Sabtu, 16 Mei 2009

Arti Sebuah Do'a ( TRUE STORY)


    Kisah ini berlangsung saat keluarga besar SKI ngadain "Wisata Rohani" ke beberapa makam wali. Tentu saja kami promosi kepada teman teman di SMAGHA (SMA Negeri 3 Mojokerto). Saat itu aku menawarkan 'paket liburan islami' ini kepada si fulan1, tapi tanggapanya?? NOL besar! Raut mukanya seolah mengatakan," ieeww! Acara gak penting!". Aku memang sempat marah, tapi tak ada gunanya lah... saat disana Fulan 2 tanpa sengaja melihat sebuah gantungan Hp pelangi yang sama seperti milik orang yang dikaguminya, tanpa ragu Fulan 2 membelinya....

Beberapa hari setelah itu.....

   Ketika fulan 1 melihat gantunan Hp itu, dia langsung memohon sambil menangis kepada Fulan 2 agar memberikan gantunagn itu kepadanya. Fulan 1 bercerita bahwa dia telah mencari gantungan itu sampai keliling Mojokerto, Surabaya dan Malang

   Subhanallah..... Hatiku bergetar ketika Fulan 2 menceritakan hal itu kepadaku, seakan aku ingin menangis karena Allah tak pernah ingkar pada janji-Nya ( Berdo'alah maka akan Aku kabukan). Subhanallah... Maha Benar Allah... yang sesungguhnya telah meberi petunjuk pada Fulan 1 bahwa do'anya akan terkabul... Subhanallah....

Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin 

Saat Hati Lemah


Saat hati begitu lemah...

Rasa itu begitu saja datang menghampiri jiwa

Menghanyutkan jiwa insan dalam kebahagiaan yang fana

Ketika hati jauh dari cinta Sang Maha Cinta

Rasa itu menggerogoti jiwa

Membuat jiwa begitu terbang seolah dunia ini pelabuhan akhir kehidupan

Apakah ini kebahagiaan??

TIDAK!!!

Itu hanya bisyikan syetan

Membuat insan menjadi gila dunia

Ampuni kami Ya Allah....

Ampuni kami yang terlalu hanyut dalam rasa

Luruskanlah jalan kami agar kembali pada-Mu

karena hanya pada-Mu lah cinta kami bermuara

Jumat, 15 Mei 2009

Menikmati Keindahan

Kala kehidupan begitu keras bagai roda berputar tanpa henti ditengah deru ambisi, keinginan dan haus akan kemenangan bisa dipastikan keindahan hampir terbilang sulit menghampiri diri kita.

Itulah sebabnya setiap sore pulang kerja lebih awal berkumpul dengan istri dan Hana, buat saya lebih mudah untuk bisa menikmati keindahan dalam hidup. Keindahan saya juga terasa lebih nikmat kala Hana mengingatkan dengan hapalannya hadis-hadis pendek yang setiap hari terus bertambah. Salah satu hadis favorit Hana adalah 'Tabassamuka Li Akhika Shodaqoh' 'Senyummu terhadap saudaramu adalah shodaqoh.'(HR At-Tirmidzi).

'Cobalah taburkan senyuman sebanyak mungkin kepada setiap saudaramu' begitulah Baginda Nabi mengajarkan kepada kita, sebab setiap senyuman yang kita taburkan kebanyak orang maka sebanyak itulah senyuman yang kita dapatkan. Sebanyak mungkin kita mendoakan orang lain, sebanyak itulah berkah yang kita terima.

Berkah inilah yang melahirkan sikap hormat kita terhadap diri sendiri dan juga hormat kita terhadap orang lain kemudian memunculkan cahaya keindahan dimanapun kita berada. Ketika kita di rumah, di kantor, dijalanan semuanya menjadi terasa indah.

Mari..kita menikmati keindahan hari ini.

