Tampilkan postingan dengan label Al-Hikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Hikam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

::: Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah : Dari Dosa Hingga Karunia Sang Penguasa :::

“ Diantara tanda matinya qalbu adalah tidak bersedih atas ketaatan yang terlewat dan tidak menyesal atas dosa yang diperbuat “ (48)

ENGKAU HARUS mulai cemaskan dirimu bila ibadah ( shalat , puasa , zakat , zikir , dll ) yang engkau tinggalkan tidak membuatmu bersedih . Engkau juga harus mulai pertanyakan dirimu bila segala bentuk pelanggaran syariat tidak membuatmu menyesal . Jika keadaanmu sudah tidak peduli dengan semua itu , tandanya bahwa ada yang tidak beres dengan hatimu . Engkau harus segera “ siram “ dirimu agar “ tanah gersang “ mu subur kembali . Sempatkanlah dirimu “ menyendiri “ sesaat , jadikan hatimu tergugat . Pertanyakan mengapa engkau sebegitu pekat , lalu menangislah kepada-Nya dalam munajat . Engkau akan segera sehat .
*** 
“ Jangan sampai dosa itu kuanggap besar sehingga menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah . Sebab , siapa yang mengenal Allah akan memandang kecil dosa jika diukur dengan kemurahan-Nya “ (49)

BICARAKANLAH “ BAIK-BAIK “ tentang semua kesalahanmu dan dosa-dosamu di hadapan-Nya . Engkau tidaklah layak menyimpulkan sesuatu yang tidak kauketahui . Allah senantiasa mendahulukan rahmat-Nya dibanding murka-Nya . Jadi , tidak ada alasan bagimu untuk tidak datang kepada-Nya karena merasa tidak mungkin diterima oleh-Nya . Itu hanya perasaanmu saja , keputusasaanmu atas perbuatanmu sendiri . Engkau telah tidak adil pada-Nya bila engkau terus bersikap begitu.
Sungguh,kadang dosa besar yang kita akui dihadapan-Nya bukan saja menghadirkan pengampunan-Nya,melainkan sering kali melahirkan kearifan hidup yang bisa engkau bagikan pada orang lain. Berangkatlah menuju-Nya,tinggalkan semua kecenderunganmu berprasangka.
***

“ Tiada dosa kecil bila dihadapkan pada keadilan-Nya. Dan tiada dosa besar bila dihadapkan pada karunia-Nya” (50)

JANGAN SEKALI-KALI meminta keadilan-Nya . Sebab , Dia lebih mengetahui apa yang pantas buatmu . Jangan menghitung dosamu yang kecil dalam hal ini, sebab keadilan-Nya bisa membuatmu terperangkap dalam kesulitan keluar  dari kebiasaanmu berbuat dosa yang lebih besar.Jangan sekali-kali meragukan kemurahan-Nya . Sebab , saat kemurahan-Nya hadir untukmu , dosa besarmu tidak berarti di hadapan-Nya.Jika Allah mendahulukan keadilan-Nya , tentu binasalah semua pelaku kejahatan dan dosa di muka bumi ini, termasuk dirimu . Yang harus engkau lakukan kini adalah, senantiasalah berpulang kepada-Nya , bersandarlah pada kemurahan-Nya , nikmati karunia lembut-Nya.
***

“ Tidak ada amal yang lebih berpeluang diterima daripada amal yang tidak engkau sadari dan engkau pandang tak berarti “ (51)
JAGALAH HATIMU untuk selalu menganggap kecil amal perbuatanmu . Sebab , dengan demikian engkau terjaga dari kemungkinan berbelok dan tergoda pada pamrih duniawi. Biarkanlah perbuatan baikmu tumbuh dan berkembang secara alami, dalam siraman air kejernihan ( ikhlas ) . Engkau tidak perlu terlalu ingin memamerkan perbuatanmu , ikhlas akan menjadikannya tumbuh membesar , dan Allah-lah yang akan memamerkan buahnya kepadamu juga kepada semua makhluk-Nya. Karena itu , berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya, sembunyikankanlah seperti engkau menyembunyikan keburukanmu.

***
“Allah memberikan limpahan spiritual padamu tidak lain agar engkau mendatangi-Nya” (52)                                  
PERCAYALAH , ENGKAU tidak sepenuhnya memperoleh derajat kedekatan karena amalmu semata. Tetapi, Allah telah memberimu karunia spiritual yang membuatmu begitu mengagumi-Nya, menikmati semua jamuan-Nya, dan terhibur dengan semua perintah-Nya. Hingga engkau terpesona pada setiap pandangan yang tertuju pada-Nya. Inilah keindahan tak ternilai yang terus Allah karuniakan padamu. Jadi, jangan banggakan amalmu di hadapan-Nya, apalagi di hadapan makhluk-Nya.

***
“ Dia  memberimu limpahan spiritual untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman bayang-bayang ciptaan dan membebaskanmu dari diperbudak benda-benda ciptaan” (53)
PERTANYAKANLAH PADA dirimu, seberapa bisa engkau keluar dari pesona duniawi yang begitu memabukkan.
Bila bukan karena karunia spiritual-Nya, engkau masih tetap terjebak pada tipuan dan kepalsuannya. Pertanyakanlah pula, seberapa kuat engkau membebaskan dirimu dari kerangkeng duniawi. Bila tanpa karunia spiritual-Nya, engkau hari ini pasti masih terpenjara oleh semua itu. Allah membuatmu tetap berada dalam duniamu, tetapi memberimu ilham perilaku agar tak terseret pada permainannya yang melalaikan. Segeralah sadari, sebab apalah nikmatnya hidup dalam penjara?
Apalah artinya engkau merasa memiliki sesuatu yang hakikatnya semu? Bukalah matamu ....

