Risalah 40
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani
Jadikanlah kehidupan setelah matimu sebagai modal dan kehidupan duniawimu sebagai keberuntungan. Jika masih ada waktu lebih, habiskanlah demi kehidupan duniawimu, yakni dengan mencari nafkah. Jangan kau buat kehidupan duniawimu sebagai modalmu, dan kehidupan setelah matimu sebagai keuntunganmu, dan sisa waktumu kau habiskan untuk memperolehi kehidupan setelah mati dan memenuhi kewajiban salat lima waktu. Kau diperintahkan untuk mengendalikan kedirianmu, agar ia mematuhi Tuhannya. Tetapi kau bertindak tak layak terhadapnya, dengan menuruti dorongan-dorongannya dan kau serahkan kendalinya kepadanya, kau ikuti keinginan-keinginan rendahnya, kau bersekutu dengan iblis dan nafsunya, dan tak memperolehi, dengan mengikutinya, sebahagian besar bahagianmu dalam kehidupan duniawi ini. Tapi, jika kau melalui jalur akhirat dengannya, dan menggunakannya sebagai modalmu, maka kau akan memperolehi kehidupan duniawi dan ukhrawi. Sedang bahagian duniawimu akan kau terima dengan segala kenikmatannya, dan kau akan terhormat. Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah menyelamatkan di dunia ini demi akhirat, sedang keselamatan di akhirat tak dimaksudkan demi kehidupan duniawi ini." Nah, begitulah. Dan niat untuk akhirat ialah kepatuhan kepada Allah. Sebab niat merupakan ruh pengabdian dan kemaujudannya. Bila kau mematuhi Allah dengan berpantang di dunia ini, dan dengan mengupayakan tempat di akhirat, maka kau menjadi pilihan Allah, dan kehidupan akhirat akan kau perolehi, iaitu syurga dan kedekatan dengan-Nya. Maka, dunia akan mengabdi kepadamu, dan bahagianmu darinya akan sepenuhnya kau perolehi, sebab segala suatu patuh kepada Penciptanya, iaitu Tuhannya. Bila kau diliputi kehidupan duniawi dan berpaling dari akhirat, maka Allah akan murka kepadamu; kau akan kehilangan akhirat, dunia takkan patuh kepadamu, dan akan menghalangi datangnya bahagianmu, kerana murka Allah kepadamu, sebab ia adalah milik-Nya. Nabi bersabda: "Dunia dan akhirat adalah ibarat dua isteri; jika kau menyenangkan yang satu, maka yang lain akan marah kepadamu." Allah, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berfirman: "Sesungguhnya sebahagian darimu menyukai kehidupan duniawi ini, dan sebahagiannya lagi mencintai akhirat." (QS 2:151) Kesemua ini disebut anak-anak dunia dan anak-anak akhirat. Nah, anak siapakah kau. Bila kau berada di kehidupan lain, akan kau lihat satu kelompok di neraka. Maka sebahagian orang senantiasa berada di tempatnya, pada satu hari yang, kata Allah, sama dengan lima belas ribu tahun. Sedang sebahagian yang lain berada di meja makan yang di atasnya makanan, bebuahan dan madu yang lebih putih, yang sangat lezat, daripada es, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis: "Mereka akan melihat tempat mereka di syurga, sampai Allah selesai meminta pertanggungjawaban manusia, dan mereka akan memasuki syurga sebagaimana mereka memasuki rumah mereka di dunia ini." Meraka meraih hal ini kerana telah mencampakkan dunia dan berupaya mencapai akhirat dan Tuhannya. Sedang mereka yang tenggelam dalam berbagai kesulitan dan kehinaan disebabkan tenggelamnya mereka dalam hal-hal duniawi, dan pengabaian mereka akan akhirat, Hari Pengadilan dan yang akan terjadi pada mereka kelak sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi. Maka pandanglah dirimu dengan pandangan penuh kasih-sayang, pilihkanlah baginya yang lebih baik di antara kedua kelompok ini dan jauhkanlah ia dari kekejian, pembangkangan dan jin. Jadikanlah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya sebagai pembimbingmu, renungkanlah dua pewenang ini, berlakulah dengan keduanya, dan jangan terkecoh oleh perkataan kosong dan keberlebihan. Allah berfirman: "Segala yang dibawa oleh Nabi kepadamu, terimalah, dan segala yang dilarangnya, jauhilah dan bertakwalah kepada Allah." (QS 48:7) "Dan mereka mengada-adakan ruhbaniyyah (kepaderian-penyunting), padahal Kami tak mewajibkannya kepada mereka." (QS 57:27) "Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, dan ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan." (QS 53: 3-4) Maknanya: "Segala yang ia sampaikan kepadamu berasal dari-Ku, bukan dari kediriannya, maka ikutilah." "Jika kau mencintai Allah ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu." (QS 3:30) Jelaslah, bahawa jalur cinta ialah mengikuti kata dan perilakunya. Nabi Suci saw bersabda: "Berupaya adalah jalanku dan beriman kepada Allah adalah keadaanku." Maka, kau berada di antara upaya dan keadaannya. Jika imanmu lemah, kau mesti berupaya, dan jika imanmu teguh, kau mesti menggunakan keadaanmu, yang adalah kebergantungan kepada-Nya. Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung berfirman: "Dan kepada Allah lah kau mesti berharap." "Barangsiapa beriman kepada Allah, maka Ia mencukupinya." (QS 65:3) "Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang beriman kepada-Nya." (QS 3:158) Nah, Ia memerintahkanmu untuk senantiasa beriman kepada-Nya, sebagaimana Nabi juga diperintahkan. Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa berbuat sesuatu yang tak kami perintahkan, maka perbuatannya itu tertolak." Hal ini meliputi kehidupan, kata dan perilaku. Hanya Nabilah yang dapat kita ikuti, dan hanya berdasarkan Quranlah kita berbuat. Maka, jangan menyimpang dari keduanya ini, agar kau tak binasa, dan agar hawa nafsu serta setan tak menyesatkanmu. "Jangan ikuti hawa nafsu, kerana ia akan memalingkanmu dari jalan Allah." (QS 38:26) Adapun keselamatan terletak pada Kitabullah dan sunnah Nabi. Sedang kebinasaan terletak di luar keduanya, dan dengan pertolongan keduanya ini, hamba Allah mencapai keadaan wali, badal dan ghauts. Bersambung.... *** Disalin tanpa Edit dari Futuuhul ghaib (Penyingkap keghaiban) Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani |
Berpantang dari segala yang haram adalah wajib bagimu, kalau tidak, maka tali kehancuran akan menjeratmu. Kau takkan lepas darinya, kecuali dengan kasih-sayang-Nya. Nabi Suci saw. bersabda bahawa asas agama adalah keberpantangan dari segala yang haram, sedang kebinasaannya adalah kerakusan. Umar ibn Khaththab as. Pernah berkata: "Kami biasa berpantang dari sembilan per sepuluh dari hal-hal yang halal, sebab kami khawatir kalau-kalau kami jatuh ke dalam hal-hal yang haram." Abu Bakar as. Pernah berkata: "Kami biasa menghindari tujuh puluh pintu dari hal-hal yang halal, kerana kami khawatir akan keterlibatan dalam dosa." Peribadi-peribadi ini berlaku demikian hanya untuk menjauh dari segala yang haram. Mereka bertindak berdasarkan sabda Nabi saw.: "Ingatlah! Sesungguhnya setiap raja memiliki sebuah padang rumput yang terjaga. Sedang padang rumput Allah ialah hal-hal yang dilarang-Nya." Maka, orang yang berbeza di sekitar padang itu, boleh memasukinya. Namun, orang yang memasuki benteng raja, melewati gerbang pertama, kedua dan ketiga, hingga sampai di singgasana, adalah lebih baik berbanding orang yang berada di pintu pertama. Maka, bila pintu ketiga tertutup baginya, hal itu takkan merugikannya, sebab ia tetap berada di balik dua pintu istana, dan ia memiliki milikan raja, dan tenteranya dekat dengannya. Tapi, bagi orang yang berada di pintu pertama, jika pintu ini tertutup baginya, maka ia tetap sendirian di padang terbuka, bisa-bisa diterkam serigala dan musuh, bisa-bisa diterkam serigala dan musuh, bisa-bisa ia binasa. Begitu pula, orang yang menunaikan perintah-perintah Allah akan dijauhkan darinya pertolongan daya dan keleluasaan, dan ia akan terbebas dari kedua hal ini. Dan ia tetap berada di dalam hukum. Bila kematian merenggutnya, maka ia berada dalam kepatuhan dan pengabdian. Dan amal kebajikannya akan menjadi saksi baginya. Orang yang diberi kemudahan, sedang ia tak menunaikan kewajiban-kewajibannya, jika kemudahan itu dicabut darinya dan ia terputus dari pertolongan-Nya, maka hawa nafsu akan menguasainya, dan ia akan tenggelam dalam hal-hal yang haram, keluar dari hukum, bersama dengan para setan, yang adalah musuh-musuh Allah, dan akan menyimpang dari jalan kebenaran. Maka, jika kematian merenggutnya, sedang ia belum bertaubat, maka ia akan binasa, jika Allah tak mengasihinya. Jadi, bahaya terletak pada keterlengahan, sedang keselamatan terletak pada pemenuhan kewajiban. Bersambung.... *** Disalin tanpa Edit dari Futuuhul ghaib (Penyingkap keghaiban) Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani |