Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

::: Masuk Surga Dan Neraka Karena Seekor Lalat :::

Di sebagian kalangan di negeri kita masih saja melestarikan budaya sesajian. Pada waktu tertentu, ada yang menaruh sesaji berupa kepala kerbau. Ada pula yang dengan tumbal yang dilarung di laut atau telaga. Semua ini masih terus lestari. Padahal kalau ditinjau ritual sesaji ini adalah ritual syirik. Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah berikut ini. Hanya karena sesajinya berupa seekor lalat, membuat ia masuk neraka. Sebaliknya ada yang enggan untuk sesaji sampai ia dipenggal lehernya, malah membuatnya masuk surga.

Berikut kisah dua orang orang yang masuk neraka karena lalat dan masuk surga juga karena lalat,

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.
Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.”

Status hadits:
Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam.

Al Hadizh mengatakan bahwa jika Thoriq bertemu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka ia adalah sahabat. Kalau tidak terbukti ia mendengar dari Nabi, maka riwayatnya adalah mursal shohabiy dan seperti itu maqbul atau diterima menurut pendapat yang rojih (terkuat). Ibnu Hibban menegaskan bahwa Thoriq wafat tahun 38 H. Lihat Fathul Majid, hal. 161, terbitan Darul Ifta’.

Beberapa faedah dari hadits di atas:
1- Hadits di atas menunjukkan bahaya syirik walau pada sesuatu yang dinilai kecil atau remeh.

2- Jika sesaji dengan lalat saja bisa menyebabkan masuk neraka, bagaimana lagi dengan unta, atau berqurban berkorban untuk mayit atau selain itu?!

3- Hadits tersebut menjadi pelajaran bahwa sesaji yang biasa dilakukan oleh sebagian orang awam di negeri kita adalah suatu kesyirikan.

4- Syirik menyebabkan pelakunya masuk neraka sedangkan tauhid mengantarkan pada surga.

5- Seseorang bisa saja terjerumus dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut syirik yang menyebabkan dia terjerumus dalam neraka nantinya.

6- Hadits tersebut juga menunjukkan bahayanya dosa walau dianggap sesuatu yang kecil. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kalian mengamalkan suatu amalan yang disangka ringan, namun kami yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai suatu petaka yang amat besar.”

7- Orang tersebut masuk neraka karena amalan yang awalnya tidak ia maksudkan, ia hanya ingin lepas dari kejahatan kaum yang memiliki berhala tersebut.

8- Seorang muslim yang melakukan kesyirikan, batallah islamnya dan menyebabkan ia masuk neraka karena laki-laki yang diceritakan dalam hadits di atas adalah muslim. Makanya di dalam hadits disebutkan, “Seseorang masuk neraka karena lalat”. Ini berarti sebelumnya dia adalah muslim.

9- Yang jadi patokan adalah amalan hati, walau secara lahiriyah amalan yang dilakukan terlihat ringan atau sepele.

10- Hadits ini menunjukkan bahwa sembelihan, penyajian tumbal, sesaji adalah ibadah. Jika ada yang memalingkan ibadah tersebut pada selain Allah, maka ia terjerumus dalam syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam.

11- Hadits di atas menunjukkan keutamaan, keagungan dan besarnya balasan tauhid.

12- Hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan sabar di atas kebenaran dan ketauhidan.

Semoga kisah di atas membuat kita semakin paham akan bahaya syirik dan pentingnya mengesakan Allah dalam ibadah. Tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, tentu harus ditinggalkan apalagi jika sampai membuat Allah murka dan membuat kita terjerumus dalam neraka. No way to SYIRIK!

Wallahul muwaffiq.
(Dari kisah Islami )

Sabtu, 21 Juli 2012

::: Kupu-Kupu :::

Seorang anak sedang bermain-main dan menemukan kepompong kupu-kupu disebuah dahan pohon yang rendah.
Diamatinya kepompong tersebut dan tampak ada lobang kecil disana.
Dia tertegun mengamati lubang kecil itu karena terlihat ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu tampak kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia kelihatan sudah berusaha semampunya dan tampak sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil diujung kepompongnya.

Melihat kejadian itu si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu untuk keluar dari kepompongnya.
Diapun mengambil gunting, lalu mulai membuka badan kepompong dengan guntingnya agar sang kupu-kupu bisa keluar dengan bebas dan leluasa.

Begitu kepompong terbuka , kupu-kupu pun keluar dengan mudahnya.
Akan tetapi ia masih memiliki tubuh gembung dan kecil, sayap- sayapnya tampak masih berkerut.
Anak itupun mulai mengamatinya lagi dengan seksama sambil berharap sayap kupu- kupu tersebut berkembang sehingga bisa membawa kupu- kupu mungil tadi terbang menuju bunga- bunga yang ada ditaman.
Harapan tinggal harapan , apa yang ditunggu- tunggu si anak tidak kunjung tiba.
Kupu-kupu tersebut terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap yang masih mengkerut serta tidak terbentang dengan sempurna.
Kupu-kupu itu akhirnya tidak pernah mampu terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan anak tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu- kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari kupu- kupu itu masuk kedalam sayap -sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

"Hidup adalah perjuangan.
Hidup adalah kerja keras, bahkan untuk meraih keberhasilan diperlukan keringat dan airmata".
Kadang perjuangan adalah yang kita butuhkan dalam hidup kita.
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Tidak ada yang instan, Semua melalui proses yang sudah ada dalam kehidupan.
Setiap tapak kehidupan yang sudah dilalui akan memberi makna yang luar biasa bagi seseorang untuk melewati tapak kehidupan berikutnya.
Pengalaman-pengalaman suka dan duka akan memberikan seni tersendiri dalam mewarnai kehidupan kita yang sebentar ini.

Terkadang jika sedang merenung terbersit keinginan untuk bisa mengikuti sejengkal demi sejengkal kehidupan dengan bijaksana dan serius. Namun tatkala persaingan sudah semakin ketat, perenungan tinggal perenungan, yang penting bagaimana meraih keberhasilan dengan cara apapun, walau terkadang sampai menghalalkan segala cara.

Seorang anak tanpa disadari terkadang menjadi korban ambisi orangtuanya. Misalnya orang tua memaksa anak untuk belajar berhitung atau kursus komputer agar terlihat lebih dulu bisa berhitung atau menguasai komputer dibandingkan teman-temannya.
Beberapa kisah "pengkarbitan" tentu akan menuai permasalahan baru dalam implementasinya, karena individu- individu yang "dikarbit" tidak dibiarkan terlebih dahulu matang dalam perjalanan hidup.

Jika kita kembali kepada kisah kupu- kupu , mungkin kita baru mengerti bahwa seekor kupu- kupu yang cantik ternyata baru bisa terbang dengan indahnya setelah melalui perjuangan yang cukup berat dalam proses metamorfosis yang luar biasa hebatnya.

