejo berjanji untuk sekolah lagi. Pada malam itulah Bejo berjanji untuk tidak menangis lagi. Bahkan baju seragam SD itu hingga kini masih tersimpan dengan baik. Emaknya Bejo pernah mengatakan pada saya bahwa baju seragam itu sengaja disimpan sebagai kenangan indah.

“Kak Agus, baju seragam itulah yang menyelamatkan saya dari ejekan teman-teman. Dan karena baju seragam itulah teman-teman mau maen bersama saya lagi.” Kata Bejo malam itu. Nampak mata Bejo memerah. Berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Peristiwa kecil hanya baju seragam yang dialami oleh Bejo bisa mempengaruhi konsep dirinya tentang masa depan yang kelak menjadikan mereka sebagai orang-orang yang besar. Orang-orang yang besar adalah orang-orang yang selalu membawa kebaikan bagi orang banyak. Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhamad, Khairunnas anfa’uhum linnas (Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).

Kiat Mendidik Anak Menjadi Insan Mulia

Satu malam datang seorang Ibu bersama suami tercintanya. Ibu ini bertanya pada saya bagaimana mendidik anak menjadi insan mulia. Saya katakan padanya, anak akan menjadi insan mulia jika anak diperlakukan dengan penuh kemuliaan. Pendidikan yang memuliaan anak berarti meningkatkan kualitas spiritual pada diri anak. Maka perlu pendidikan spiritual bagi anak agar kelak mereka menjadi insan mulia.

Tidak ada yang mengingkari bahwa kualitas manusia itu diukur dari kualitas jiwanya, moralnya atau akhlaknya, meski masih pula terdapat kelompok manusia yang lebih menghargai dimensi jasmaninya. Kesehatan jasmani manusia tumbuh bersama gizi yang dikonsumsi sebagaimana kesehatan jiwa juga tumbuh bersama konsumsi rohaniah. Dalam perjalanan hidupnya manusia selalu berjumpa dengan konflik yang berkesinambungan; konflik antara dorongan instink, syahwat dan hawa nafsu dengan nilai-nilai akumulatif akidah, konflik antara kejujuran dengan kebohongan, antara kebaikan dengan kejahatan, antara egoisme dengan mementingkan orang lain (itsar).

Akal dapat berfikir, membantu manusia memecahkan masalah (problem solving), dan untuk meningkatkan kualitas akal (intelektualnya) dapat diupayakan melalui pendidikan yang bersifat kognitip. Hati atau kalbu (qalb), meski karakternya tidak konsisten, tetapi ia dapat membantu manusia memahami peristiwa yang rumit. Lebih dari itu manusia masih memiliki hati nurani yang konsisten menyuarakan kebenaran dan kejujuran. Meski demikian, tetap saja ada (bahkan kebanyakan) manusia yang bodoh, tidak berperasaan dan nuraninya mati.

Dulu orang mengedepankan kecerdasan intelektual sebagai kunci kesuksesan. Belakangan orang menganggap peran kecerdasan intelektual (IQ) itu hanya 20 %, selebihnya oleh kecerdasan emosional (EQ). Terakhir orang lebih menengok kecerdasan Spiritual (SQ) sebagai penentu yang dominan. Ketika bangsa Indonesia terpuruk pada krisis yang memalukan seperti sekarang ini, orang menyalahkan sistem pendidikan nasional sebagai penyebab, yakni pendidikan yang terlalu mengedepankan aspek kognitif, mengabaikan aspek afektif. Jika krisis ekonomi dapat diperbaiki dalam waktu singkat, tidak demikian dengan krisis moral, apalagi jika krisis itu sudah mencapai keruntuhan moral bangsa. Mendidik moral manusia membutuhkan waktu yang panjang, konsistensi, konprehensif dan berkesinambungan. Masyarakat Indonesia dewasa ini sudah sangat mendesak kebutuhannya pada pendidikan spiritual.

Pendidikan adalah satu proses yang bertujuan membentuk pola perilaku; misalnya pendidikan kemiliteran, pendidikan kewiraswastaan, pendidikan agama. Proses itu biasanya membutuhkan peran seorang pendidik, tetapi manusia juga bisa mendidik diri sendiri setelah berjumpa dengan pengalaman yang mendidik.

Oleh karena itu pendidikan spiritual lebih menekankan pada pemberian kesempatan agar anak mengalami sendiri suatu pengalaman spiritual. Jika bercermin kepada perilaku Nabi Muhammad, maka nampaknya lembaga pendidikan spiritual yang dialami oleh Muhammad bertafakkur, mengasah nurani, menajamkan hati, dan mengelola emosi serta mengendalikan nafsu.

Dalam perspektif Islam, Pendidikan spiritual adalah proses tranformasi sistem nilai Qur’ani ke dalam potensi kejiwaan pada anak melalui perjuangan dan pelatihan jiwa (mujahadah) agar setiap kali merespon stimulus dalam kehidupan, jiwanya tunduk kepada nilai-nilai tersebut dengan tenang, senang dan yakin. Wujud mujahadah itu adalah zikir, puasa sunnat, sholat dhuha.