Kamis, 14 Mei 2009

Tingkatan Nafs Dalam Diri Kita

Kemaren sore saya berjumpa dengan seorang teman. Kami berdiskusi tentang Nafs atau jiwa. teman itu bertanya, 'apakah nafs diseseorang itu konsisten?' Saya katakan padanya, 'Tidak, bergantung bagaimana kita menjaga kesucian nafs atau jiwa.'

Nafs itu diciptkan Allah SWT secara sempurna, tetapi ia harus tetap dijaga kesuciannya, sebab ia bisa rusak jika dikotori dengan perbuatan maksiat. Kualitas nafs tiap orang bereda-beda berkaitan dengan bagaimana usaha menjaganya dari hawa (Q.,s.al-Na-zi'at/79:40), yakni dari kecendrungannya kepada syahwat, karena menuruti dorongan syahwat itu, seperti yang dikatakan oleh al-Maraghi, merupakan tingkah laku hewan yang dengan itu manusia telah menyia-nyiakan potensi akal yang menandai keistimewaannya.

Dalam bahasa Indonesia, syahwat yang menggoda manusia sering disebut dengan istilah hawa nafsu, yakni dorongan nafsu yang cenderung bersifat rendah.

Al-Qur'an membagi tingkatan nafs pada dua kelompok besar, yaitu nafs martabat tinggi dan nafs martabat rendah. Nafs martabat tinggi memiliki oleh orang-orang takwa, yang takut kepada Allah dan berpegang teguh kepada petunjuk-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sedangkan nafs martabat rendah memiliki oeh orang-orang yang menentang perintah Allah dan yang mengabaikan ketentuan-ketentuan-Nya, serta orang-orang yang sesat, yang cenderung berperilaku menyimpang dan melakukan kekejian serta kemungkaran.

Secara ekplisit al-Qur'an menyebut tiga jenis nafs, yaitu

1. (al-nafs al-muthma'innah),
2. (al-nafs al-lawwamah), dan
3. (al-nafs al-ammarah bi al-su)

Ketiga jenis nafs tersebut merupakan tingkatan kualitas, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Ayat-ayat yang secara ekplisit menyebut ketuga jenis nafs itu adalah sebagai berikut:


Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku (Q,. s. al-Fajr / 89-27-30).

Aku besumpah dengan hari kiamat, dn aku bersumpah dengan jiwa amat menyesali(dirinya senderi) (Q,. s. al-Qiyamah / 75:1-2).

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kapada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyayang (Q., s. Yusuf / 12:53).

Di samping tiga penggolongan tersebut, al-Qur'an juga menyebut term pada anak yang belum dewasa, seperti tersebut dalam surat al-Kahf / 18:73:

Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka khidir membunuhnya. Musa berkata: mengapa kamu bunuh jiwa yang suci, bukan dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar (Q,. s. al-Kahf / 18-74).

Maka empat tingkatan itu dapat digambarkan bahwa pada mulanya, yamni ketika seorang manusia belum mukallaf, jiwamya masih suci (zakiyah). Ketika sudah mencapai mukallaf dan berinteraksi dengan lingkungan kehidupan yang menggoda, jika ia merespons secara positif terhadap lingkungan hidupnya maka nafs itu dapat meningkat menjadi nafs muthma'innah setelah terlebih dahulu memproses di dalam tingkatan nafs lawwamah telah mencapai tingkat muthma'innah pastilah ia menyandang predikat zakiyah pula.Akan tetapi jika nafs itu merespon lingkungan secara negative, maka ia dapat menurun manjadi nafs ammarah dengan segala karaterristik buruknya.

Kupanjatkan Doa Dengan Airmata

Setiap orang senantiasa mengalami kondisi sulit, kegagalan bahkan kepedihan yang mendalam. Ada orang yang mampu bertahan dan ada yang tidak. Bahkan seorang teman yang sudah tidak ada pilihan lain kecuali mendekatkan diri kepada Alloh. Berusaha semaksimal apapun jika Alloh belum berkehendak, semua tidak akan pernah terjadi. Dia lakukan hanya memohon kepada Alloh 'Kupanjatkan doa dengan Airmata' begitu tuturnya.