Jika seseorang ingin terbang dengan kompetensi yang memadai tentu harus melalui perjuangan yang berat.
Kompetensi seseorang dinilai dari apa yang telah dilakukannya, bukan dari apa yang diucapkannya.
Kompetensi seseorang dinilai dari pengalaman-pengalaman yang telah dialaminya, bukan sekedar perencanaan yang tertulis diatas kertas.
Layaknya seekor kupu- kupu kehidupan manusia pun tidak hanya mengikuti siklus kehidupan yang sudah ada, namun harus berani mengambil titik balik kearah yang lebih baik lagi. (dari ulat menjadi kepompong lalu kupu-kupu)

Perubahan pertama yang memungkinkan kita untuk terbang tinggi adalah perubahan paradigma (perubahan cara berpikir) dan cara pandang. Bagaimana cara kita memandang kehidupan ini, bagaimana cara kita memandang permasalahan yang dihadapi, akan sangat menentukan bagaimana kita melalui hari- hari kita selanjutnya.

Jika selalu memandang negatif dan terus mengeluh tentu akan membuat sikap mental kita menjadi lebih buruk. Sebaliknya jika disikapi dengan optimis dan penuh harapan, maka proses pembelajaran akan berlansung lebih baik.
Perubahan pikiran ini selanjutnya akan diikuti dengan perubahaan perasaan yang selanjutnya membuahkan perubahan perilaku.
(ez2009)

::: Kisah Dua Orang Raja Dan Ikan Ajaib :::

Pada suatu masa hiduplah seorang raja yang terkenal baik hati hingga begitu dicintai rakyatnya. Suatu ketika raja jatuh sakit. Lalu dipanggillah tabib kerajaan untuk mengobati penyakit raja tersebut. Setelah diperiksa , tabib ini tersenyum dan segera memberitahukan obatnya kepada para pengawal raja.

"Aku mengenal baik sakitnya Tuan Raja , begitu juga obatnya.
Pergilah kalian kelaut yang ada disebelah Utara ,tangkaplah ikan bersisik emas kemerahan sebanyak 3 ekor disana. Sekarang adalah musim kemarau, ikan seperti itu sedang banyak-banyaknya di laut Utara, bahkan sampai ketepian pantai. Setelak itu serahkan padaku, aku akan meramu obat untuk Tuan Raja dari 3 ekor ikan tsb.

Para pengawal rajapun bergegas melaksanakan perintah sang tabib.
Tapi aneh, ternyata ikan yang dicari tidak berhasil mereka tenukan. Padahal para pengawal Rajapun mengetahui kalau saat itu adalah saat banyak-banyaknya ikan bersisik emas kemerahan di pantai Utara. Tapi setelah dua minggu mencari , seekor ikanpun tidak berhasil mereka temukan.
Akhirnya wafatlah sang raja akibat penyakitnya tidak dapat disembuhkan karena obat yang dicari tidak dapat diperoleh.


Sementara itu didaerah lain , hiduplah seorang raja yang sangat zalim bdan tidak disukai rakyatnya. Saat yang berbeda, sang raja yang zalim inipun jatuh sakit. Tabib kerajaan dipanggil. Setelah memeriksa keadaan sang Raja , raut wajah tabib terlihat linglung. Hal ini membuat seorang pengawal kerajaan bertanya- tanya, ada apakah gerangan?
Jawab sang tabib, "Aku mengenal baik sakitnyaTuan raja, begitu pula dengan obatnya yaitu ikan bersisik emas kemerahan sebanyak tiga ekor. Tapi saat ini musim hujan , ikan-ikan ini sangat sulit ditemukan"

Para pengawalpun turut bingung, tapi akhirnya mereka memutuskan untuk tetap berusaha mencari ikan yang dimaksud ditepian pantai sebelah Utara.
Hasilnya sungguh diluar dugaan . Saat mereka tengah melaut, ternyata ikan bersisik emas kemerahan itu banyak sekali berenang-renang disana. Tidak hanya tiga ekor saja yang berhasil mereka tangkap, bahkan mencapai puluhan.
Alhasil raja yang zalim ini dapat disembuhkan oleh sang tabib.

Malaikat surga yang melihat dua kejadian inipun merasa heran , dan bertanya kepada Allah SWT.
"Ya Tuhanku, Engkau telah menolong Raja yang zalim dengan kuasamu, tapi mengapa engkau tidak menolong raja yang baik hati itu?"

Jawab Allah SWT, "Wahai malaikatku yang taat, ketahuilah olehmu.
Raja yang baik hati itu pernah berbuat satu kesalahan sekali dalam hidupnya, maka AKU membalas perbuatannya didunia supaya nanti di akhirat aku bisa lansung membahagiakan dirinya di dalam surga-Ku.
Sedang raja yang zalim itu pernah berbuat satu kebaikan sekali dalam hidupnya, maka AKu membalas perbuatannya didunia supaya nanti di Akhirat Aku bisa lansung menyiksa dirinya didalam panasnya api neraka-Ku"
................................................
Allah mengingat setiap perbuatan hamba-Nya. Allah tidak pernah lupa pada hal yang paling kecil yang pernah kita lakukan.
Bahkan terhadap selentingan yang pernah melintas dalam hati kita dan pikiran kita Allah pasti menegtahuinya. Balasan Allah terhadap perbuatan kita pun pasti tiba waktunya.
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam setiap perbuatan kita.
Jagalah selalu setiap perkataan kita karena Allah MahaMendengar. Bersihkan selalu hati kita dari niat-niat tercela karena Allah Maha Halus. Sesungguhnya hidup kita ini selalu dalam pantauan Allah SWT.

Jangan pernah merasa aman orang yang berzina dalam kegelapan malam dan tempat yang sepi karena sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan.
Jangan pernah merasa aman orang yang mengambil hak orang lain dengan zalim karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
Jangan pernah merasa aman dalam hidup ini karena sesungguhnya Allah Maha membalas setiap perbuatan
(EZ2009)

::: Bagaimana Kiranya Aku Yang Di Jemput Kematian :::

Aku bertanya kepada negeriku apa yang dapat ia kabarkan,
Tentang hal para kekasih akan apa yang mereka kerjakan.
Negeriku berkata: Mereka telah menyingkir sejak lama, pergi berjalan

Aku bertanya: kemana aku akan mencari mereka pergi?
Tempat singgah mana yang mereka singgahi
Sang negeri menjawab: Carilah dalam kubur mereka sendiri,
Mereka menghadap Allah dengan amalan mereka pribadi

Saudariku tampak pucat dan kurus. Namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca Al-Qur’an…


Jika engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud dan mengangkat kedua tangannya ke atas langit… Demikianlah setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah berhenti dan tak pernah merasa bosan.


Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni dan buku-buku yang berisi cerita-cerita. Saya juga biasa menonton video, sampai aku dikenal sebagai orang yang keranjingan nonton. Orang yang banyak melakukan satu hal, pasti akan ditandai dengan perbuatan itu.

