Rabu, 13 April 2011

Tawakal Sebagai Kekuatan

Salah satu kedukaan di dalam hidup kita adalah kehilangan sesuatu yang berarti tentu saja membuat kita merasa perih dihati. Terlebih kehilangan orang yang kita cintai dan kita harapkan. Apalagi sampai kita begitu sangat bergantung kepada kehadirannya, maka rasa perih dihati yang mengiringi kepergiannya terasa amat sakit. Setiap benda atau hal yang mengingatkan kita kepada orang tersebut membuat luka hati menganga kembali dan rasa sakit yang menyayat terasa begitu nyeri. Itulah yang terjadi pada seorang bapak yang mengatakan bahwa hanya dekat dengan Allahlah hatinya menjadi tenang. 'Itulah nikmatnya sakit' tuturnya. 'Dalam tekanan hidup membuat saya mencari Allah, meski saya pernah marah dan meninggalkanNya namun Allah tidak pernah meninggalkan saya.'

Pukulan pertama diterimanya. Awalnya tahun lalu istrinya yang dicintai masuk rumah sakit ketika dirinya sedang berada di luar kota karena tugas kantor. Tidak lama kemudian sang istri dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ditengah kesedihannya, ia jatuh dari kamar mandi yang membuat terbaring di rumah sakit selama satu bulan. Begitu sudah bekerja kembali, pimpinan perusahaan tempatnya bekerja dirinya di PHK karena dianggap telah melalaikan tugas kantor. Dalam upaya mencari pekerjaan baru, ia mencoba untuk berwirausaha namun usahanya tak membuahkan hasil. Selalu saja mengalami kegagalan.

Sampai batas titik nadir, rasa sakit yang dirasakan membuatnya menjerit dalam hati 'Ya Allah, aku tidak sanggup lagi.' Pada malam itu ia mendengarkan Radio Bahana FM Jakarta di acara 'Power of Peace' kemudian menghubungi Radio Bahana dan akhirnya berkunjung ke Rumah Amalia dengan berniat menyisihkan rizkinya untuk bershodaqoh karena Allah. Dan kesempatan mengikuti kegiatan bersama di Rumah Amalia juga tidak dilewatkannya telah mampu menyembuhkan luka perih dihatinya. Tidak lama setelah itu beliau mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Sekarang justru dirinya semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Saya selalu rindu padaNya sebab kasih sayang Allah menerangi jalan hidup saya, Mas Agus dan alhamdulillah, melalui Rumah Amalia saya bisa berbagi kebahagiaan,' tuturnya. Itulah yang dirasakan bahwa tawakal kepada Allah telah menjadi kekuatan dalam menghadapi badai kehidupan.

--
‘Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. (QS. Ath-Thalaq : 2-3).

Senin, 11 April 2011

Berharap Pasangan Yang Sempurna

Allah telah memberikan modal dasar agar kita dapat membangun keluarga kita menjadi keluarga sakinah, yaitu ditiupkannya rasa kasih dan sayang. Selanjutnya kita sendirilah yang memupuk dan merawat kasih dan sayang itu agar tidak menciderai perjalanan dalam membina rumah tangga. Salah satu yang dapat membuat kasih sayang suami istri menjadi terkoyak adalah 'berharap kesempurnaan pada pasangan.' Ada ungkapan 'dimana tak ada cinta yang mendalam, takkan ada kekecewaan yang mendalam.' Begitulah masa sebelum ijab kabul dilangsungkan atau saat awal pernikahan, ketika cinta hadir memenuhi ruang hati, suami atau istri memandang pasangan hidupnya begitu teramat sempurna, tanpa noda & cela karena kita tenggelam dalam bayangan indah bukan apa yang sebenarnya kita lihat sebuah kenyataan yang ada didepan mata kita.

Seiring waktu noda dan cela nampak terlihat, api cinta mulai meredup, masing2 pasangan tak menyadari kondisi yang tengah dialaminya. Kesempurnaan pasangan tetap menjadi fokus keinginan. Tenggelam dalam bayangan indah. Terbuai dalam impian. Padahal diawal pernikahanpun pasangan kita memang tidaklah sempurna, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Dalam pengertian, pasangan kita bukanlah sosok yang bisa memenuhi semua apa yang kita inginkan. Jadi, akar permasalahannya adalah bukan penurunan kualitas kesempurnaan pasangan kita tetapi rasa cinta yang tidak lagi menggebu seperti dulu. Karena itulah, berharap pasangan yang sempurna hanya akan membuat kasih sayang yang sudah terjalin menjadi terkoyak. Ketika kita menuntut pasangan hidup kita untuk sempurna maka nampak adalah berbagai ketidaksempurnaan ada didepan mata kita.