***
“Dia memberimu limpahan spiritual untuk mengeluarkanmu dari penjara wujudmu menuju cakrawala penyaksianmu” (54)
KEBUTUHAN JASMANI kita begitu banyak dan sering sekali tidak terkontrol. Semakin sering kita memanjakannya, semakin kita terjebak pada rutinitas yang membosankan. Bahkan , lebih dari itu hidup menjadi makin terkekang pada batasan kebutuhan ragawi. Allah memberi kita karunia spiritual agar kita bisa melepaskan diri dari jebakan ragawi. Sebab, begitu rantai kekang ragawi terlepas, kita akan melihat berbagi pesona spiritual yang mengagumkan. Hidup menjadi tak lagi sempit, pandangan kita tentang melintas batas.
Kita terus menerus menyaksikan keajaiban demi keajaiban hidup dalam bimbingan-Nya . Kenyangkan dirimu dengan asupan spiritual , berpuasalah ....

***

“Cahaya adalah tunggangan kalbu dan segala rahasia jiwa” (55)
PENUHILAH DIRIMU dengan aktivitas ruhani. Beribadahlah dengan tekun. Sempurnakan ibadahmu. Bila semua ini sudah engkau jalani dengan benar , engkau akan nikmati kehadiran cahaya dalam hidupmu. Nikmatilah cahaya yang kautemukan untuk menghantarkankanmu lebih dalam, lebih jauh. Sebab, perjalananmu melewati lorong gelap kehidupan ini mustahil tanpa cahaya . Dengan cahaya , engkau akan semakin jelas menuju tempat yang engkau inginkan . Dan dengan cahaya , engkau bisa memilih yang terbaik  dari yang tersedia untuk engkau nikmati. Bergabunglah dalam keluarga-Nya , orang-orang yang senantiasa dekat dengan-Nya, sibuk bersama-Nya.

***
“Cahaya adalah prajurit kalbu sebagaimana kegelapan prajurit nafsu. Apabila Allah hendak menolong hamba-Nya maka Dia membantunya dengan prajurit cahaya serta memutus bantuan kegelapan dan makhuk darinya” (56)
CAHAYA ADALAH obor kesadaran (hati), sedang kegelapan adalah selimut kecenderungan (nafsu). Hati yang dipenuhi cahaya melahirkan semangat perubahan yang tidak menghancurkan . Sementara nafsu yang dipenuhi kegelapan senantiasa meluluh-lantakkan. Setiap saat, pertemuan keduanya terjadi. Sadarilah , pertarungan besar sedang terjadi dalam dirimu. Bila tentara hati yang menang , hidupmu akan tenang. Tapi Bila tentara nafsu yang menang , engkau akan senantiasa bimbang dan dipenuhi ketidak pastian. Sungguh, Allah senantiasa membantumu dengan membuat lebih terang cahaya hatimu dan menjadikan berat nafsumu. Kini, belajarlah untuk tidak mengingkari hati nuranimu ....

***
“Cahaya bisa menyingkap, mata hati bisa memberi penilaian. Serta kalbu bisa menghadap dan membelakangi.” (57)
KEBENARAN TERSINGKAP  karena hadirnya cahaya (hidayah) yang terang dan menerangi. Lalu matahari mengambil keputusan untuk  menetapkan kebenaran sebagai pilihan. Tetapi, sebagaimana watak hati yang bolak-balik , kebenaran sering kali diakui dan diingkari sesuai dengan keadaanya. Wajar bila kita kerap kali sudah mengetahui kebenaran , memutuskan untuk berdiri tegak dalam kebenaran, tetapi tiba-tiba berubah. Hati menjadi penentu terlaksanya sebuah perbuatan. Hatilah  yang menolak dan menerima , yang membawamu maju atau mundur , menghadap pada kebenaran atau bahkan membelakanginya. Hati-hati dengan hatimu, lihat dan dengarkan suara matahatimu.

***
“Janganlah engkau bergembira dengan ketaatan lantaran engkau mampu melaksanakannya. Namun , bergembiralah dengannya lantaran ia bisa dilakukan karena karunia Allah padamu. Katakanlah, ”Berkat karunia dan rahmat Allah itulah hendaknya kalian bergembira. Ia lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan” (2. 10 : 58) “ (58)

JANGAN BERSANDAR pada amal. Berasandarlah pada kemurahan-Nya. Ketaatan bukanlah sebab kemampuanmu melakukannya semata. Ketaatan adalah karunia-Nya kepadamu. Jika engkau bergembira karena merasa telah mampu melakukan semua ketaatan, engkau telah terpedaya oleh nafsumu . Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa-Nya , tanpa karunia-Nya . Berhentilah membanggakan ketaatanmu, sebab dalam kebangganmu itu , engkau telah meniadakan-Nya. Bila engkau telah meniadakan-Nya, engkau taat pada siapa?!

***
“Allah menjadikan orang-orang yang menuju-Nya dan orang-orang yang sampai kepada-Nya tak bisa melihat amal dan keadaan mereka masing-masing. Yang demikian , bagi orang-orang yang tengah menuju kepada-Nya, adalah karena mereka belum benar-benar ikhlas dalam amal mereka . Dan bagi orang-orang yang telah sampai kepada-Nya . adalah karena mereka sibuk menyaksikan-Nya” (59)

MASIHKAH KITA membuat catatan-catatan sendiri tentang amal kita ? Masihkah kita sering tunjukkan banyaknya amal sebagai ungkapan kebanggan kita? Masihkah semua amal itu kita sebut wujud prestasi kedekatan kita dengan-Nya? Bila yang demikian itu masih terjadi dalam diri kita , itu pertanda kita belum ikhlas. Sebab , orang yang berjalan menuju-Nya dan sampai kepada-Nya pastilah tidak tergoda untuk membanggakan semua bentuk bekal perjalanan . Cobalah belajar kecilkan semua prosesmu mendekati-Nya . Jadikan semua amalmu remeh dan tidak terlihat olehmu . Palingkan pandanganmu dari semua itu, cukuplah Allah yang engkau pandang. Sebab , bagaimana bisa engkau menikmati pesona-Nya bila engkau masih mengkhawatirkan kendaraanmu? Bersikaplah wajar , jangan banyak berujar, cahaya penyaksian akan berpijar.