Aku tidak menjalankan kewajibanku dengan sempurna. Aku juga bukan orang yang melakukan shalat dengan rutin.

Setelah aku mematikan video player, setelah selama tiga jam aku menonton berbagai macam film berturut-turut, terdengarlah adzan dari masjid sebelah..


Aku pun kembali ke pembaringanku. Wanita itu memanggilku dari arah mushalanya. “Apa yang engkau inginkan wahai Nurah?” tanyaku. Dengan suara tajam saudariku itu berkata kepadaku: “Janganlah engkau tidur sebelum engkau menunaikan shalat Shubuh!” “Ah. Masih tersisa satu jam lagi, yang engkau dengar tadi itu baru adzan pertama…”


Dengan suaranya yang penuh kasih -demikianlah sikapnya selalu sebelum terserang penyakit parah dan jatuh terbaring di atas kasurnya- saudariku itu kembali memanggil: “Mari sini Hanna, duduklah di sisiku.” Sungguh aku sama sekali tidak dapat menolak permintaannya, yang menunjukkan karakter asli dan kejujurannya… Tidak diragukan lagi, dengan pasrah, kupenuhi panggilannya.


“Apa yang engkau inginkan?” tanyaku. “Duduklah.” ujarnya. Aku pun duduk. “Apa gerangan yang akan engkau utarakan?” Dengan suara renyah dan merdu, ia berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


“Masing-masing jiwa akan mati. Sesungguhnya kalian hanya akan dipenuhi ganjaran kalian di hari Kiamat nanti…” (Ali Imran: 185)


Dia diam sesaat. Kemudian ia bertanya kepadaku: “Apakah engkau percaya pada kematian?” “Tentu saja aku percaya.” jawabku. “Apakah engkau percaya bahwa engkau akan dihisab terhadap perbuatan dosa besar maupun kecil…?” “Benar. Tetapi Allah itu Maha Pengampun, dan umur itu juga panjang..” jawabku.


“Wahai saudariku! Tidakkah engkau takut akan mati mendadak? Lihatlah si Hindun yang lebih kecil darimu. Ia tewas dalam kecelakaan mobil. Juga si Fulanah dan si Fulanah.” ujarnya. “Kematian tidak mengenal umur, dan tidak dapat diukur dengan umur..” ujarnya lagi.


Dengan suara ngeri aku menjawab ucapannya di tengah ruang mushalanya yang gelap: “Sesungguhnya aku takut dengan kegelapan, sekarang engkau malah menakut-nakutiku dengan kematian, bagaimana sekarang aku bisa tidur? Aku kira sebelumnya, engkau bersedia untuk bepergian bersamaku dalam liburan ini.”


Tiba-tiba suaranya terisak dan hatiku pun trenyuh: “Kemungkinan, pada tahun ini aku akan bepergian jauh, ke negeri lain… Kemungkinan wahai Hanna… Umur itu di tangan Allah… Dan meledaklah tangisnya.


Aku merenung ketika ia terserang penyakit ganas. Para dokter secara berbisik memberitahukan kepada ayahku bahwa penyakitnya itu tidak akan membuatnya bertahan hidup lama. Tetapi siapa gerangan yang memberitahukan hal itu kepadanya? Atau ia memang sudah menanti-nantikan kejadian ini?


“Apa yang sedang engkau fikirkan?” Terdengar suaranya, kali ini begitu keras. “Apakah engkau meyakini bahwa aku menyatakan hal itu karena aku sedang sakit? Tidak sama sekali. Bahkan mungkin umurku bisa lebih panjang dari orang-orang yang sehat. Dan engkau sampai kapan masih bisa hidup? Mungkin dua puluh tahun lagi. Mungkin juga empat puluh tahun lagi. Kemudian apa yang terjadi?” Tangannya tampak bersinar di tengah kegelapan, dan dihentakkan dengan keras.


Tak ada perbedaan antara kita semua. Masing-masing kita pasti akan pergi meninggalkan dunia ini; menuju Surga atau Neraka… Tidakkah engkau menyimak firman Allah:


“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung?” (Ali Imran: 185)


Semoga pagi ini engkau baik-baik saja…


Dengan bergegas aku berjalan meninggalkannya, sementara suaranya mengetuk telingaku: “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu. Jangan lupa shalat.”


Jam delapan pagi, aku mendengar ketukan pintu. Ini bukan waktu kebiasaanku untuk bangun. Terdengar suara tangis dan hiruk pikuk… Apa yang terjadi?


Kondisi Nurah semakin parah. Ayahku segera membawanya ke rumah sakit. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.


Tidak ada tamasya pada tahun ini. Sudah ditakdirkan aku untuk tinggal di rumah saja tahun ini. Pada jam satu waktu Zhuhur, ayahku menelepon dari rumah sakit: “Kalian bisa menjenguknya sekarang, ayo lekas!”


Ibuku memberitahukan, bahwa ucapan ayahku terdengar gelisah dan suaranya juga terdengar berubah… Jubah panjangku kini sudah berada di tanganku..


Mana sopirnya? Kami pun naik mobil dengan tergesa-gesa. Mana jalan yang biasa kulalui bersama sopirku untuk tamasya yang biasanya terasa pendek? Kenapa sekarang terasa jauh sekali…, jauuuh sekali?! Mana lagi keramaian yang menyenangkan diriku agar aku bisa menengok ke kiri dan ke kanan? Kenapa sekarang terasa menyebalkan dan menyusahkan?


Ibuku berada di sampingku sedang mendoakan saudariku tersebut. Ia adalah wanita yang shalihah dan taat. Aku tidak pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu sedikitpun…


Kamu masuk melewati pintu keluar rumah sakit… Terdengar suara orang sakit mengaduh. Ada lagi orang yang tertimpa musibah kecelakaan mobil. Ada pula orang yang kedua matanya bolong… Tak diketahui lagi, apakah ia masih penduduk dunia, atau penduduk akhirat? Sungguh pemandangan yang mengherankan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya…


Kami menaiki tangga dengan cepat… Ternyata dia berada di dalam kamar gawat darurat. Saya akan mengantar kalian kepadanya… Perawat meneruskan perkataannya bahwa ia seorang putri yang baik sekali, dan dia menenangkan ibuku: “Sesungguhnya dia dalam keadaan baik setelah tadi mengalami pingsan…”


“Dilarang masuk lebih dari satu orang.” Demikian tertulis. “Ini kamar gawat darurat.”


Melalui sela-sela beberapa orang dokter dan melalui celah-celah jendela kecil yang terdapat di kamar tersebut, aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri saudariku Nurah sedang memandang ke arahku, sementara ibu berdiri di sampingnya… Setelah dua menit kemudian, ibuku keluar tanpa bisa menahan air matanya…


Mereka mengizinkanku masuk dan memberi salam kepadanya, dengan syarat, tidak boleh banyak berbicara kepadanya. “Dua menit, sudah cukup untuk saudari.”


