Rabu, 20 Mei 2009

Menghargai Sebuah Pilihan

Waktu itu saya dan Hana membeli peralatan sekolah. Hana menoleh kepada saya, seolah mengatakan 'ayah saya mau beli buku bukan pensil. Hana terlihat memegangi buku bagus. Saya menjawab dengan senyuman. Pertanda setuju atas pilihannya.

Sepanjang hidup kita senantiasa dihadapkan kepada pilihan. Pilihan itu selalu disajikan dengan jelas dan mudah, baik dan buruk. Kenyataannya dalam hidup tidak demikian. Pilihan tidak selalu terlihat begitu jelas dan seringkali lebih banyak dari dua pilihan.

Bagi anak-anak kita tidak perlu dibuat menjadi berat untuk memilih. Anak-anak terkadang membuat kita orang dewasa menjadi menjengkelkan karena hal-hal yang sepele. Maka tugas kitalah memberikan mereka kekuatan dan kearifan ketika anak sedang dihadapkan pada pilihan. Kita mengerti bahwa membuat pilihan sebuah tahapan yang harus kita lalu dalam hidup ini namun juga pengambilan keputusan merupakan pengalaman yang berharga.

Maka sebagai orang tua kita harus berusahan mendukung ketika anak-anak kita harus memilih. Tak hanya memberikan dukungan semata namun juga menghargai setiap pilihan yang sudah ditentukan oleh anak-anak kita.

Selasa, 19 Mei 2009

Tegar

Ketika seseorang hidup bersimbah dosa dan berkeinginan bertaubat maka disaat itu juga ujian hadir begitu berat. ketegaran semakin dibutuhkan dalam menghadapi badai dan tantangan sejauh mana keinginan taubat. itulah yang dituturkan seorang ibu kepada saya. Sore itu kehadirannya ingin bersilaturahmi karena sering membaca tulisan-tulisan saya lewat milis. 'banyak tulisan-tulisan Mas Agus Syafii yang saya kumpulkan di folder khusus.'katanya. 'Namun yang sangat berarti buat saya cerita mas agus, banyak ibroh yang saya ambil dan saya ingin berbagi cerita, silahkan aja kalo Mas Agus mau menulis kisah saya.' lanjutnya.

Ibu itu bercerita bahwa disaat dirinya bertaubat untuk memulai hidup baru malah terjadi kemelut di dalam keluarganya. Rumah kami akan disita oleh bank. Tinggal beberapa hari lagi petugas bank akan melakukan penyitaan. Jalan menuju rumah kami blokir untuk mencegah penyitaan, kami hanya bisa menangis penuh kesedihan. 'saya harus tegar, menukar kesedihan dengan harapan' katanya.

'Harapan satu-satunya hanya berdoa kepada Alloh SWT, memohon pertolongan kepadaNya. selain sholat fardhu, saya sholat tahajud setiap malam sampai airmata rasanya sudah mengering.' isak tangis sang Ibu.

Pagi itu semua keluarga diliputi oleh tangis sendu di teras rumah, sambil menunggu detik-detik penyitaan rumah kami. Kami ingin menyaksikan rumah kami untuk terakhir kalinya. Rumah dimana anak-anak lahir dan dibesarkan penuh cinta serta kasih sayang. Para tetangga tak kuasa menahan haru melihat kami. Solidaritas para tetangga hadir menunggu petugas bank hadir. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangan surat pembatalan sita. Subhanallah, Maha Suci Alloh. Saya menjerit kegirangan. Doa saya didengar oleh Alloh.

Kata suami saya, pada tahap kita untuk mencoba berjalan dijalan yang lurus maka kita akan menerima ujian dan cobaan. Entah benar atau tidak kata suami, peristiwa ini semakin mengokohkan saya dan keluarga untuk mantap dijalan yang diridhoi oleh Alloh SWT. setelah peristiwa penyitaan rumah yang gagal. Ujian selanjutnya datang, disaat usaha kami sedang jatuh bangkrut budhe saya mengajak pergi ke orang pintar, perang batin antara ikut dan tidak terjadi bergejolak dibatin saya. namun sungguh keajaiban itu datang. Akhirnya pergi ke dukun dibatalkan. Hati saya bersyukur terhindar dari perbuatan dosa besar.' tutur Sang Ibu.

Ujian berikutnya menyusul, putra saya mengalami pembengkakan dikelopak matanya. Menurut pemeriksaan dokter dia harus dioperasi. Waktunyapun sudah ditentukan, beberapa hari lagi. Secara medis saya percaya bahwa operasi adalah satu-satunya jalan untuk menyembuhkan sakit putra saya. Namun tak lupa saya memanjatkan doa kepada Alloh SWT. Setiap malam saya menjalankan sholat tahajud.

'Anehnya Mas Agus Syafii, sebelum jatuh tempo operasi. Penyakit yang berada dikelopak mata putra saya menghilang dan sembuh. Awalnya saya ragu, bagaimana mungkin bisa sembuh? kami kemudian pergi ke dokter ahli dan putra saya dinyatakan sembuh sampai si dokternya juga bingung dan menanyakan apakah saya telah pergi ke dokter lainnya?' tutur Sang Ibu dengan mengusap airmatanya yang terus menetes.

Alloh memang sedang menguji kami sekeluarga dan melindungi kami berkat doa-doa kami. Sebagai pemilik rumah makan yang cukup ramai, kini hidup kami sekeluarga sekarang menjadi lebih tentram dan bahagia. Segala sepak terjang kami seolah diawasi oleh Alloh SWT. Meski kerja keras merupakan kebiasaan kami namun kewajiban sholat lima waktu harus disiplin untuk dilaksanakan.

'Dan kami sudah sepakat bersama suami dan anak-anak untuk menyisihkan penghasilan rumah makan kami untuk anak-anak Amalia. Rasanya rizki yang kami peroleh makin melimpah.' Ucap Sang Ibu, tak lama terdengar kumandang adzan maghrib. Kami bergegas sholat menuju Masjid Al-Hikmah didekat rumah.

---
Obatilah orang-orang yang sakit dengan shodaqoh dan bentengilah harta-harta kalian dengan zakat dan siapkan untuk menolak bala' dengan doa (Hadist Riwayat Baihaqi)

Senin, 18 Mei 2009

Cintailah Tanpa Syarat

Malam belum begitu larut. Hana nampak sudah mulai mengantuk. Istri saya mengipasi sambil membacakan Shalawat Nabi. Biasanya juga menyanyikan 'Rukun Islam Yang Lima' atau 'Alloh Tuhanku' sampai akhirnya Hana tertidur lelap. Kegiatan tiap malam bagi seorang ibu mengantar mimpi indah pada putrinya merupakan wujud ekpresi cinta. Anak-anak akan lebih mudah meniru setiap waktu dan tumbuh menjadi dewasa yang semua perilakunya dipengaruhi oleh ekpresi cinta dari orang-orang disekelilingnya.

Hidup bersama anak-anak adalah pengungkapan diri kita. Rasanya kita seperti bercermin. Anak-anak suka sekali meniru. Mereka belajar dengan meniru. Meniru gerak tubuh kita. Meniru setiap kata yang kita ucapkan. Bahkan kita seolah bisa melihat diri kita sendiri didalam sosok anak-anak.

itulah yang juga saya alami. Setiap kali saya menerangkan di depan anak-anak Amalia, mulai cara saya berbicara dan gerak tangan saya selalu ditiru oleh Hana. Saya seolah bercermin melihat sosok diri saya pada Hana dan Hana melihat saya sebagai sosok cermin bagi dirinya.

Anak-anak kita bercermin pada diri kita sebagai orang tua. orang tua yang bahagia mampu menebarkan cinta dan anak-anak merasa dicintai dan diterima maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi orang yang hidup penuh dengan cinta. Cintailah anak-anak kita tanpa syarat dengan cinta itulah mereka menemukan kebahagiaan didalam dirinya dan kebahagiaan itu tidak membuatnya bergantung pada lingkungan diluar dirinya. Itulah cinta yang berasal dari Alloh SWT dan hanya untuk Alloh SWT.

--
'Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah milik Alloh, Tuhan Semesta Alam.'

Airmata Diujung Lorong Kematian

Dirumah Amalia saya senantiasa banyak teman dan terkadang ada tamu yang hadir tanpa saya mengenal sebelumnya. Setiap kali kehadiran para tamu saya selalu mendapatkan mutiara-mutiara kearifan yang berbentuk pengalaman kehidupan yang dialaminya.

Salahsatunya Pak Syaiful, seorang pengusaha muslim yang taat dalam menjalankan ibadahnya. beliau suka hadir ditengah kami bersama anak-anak Amalia. Penampilannya begitu sederhana, terkadang maen ke rumah Amalia dengan mengendarai motor atau vespanya. Beliau pernah bertutur berbagi pengalaman yang merubah orientasi hidupnya kala dirinya berada diujung lorong kematian.