Kala teman itu mengatakan, berhari-hari saya berusaha untuk mencari kerja tapi selalu gagal. Bahkan aku sampai keluar kota namun semua tetap sia-sia. Ada satu hal yang membuat saya tetap bertahan, setiap kali pulang dengan tangis dan kecewa, istri saya selalu memberi semangat untuk saya, 'sabar mas..'Alloh mboten sare (Alloh tidak tidur)'

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, barang-barang perabotan habis terjual. semua perhiasan istri saya juga ikut terjual dan yang paling tragis buat kami sekeluarga rumah dan tanah juga lenyap. Istri dan anak-anak begitu tabah menjalaninya. begitulah keadaan kami saat itu, tuturnya.

Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk tinggal menumpang dengan Kang Salam, salahsatu karyawan saya. Kang salam menerima kami sekeluarga penuh sukacita kedatangan kami. Ditengah kondisi keuangan mulai menipis, saya jatuh sakit. Penderitaan seolah belum berkenan untuk meninggalkan kami sekeluarga. Saya jatuh sakit.

Ditengah saya sakit, istri saya menyuapi sarapan pagi sambil mengingatkan, 'Coba mas, kerjakan sholat. Alloh SWT akan memberikan jalan keluar. Sudah lama Mas lupa dengan yang diatas.'

Aneh, saya bagai dijewer mendengar penuturan istri saya. saya merasa kikuk untuk melaksanakan sholat. 'Bagaimana mungkin ibadah yang biasa saya kerjakan dari kecil tiba-tiba saya menjadi merasa asing?' begitu kata saya dalam hati. Kang Salam dan istrinya nampak senyum-senyum melihat saya mengambil air wudhu. Mungkin pikirnya tumben saya sholat. Tapi tak apalah, hanya dengan jalan inilah saya memohon pertolongan kepadaNya. Saya, istri dan anak-anak sholat berjamaah. Saya benar-benar berserah diri pada Alloh. Tanpa terasa airmata saya mengalir, teringat masa kecil saya berlarian. Emak berteriak disaat kumandang adzan. Saya bergegas mengambil sarung menuju masjid. Sholat berjamaah sungguh indahnya. Hati saya menjadi hangat. Allohu Akbar...

Sampai pada satu hari saya berjalan-jalan di Kebayoran Lama, tutur teman malam itu. saya bertemu dengan kawan lama sudah tidak pernah jumpa. kawan saya sedang mencari meja antik yang terbuat dari kayu jati. Dia memberikan kartu nama agar saya mencarikan meja yang sesuai dengan keinginannya. Ketika saya cerita dengan Kang Salam ternyata tahu didaerah Ciputat ada barang yang sesuai dengan spesifikasi seperti yang saya cari. Tanpa saya duga begitu cepat terjadi transaksi meja antik. Saya mendapatkan komisi. Istri saya mengucapkan syukur alhamdulillah kehadirat Alloh. "Benarkan mas, sholat bisa membuat kita memperoleh modal usaha.' tutur teman saya.

Walau dengan modal tidak seberapa, saya membuka usaha kecil2an dengan membuat kecap manis. Awalnya saya hanya mampu membuat 30 botol. Saya titipkan kepada tukang bakso disekeliling rumah Kang Salam. Sungguh Alloh Maha Besar. Pelanggan saya makin lama makin banyak. Kecap saya mulai banyak laku dijual. mau tidak mau harus dikasih Merk. Dari penjualan kecap saya bisa menabung, tidak lupa dengan jasa Kang Salam turut membantu usaha kecap yang saya kerjakan. saya kemudian membeli sebidang tanah, kemudian membangun untuk pabrik kecap. kami sekeluargapun akhirnya pindah dirumah sendiri.