Maka anak yang telah memiliki kecerdasan spiritual disebut sebagai ‘arif atau min al ‘arifin, secara sosiologis sering disebut sebagai yang arif bijaksana. Ma‘rifat tidak menetap, melainkan sesaat-sesaat (sa‘atan sa‘atan), seperti disebut dalam hadis riwayat Hanzalah, tetapi pengaruhnya menghunjam dalam kejiwaan pada anak, mempengaruhi persepsi dan mewarnai perilaku. Kelak anak menjadi insan mulia. Insya Alloh.

Makna Shalawat

Sehabis membaca dua kalimah syahadat, chatib pasti membaca shalawat kepada Nabi, Allohumma shali `ala sayyidina Muhammad………dst. Shalat dan shalawat terjemahan harfiahnya sebenarnya sama yaitu doa, tetapi shalat dalam arti ritual ibadah (shalat maghrib misalnya) adalah ritual ibadah yang terdiri dari gerak, bacaan dan doa. Sedangkan shalawat Nabi adalah doa yang secara khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

Mengapa Nabi Muhammad yang sudah dibebaskan dari dosa (ma`shum) masih harus didoakan segala oleh kita, bukankah itu sudah tidak perlu ? Konsep shalawat adalah konsep syafa`at. Dalam teologi Islam dikatakan bahwa Nabi Muhammad memiliki “otoritas” syafa`at, yakni perlindungan kepada ummatnya kelak nanti di hari kiamat, ketika tidak ada lagi yang bisa memberikan perlindungan.

Orang yang berpeluang memperoleh syafa’at Nabi adalah orang yang mencintainya. Wujud dari cinta Rasul dibuktikan dengan membaca salawat itu. Nabi sendiri secara konsepsional sudah tidak memerlukan doa dari ummatnya, jadi shalawat itu bukan untuk kepentingan Nabi, tetapi kepentingan kita. Jika Nabi diibaratkan sebuah gelas, ia sudah penuh dengan air putih bersih, nah orang yang membaca shalawat Nabi ibarat menambahkan air ke dalam gelas yang sudah penuh itu dengan harapan memperoleh luberannya, yakni luberan syafa`atnya. Jangankan kita manusia, menurut al Qur’an, Allah dan malaikatpun membaca salawat kepada Nabi sehingga orang beriman juga diperintahkan untuk bersalawat dan salam kepadanya; Innalloha wa mala’ikatahu yushalluna `alan nabiy, ya ayyuhalladzina amanu shallu `alaihi wa sallimu taslima (Q/33:56).

Pembacaan shalawat Nabi sebagai ekpressi cinta kepada Rasul kemudian melahirkan kreatifitas seni. Bukan saja dalam teks-teks doa shalawat dibaca, tetapi juga dalam nasyid, dalam syair, dalam lagu. Dalam teks doa, banyak sekali format salawat dibuat, misalnya ada shalawat Nariyah, shalawat tunjina, shalawat anti kezaliman. Dalam seni ada sebuah karya epik sejarah Nabi , terkenal dengan Barzanji atau orang Betawi menyebutnya Rawi. Di dalam kitab Barzanzi, riwayat Nabi dikisahkan dalam kalimat yang sangat indah, enak dibaca dan enak di dengar. Demikian juga kasidah Barzanji yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi disusun dalam karya seni yang sangat tinggi kualitasnya. Buku kasidah Barzanji atau Rawi adalah karya seni yang terbanyak pembacanya dan karya seni yang tidak pernah basi hingga hari ini, hingga pada segmen masyarakat tertentu, kitab Barzanji bagaikan kitab suci kedua... Barzanji dibaca oleh bangsa-bangsa muslim di Asia dan Afrika, ritmenya bisa didendangkan dengan berbagai lagu. Mari bersalawat dan bersalam kepada Nabi ;

Ya Nabi salam `alaika –ya Rasul salam `alaika –
ya habib salam `alaika—shalawaatulllah `alaikaaaaaa……….

hayo…barengg…..

Minggu, 01 Maret 2009

Fadhillah Membaca Surat Yasin

Sore itu sepulang kantor ada seorang teman yang sudah menunggu. Teman itu bersama suaminya. Pernikahannya sudah berlangsung satu bulan yang lalu. "Assalamu'alaikum Mas Agus.." katanya sambil memperkenalkan suaminya. "Wa'alaikum salam..mbak.." saya berbincang bersama istri, Hana dan Icha. Keluarga baru nampak bahagia. Dia menceritakan bagaimana proses perkenalannya. Rasa haru dan bahagia turut menyelimuti hati saya.

Saya teringat awal pertama kali teman itu bertanya bagaimana untuk mendekatkan pada jodohnya. Saya katakan jodoh kita adalah watak dan perbuatannya sama seperti diri kita. Jika kita menginginkan pasangan hidup yang baik dan sholeh/sholehah maka kita punya kewajiban meningkatkan kualitas ibadah dan ketaqwaan kita. Tingkatkan kualitas yang sudah menjadi kewajiban kita seperti sholat fardhu, tidak lupa ibadah sunah juga dijalankan. Juga membaca surat Yasin jika sehabis sholat maghrib sambil menunggu waktu tiba Isya.