“Bagaimana kabarmu wahai Nurah?” tanyaku. Kemarin sore engkau baik-baik saja, apa yang terjadi pada dirimu?! Dia menjawabku setelah terlebih dahulu menekan tanganku. “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja…” Ujarnya lagi. “Alhamdulillah… tetapi tanganmu dingin?” Tanyaku..


Aku duduk di sisi pembaringannya sambil mengelus-elus betisnya. Namun ia menyingkirkan betisnya dariku… “Maaf, kalau aku mengganggumu… Oh tidak, aku hanya sedang memikirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


“Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau..” (Al-Qiyaamah: 29-30)


Hendaknya engkau mendoakanku wahai saudariku Hanna, bisa jadi sebentar lagi aku akan menghadapi permulaan alam Akhirat… Perjalananku akan panjang, sementara bekalku amat sedikit…


Air mataku kontan berderai dari kedua belah mataku begitu aku mendengar ucapannya. Aku menangis, tidak lagi sadar di mana aku berada. Kedua mataku terus mengalirkan air mata karena tangisan, sehingga ayahku justru lebih mengkhawatirkan kondisiku daripada Nurah sendiri. Mereka sama sekali tidak terbiasa mendengar tangisan ini dan mengurung diri di kamarku.


Seiring tenggelamnya matahari, di hari yang penuh kedukaan… Munculah keheningan panjang di rumah kami… Tiba-tiba masuklah saudari sepupu dari pihak ibuku dan saudari sepupu dari pihak ayahku.


Kejadian-kejadian yang sangat cepat… Orang-orang banyak berdatangan. Suara-suara ributpun terdengar bersahutan. Hanya satu yang aku ketahui: Nurah telah meninggal dunia.


Aku tidak dapat lagi membedakan siapa yang datang. Aku juga tidak mengetahui lagi apa yang mereka ucapkan….


Ya Allah. Di mana aku, dan apa yang sedang terjadi? Menangispun, aku sudah tidak sanggup lagi.


Setelah itu mereka memberitahuku bahwa ayahku menarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku, untuk terakhir kalinya. Aku juga sempat menciumnya. Aku hanya ingat satu hal: ketika aku melihatnya ditutupkan, di atas pembaringan maut. Aku ingat akan kata-katanya: “Ketika betis-betis bertautan,” aku pun mengerti, bahwa: “semuanya tergiring menuju Rabbmu..”


Aku tidak ingat lagi bahwa aku pernah mengunjungi mushalanya, kecuali pada malam itu saja… Yakni ketika aku teringat, siapa yang menjadi pasanganku di rahim ibuku. Karena kami adalah dua anak kembar. Aku ingat, siapa yang selalu menemaniku dalam kedukaan. Aku ingat, siapa yang selalu menghilangkan kegundahanku. Siapa pula yang mendoakan diriku untuk mendapatkan petunjuk? Siapa pula yang berlinang air matanya sepanjang malam, ketika ia mengajakku berbicara tentang kematian, dan tentang hari hisab. Allah-lah yang menjadi tempat memohon pertolongan.


Inilah hari pertamanya di alam kubur. Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya di dalam kuburnya. Ya Allah berilah dia cahaya di dalam kuburnya.


Ini dia mushaf Al-Qur’annya, dan ini sajadahnya. Ini dan ini lagi. Bahkan ini, ini adalah rok merahnya yang pernah dia nyatakan: akan kusimpan, untuk hari pernikahanku nanti!!


Aku juga ingat, dan aku pun menangisi hari-hari yang telah berlalu itu. Aku terus saja menangis dan menangis berkepanjangan. Aku berdoa kepada Allah, agar memberi rahmat-Nya kepadaku, memberi taubat dan mengampuni diriku. Aku juga berdoa semoga saudariku itu mendapatkan keteguhan dalam kuburnya, sebagaimana juga yang sering menjadi doanya.


Secara tiba-tiba, aku bertanya kepada diriku sendiri: Bagaimana bila yang meninggal dunia adalah diriku? Kemana kira-kira tempat kembaliku? Aku tidak mampu mencari jawaban karena besarnya rasa takut yang mencekam diriku. Meledaklah tangisku dengan keras…


Allahu Akbar, Allahu Akbar. Adzan Shubuh pun berkumandang. Namun betapa merdunya terdengar kali ini.


Aku merasakan ketenangan dan ketentraman. Aku pun mengulangi apa yang diucapkan oleh sang muadzin. Aku melipat selimutku dan berdiri tegak untuk melaksanakan shalat Shubuh. Aku shalat, bagaikan orang yang melakukannya untuk terakhir kali, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudariku dahulu. Dan ternyata, itu memang shalatnya yang terakhir.


Bila datang waktu sore, aku tidak lagi menunggu waktu pagi. Dan bila datang waktu pagi, aku tidak lagi menunggu waktu sore…


Sumber: Buku Perjalanan Menuju Hidayah. by Agus Supriatna

::: Takut Miskin di Akhirat. :::

Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

''Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar ALLAH SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,'' keluh si pemuda.

''Teruskanlah dan jangan berhenti, ALLAH selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti ALLAH mengabulkannya. Bersabarlah !'' Jawab sang kiai.

''Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup ?''

''Ya tentu saja tetap dari ALLAH , pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.''


''Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi ALLAH belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah...'' jawab pemuda itu dengan kesal.

''Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga ALLAH segera menjawab permintaanmu, '' timpal kiai dengan ringan.

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi.

Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.

''Anda siapa ?'' tanya pemuda.
''Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.''
''Ohh... lalu ini istana siapa ?''
''Ini istanamu, dari ALLAH . Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.''
''Ohh... dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya ?''
''Betul!''
''Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya ?''
''Betul sekali.''

Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.

''Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,'' kata pemuda penuh keriangan.
''Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.''
''Ini pahala-pahala saya ? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai ?''
''Tidak ada, karena ALLAH sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.''
''Ya ALLAH , aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya ALLAH kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,'' ujar pemuda itu sadar diri.

Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak.
=====================
by :Hamparan Sajadah

::: Antara Kayu Gaharu , Emas Dan Perak :::

Ku katakan pada diriku,
Wahai orang yang dibutakan dari menempuh jalan lurus, perbaikilah cahaya hatimu. Hati yang kelam berjalan diatas duri keraguan , tidak ada padanya kebaikan. Waktu bagi seorang yang bertaubat semuanya adalah amalan , siangnya berpuasa dan malamnya bergadang untuk beribadah. Adapun orang-orang yang lalai seluruhnya adalah kesia-siaan, mata hatinya tertutup dari merenungkan kebesaran Tuhan.

Barangsiapa yang merasakan manisnya kezuhudan, ia kan merasakan nikmatnya tahajud dan berjaga diwaktu malam. Jika ia tidak mendapatkan shalat dipermulaan malam, maka ia akan mengerjakannya menjelang fajar. Bangunlah wahai hamba dari tidur kelalaian. Lihatlah ! Fajar ketuaan telah menyingsing, kehinaan bagi orang-orang yang lamban dan tidak hadir dipintu Rahmat.