(Ibnu 'Athaillah, Al-Hikam )

Rabu, 04 April 2012

::: Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah :Terus Melangkah Dalam Berserah :::

 “ Jangan bersahabat dengan orang yang kondisinya tidak membangkitkan semangatmu dan perkataannya tidak mengantarmu pada Allah “ (43)

TIDAK ADA yang tidak saling memengaruhi dalam kehidupan ini . Karena itu , terimalah dunia ini sebagaimana adanya . Tetapi pilihlah bagian terbaiknya meski engkau juga harus mengakui bagian terburuknya .
Engkau harus mengukur keadaanmu agar bisa bijak menempatkan diri dalam pergaulan .
Bila dirimu masih termasuk pribadi yang labil dan mudah terpengaruh , sebaiknya pilihlah teman yang bisa mengantarkanmu pada kesadaran untuk hidup dalam keseimbangan dan prinsip yang teguh . Engkau tidak seharusnya memaksakan dirimu bergaul dengan mereka yang pembicaraan tidak engkau mengerti.

Bukankah bimbingan sering kali malah menambah kebimbangan ? Alih-alih engkau tambah berperilaku baik , engkau malah makin terpuruk .
Bisa jadi perilaku temanmu baik , tapi pembicaraannya tidak sesuai dengan keadaanmu . Sepenuhnya bukan sebab temanmu , tapi sebab dirimu yang tidak pandai memilih pergaulan .


***
“ Bisa jadi engkau berbuat buruk . Namun , persahabatanmu dengan orang yang kondisinya lebih buruk menjadikanmu tampak baik “ (44)

JANGAN MERASA puas dengan keadaanmu . Sebab , puas terhadap diri sendiri sering kali membuat kita lupa diri. Perhatianmu pada pujian atas kelebihanmu bisa membuatmu “ teperdaya “ . Apalagi bila yang memujimu adalah orang yang sebenarnya tidak menjalani  apa yang engkau jalani . Jangan mengukur perbuatanmu dengan perbuatan orang-orang yang lebih buruk darimu . Sebab engkau akan semakin merasa terbiasa dan menganggapnya lumrah . Bukankah “ tukang kutil “ akan merasa tidak bersalah bila berada di antara para koruptor ? Bercerminlah ...

***
“ Tidak disebut sedikit amal yang bersumber dari kalbu yang zuhud , sebaliknya tidak dapat disebut banyak amal yang bersumber dari kalbu yang tamak . “ (45)

BELAJARLAH IKHLAS dalam beramal . Sebab , keikhlasan bagaikan mataair yang jernih yang menyuburkan . hati yang ikhlas bagaikan tanah subur . Sekecil apa pun benih mudah tumbuh dan berkembang . Lebih dari itu , buahnya pastilah sempurna . Engkau akan merasakannya sepanjang usia. Jauhi sikap tamak , karena sikap tamak bagaikan “ air limbah “ yang mematikan . Masihkah engkau memilih sungai yang dialiri limbah dibandingkan sumur yang dipenuhi oleh air jernih ? Yang memandangi-Nya memperoleh keindahan memandang ciptaan-Nya . Niatkan perbuatanmu semata karena-Nya , berlimpahlah !

***
“ Amal yang baik hasil dari kondisi spiritual yang baik . Sementara kondisi spiritual yang baik bersumber dari kemampuannya menerima berbagai kedudukan yang Dia berikan “ (46)

SELARAS.  KEADAAN lahir kita sangat berkaitan dengan keadaan batin kita . Yang terungkap dalam perilaku kita adalah gambaran yang tersembunyi dalam hati kita . Hanya orang – orang yang mau mengaktifkan “ rasa “ yang bisa menikmati limpahan keselarasan hidup . Cobalah memaknai setiap perjalanan hidupmu , engkau akan temukan begitu banyak yang selama ini “ tertimbun “ dalam kesadaranmu . Mulailah dengan tobat , upaya memperbarui pola hidup , lalu temukan ikhlas dalam dirimu , hidupkan sabar dan istiqamah . Engkau pasti akan merasakan betapa hidup begitu bermakna . Aktivitasmu menjadi sarana pembelajaran untuk memperbaiki perilakumu.

***
“ Jangan tinggalkan zikir lantaran tidak bisa berkonsentrasi kepada Allah ketika berzikir . Karena , kelalaianmu
( terhadap Allah ) ketika tidak berzikir lebih buruk ketimbang kelalaianmu ketika berzikir. . Mudah-mudahan Allah berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran , dan  dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, dan dari zikir yang disemangati kehadiran-Nya  menuju zikir yang meniadakan segala selain-Nya . “ Dan yang demikian itu bagi Allah  Tidaklah sukar “
( Q . 14:20 ) “ (47)

KITA BIASANYA berhenti zikir ketika merasa hati kita tidak bisa tentram . Atau , hati tidak bisa sepenuhnya menghadap Allah adalah perilaku orang yang tidak sungguh-sungguh ingin hidup damai bersama-Nya . Sebab , zikir adalah relasi kesadaran antara kita dengan-Nya . Bagaimana bisa engkau memperoleh cahaya , sementara engkau tidak tersambung dengan-Nya , Sang Cahaya ?