'Mungkin, mas agus syafii tidak percaya dengan cerita saya ini tapi itulah kenyataan yang saya alami.'katanya. Pak Syaiful mengidap radang kantung empedu. penyakitnya sangat parah, bahkan dokter mengatakan hidupnya hanya tinggal 25%. Awalnya Pak Syaiful merasakan rasa dingin di kakinya naik ke paha, perut hingga ke ubun-ubun. Rasa dingin itu seolah berjalan begitu perlahan. 'Saya membayangkan nyawa saya sudah berada diujung kematian' katanya dengan berlinang air mata. 'Semua perbuatan kotor saya seperti terlihatkan, hanya satu yang saya inginkan. Mati dalam keadaan bersyahadat' kata Pak Syaiful dengan wajah ekspesi penuh ketawadlu'an.

Sejak kecil Pak Syaiful di didik dilingkungan pesantren. Setelah selesai SMA dirinya mengadu nasib di Ibukota namun perjalanan hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan. Awalnya berdagang pakaian
di Pasar Cipulir. Usahanya sukses namun semakin sukses dirinya semakin jauh dari agama. Kehidupan malam dan minuman keras terasa nikmat. Pak Syaiful menjadi tersadar justru setelah sakitnya parah.
Yang paling ditakutkan oleh dirinya kehilangan momen membaca kalimah syahadat dipenghujung hayatnya. dirinya mengalami diujung lorong batas antara kematian dan kehidupan.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, dirinya melihat bayangannya sendiri. Pak Syaful bergerak melakukan apa yang pernah dia perbuat di masa lalu. 'Saya seperti melihat film yang aktornya adalah diri saya sendiri.'katanya, 'semua saya melihatnya dengan jelas, saya pernah menyia-nyiakan anak dan istri saya hanya karena menuruti kesenangan, sampai saya menangis meraung-raung menyesali semua
kebodohan yang saya pernah saya lakukan.' lanjut Pak Syaiful.

Kala Pak Syaiful melihat semua dosa-dosanya yang menakutkan disaat itu juga dirinya memohon ampun kepada Alloh SWT, tuturnya,'begitu saya memohon ampun kepada Alloh SWT, saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Disaat itu semua yang menyeramkan hilang semua.' Dirinya merasakan melewati sebuah lorong gelap sampai menuju tempat yang begitu indah dan nyaman. tempat itu seperti di
kampung halamannya waktu Pak Syaiful dimasa kecil.

Dari yang dialami Pak Syaiful itu pandangan hidupnya telah berubah. kehidupan yang bergelimang maksiat dirinya menjadi lebih mencintai Alloh SWT dan menjalankan semua perintahNya serta menjauhi
laranganNya. 'dan itu tidak mudah mas agus syafii.'katanya. Untuk mencintai Alloh SWT kita harus menghadapi tantangan. Tantangan itu untuk membuktikan apakah kita benar-benar mencintai Alloh SWT atau tidak.' tutur Pak Syaiful dpenghujung malam perjumpaan kami. Airmatanya benar-benar telah mengalir untuk Sang Khaliq, Alloh yang Maha Besar.

---
'Ya Allah segala puji bagiMu. kepadaMulah pengaduanku dan Engkaulah tempat memohon pertolongan…' (HR Thabrany dari Abdullah ibnu Mas'ud).

Airmata Diujung Lorong Kematian

Dirumah Amalia saya senantiasa banyak teman dan terkadang ada tamu yang hadir tanpa saya mengenal sebelumnya. Setiap kali kehadiran para tamu saya selalu mendapatkan mutiara-mutiara kearifan yang berbentuk pengalaman kehidupan yang dialaminya.

Salahsatunya Pak Syaiful, seorang pengusaha muslim yang taat dalam menjalankan ibadahnya. beliau suka hadir ditengah kami bersama anak-anak Amalia. Penampilannya begitu sederhana, terkadang maen ke rumah Amalia dengan mengendarai motor atau vespanya. Beliau pernah bertutur berbagi pengalaman yang merubah orientasi hidupnya kala dirinya berada diujung lorong kematian.

'Mungkin, mas agus syafii tidak percaya dengan cerita saya ini tapi itulah kenyataan yang saya alami.'katanya. Pak Syaiful mengidap radang kantung empedu. penyakitnya sangat parah, bahkan dokter mengatakan hidupnya hanya tinggal 25%. Awalnya Pak Syaiful merasakan rasa dingin di kakinya naik ke paha, perut hingga ke ubun-ubun. Rasa dingin itu seolah berjalan begitu perlahan. 'Saya membayangkan nyawa saya sudah berada diujung kematian' katanya dengan berlinang air mata. 'Semua perbuatan kotor saya seperti terlihatkan, hanya satu yang saya inginkan. Mati dalam keadaan bersyahadat' kata Pak Syaiful dengan wajah ekspesi penuh ketawadlu'an.

Sejak kecil Pak Syaiful di didik dilingkungan pesantren. Setelah selesai SMA dirinya mengadu nasib di Ibukota namun perjalanan hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan. Awalnya berdagang pakaian
di Pasar Cipulir. Usahanya sukses namun semakin sukses dirinya semakin jauh dari agama. Kehidupan malam dan minuman keras terasa nikmat. Pak Syaiful menjadi tersadar justru setelah sakitnya parah.
Yang paling ditakutkan oleh dirinya kehilangan momen membaca kalimah syahadat dipenghujung hayatnya. dirinya mengalami diujung lorong batas antara kematian dan kehidupan.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, dirinya melihat bayangannya sendiri. Pak Syaful bergerak melakukan apa yang pernah dia perbuat di masa lalu. 'Saya seperti melihat film yang aktornya adalah diri saya sendiri.'katanya, 'semua saya melihatnya dengan jelas, saya pernah menyia-nyiakan anak dan istri saya hanya karena menuruti kesenangan, sampai saya menangis meraung-raung menyesali semua
kebodohan yang saya pernah saya lakukan.' lanjut Pak Syaiful.

Kala Pak Syaiful melihat semua dosa-dosanya yang menakutkan disaat itu juga dirinya memohon ampun kepada Alloh SWT, tuturnya,'begitu saya memohon ampun kepada Alloh SWT, saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Disaat itu semua yang menyeramkan hilang semua.' Dirinya merasakan melewati sebuah lorong gelap sampai menuju tempat yang begitu indah dan nyaman. tempat itu seperti di
kampung halamannya waktu Pak Syaiful dimasa kecil.

Dari yang dialami Pak Syaiful itu pandangan hidupnya telah berubah. kehidupan yang bergelimang maksiat dirinya menjadi lebih mencintai Alloh SWT dan menjalankan semua perintahNya serta menjauhi
laranganNya. 'dan itu tidak mudah mas agus syafii.'katanya. Untuk mencintai Alloh SWT kita harus menghadapi tantangan. Tantangan itu untuk membuktikan apakah kita benar-benar mencintai Alloh SWT atau tidak.' tutur Pak Syaiful dpenghujung malam perjumpaan kami. Airmatanya benar-benar telah mengalir untuk Sang Khaliq, Alloh yang Maha Besar.

---
'Ya Allah segala puji bagiMu. kepadaMulah pengaduanku dan Engkaulah tempat memohon pertolongan…' (HR Thabrany dari Abdullah ibnu Mas'ud).

Minggu, 17 Mei 2009

Kebahagiaan Itu Keindahan

Pernahkah anda menyambut pagi hari dengan penuh kebahagiaan? Itulah yang dirasakan Ari dihari Ahad kemaren. Pada hari Ahad kemaren kegiatan 'Amalia Cinta Bumi' jam 6.30 pagi Ari sudah datang. Duduk rapih dengan membawa tasnya dan sambil membaca puisinya yang berjudul 'kupu-kupu.' Tak lama kemudian datang juga anak-anak Amalia yang lainnya seperti Mona, Ratna, Lusi, Atun, Arif, Fajar, Apoy, Dedek.

Kebahagiaan itu keindahan yang tak terlupakan bagi anak-anak Amalia. Sudah seminggu yang lalu hati mereka berdebar-debar menunggu tiba hari kegiatan ACIBU (Amalia Cinta Bumi). Kegiatan ini sudah menjadi bahan diskusi anak-anak Amalia tentang apa saja kegiatan yang hendak dilakukan. Kami, kakak pembina membagi anak-anak Amalia menjadi dua kelompok. Kelompok A terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 3. Kelompok B terdiri dari kelas 4 sampai kelas 7. Untuk kelompok A dengan mendongeng oleh Bunda Jus (beliau penggiat Lingkungan dari UN, United Nation) ditemani oleh dua bidadari cantik, keponakannya dan juga bunda Nani. Sementara kelompok B mengadakan kegiatan Outbond yang bertema 'Amalia Cinta Bumi.'

terdengar suara riuh anak-anak Amalia ketika acara sedang dimulai. Saya membuka bersama bunda Nani untuk terlebih dahulu membaca doa, 'rodhitubillahi robba, wabil islamidina, wabi muhamadiyu warosulla..robbi dzitni ilma warzukni fahma...' Anak-anak Amalia mendongeng oleh Bunda Jus..sangat menarik sekali.