Ada nasehat yang baik dari Imam Syafii bila kita berharap pasangan yang sempurna, 'Jika kita membayangkan pasangan yang sempurna tetapi kita menikah dengan pasangan yang tidak sempurna dan kita berharap kesempurnaan, maka pilihannya hanya ada dua. Pertama, hapuskan saja bayangan kesempurnaan itu dan terimalah pasangan kita sebagaimana adanya atau campakkanlah pasangan anda dan terimalah bayangan kesempurnaan itu sebagai pasangan hidup anda.'

'Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir' (QS. Ruum :21).

~ 13 KIAT MERAIH DOA YANG MUSTAJAB ~


  • 1.Memasang niat yang benar dan ikhlasYaitu untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dan menggantungkan kebutuhan kepada-Nya. Karena siapa saja yang menggantungkan hajatnya kepada Allah niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.
  • 2.Memanjatkan doa dalam keadaan bersuci,Inilah yang dianjurkan dan lebih afdhal. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah melainkan dalam keadaan suci (atau beliau mengatakan: Dalam keadaan thaharah).(HR Abu Dawud)
Hanya saja jika seorang yang berdo’a dalam kondisi tidak berwudhu, hal itu tidak mengapa.
  • 3.Mintalah kepada Allah dengan menengadahkan kedua telapak tangan,Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:“Jika kamu meminta kepada Allah maka mintalah dengan menengadahkan telapak tangan, dan janganlah kamu memintanya dengan menengadahkan punggung telapak tangan.(HR Abu Dawud)
Kaifiyatnya adalah dengan mengarahkan telapak tangan ke wajah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. (HR Ath-Thabrani)
Atau dengan cara mengangkat tangan hingga nampak putih ketiaknya (bagian dalam ketiaknya).Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya dan memohon suatu permo honan, kecuali Allah mengabulkan permohonannya itu.(HR Tirmidzi)
Kaifiyat seperti itu menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada Allah, kebutuhannya kepada Allah, dan permo honannya yang sangat kepada-Nya.
  • 4. Mulailah dengan mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah,Hal ini akan membuat doa kita lebih terkabulkan. Rasu lullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang laki-Iaki berdoa dalam shalatnya dan dia tidak mengagungkan Allah dan tidak ber shalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. 
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Orang ini terburu-buru.” Kemudian Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam me manggilnya dan bersabda:“Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah serta puja dan puji kepada Allah, kemudian bershalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian setelah itu ia berdoa apa yang ia inginkan.”( HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
  • 5.Jangan lupa bershalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,Jika ia meninggalkan shalawat atas Nabi, doanya bisa terhalang dikabulkan. adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:“Semua doa terhalang, sehingga diucapkan shalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.( HR Ad-Dailami)
  • 6. Mulailah dengan berdoa untuk diri sendiri terlebih dulu,Itulah tuntunan doa dalam Al-Quran, seperti yang dise butkan dalam ayat:“Ya Rabbi! ampunilah aku dan kedua ibu bapakku.” (QS. Nuh: 28)
  • 7. Bersungguh-sungguh dalam meminta,Jangan ragu dalam berdoa, atau mengucapkan pengecualian, “jika engkau berkehendak ya Allah, berikanlah kepadaku ini dan ini.” Doa seperti itu dilarang karena tidak ada se suatupun yang dapat memaksa kehendak Allah.
  • 8. Menghadirkan hati dalam berdoa,Seorang insan hendaklah menghadirkan hati, memu satkan pikiran, mentadaburi doa yang ia ucapkan, serta me nampakkan kebutuhan dan ketergantungannya kepada Allah. Janganlah ia berdoa dengan lisannya namun hatinya entah kemana-mana. doa dengan cara seperti itu tidak akan dikabul kan oleh Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin doa kalian akan dikabulkan, ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.(HR Tirmidzi)
  • 9. Gunakan kata-kata singkat dan padat serta doa-doa yang ma’tsur,Tidak syak lagi bahwa kata-kata yang paling padat dan paling singkat dan paling agung berkahnya adalah doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika tidak hafal, ia boleh berdoa dengan bahasa yang ia pahami.
  • 10.Bertawasullah dengan Nama dan Sifat-sifat Allah
Sebagaimana firman Allah:“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah ke pada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (QS. Al ’Araf: 180)
Atau bertawasul dengan amal shalih yang telah dia lakukan, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang masyhur tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa. Atau bertawasul melalui doa orang shalih yang berdoa untuknya.
  • 11. Memperbanyak ucapan “Yaa Dzal lalaali wallkram”(bisa di artikan Allah maha penyayang)                      Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Ulang-ulangilah ucapan Yaa Dzal Jalaali Wal Ikraam.”     (HR Tirmidzi)
Yaitu selalu ucapkan dan perbanyaklah ucapan itu dalam doa-doa kalian. Karena hal itu merupakan kata-kata pujian yang sangat tinggi bagi Allah. Dan memperbanyaknya akan membantu terkabulnya doa.
  • 12. Mencari waktu-waktu yang mustajab dan tempat-tempat yang utama,Ada beberapa waktu dan tempat yang mustajab untuk berdoa yang telah disebutkan dalam sejumlah nash syar’i. Dan sebaiknya orang yang berdoa mencari waktu tersebut dan memperbanyak doa pada waktu-waktu tersebut. Di antaranya adalah waktu antara adzan dan iqamah, di dalam shalat, seusai mengerjakan shalat-shalat fardhu, di sore hari, ketika berbuka puasa, di bagian akhir malam, sesaat pada hari jumat yaitu saat-saat terakhir pada hari jumat, hari-hari di bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, pada hari ‘Arafah, pada waktu mengerjakan haji, ketika sedang berpuasa, saat berbuka, di medan perang, di saat hujan turun, di tempat ribath serta waktu-waktu dan tempat-tempat lainnya yang disebut kan dalam atsar.
  • 13. Memperbanyak doa pada saat-saat lapang,Perbanyaklah doa pada saat lapang supaya Allah mengabulkan permintaan kita pada saat-saat sempit. Termasuk hikmah Allah dalam menakdirkan suatu bala/musibah, bahwa Allah suka mendengarkan rintihan seorang hamba kepada-Nya. Dan suka melihat mereka kembali kepada-Nya pada saat-saat sempit.Apabila seorang insan bertadharru’ pada saat-saat lapang, niscaya akan segera dikabulkan permintaan-permintaannya di saat ia dalam kesempitan.Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Barangsiapa suka Allah mengabulkan doanya pada saat- saat sempit dan sulit hendaklah ia banyak-banyak berdoa pada saat-saat lapang.” ( HR Tirmidzi)