Biarkanlah lisanmu berulang-ulang menyebut kata ataupun kalimat yang menghubungkanmu dengan-Nya . Mungkin , pada kali pertama engkau merasa jenuh dan tidak tersambung . Tetapi , bila engkau membiarkan dirimu terus-menerus disiram “ air kesadaran “ sebab zikirmu , sangatlah mungkin engkau akan menikmati kehadiran-Nya dalam setiap aktivitas hidupmu . Bahkan , tidak ada yang engkau temukan dalam kehidupanmu kecuali diri-Nya . Membuatmu merasakan semuanya sangatlah mudah bagi-Nya . Berzikirlah tanpa berpikir , semua keindahan akan terukir .
((Ibnu 'Athaillah, Al-Hikam )

::: Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah : Berhijrah Kepada Allah :::

“ Sinar mata batin membuatmu menyaksikan dekatnya Allah denganmu. Dan mata batin membuatmu menyaksikan ketiadaanmu karena keberadaan-Nya . Dan hakikat mata batin membuatmu menyaksikan keberadaan-Nya , bukan ketiadaanmu ataupun keberadaanmu.” (36)

ENGKAU HARUS menyelam kedalam “ samudera “ kearifan. Jangan lagi sekadar menjadi pemilik pengetahuan tentang samudera . Bila engkau belum mampu , setidaknya belajarlah melihat langsung samudera itu. Mereka yang sudah “ melihat “ dan “ menyelam “ ke dalam samudera “ kearifan “ tidak lagi tertipu dan terjebak pada apa yang tampak . Sebab , apa yang tampak tidaklah bisa dianggap kebenaran mutlak.Begitulah mereka yang telah “mendiami” kesadaran puncak,
tidak lagi mempermasalahkan tentang perbuatan manusia. Sebab, yang terlihat hayalah perbuatan-Nya. Yang tampak tidak membuatnya berubah sikap. Karena semua ini dalam dirinya hanyalah sifat dan asma-Nya. Jangan sekedar menilai seseorang dari yang bisa engkau lihat . Tetapi , belajarlah melihat dari sisi-Nya. Engkau pasti tidak akan mudah membenci.

***
“ Allah ada , dan tiada seseuatu pun di samping-Nya dan kini Dia sebagaimana ada-Nya semula.” (37)

BAGAIMANA KITA bisa menyandingkan sesuatu selain Allah , sementara ia adalah zat yang mutlak ?! tidak ada sekutu bagi-Nya . Maha sempurna sifat , asma,  dan perbutan-Nya . Tak ada yang mengawali-Nya , tidak ada pula yang mengakhiri-Nya . Pertanyaan kita tentang-Nya hanyalah gangguan kesadaran akan kehadiran-Nya .
Ketika merasa kehilangan Dia , semata karena kita tidak bersandar kepada-Nya . Temukanlah ...
Dia seperti sebagaimana ada-Nya semula , engkau lah yang berubah

***
“ Janganlah cita-citamu tertuju pada selain Allah . Harapan seseorang tak akan dapat melampaui Yang Maha Pemurah.” (38)

BILA HIDUPMU ingin bahagia , tentram, dan tenang , luruskan pandanganmu kepada-Nya . Jangan pernah berpaling pada selain-Nya . Teguhkan jalanmu menuju-Nya , jangan mau dibelokkan oleh musuh-musuh-Nya.
Engkau hanya perlu membiasakan diri bersama-Nya . Menaruh harapan penuh kepada-Nya . Sebab, engkau tidak akan pernah dikecewakan-Nya . Dia hadir dan selalu mengurusimu dengan rahmat-Nya . Mawas dirilah ...

***
“ Jangan memohon kepada selain Allah karena Dia lah yang memenuhi hajatmu . Bagaimana sesuatu selain-Nya bisa mengubah sesuatu yang sudah ditetap-Nya? Dan bagaimana orang yang tak mampu membebaskan dirinya dari kebutuhan dapat membebaskan kebutuhan orang lain ? “ (39)

SETAN MUNGKIN bisa mengabulkan permintaanmu . Agen setan ( dukun dan sebagainya ) bisa jadi membuatmu yakin akan jalan yang ditempuh untuk memperoleh apa yang kaubutuhkan . Tetapi , pernahkah kau berpikir secara sadar bahwa engkau telah membodohi dirimu sendiri ? Bukankah bila setan atau agennya dapat memenuhi kebutuhanmu , mestinya merekalah yang pertama kali lebih baik darimu ? Engkau telah
“ menafkahi “ mereka dengan segala sesuatu yang berkaitan denganmu , Jiwamu , ragamu , lahirmu , batinmu , duniawimu , bahkan akhiratmu . Berhentilah meminta kepada selain-Nya . Tumbuhkan kepercayaan dirimu , lalu sapalah Allah Sang Pemenuh kebutuhanmu dengan doa-doamu . Bekerjalah  dalam keakraban yang senantiasa terpelihara dengan-Nya.

***
“ Jika engkau tidak bisa berbaik sangka kepada-Nya lantaran keindahan sifat-Nya , berbaik sangkalah kepada-Nya lantaran karunia-Nya kepadamu . Bukankah Dia selalu berbuat baik padamu dan mencurahkan berbagai karunia ?! “ (40)

MESKIPUN TERASA aneh bila ada di antara kita yang hidup dengan prasangka kepada-Nya . Sebab , bersama-Nya tidaklah perlu prasangka . Kita hanya butuh menerima setiap ketentuan-Nya sebagai sebuah kenyataan yang harus kita alami , kita jalani . Bila pun kita berprasangka baik kepada-Nya , sungguh itu tidak ada kaitan dengan diri-Nya . Tapi berkaitan dengan diri kita sendiri . Cobalah posisikan Dia secara benar dalam dirimu
,kehidupanmu , maka Dia akan memosisikanmu dalam kedudukan yang mulia di sisi-Nya . Yang akan terjadi padamu adalah engkau makin rela dengan semua kenyataan yang meliputi hidupmu . Selalu ada karunia-Nya bagi mereka yang mengerti diri-Nya . Yang lahir maupun batin , yang material maupun spiritual .