Allah SWT telah mewahyukan kepada Daud A.S, " Wahai Daud ! Orang-orang yang rindu kepada Allah akan hidup dibawah naungan santunan Allah, Orang-orang yang berzikir akan hidup dibawah Rahmat Allah , Orang-orang yang Arif akan hidup dibawah kelembutan Allah, dan para Shiddiqin akan hidup berdekatan dengan Allah. Allah memberi makan dan Minum kepada mereka "

Berkata Abu Bakar Ar-Razi, "Telah berkata Ibnu Atta, Ketika Adam memakan buah pohon yang terlarang, maka ia diusir dari surga dan dijauhkan Allah SWT dari diri-Nya kecuali Kayu Gaharu, kayu itu malah menaunginya. Segala sesuatu menangisi Adam kecuali Emas dan perak. Maka Allah SWT bertanya kepada keduanya , "Kenapa kamu berdua tidak menangis atas seorang kekasih yang diusir kekasihnya?" . Keduanya menjawab, "Wahai Tuhan kami, tidak pantas bagi kami menangisi seorang kekasih yang bermaksiat bagi kekasihnya."

Maka Allah SWT berfirman, " Demi kemualiaan dan keagungan-Ku , akan Ku-muliakan kalian berdua dan akan kujadikan kalian berdua standar harga bagi segala sesuatu, dan akan kujadikan anak cucu Adam sebagai pelayan bagi kamu berdua"

Kemudian Allah bertanya kepada Kayu Gaharu, "Kenapa engkau menaungi orang yang telah diusir oleh Tuhan-Nya? . Kayu itu menjawab , "Sebagai rasa kasihan dariku untuknya " . Maka Allah SWT berfirman, "Demi kemuliaan dan keagungan-KU , Aku akan mengazabmu didunia dengan api. Tidak diambil manfaat darimu kecuali setelah engkau dibakar, karena engkau telah melindungi orang yang telah bermaksiat di hadirat Tuhanmu, dibawah pengawasan dan penglihatan-NYA"

Dalam sebuah syair dikatakan :
Kami merendah dihadapan-Mu dengan harapan,
Semoga dengan perangai kelembutan Engkau meridhai kami
Demi zat-Mu , sungguh kami telah datang dan berlindung kepada-MU
Namun kami mendapat pengusiran dan kami telah dihalangi oleh tirai kemaksiatan
Kalau bukan karena Dosa maka kami tidak akan mendapatkan rintangan

Engkau tak turut serta dalam membuat jarak dan kerenggangan
Akan tetapi semuanya karena perbuatan yang kami lakukan
Engkau membuka pintu kemurahan dengan kerelaan
Setelah kami melakukan kejahatan

Kami tidak memperbaiki dan malah merusak kemesraan
Kemudian kami bertaubat lalu kembali melakukan kemaksiatan
Kami perlakukan Engkau dengan keadilan dan
mengikat perjanjian sesaat lalu melakukan pengkhianatan

Engkau tidak pernah membatalkan perjanjian
Akan tetapi kamilah yang sering melakukan pembatalan
Kami diusir dari kerhidaan-Mu karena melakukan kejahatan
Seandainya kami pantas mendapatkan kerhidaan
pasti akan mendapat sambutan

Kami mengakui kesalahan yang kami lakukan
Maka bermurahlah pada kami dengan kerhidaan atas pengakuan
Siapakah yang diharapkan oleh seorang budak kecuali majikan

Maka sayangilah kami bagaimanapun yang kami lakukan
Apakah ada yang dapat menggantikan kedudukan-Mu
Bukanlah kalau tidak karena Engkau tak ada arti bagi kebenaran

Alangkah indah dan manisnya kemesraan
Alangkah tingginya kedudukan serta kemuliaan-Mu
Harga diri kami adalah merendah dihadapan-Mu
Kemuliaan kami dihadapan-Mu adalah melakukan ketundukan.

(Saduran bebas dari : Ibnul Jauzy , "Lautan Airmata")
=BC/23/10/09=

::: Shadaqoh Memang Ajaib :::

Ketika seorang lelaki sedang berada disebuah padang sahara yang amat luas, tiba-tiba ia mendengar suara yang muncul dari awan , "Siramilah kebun si Fulan!". Awan tersebut kemudian berjalan dan menumpahkan airnya disuatu tanah yang banyak bebatuannya. Ternyata sudah ada selokan-selokan yang menampung semua air itu, lalu mengalir pada satu tempat.
Dan ternyata sudah ada pula seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya dan membelokkan aliran air tersebut dengan sekopnya. Kemudian lelaki pertama tadi bertanya kepada pemilik kebun tersebut, "Wahai hamba Allah, siapakah namamu? Ia menjawab "Fulan", nama yang terdengar dari awan tadi ". Si pemilik kebun balik bertanya , "Wahai hamba Allah , kenapa anda menanyakan nama saya?" Ia menjawab, "Sesungguhnya aku mendengar suara dari awan yang mencurahkan air ini, katanya "Siramilah kebun si Fulan," yaitu nama anda.

Lantas apa yang anda perbuat terhadap kebun ini?

Sipemilik kebun menjawab , "Adapun mengenai apa yang engkau katakan itu,
karena saya selalu melihat kepada hasil panen yang dikeluarkan oleh kebun ini. Kemudian sepertiganya saya shodakahkan, sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga saya,, dan yang sepertiga lainnya saya kembalikan ke kebun ( Yakni sebagai modal untuk mengolahnya lagi -ed) (HR Muslim)

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan : "Sesungguhnya shodaqah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai bencana sekalipun pelakunya orang yang "Fajir" (pendosa), zholim, atau bahkan orang kafir, karena Allah akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shadaqoh tersebut. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi umat manusia, baik yang berpendidikan maupun orang yang masih awam. Seluruh penduduk muka bumi sepakat tentang hal ini karena mereka telah mencobanya. ( Al-wa'bilu sh-shoyyib, karya ibnul Qoyyim (1/49)

Beliau menyebutkan tentang sebab-sebab yang bisa melapangkan dada, "Diantaranya adalah berbuat baik kepada orang lain, dan membantu mereka dengan sesuatu yang memungkinkan untuk diberikan, baik berupa harta , jabatan, fisik dan berbagai macam kebaikan lainnya.
Karena orang yang dermawan lagi suka berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, paling bagus jiwanya, dan paling tentram hatinya. Sedangkan orang yang bakhil yang tidak memiliki kebaikan dalam dirinya adalah orang yang paling sempit dadanya, paling susah hidupnya, dan paing besar kesedihan maupun gundah gulananya ( Zadu 'l-Ma'ad, karya Ibnul qoyyim (2/24)

Beberapa ayat dan hadis tentang shodaqah :