Wallahu A'llam
Insya Allah bermanfaat notes yng singkat ini

Minggu, 10 April 2011

Maafkan Aisyah, Ibu

Aisyah gadis yang cantik, sekalipun usianya baru tujuh tahun, dia sangat cerdas namun disisi lain selalu cemburu dengan kakaknya. Mulai dari makanan, pakaian, bahkan kasih sayang. Bagi Aisyah, ibu adalah sosok yang tidak adil, selalu membedakan dirinya dengan kakaknya. Aisyah merasa kakaknya lebih disayangi oleh sang ibu. Ketidaksukaannya semakin lama semakin memuncak, kemudian dia wujudkan pada sikap dan perilaku ketidaksukaannya kepada kakak dan ibunya. Pada suatu malam sang ibu bertanya, 'Apakah kamu mencintai ibu?' 'Tentu, Aisyah sangat sayang ama ibu.' jawab Aisyah. Sang Ibu bertanya lagi, 'sayang mana pada ibu atau kalung itu?' 'Tentu saja Aisyah lebih sayang ibu daripada kalung ini.' Jawab Aisyah sambil memegangi kalung yang dipakainya. Mendengar jawaban Aisyah, sang ibu meminta kalung yang dipakainya. Aisyah terkejut bukan main atas permintaan ibunya karena Aisyah sangat menyukai kalung yang ada dilehernya. 'Ibu, ambillah yang ibu suka asal jangan kalung ini karena tanpa kalung ini aku tidak terlihat cantik.' Ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca.'Ibu, boleh ambil sepatuku asal jangan kalung ini, Aku mohon bu..' Lanjut Aisyah. Sang Ibu tidak mengucapkan apapun, Ibu tersenyum dan mencium kening Aisyah kemudian keluar meninggalkan kamar Aisyah.