***
“ Sungguh mengherankan , orang yang lari dari apa yang dia tidak bisa terlepas darinya dan malah mencari apa yang tidak kekal baginya . ‘ Sesungguhnya mata kepala itu tidak buta , tetapi yang buta adalah matahati yang ada dalam dada’ “ ( Q . 22:46 ). (41)

BILA ENGKAU bisa menikmati sinarnya matahari , mengapa engkau malah mengejar bayang-bayangnya ? mengapa engkau masih terus menghambakan sesuatu yang bisa rusak dan lenyap ? Engkau buta bila engkau tak mengenal-Nya . Engkau telah tertipu pada makhluk-Nya . Padahal , bila engkau mendekati-Nya , bayangan
( dunia ) terseret bersamamu . Berlarilah dari dunia kepada-Nya , sebab dunia juga berada dalam rengkuhan-Nya . Engkau tidak lagi perlu berpayah-payah memikirkan dunia , sebab Dia akan membuat dunia melayanimu. Perbaikilah pandanganmu , engkau akan selalu dalam pandangan-Nya .

***
“ Jangan pergi dari satu alam ke alam lain sehingga engkau seperti keledai yang berputar di penggilingan ; tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak . Namun , pergilah dari alam menuju Pencipta alam .
Sesungguhnya kepada  Tuhanmu segala sesuatu berakhir ( Q 53 : 42 ) Perhatikan sabda Nabi SAW . “ Siapa yang hijrah – Nya menuju Allah dan Rasul-Nya , maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-NYA. . Namun , siapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin digapai atau wanita yang ingin dinikahi , maka hijrahnya mengarah kepada apa yang ia tuju.” ( HR . Bukhari ) .
Pahami sabda Nabi ini dan renungkan masalah tersebut jika engkau cerdas .” (42)

KITA AKAN bersama dengan apa yang menjadi pusat perhatian kita . Bila niat , tujuan , dan pusat perhatian  kita. Apa yang menjadi niat dan tujuan kita. Bila niat . tujuan , dan pusat perhatian seseorang adalah dunia maka ia tidak akan peduli dengan segala sesuatu selainnya . Begitulah , kehidupannya tidak akan pernah keluar dari lingkaran yang sama . Mereka akan berputar-putar pada semua bentuk masalah di dalamnya . Tetapi , bila niat , tujuan , dan pusat perhatiannya adalah Allah maka dunia tidak akan merepotkannya . Mereka akan menemukan Allah dalam setiap aktivitas duniawinya . Melangkah dalam kerja dan amal semata karena-Nya , meraih keridaan-Nya , mengais berkah-Nya . Sungguh , niatkanlah semua aktivitasmu semata karena-Nya , berpindahanlah dari cara pandang lama , pergilah menuju lautan karunia-Nya . Maka engkau akan menjadi pribadi yang senantiasa tersenyum sebab sapaan lembut-Nya padamu ,
Hijrahlah !

(Ibnu 'Athaillah ; Al-Hikam )

::: Untaian Hikmah Ibnu 'Athaillah : Berjuang Dari Aib Menuju Yang Gaib :::

“ Sangatlah dungu orang yang menginginkan terjadi nya sesuatu yang tidak dikehendaki Allah pada suatu waktu “ (17)

KITA SERING keliru menyikapi pengabulan atas doa.Ini disebabkan kita tidak menakar kedudukan kita di sisi Allah , tetapi malah mempertanyakan kedudukan Allah di sisi kita . Allah menyapa kita dengan sangat terang melalui asma terindah-Nya . Sayangnya , kita tidak menghiraukan sapaan – Nya dan lebih memperhatikan permintaan kita kepada-Nya . Kehadiran-Nya yang nyata terhijab oleh khayalan kita semata . Padahal , apa yang kita inginkan senantiasa dikabulkan menurut kadar-Nya , bukan menurut kadar kita. Sesuai dengan kehendak-Nya , bukan sesuai dengan kemauan kita . Berserahlah pada keputusan – Nya .
Tundukkan keinginanmu pada kehendak-Nya . Engkau terpilih engkau tak akan tersisih.

***
“Menunda beramal guna menantikan kesempatan yang lebih luang , termasuk tanda kebodohan diri”(18)

SALAH SATU nikmat yang paling berharga adalah waktu luang. Karena itu , sangatlah tidak cerdas orang yang selalu menjadikan waktu luang sebagai alasan menunda amal saleh yang mestinya segera dikerjakan . Ini terjadi karena dominasi nafsu dalam diri. Kesadarannya terkalahkan oleh kecenderungannya . Ia tidak mampu mengelola dirinya dengan baik dan tidak pandai menyikapi kondisi . Bukankah dalam hidup ini kesempatan dan kesempitan , kesenangan dan kesedihan terus berputar ? Dan bukankah pula setiap kondisi selalu diiringi dengan ujian ? JANGAN MALAS ... BILA TIDAK INGIN TERGILAS.

***
“ Jangan engkau meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari satu kondisi guna dipekerjakan pada kondisi lain . Sebab , jika memang menghendaki tentu  dia akan mempekerjakanmu tanpa harus mengeluarkanmu ( dari kondisi sebelumnya )” (19)

HIDUP ITU pergulatan panjang . Bila kita tidak ingin lelah , sebaiknya ikuti saja irama-Nya . Kita tidak perlu mencoba beralih dari satu keadaan ruhani, ke keadaan ruhani yang lain . Karena , pada setiap episode hidup, kita sebenarnya sedang diajari untuk memiliki sikap ruhani yang cerdas. Kita tidak juga layak menentukan tahapan-tahapan perilaku kita. Sabar, syukur, tobat,  dan tawakal senantiasa meliputi keadaan yang kita alami. . Tugas kita hanyalah menjalani apa yang harus kita alami . Yakinlah , bila Allah menghendaki, bisa saja engkau menjadi pribadi yang senantiasa memiliki sifat berserah , tetapi juga tetap sabar. Nikmatilah jamuan-Nya tanpa perlu menanyakan ramuan-Nya.