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya dimalam dan siang hari secara sembunyi dan terang-terangan , maka mereka mendapat pahala disisi Robbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak(pula) mereka bersedih hati (Qs Al-baqarah :274)

"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuk nya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak (Al -Hadid :11)

"Katakanlah , sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendakinya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantikannya dan Dialah Pemberi Rezeki yang sebaik-baiknya"

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa nabi bersabda "Tiada hari yang dilewati oleh semua hamba kecuali pada pagi harinya ada dua malaikat turun. Kemudian salah satu dari malaikat tersebut berkata, "Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak." sedang malaikat yang satunya lagi berucap, "Ya Allah, hilangkanlah harta orang yang tidak mau bershodaqah (bakhil)" ( HR Bukhari)

Rasullulah SAW bersabda : "Adakah diantara kalian yang lebih mencintai harta untuk ahli warisnya daripada hartanya sendiri? "Mereka para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah , tidak ada seorangpun diantara kami kecuali lebih mencintai hartanya sendiri."
Beliau bersabda , "Sesungguhnya hartanya yang sebenarnya adalah yang telah ia persembahkan (infakkan) . Sedangkan harta untuk ahli warisnya adalah yang tidak ia infakkan. "(HR Bukhari)

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah berkata :" Setiap orang pada hari kiamat nanti akan berada dibawah naungan shodaqahnya, sehingga Allah memisahkan diantara manusia." atau beliau bersabda, "Sehingga Allah memutuskan diantara manusia" (diriwayatkan oleh Ahmad dan di shohihkan oleh Al-Albanni dalam shohihu t-Tharghib wa t -Tarhib)

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah bersabda :
"Seorang hamba berkata , 'Hartaku, hartaku' Sesungguhnya harta yang ia punyai itu hanya ada tiga , yaitu apa yang dia makan kemudian habis, apa yang ia pakai kemudian usang , dan apa yang ia berikan kemudian ia mendapatkan pahalanya. Sedangkan yang selain itu akan hilang dan ia tinggalkan untuk orang lain (diwariskan)"

(Sumber : Kholid Bin Sualaiman Ar-Robi "Shodaqoh Memang Ajaib")
=BC/12/10/09=

::: Akibat Bersedekah Dengan Ikhlas :::

Sahabatku,
Malam itu bulan bersinar terang di langit, dan bintang bintang bertaburan. Subhanallah, alangkah indahnya.  Seorang lelaki , sebut saja namanya “Abu Musa”  telah keluar dari rumahnya. Dulu, Abu Musa dikenal gemar maksiat dan melakukan perbuatan yang dilarang agama. Namun, kini dia telah sadar/insyaf dan sudah bertobat. Sekarang, dia rajin shalat berjamaah di masjid. Dia juga tidak merasa malu untuk ikut mengaji dan belajar membaca Al Quran, bersama anak anak yang jauh lebih muda usianya.

Malam itu, setelah mendengar penjelasan dari Gurunya yang merupakan Guru Sufi terkenal  yang membahas tentang keutamaan sedekah, hati Abu Musa mulai tergerak. Guru Sufi tersebut menjelaskan, jika seseorang memiliki uang seribu dirham dan ia menyedekahkan tiga ratus dirham, maka yang tiga ratus dirham itulah yang akan kekal dan dapat dinikmati orang yang bersedekah di akhirat kelak. Sedangkan yang tujuh ratus dirham tidak membuahkan apa apa.


Bahkan, uang tiga puluh dirham yang disedekahkan, akan dilipatgandakan oleh Allah sebanyak tujuh ratus kali. Sedekah juga membuat harta dan rezeki yang ada menjadi penuh berkah.

Selama ini, Abu Musa dikenal kaya dan kikir. Namun, sejak ia insyaf dan bertobat, dia telah berniat akan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk memperoleh ridha Allah SWT. Sebagian hartanya telah dia rencanakan untuk disedekahkan dan diinfakkan di jalan Allah SWT.

Dia mengarahkan langkahnya menuju ke suatu rumah, dimana sebelumnya dia telah menyiapkan kantong berisi seratus dirham untuk disedekahkan. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, dia mengetuk pintu. Seorang lelaki kekar berkumis tebal muncul dari dalam rumah. Setelah mengucapkan salam, dia memberikan kantong itu pada pemilik rumah, lalu mohon pamit. Kejadian itu ternyata diketahui oleh beberapa orang tetangga rumah tersebut.

Pagi harinya, orang orang di pasar ramai membicarakan apa yang dilakukan Abu Musa tadi malam. Dua orang yang melihat Abu Musa bersedekah berkata dengan nada mengejek, “Dasar orang tidak tahu Agama, sedekah saja keliru, masak sedekah kok kepada seorang pencuri dan perampok. Kalau mau sedekah itu, ya harusnya kepada orang yang baik baik!”
Obrolan orang di pasar itu sampai juga ke telinga Abu Musa, ia hanya berkata dalam hati, “Alhamdullilah, segala puji bagi-Mu ya Rabb, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri, semoga Engkau meridhai dan menerima sedekahku!”.

Hari berikutnya, ketika malam tiba, dia kembali keluar rumah. Dia ingin kernbali bersedekah. Sama seperti malam sebelumnya, dia menyiapkan uang seratus dirham. Kali ini, dia memilih sebuah rumah di pinggir kota. Dia mengetuk pintu rumah itu, kemudian seorang wanita membukakan pintu. Dia langsung menyerahkan sedekahnya pada perempuan itu lalu pulang.

Pagi harinya, pasar kembali ribut. Ternyata, ada orang yang mengetahui perbuatannya tadi malam. Orang itu bercerita sinis, “Memang, Abu Musa itu tidak jelas. Rajin pergi ke mesjid, tetapi memberi sedekah saja masih salah. Kemarin malam, dia memberi sedekah kepada seorang pencuri. Lha, tadi malam, dia memberi sedekah kepada seorang pelacur!”

Perbincangan orang di pasar itu sampai juga ke telinganya. Abu Musa hanya berkata lirih, “Alhamdullilah, segala puji bagi-Mu ya Rabb, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pelacur, semoga Engkau meridhai dan menerima sedekahku!”.

Malam harinya, Abu Musa kembali keluar rumah untuk bersedekah. Dia memilih rumah yang ada di dekat pasar. Setelah mengantarkan sedekahnya yang juga berjumlah seratus dirham, dia pulang. Kali ini Abu Musa berharap, dia tidak keliru memberikan sedekahnya. Pagi harinya, pasar lebih ribut dari sebelum nya. Seorang penjual daging berkata, “Nggak tahulah! Abu Musa itu memang aneh. Mau sedekah saja kok kepada orang kaya. Padahal, orang yang miskin dan memerlukan uang untuk makan, masih banyak dan ada di mana mana!”

Ternyata, rumah yang didatangi Abu Musa dan diberi sedekah tadi malam adalah rumah orang kaya. Mendengar berita dan omongan yang ada di pasar tentang kekeliruannya memberikan sedekah ia berkata, ““Alhamdullilah, segala puji bagi-Mu ya Rabb, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri,  pelacur, dan orang kaya, semoga Engkau meridhai dan menerima sedekahku!”.!”