Selama satu minggu, sang ibu selalu bertanya pada Aisyah lebih sayang mana ibu atau kalung itu? Aisyah selalu menjawab, 'Aku lebih sayang ibu.' Aisyah mencoba merayu ibunya agar mau menerima pemberiannya yang lain. Bahkan Aisyah rela untuk tidak diberi uang jajan asal ibunya tidak meminta kalung miliknya. Sampai satu hari Ibunya selesai mencuci piring, duduk diruang Aisyah datang menghampiri dan menyerahkan kalung kesayangannya. Aisyah mengatakan pada ibunya, 'Ibu tahu kalung ini sangat aku sayangi tetapi aku lebih menyayangi ibu,' Kalung ibu dipegang oleh ibunya dan menanyakan apakah memang telah benar2 memberikan kalung itu, Aisyah menjawabnya dengan mengangguk. Tak lama kemudian sang ibu mengeluarkan kotak kecil dari sakunya dan menyerahkan kotak kecil itu kepada Aisyah. 'Bukalah kotak itu.' kata sang ibu. Ketika kotak itu dibuka ternyata sebuah kalung emas sama persis kalung imitasi miliknya yang telah diberikan kepada ibunya. Aisyah melonjak kegirangan. Dipeluk ibunya, diciumi pipi sang ibu, air mata yang bening mengalir dipipi Aisyah. Kebahagiaan yang luar biasa dirasakan hatinya bahwa sang ibu sangat mencintai dirinya.

Dipeluknya Aisyah, sang ibu bertutur dengan kasih sayang pada buah hatinya. 'Aisyah, jika kamu ingin dicintai, pertama kali yang harus dilakukan adalah kamu harus mencintai mereka. Jika kamu ingin hidupmu bahagia maka tanggalkanlah pikiran-pikiran buruk yang melahirkan penderitaan dalam hidupmu.' Sambil menatap mata Aisyah, sang ibu menghapus air mata yang mengalir dipipi Aisyah. 'Aisyah, Ingatlah bahwa hidup ini harus disyukuri sebagai karunia Allah dengan selalu berpikir positif dan berprasangka baik kepada siapapun, sebab bila kita bersyukur maka Allah akan melimpahkan nikmat yang jauh lebih banyak.' Di dalam pelukan sang ibu, Aisyah menangis tersedu-sedu, 'Maafkan Aisyah, ibu. Aisyah selalu berprasangka buruk pada ibu dan kakak. Aisyah cemburu dengan kakak. Aku berjanji, akan mengubah sikap. Aisyah bersyukur punya ayah, ibu dan kakak yang mencintai Aisyah.' Aisyah memejamkan mata, wajahnya yang cantik jelita memancarkan cahaya hatinya yang tulus dipenuhi kebahagiaan. Malam itu Aisyah mendapatkan pelajaran yang berharga, sebuah kasih sayang yang tulus dari sang ibu.

Sabtu, 09 April 2011

Tantangan Membangun Keluarga Sakinah

Tantangan paling berat membangun keluarga sakinah di tengah masyarakat modern adalah dalam menghadapi penyakit manusia modern. Pada zaman Nabi, tantangan lebih bersifat fisik, tetapi pada zaman modern, musuh justeru menyelusuf ke rumah tangga melalui teknologi komunikasi & informasi. Anak-anak sejak kecil tanpa disadari sudah dijejali dengan pemandangan dan pengalaman yang merusak melalui teknologi komunikasi & informasi, sehingga pendidikan keluarga menjadi tidak efektif. Menurut sebuah penelitian yang dikutip oleh DR. Zakiah Daradjat, perilaku manusia itu 83 % dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11 % oleh apa yang didengar dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus campuran. Dalam perspektif ini maka nasehat orang tua hanya memiliki tingkat efektifitas 11 %, dan hanya contoh teladan orang tua saja yang memiliki tingkat efektifitas tinggi.

Ada tiga lingkaran lingkungan yang membentuk karakter manusia, keluarga, sekolah dan masyarakat. Meski ketiganya saling mempengaruhi, tetapi pendidikan keluarga paling dominan pengaruhnya. Jika suatu rumah tangga berhasil membangun keluarga sakinah, maka peran sekolah dan masyarakat menjadi pelengkap. Jika tidak maka sekolah kurang efektif, dan lingkungan sosial akan sangat dominan dalam mewarnai keluarga. Pada masyarakat modern, pengaruh lingkungan sangat kuat, karena ia bukan saja berada di luar rumah, tetapi menyelusup ke dalam setiap rumah tangga, sehingga menimbulkan penyakit tersendiri, yakni penyakit manusia modern.