***
“Ketika tekad salik hendak berhenti manakala melihat hal gaib , ia segera di seru oleh suara hakikat, ‘Yang kau tuju masih di depan.’ Serta ketika lahiriah alam terlihat indah olehnya , maka hakikat nya berkata , “ Kami hanyalah ujian . Jangan sampai engkau kufur karena tertipu!”” (20)

MELIHAT SESUATU ( yang batini ) di balik sesuatu ( yang lahiri ) adalah fenomena spiritual yang bisa menggelincirkan . Menikmati kedamaian dalam ritual pendekatan diri kepada-Nya juga bisa menjadi kepuasan yang melalaikan . Sebab , lorong kehidupan ini sangatlah panjang . Setiap penyingkapan bisa saja benar benar merupakan anugerah dari-Nya . Tetapi , sangat mungkin merupakan godaan yang menyesatkan. Wajar bila banyak dari para penempuh jalan ruhani ( salik ) justru berhenti di tempat yang tak seharusnya mereka tertipu oleh banyaknya “ pemandangan “ menakjubkan selama berada dalam perjalanan . Yang lebih memprihatinkan , di antara mereka banyak yang “ mencuri “ dari ladang kesadaran , buah yang berubah menjadi makanan beracun ( Q.2: 102 ).Jangan mudah terpana agar engkau tak merana

***
“ Engkau meminta dari Allah berarti menuduh-Nya . Engkau meminta kepada-Nya berarti mengumpat-Nya . Engkau meminta kepada selain – Nya  berarti engkau tak punya rasa malu kepada-Nya . Dan engkau meminta dari selain – Nya berarti engkau jauh dari – Nya “ (21)

INI TENTANG sikap dan perilaku hamba saat berhubungan dengan-Nya. Membutuhkan – Nya tetapi abai terhadap aturan-Nya.Menjadikan-Nya sandaran harapan tetapi menduakan-Nya . Mengaku berserah tetapi serakah pada nikmat-Nya, Padahal , Allah tidak memerlukan tuntutan apa pun dari hamba-Nya . Allah sempurna sepenuhnya, seutuhnya. Tidak akan ada yang luput dari – Nya. Jangan mengadu pada selain-Nya . Engkau hanya harus terus menghadirkan kesadaran dalam diri bahwa Dia senantiasa hadir dalam setiap gerak hidupmu. Sapalah Dia di mana pun engkau berada; senyumlah karena-Nya pada setiap yang engkau jumpai. Bekerjalah dengan tulus dan wajar maka bagian hidupmu akan terhampar.

***
“ Pada setiap tarikan napas terdapat takdir Allah yang berlaku atas dirimu” (22)

NAPAS ADALAH momen . Entahlah , apakah kita masih bisa menjaga momen tersebut dengan baik atau tidak.Kesadaran spiritual mengajarkan kepada kita bahwa setiap embusan nafas kita adalah “ tanda “ hadir-Nya dalam kehidup kita. Manusia yang cerdas pastilah tidak akan menyia-nyiakan anugerah yang satu ini . Sebab , bila “ tanda “ hadir-Nya berhenti, selesailah semua bentuk perjalanan . Hilanglah semua momen dan tertutup kesempatan . Cobalah memulai menghargai napas-(momen)-mu, rasakan kelembutan-Nya pada setiap tarikannya.Dan engkau akan menemukan semua menjadi begitu beharga

***
“ Jangan menantikan rampungnya urusan dunia sebab hal itu bisa membuatmu lupa kepada Allah dalam kondisi yang telah Dia tetapkan untukmu.” (23)

APA PUN jabatan, pekerjaan, atau aktifitas duniawi kita sepatutnya tidak menghalangi kita untuk terus berbenah . Upaya mendekatkan diri kita kepada Allah memang harus melalui pemenuhan kewajiban agama (syariat). Mulailah meniti kesadaran dalam diri agar engkau mudah menata keserasian dengan makhluk-Nya . Engkau akan tetap merasakan bersama-Nya dalam keramaian makhluk-Nya . Jangan sesekali engkau mangkir dari kewajibanmu menemui – Nya . Engkau akan kehilangan kesempatan yang menyenangkan bersama – Nya . Dan engkau terjerat pada kenikmatan semu bersama makhluk-Nya . Apa yang bisa kita nikmati dari “ bayang-bayang “?

***
“Jangan merasa aneh dengan banyaknya kekeruhan selama engkau berada di dunia . Sebab yang ia tampakan hanyalah yang memang layak dan mesti menjadi sifatnya”(24)

PERCAYALAH, SEGALA sesuatu di dunia ini fana dan sementara . Hanya Dia yang sempurna . Hanya Dia yang mutlak . Karena itu , janganlah berlebihan menyikapi kesulitan hidup. Sebesar apa pun, ia akan makin mengecil & sirna . Seberat apa pun , ia akan makin ringan dan hilang. Kesulitan hidup , kesengsaraan , dan penderitaan tidak akan berkembang dan tumbuh seperti tanaman . Biarkan saja kesulitan hidup menderamu, teruskan saja langkahmu . Sebab , dari setiap yang dihadirkan-Nya untukmu selalu disertai kebaikan buatmu. Tersenyumlah , jadikan derita seperti cerita indah yang mengagumkan.

***
“Permintaan tidak tertahan selama engkau memohon kepada Tuhan. Namun, permintaan tidak mudah dicapai bila engkau mengandalkan dirimu sendiri”(25)

BEGITU MUDAH dan indah bila kita hidup terus berserah. Tak ada cemar , tak ada hati jadi “ memar “ , bila kepada yang Mahabenar kita bersandar . Sungguh , semua pengabulan telah tersedia dihadapan kita.Bila kita berdo’a, itu semata tegur sapa akrab seorang hamba kepada Tuhannya . Tetapi, hidup menjadi melelahkan bila kesombongan tak terlelehkan . Ambisi meraih semua menghadirkan lupa dan sikap putus asa . Layakkah menjadi tuhan untuk diri sendiri? Segeralah berlari pada-Nya... 