Alloh sungguh Maha Penyayang. melimpahkan karuniaNya untuk kami sekeluarga. Bukan hanya rizki yang kami terima, keluarga kami rukun dan bahagia serta kami tak lupa senantiasa sholat berjamaah. Setiap malam saya juga mengajar mengaji anak-anak. terlihat wajahnya dengan mata berkaca-kaca. 'Jelaslah Mas Agus...semua berkah yang saya terima dari Alloh SWT adalah fadhillah sholat fardhu lima waktu yang saya kerjakan.' Tuturnya dipenghujung malam yang kian syahdu. Berkali-kali dia mengucapkan subhanallah..Maha Suci Alloh....

Rabu, 13 Mei 2009

Rumah Cinta

'kak Agus Syafii, Nanti malam saya mau ke rumah Amalia ya? Kangen nih ama adek-adek.' Kata Ika malam itu. Ika salah satu murid ngaji. Setelah lulus SMA, Ika mengelola warteg bersama ibu. Pernah Ika datang membawa peralatan sekolah untuk dibagikan kepada anak-anak Amalia. 'Di rumah Amalia saya menemukan cinta..' tuturnya.

Rumah Amalia adalah rumah cinta. Rumah berkumpul untuk semua anak-anak. Anak-anak membutuhkan cinta. rumah Amalia sumber cinta bagi anak-anak. Setiap malam dirumah Amalia senantiasa hadir dengan warna.

Dirumah Amalia tempat kami mendidik anak-anak untuk menjadi satu generasi yang memahami bahwa hidup itu indah dengan cinta. Cinta itu pemberian Alloh dan hanya untuk Alloh. Cinta sekaligus menjadi sebuah kekuatan kita dalam melakukan kebaikan.

Salah satu perbuatan baik adalah membantu orang lain. Membantu dan menolong orang lain berarti melakukan sesuatu bagi sesama. Membantu orang lain merupakan satu cara paling effektif bagi anak-anak untuk menemukan cinta di dalam dirinya. Dengan membantu orang lain mereka belajar tentang fitrah dirinya dan hubungan sosial dengan orang lain. menolong orang lain akan membuat anak-anak merasa lebih berharga dan memiliki prestasi. Itulah yang dirasakan Ika, 'Di Rumah Amalia saya menemukan cinta.'

'Ya Alloh, Ya Rabb, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.'

Perjalanan Yang Indah

Pernahkah anda menikmati perjalanan yang indah bersama si buah hati dan anda menikmati disetiap langkahnya mengamati batu, bunga, daun, kambing, ayunan, monyet. Anak-anak mengarungi waktu dengan cara kita sebagai orang dewasa. Buat kita waktu berjalan begitu cepat seolah tanpa henti. Bahkan ada peribahasa, 'berhenti berarti mati' peribahasa menggambarkan orang dewasa hampir tidak mengenal kata berhenti sehinga seringkali kita lupa bagaimana menikmati keindahan yang berada disekeliling kita.

Sementara waktu bagi anak-anak adalah ruang tanpa batas senantiasa baru, menyenangkan dan penuh kejutan. Itulah yang saya lakukan terkadang pagi atau sore, saya suka menikmati perjalanan yang indah bersama Hana. Pernah kami melewati pohon ada seekor monyet yang bergelantungan, Hana mengatakan, 'Ayah, lihat tuh ada temennya ayah..' Mendengar perkataan Hana rasa geli menahan tertawa tak bisa tertahankan.

Perjalanan kami begitu indah. Berkeliling kampung seperti sedang keliling dunia bagi Hana. Bagi Hana setiap tindakan, setiap perilaku hadir dengan keindahan, Kita, orang tua seringkali menatap kehidupan dengan berbagai persepsi yang seringkali kita penuh ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan. Alangkah indahnya kita juga menerima keindahan sebagai anak-anak. Dengan demikian kita merasa nyaman dan yakin bahwa keindahan, cinta, kebahagiaan itu memang ada dan nyata sebagai bagian dari rasa syukur kehadirat Alloh SWT.

'Sungguh, bila engkau bersyukur, sungguh akan Kutambah nikmat untuk mu'