Malam harinya, Abu Musa shalat tahajud dan wirid malam, lalu ia ketiduran di atas sajadah. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seseorang yang memberi kabar kepadanya, “Abu Musa, ketahuilah sedekahmu kepada pencuri, telah membuat pencuri yang melakukan pencurian karena kemiskinannya  itu insyaf dan bertobat kepada Allah, sehingga dia kini tidak mencuri lagi. Sedekahmu padanya menyadarkannya bahwa masih banyak orang yang peduli padanya. Sementara sedekahmu kepada pelacur, dimana ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya,  setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya, dan ia telah bertobat dan tidak berzina lagi, dan sedekahmu kepada orang kaya, menjadikan orang kaya tersebut sadar dan merasa malu. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada okamu yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah.  Ia ingin meniru langkahmu, bersedekah dengan ikhlas. Wahai Abu Musa, ketahuilah, sedekahmu yang ikhlas itu telah diridhoi dan diterima oleh Allah SWT.”

Setelah itu Abu Musa semakin khusyuk beribadah dan banyak mengerjakan kebajikan, termasuk dalam bersedekah. Dia sadar bahwa yang paling penting dalam ibadah adalah niat karena Allah semata. Bukan sekadar mengikuti perkataan orang banyak.

Hanya Allah-lah yang berhak menilai, diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang.

Sahabatku,
Dari kisah tersebut di atas, yang belum saya temukan sumber otentiknya, dimana ada yang mengatakan bahwa kisah itu bersumber Abu Hurairah dan ditemukan antara lain dalam  Kitab Hadist “Kanzul Ummal”.

Dari (hadist) kisah di atas dapat diketahui bahwa jika seseorang menyedekahkan hartanya dengan ikhlas, lalu tanpa disadari sedekahnya itu telah sampai kepada penerima yang tidak patut menerimanya, maka Allah swt. tetap menerimanya. Jadi, tidak perlu berkecil hati jika mengalami kejadian seperti di atas. Tanggung jawab manusia adalah menjaga keikhlasan niat, karena masalah yang sebenarnya adalah keinginan dan perbuatan. Dan keutamaan orang yang membelanjakan hartanya juga telah jelas, bahwa dengan segala jerih payahnya, ketika sedekah seseorang diterima oleh orang yang tidak semestinya menerima sedekahnya, hatinya tidak terkotori untuk meninggalkan bersedekah. Bahkan, ia terus berusaha hingga kedua dan ketiga kalinya untuk memberikan sedekahnya kepada orang yang berhak menerimanya. Dari kisah tersebut dapat diketahui keutamaan orang saleh yang ikhlas dan baik niatnya. Dengan keberkahannya, ketiga sedekah tersebut diterima oleh Allah swt., dan berita gembira tentang terkabulnya sedekahnya tampak dalam mimpi.

Sahabatku,
Menurut Ibnu HajarAsykaulani ra. berkata bahwa apabila sedekah tidak ditunaikan kepada orang yang layak menerimanya, maka memberikannya untuk yang kedua kalinya lebih mustahab (dianjurkan). Hendaknya tidak merasa kesal dalam bersedekah untuk kedua kalinya, sebagaimana diriwayatkan dari sebagian ulama yang mengatakan, meskipun pelayanan seseorang tidak diterima, hendaknya pelayanan yang kedua tetap diteruskan. 

Dari hadits tersebut juga, kita dapat mengetahui bahwa Allah swt. pasti akan memberi balasan yang baik karena niat baik seseorang. Karena orang yang memberikan sedekah tersebut berniat semata-mata untuk mencari ridha Allah swt. (yaitu bersedekah secara sembunyi-sembunyi pada malam hari). Maka Allah swt. menerimanya, dan sedekah tersebut tidak ditolak hanya karena telah diberikan kepada penerima yang tidak layak menerimanya

Imam Puji Hartono/IPH(Gus Im)


Senin, 09 Juli 2012

::: Papa, Mama, Aldo Tunggu Di Pintu Surga ( Kisah mualaf cilik yang menyentuh )

~ Bismillahir Rahmaanir Rahiim ~

Fany (bukan nama sebenarnya) adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama.


Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Sutiono (bukan nama sebenarnya ) yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Sutiono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Fany. Dan mereka pun melaksanakan pernikahan di sebuah gereja di sebuah kota .

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya , Fany beserta sang suami berangkat dan menetap di sebuah kota , meninggalkan asal daerah mereka. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Roni , Maria dan Aldo.

Di lingkungan barunya, Fany terlibat aktif sebagai jemaat Gereja. Demikan pula sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Sutiono saat itu menduduki jabatan penting pada perusahaan tempat ia bekerja. .

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang kemudian digunakan menjadi tempat ibadah (Gereja).

Meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, sang suami tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Aldo , putra bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan nya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa putranya mengalami kelelahan. Akan tetapi sang mama masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Aldo yang masih terkulai lemah, meminta sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Sang papa pun keluar ruangan untuk memberitahu sang mama ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Fany tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada sang papa ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Sang papa merasa heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak. Di dalam, Aldo berucap, “Tapi udahlah, tidak apa-apa.. Pah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”

Sontak, rasa takjub menyergap sang ayah . Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, sang anak kembali berujar, “Pah, Aldo mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab sang ayah. “Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Aldo tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Aldo setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan sang ayah, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Aldo dituntun sang ayah, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Sang ayah memang hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, setelah Adzan maghrib sang anak dipanggil sang Pencipta. Sang ayah pasrah ketika putranya menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Sang mama yang masih sedih waktu itu seakan melihat alm putranya menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.” Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Aldo ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.


Sepeninggal Aldo

Sepeninggal anaknya, sang mama sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga sang mama langsung teringat ucapan mendiang Aldo semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang pembantu muslimah yang bertugas merawat Aldo di rumah. Saat itu sang mama menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” “Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Aldo singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, sang mama meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji (pada waktu itu). Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan sang mama sebagai amanat dari Aldo untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat nya di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Fany via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Aldo. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Tolong sampaikan kepada mama dan papa ya mbok, kepergian Aldo tak usah terlalu dipikirkan. Aldo sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan sang mama mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, sang mama dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Fany tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.” Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Aldo membuat sang mama berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Fany secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja , sang mama selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Sang ayah terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Sutiono saat melihat istri tercintanya, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya nya . “Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab sang mama lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Akhirnya sang ayah Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, sang suami seperti berada di persimpangan dan akhirnya kembali kepada Islam. Mereka bersama kedua putranya melalui babak baru sebagai seorang muslim.

Selesai shalat, sang ayah langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”


Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

___________

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan manfaat atas Kebesaran dan Keagungan sebuah hidayah dari Allah .. bagi sesiapapun hamba-hamba Nya, yang Dia kehendaki ..