***
“ Diantara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.”(26)

MEREKA YANG sejak awal bersandar , semangatnya tidak akan mudah pudar . Mereka yang sejak awal berserah tidak akan gampang berkeluh kesah. Inilah tanda bahwa mereka telah meraih keberhasilan dari perjuangannya sejak awal. Karena menyadari kehadiran-Nya di awal , dan di akhir rentangan perjuangan , mereka teguh dalam meneliti perjalanan . Adakah yang rugi bila sandarkan diri pada Yang Mahaakhir? Mulailah berpikir , nikmatilah dzikir

***
“ Siapa yang awal perjalanannya bersinar , akhir perjalanannya juga akan bersinar “ (27)

PERJALANAN HIDUP kita sangat dipengaruhi oleh motif. Apa pun yang kita kerjakan , Apa pun profesi yang kita jalani . Orang yang motivasi hidupnya hanya digerakan oleh naluri semata , ia akan menempuh kesuksesan dengan segala cara . Mungkin saja , setiap proses yang ia jalani menghasilkan prestasi atau keuntungan. Tetapi, bisa dipastikan , keberhasilannya tidak banyak memberi manfaat . Bukannya memperoleh ketentraman , ia didera tekanan demi tekanan batin. Bila motivasi hidup seorang digerakan oleh fitrah, ia akan tenang bersama-Nya. Menempuh Proses dalam pemeliharaan-Nya.Meraih keberhasilan dalam keakraban dengan-Nya. Mereka kaya sekaligus tercerahkan.Hati terjaga, karunia-Nya berlipat juga . Benahilah ...

***
“Apa yang tersimpan dalam rahasia batin , pasti pengaruhnya tampak pada anggota lahir” (28)

BERHATI-HATILAH DENGAN lintasan batin. Sebab , yang tersembunyi bagi kita , bagi–Nya tetaplah nyata.
Bukankah banyak hal terjadi dalam kehidupan nyata berawal dari lintasan yang kadang sudah terlupakan? Yakinlah , yang hari ini tak mungkin , suatu saat bisa jadi lumrah. Begitu pun dengan perilaku batin kita yang tersembunyi . Kita hanya butuh waktu untuk menyaksikannya menjadi perbuatan lahir. Karena itu , mulailah belajar melepaskan ikatan kepalsuan dan kepura-puraan hidup. Hadirlah dalam hidup ini secara tulus dan wajar. Agar kita lebih siap dengan apa pun yang akan tersingkap , dalam kebaikannya maupun keburukannya .Selami diri. 

***
 “ Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukan adanya alam, dan orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukan adanya Allah. Orang yang berdalil dengan adanya Allah mengerti kebenaran adalah bagi Pemiliknya, sehingga ia menetapkan segala perkara dengan merujuk kepada asalnya . Sedangkan berdalil untuk adanya Allah adalah karena tidak sampai kepada-Nya . Betapa tidak ! Bilakah Allah itu gaib sehingga diperlukan bukti untuk mengetahui adanya Allah? Dan bilakah Dia itu jauh sehingga benda-benda alamlah yang mengantar kepada-Nya” (29)

INI TENTANG perbedaan sudut pandang . Menuju ke arah yang sama dengan penilaian yang berbeda. Yang pertama, menemui-Nya melalui ciptaan-Nya . Menyadari kesempurnaan-Nya melalui kesempurnaan alam semesta. Meyakini keesan-Nya melalui keanekaragaman alam semesta.
Yang kedua , menyadari-Nya lebih dahulu untuk kemudian menemukan-Nya dalam hamparan alam semesta.
Pendapat kedua ini dipegang oleh ahli makrifat. Buat mereka , Allah tidak pernah “ absen “ dalam setiap kesempatan . Allah senantiasa hadir dan dekat. Kitalah yang harus membuktikan ada-Nya dan mencapai-Nya bila kita berada begitu “ jauh “.Pertanyaannya , sudahkah kita melewati salah satu atau kedua cara diatas? Mengenal-Nya melalui nalar ilmiah atau pengalaman amaliah?

***
“ Hendaklah orang yang mempunyai keluasan harta berdema menurut kemampuannya , “ ditujukan kepada mereka yang telah sampai kepada Allah. “ Dan siapa yang disempitkan rezekinya , hendaknya mendermakan apa yang diberikan Allah kepadanya” ( 2. 65:7 ) , ditunjukan kepada mereka yang tengah menuju Allah.” (30)

DALAM SETIAP tahapan perjalanan menuju-Nya dibutuhkan kesadaran untuk memberi manfaat kepada sesama . Mereka yang telah “ melampaui “ perjalanan dan mendapatkan keluasan dalam pengetahuan
( tercerah ) sangatlah dianjurkan oleh-Nya untuk mau “ melayani “ sesama . Sebagaimana layaknya pelayan , apapun kebutuhan orang yang dilayani seyogyanya mampu ia penuhi . Sebab , semakin sering dan tulus melayani , ia akan menemukan kemurahan-Nya makin berlimpah . Tidak ada upah yang ia harapkan , karena hatinya telah menjadi gudang kekayaan itu sendiri .
Sedangkan mereka yang masih “ melewati “ dan masih memiliki banyak kekurangan , cukuplah bagi nya membiasakan “ berbagi “ . Tidaklah pantas bila kita yang seharusnya sudah “ melayani “ malah bersikap sekadar “ berbagi “ malah memaksakan diri untuk “ melayani “ . Karena itu , bersikap wajarlah agar tidak kecewa.