Anak-anak Amalia kelompok B yang ikut outbond terbagi menjadi 4 kelompok. Para peserta outbond sebagai penyelamat bumi. Mereka bertugas untuk menjaga bumi dari kerusakan. Dari pos utama mereka harus menuju Pos Bumi dan Pos Amalia, terlebih dahulu mereka harus menyelesaikan 'Game petani Bingung' yang dilaluinya. Ada petani bersama seekor kambing, seekor harimau, dan sekeranjang rumput. Petani harus melewati jembatan hanya boleh membawa satu aja agar bisa melewati jembatan. Kelompok Abu Bakar Assidiq begitu bersemangat, kata dani, 'Gamenya aneh..tapi seru juga kak agus.' setelah mereka melewati game 'petani bingung' menuju pos bumi yang harus menyelesaikan tugasnya yaitu menanam pohon dan memanfaatkan sampah untuk didaur ulang. Game yang kedua yang harus dilalui oleh peserta outbond adalah game 'ranjau darat.'

kata para peserta game 'ranjau darat' game yang agak susah karena mereka tidak dikasih tanda ranjau daratnya. 'tapi asyik deh' kata kak asep, salahsatu kakak pembina. Kak Yusman nampak juga bersemangat untuk mendampingi anak-anak Amalia. Setelah mereka berkumpul kembali. Kelompok yang kalah mendapatkan tugas untuk membersihkan halaman dan kelompok yang menang mendapatkan hadiah dari kakak pembina.

Di dinding kesan dan pesan komentar, fajar mengatakan, "Kak agus, sering-sering ya ngadain outbond.' sementara komentar Dede', belajar dan bermain bersama paling seru dan mengasyikkan.' Diakhir acara setelah makan siang, kakak pembina menjelaskan perlunya mengurangi kantong plastik dan selanjutnya membagikan tas belanja sebagai pengganti kantong plastik sebagai tanda cinta kak Fred untuk anak-anak Amalia yang didalamnya juga terdapat hadiah peralatan sekolah.

Alhamdulillah, kegiatan Amalia Cinta Bumi (ACIBU) berjalan dengan lancar. saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-beesarnya untuk Bunda Nani, Bunda Sus, Kak Yusman, Kak Rani, Kak Asep, Teh Euis, Teh Murni yang telah berkenan terlibat dalam kegiatan Amalia Cinta Bumi (ACIBU) dan juga Mas Fred yang sudah berkenan menyediakan Tas, Kak Anti Cake & Pudingnya. dan juga para bunda, kakak2 dan juga teman2 semua yang tidak bisa kami sebutkan lagi satu persatu.

semoga Alloh SWT membalas kebaikan bunda2, kakak2 dan juga teman2 semua..amin ya robbal alamin..

Sabtu, 16 Mei 2009

CINTA


Cinta itu ada dua: 

1.Cinta kepada Al-HAq

2. Cinta kepada makhluk

    Cinta kepada Al-Haq adalah cinta yang sejatinya cinta sedangkan cinta kepda makhluk seringkali fana, tidak abadi dan menipu. Namun cinta kepda makhluk bisa menjadi cinta yang sejatinya cinta manakala cinta itu mengarah pada Al-haq. Contoh: Cinta ibu pada anak, cinta suami istri,dsb adalah cinta - cinta yang sejalan dengan Al-Haq.

   Nah, menjadi renunganmu.. dari balutan apakah cintamu itu? dan kamu harus berhati-hati menggunakan istilah dan peletakan cinta dalam hatimu. Cinta itu suci, namun bisa menjadi dosa manakala hatimu terus menerus berkeruh dengan imajinasi liar. Engkau ikhtiar tapi jangan lupa untuk memasrahkan takdirmu sesungguhnya pada Allah. Ia tau sebenar-benarnye penantian dan tau kebutuhan cintamu. Lebih percayakan nasib cintamu pada Allah daripada polesan lisan! ( From my Best Teacher and my best Friend )