Rabu, 09 Mei 2012

::: Akhir Penyesalan Seorang Istri :::

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

 
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa.
Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami.

Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.
Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.

Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa tabungan dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Sumber : kisah inspirasi untuk para istri dan suami
(Titta Maryana)

Jumat, 23 Maret 2012

::: Mencari Onta di Atap Rumah :::


Dalam kisah-kisah tasawuf diceritakan, Pada suatu malam ketika sedang tertidur, seorang pria terbangun karena mendengar suara aneh di atas atap rumahnya. Terdengar bunyi langkah kaki yang keras. Ia bertanya dalam hati, ada kejadian apa di atas rumahnya.

Ia kemudian mengeluarkan kepalanya ke luar jendela dan berteriak, "Siapa di sana? Apakah ada jin di atap rumahku?"

Seorang lelaki berpakaian lusuh menjulurkan kepalanya ke arah jendela di bawahnya, sambil berkata, "Aku sedang berkeliling mencari sesuatu."
"Apa yang kau cari?" pemilik rumah bertanya.

"Seekor Onta," jawab lelaki itu.

"Oh ya?" empunya rumah keheranan, "mana ada orang yang mencari Onta di atap rumah, apakah kamu tidak punya akal?"

"Tentu saja ada dan tentu saja saya berakal. Karena yang kalian lakukan sama halnya dengan aku. Kalian mencari Tuhan dalam segala kesenangan duniawinya. Bukankah hal itu juga sama anehnya? Justru kalianlah yang tidak memiliki akal. "

Setelah itu, pria itu menghilang. Tak ada yang melihatnya di atap rumah lagi. Ia lenyap ditelan malam. Tetapi ia telah memberi pelajaran berharga tentang kesalahan manusia. Bahwa seekor Onta di atap rumah, tidak lebih aneh dari mereka yang mencari Tuhan, seraya dirinya tenggelam dalam kenikmatan dunia.

Sahabatku,
Perjalanan spiritual seseorang selalu berbeda dengan orang lain. Proses pencarian Tuhan pun berbagai macam cara orang melalukannya. Ada yang dengan melakukan tarekat2 tertentu dan lain sebagainya.

Tuhan ada di mana-mana. DIA ada di Arsy, dan dalam saat yang sama ada diseluruh kehidupan mahluk. DIA menguasai seluruh jagad raya, semesta alam. Allah swt bisa berada di tengah pesta, juga di tengah2 nestapa. DIA bahkan lebih dekat dari leher kita.

Dalam kisah sufi, Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah bertanya kepada Tuhan, "Wahai Tuhanku, gerangan di mana kami dapat mencari-Mu?"

Tuhan Yang Maha Pengasih menjawab, "Wahai Musa, carilah AKU di tengah-tengah mereka yang hancur hatinya."

Makna apa sebenarnya yang tersembunyi dari dialog Nabi Musa as dengan Tuhan tersebut? Dialog tersebut sebenarnya mengisyaratkan bahwa Allah Swt akan selalu hadir di tengah-tengah orang susah, orang-orang tertindas oleh penguasa yang zalim, para korban bencana alam dan peperangan yang menderita, orang-orang yang sedang diuji dengan sakit, orang-orang miskin papa yang jauh dari kesejahteraan secara materi; dan Allah Swt pasti sedang bersama mereka, menghibur serta menolongnya.

Risalah Islam yang dibawa melalui Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk membantu orang-orang miskin dengan harta kita, tenaga kita dan doa kita. Islam mengajarkan melalui Zakat, Infaq, Shadaqah dan Waqaf. Banyak sekali ayat2 Al Qur'an dan hadist2 Nabi yang sangat menganjurkan kita untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang dirundung kemalangan karena kemiskinan, kelaparan, penderitaan dan sakit.

So, jika kita ingin menemui Allah Swt, tidak perlu harus ikut Kursus-kursus atau tarekat-tarekat tertentu atau mengikuti ajaran guru2 tertentu, atau datang ke orang2 pinter(???) yang ujung2nya kita akan gila, stress dan uang kita akan habis. Jangan sampai karena kita ingin menemui Allah Swt, iman kita akhirnya di rampok oleh Para Perampok di jalan Allah tersebut.

Jangan sekali-kali kita percaya jika ada siapapun yang mengatakan bahwa ia dapat melihat wajah/ dzat Allah Swt dan ia dapat membantu kita untuk melihat Allah Swt. Percayalah, ia pasti Bohong, stress atau Gila .

Kita tidak akan pernah sanggup melihat wajah Allah Swt, tapi kita bisa menemui Allah Swt. Dimana kita dapat menemui Allah Swt ? Agana mengajarkan kita untuk membantu orang-orang yang menderita, membantu mereka yang miskin, mereka yang tertindas yang hancur hatinya.

Sahabatku,
Hikmah dari kisah Mencari Onta di atap rumah di atas, bahwa , jika kita ingin bertemu Allah Swt, temuilah DIA dengan datang ke rumah-rumah kumuh;.

Datangilah rumah-rumah Yatim piatu yang membutuhkan uluran tangan kita. Datangilah rumah-rumah Jompo yang memerlukan bantuan. Datangilah ke bangsal-bangsal Rumah sakit murah yang disana berjejal orang2 miskin yang memerlukan bantuan kita bagi kesembuhan penyakitnya. Berilah bantuan pada mereka, para orang-orang miskin (dhuafa) , orang tertindas dan orang-orang lemah yang memerlukan bantuan kita; Berilah makanan dan pakaian bagi fakir miskin yang kelaparan disekitar kita; Berilah bantuan pendidikan bagi anak miskin dan anak yatim di sekitar kita yang sangat memerlukan bantuan kita. Berlah bantuan makanan, pakaian atau uang kepada suadara-saudara kita yang menderita akibat musibah bencana alam.

Insya Allah, disanalah kita bisa menemui Allah Swt

Wallahualam bissawab.

Semoga Allah Swt senantiasa menuntun kita dan anak keturunan kita agar menjadi hamba-Nya yang senantiasa mencari Allah dengan membantu sesama yang sedang dalam kesulitan, membantu orang2 yang teraniaya dan tertindas serta membantu kaum dhuafa ( fakir miskin). Aamiin

Semangat Pagi sahabatku, selamat berlibur akhir pekan (long weekend) bersama keluarga dan jangan lupa untuk saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran.

Untuk Anda yg sedang dilanda musibah/sakit, Semoga Allah segera mengangkat musibah/ penyakitnya dan menggantinya dgn kesehatan dan kebahagiaan. Amin

Allahummashallii ala sayyidina Muhammad wa ala'ali sayyidina Muhammad.

Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi diri saya dan kita semua. Aamiin
Terima kasih banyak, thank you n matur Syukran atas waktunya.

Bâraka Allâh fîkum. Amiin
Wassalamualaikum wr wb
Imam P Hartono (IPH)