***
“ Orang-orang yang mengarungi perjalanan menuju Allah mendapat hidayah lewat cahaya menghadapkan wajah pada-Nya . Sementara orang-orang yang telah sampai kepada Allah mendapat cahaya yang terlimpah dari-Nya . Yang pertama menuju kepada cahaya , sementara yang kedua dituju oleh cahaya karena mereka hanyalah mengarah kepada Allah ; bukan kepada selain – Nya . Katakan , “ Allah ,” lalu biarkan mereka bermain-main dalam kesibukan mereka ( 2 6:92 )” (31)

TENTU SANGATLAH wajar bila kita memperoleh cahaya tawaruh ( ibadat ) untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya karena kita istiqamah menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Cahaya itulah yang mengantarkan kita memiliiki sikap “ berserah “ dan “ percaya “ sepenuhnya kepada Allah . Pada tingkatan ini , kita terliputi oleh cahaya islam dan iman . Dan sangatlah pantas bila kita memperoleh cahaya muwajahah
( makrifat ) sebab terperihalanya keterikatan batin kita dengan-Nya dalam kondisi apa pun. Artinya , bila kita ingin keluar dari kegamangan hidup dan tekanan , tidak ada jalan lain kecuali belajar membiasakan ibadah secara istiqamah , menghidupkan perbuatan baik , dan memperbaiki niat . Bila ingin tenang bersama-Nya dalam hidup ini , kita mesti mengutamakan-Nya dari pada selain-Nya . Itulah “ kebijakan spiritual “ , kearifan menyikapi hidup. Luruskan niat.

***
“ Keinginanmu untuk mengetahui aib-aib tersembunyi dalam diri lebih baik daripada keinginan untuk mengetahui hal-hal gaib dari pada keinginan untuk mengetahui hal-hal gaib yang tersembunyi darimu “ (32)

SUNGGUH MENGGELIKAN orang-orang yang terus-menerus membanggakan kemampuannya mengetahui segala yang dianggap “ misteri “ . Alih-alih kemampuannya tersebut mampu membawa hidup dalam kesejahteraan, yang terjadi malah jiwa nya merintih penuh kesengsaraan. Banyak dari kita yang masih menghubungkan kesuksesan dan kegagalan hidup mereka  pada faktor gaib. Faktor tersembunyi itu kadangkala malah dibuat-buat . Penuh permainan membahayakan dan kepalsuan . Padahal , yang harus kita lakukan adalah menggali lebih dalam setiap bentuk kekurangan ( aib ) dalam diri . Sikap inilah yang menentramkan  , karena jauh dari menghadirkan sakwasangka dan permusuhan . Bila sikap ini menjadi kebiasaan , kita akan lebih banyak memperoleh pencerahan hidup. Berpalinglah dari “ dukun “ maka hidupmu akan aman dan rukun.

***
“ Allah tidak teralingi . Engkaulah yang teralingi dari melihat-Nya . Sekiranya ada sesuatu yang mengalingi Allah , sesuati itu akan menutupi-Nya . Dan sekiranya ada tutup baginya , tentu ada batasan bagi wujud-Nya . Dan sesuatu yang membatasi tentu menguasai yang dibatasi, padahal, “ Allah Maha Berkuasa atas semua hamba-Nya” ( Q.6:18). (33)

SERING KALI ketika kita terjerumus dalam perbuatan dosa , lalu terhijab dari melihat kemurahan-Nya . Padahal , Allah sungguh mahakuasa atas segala sesuatu , tidak ada yang mampu membatasi-Nya . Menuduh-Nya tidak memahami keadaanmu adalah fakta bahwa dirimu tidak pernah mengenal-Nya . Kenalilah dia dalam dirimu , dan pada setiap tanda kehadiran-Nya dalam kehidupan ini . Maka engkau akan mengerti bahwa Dia sempurna ada-Nya. Basuhlah dosa-dosamu maka engkau akan merasakan sentuhan kehangatan-Nya . Engkau akan senantiasa melihat-Nya dalam setiap gerak dan diammu 

***
“Keluarlah dari sifat-sifat manusiawimu , yaitu dari semua sifat yang bertentangan dengan penghambaanmu , agar engkau dapat menyambut seruan Allah dan dekat dengan hadirat-Nya” (34)

ADAKAH ORANG yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain , mendekat dengan benar pada sumber kebenaran ? Bagaimana mungkin ada pengabdian ( Ibadah ) bila kita tidak merasa diri sebagai hamba-Nya. Bersikaplah selayaknya sebagai hamba ; hiduplah dalam keberserahan sepenuhnya. Agar hatimu jernih mendengar panggilan-Nya . Agar jiwamu damai bersama-Nya. Sungguh , bila engkau menyadari kehambaanmu di hadapan-Nya , engkau akan menikmati “ jamuan “ terindah dari-Nya . Jauhkan segala bentuk tabiat menyimpang agar langkahmu mendekati-Nya gampang . Jadikan hatimu lapang , agar nafsumu tak menentang. Engkau akan temukan daya panggil menuju-Nya lebih kuat daripada daya tarik pada apa pun 

***
“ Pangkal segala maksiat , kelalaian , dan syahwat adalah pengumbaran nafsu . Dan pangkal segala ketaantan , kewaspadaan , dan kebajikan adalah pengekangan nafsu . Bersahabat dengan orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya lebih baik bagimu ketimbang bersahabat dengan orang pintar yang memperturutkan hawa nafsunya. Kepintaran apalagi yang dapat disandangkan pada orang pintar yang selalu memperturutkan hawa nafsunya? Dan kebodohan apalagi yang dapat disandangkan pada orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?” (35)

ORANG CERDAS adalah mereka yang mampu mengendalikan diri. Bergaul dengan orang seperti ini pastilah lebih aman. Sebab , pengendalian diri merupakan perjuangan yang paling berat , besar, dan melelahkan. Tidak ada kata berhenti kecuali nanti saat kita mati. Bila engkau temukan orang seperti ini , rangkuhlah menjadi sahabatmu. Jangan pedulikan status pendidikannya . Ini tidak ada kaitannya dengan gelar akademis ataupun prestise . Merekalah orang-orang yang layak memberi “ warna “ dalam kehidupan kita.
Bersama mereka, kita akan mudah “ tercelup” dalam celupan-Nya . Lalu , teladanilah kemampuan mereka menjaga potensi kebaikan . Sadarilah potensi keburukanmu dengan bercermin kepada mereka . Telitilah lebih jauh apa yang menghalangimu menikmati ketaatan , dan apa yang membuatmu terdorong kepada kemaksiatan . Menagkanlah ...
(Ibnu ‘Athaillah, Al-Hikam )