"Mas Agus dan anak-anak pengajiannya juga mohon bantu saya ya.."katanya. Akhirnya saya menyanggupinya. Pada malam harinya kami bersama-sama anak-anak pengajian Amalia membantu berdoa untuknya agar didekatkan pada jodohnya. Tiga bulan kemudian saya mendapatkan kabar bahwa dirinya sedang ta'aruf dengan seorang ikhwan. enam bulan berikutnya undangan pernikahan sudah sampai dirumah kami.

Sore itu pertemuan kami menjadi terasa bermakna. keluarga baru begitu indah, dunia bagaikan milik berdua, yang lainnya seolah dianggapnya numpang aja. Sampai akhirnya mereka berpamitan dan mengatakan, "Alhamdulillah mas agus, fadhillah surat yasin telah mempertemukan kami berdua semata karena Alloh SWT dan setiap kami berdua ada waktu kami selalu membacanya agar Alloh SWT senantiasa menunjukkan kami ke jalan yang benar."

----
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah 2:186).

Pendidikan Anak Insan Mulia

Pendidikan anak untuk menjadi Insan Mulia tentunya didasarkan pada Akhlak. Akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung rugi. Orang yang berakhlak baik, melakukan kebaikan secara spontan tanpa pamrih apapun, demikian juga orang yang berakhlak buruk, melakukan keburukan secara spontan tanpa mempertimbangkan akibat bagi dirinya maupun bagi yang dijahati. Manusia tidak ada yang secara tiba-tiba menjadi orang bijak atau tiba­tiba menjadi penjahat besar. Untuk menjadi orang bijak atau menjadi penjahat besar manusia butuh proses yang mengantarnya pada keadaan itu.

Proses itu bisa berwujud dinamika kehidupan, bisa keadaan yang menakjubkan, yang mengecewakan atau yang dirancang untuk membentuk pola-pola perilaku tertentu. Jadi secara teori, manusia bisa dibentuk untuk menjadi orang baik sebagaimana juga bisa dibentuk untuk menjadi orang jahat. Karena akhlak adalah keadaan batin, maka pendidikan akhlak obyeknya adalah batin seseorang. Meski demikian bukan berarti menafikan yang lahir, karena antara lahir dan batin ada hubungan saling mempengaruhi. Orang yang hatinya baik, pada umumnya perilaku lahirnya (sopan santunnya) baik, tetapi tidak semua orang yang memiliki sopan, santun akhlaknya baik.

Penanaman disiplin atau pembiasaan pola tingkah laku lahir yang baik (sopan santun), pada orang tertentu dapat menjadi proses pembentukan akhlak yang baik, tapi pada orang lain bisa juga menumbuhkan sifat munafik (pura-pura baik). Demikian juga pembiasaan pola tingkah laku buruk, pada seseorang bisa menjadikannya orang jahat, tetapi pada orang lain mungkin malah akan melahirkan sikap resistensi secara ektrim kepada keburukan. Hal itu disebabkan karena setiap orang sebenarnya memiliki "modal" kepribadian atau kapasitas yang berbeda- beda, ada yang kuat dorongan kebaikannya dan ada yang sebaliknya.

Anak yang kuat dorongan pada kebaikan inilah yang menjadikan anak menjadi Insan Mulia. Anak-anak Insan mulia berarti berakhlak mulia yang condong pada kebaikan dan kemuliaan hidup sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhamad SAW dengan sifat-sifatnya siddiq (jujur), tabligh (menyampaikan yang benar), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas).

Harta Kita Sebenarnya

Setelah kami selesai mengajar mengaji. saya dan istri berdiskusi banyak hal. Malam itu saya ditanya, "Harta apa yang sesungguhnya kita cari didalam hidup ini?" Sejenak lama berpikir.

Akhirnya saya menjawabnya juga. "Ya uang yang banyak buat masa depan Hana. Biar punya rumah sendiri. Biar punya kendaraan sendiri"

"Salah Mas.."Katanya istri saya.

"Trus apa dong?" Tanya saya.

"Harta yang kita cari sebenarnya adalah hati yang tenang." Begitu
jawab istri saya.

Jawabn itu Membuat saya sejenak terdiam. Kata-katanya menyentuh. Bagaimana tidak, harta yang berlimpah namun hati senantiasa diliputi dengan kecemasan, was-was, kegelisahan, tidur tak nyenyak, makan tak enak tentunya harta yang berlimpah menjadi tidak berguna. Namun jika hati tenang, tidur nyenyak, makanpun enak. bekerja juga menjadi giat. Harta yang dicari bisa terkumpul dengan baik. Malampun semakin larut. Hana tertidur pulas dengan mimpi indahnya. Ketenangan hati adalah harta yang sejati dalam hidup kita.

--
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”, (Q.S Al Fajr [89]: 27)