Penyakit manusia modern terutama adalah apa yang disebut Pisikolog Humanis Rolllo May sebagai Manusia dalam Keangkeng. Mereka tidak tahu apa yang diinginkan dan tidak mampu memilih jalan hidup yang diinginkan. Mereka mengalami keterasingan dari lingkungan bahkan dari diri sendiri. Mereka juga dikerangkeng oleh tuntutan sosial. Dalam hidupnya mereka berusaha keras melakukan apa yang seakan-akan mereka inginkan, padahal sebenarnya keinginan sosial. Mereka sibuk meladeni keinginan orang lain sampai lupa akan keinginan sendiri. Rumah, pakaian, kosmetik, kendaraan, model rambut dan gaya hidup lainnya disesuaikan dengan pesanan sosial. Karena sulit akhirnya dalam pergaulannya mereka harus menggunakan berbagai topeng sosial, topeng tertawa, topeng tangisan, topeng serius, topeng perjuangan dan seterusnya, dan saking seringnya memakai topeng sosial sampai lupa wajah sendiri.

Ternyata resep membangun keluarga sakinah tidak berubah. menurut al Qur’an diantara simpul-simpul yang dapat mengantar pada keluarga sakinah tersebut adalah. Pertama, Dalam keluarga itu ada mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan nggemesi, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah. Kedua, Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik di luaran tampil menarik orang banyak, di rumah “nglombrot” menyebalkan.

Ketiga, Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya. Keempat, Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi.vKelima, Menurut hadis Nabi juga, empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni (a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat , dan (d) dekat rizkinya.

Dalam zaman apapun, jika petunjuk Rasul tersebut diatas diikuti, maka pada keluarga itu akan terbangun benteng yang kokoh terhadap penyakit kerangkeng sosial itu dan menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. Ada beberapa tingkatan kualitas keluarga. Pertama kualitas mutiara. Mutiara tetaplah mutiara meski terendam puluhan tahun di dalam lumpur. Keluarga yang berkualitas mutiara, meski hidup di zaman yang rusak atau tinggal di lingkungan sosial yang rusak, ia tetap terpelihara sebagai keluarga yang indah dengan pribadi-pribadi yang kuat. Keluarga ini memiliki mekanisme dan sistem dalam pergaulan sosial yang menjamin keutuhan kualitasnya meski di tengah masyarakat yang tak berkualitas.

Kedua, kualitas kayu. Kursi kayu akan tetap kuat dan indah jika berada dalam ruang yang terlindung, tetapi jika terkena panas dan hujan, lama kelamaan akan rusak. Model keluarga seperti ini sepertinya terpengaruh oleh lingkungan negatif masyarakatnya, tetapi sebenarnya yang terpengaruh hanya lahirnya saja, mungkin hanya mode pakaiannya, hanya kemasan lahirnya, sedangkan etosnya, semangatnya, komitmennya, keteguhannya tidak terlalu terusik oleh situasi sosial. Kerusakan lahir keluarga ini dapat segera diperbaiki dengan sedikit shock therapy, dengan sedikit pendisiplinan kembali, seperti kursi yang rusak karena kehujanan bisa diperbaiki dengan dipoliytur kembali.

Sementara itu, yang ketiga kualitas kertas, apalagi sekelas kertas tissue, ia segera akan hancur jika terendam air. Model keluarga seperti ini sangat rapuh terhadap dinamika sosial. Mereka mudah mengikuti trend zaman dengan segala macam assesorisnya sehingga identitas asli keluarga itu hampir tidak lagi nampak. Segala macam trend masyarakat diikuti dengan semangat, tanpa mempertimbangkan esensinya. Di butuhkan laminating sosial untuk melindungi keluarga seperti ini dari pengaruh buruk masyarakatnya. Laminating sosial bisa berbentuk pakaian, yaitu mengenakan pakaian yang dikenali sebagai pakaian orang baik-baik, misalnya busana muslimah, bisa juga menjadi anggota dari club atau kumpulan orang-orang yang dikenali sebagai kumpulan orang-orang baik, misalnya menjadi anggota majlis pengajian atau orhganisasi yang dikenal melakukan aktifitas keagamaan berstruktur, atau tinggal di dalam lingkungan yang ketat sistem pemeliharaan identitasnya.

Jumat, 08 April 2011

Kesembuhan Yang Penuh Berkah

Ketika cobaan atau musibah menghampiri kita, seolah diterjang badai kehidupan. Banyak yang menyangka bahwa cobaan atau musibah itu adalah adzab dari Allah, dianggapnya sebagai murka Allah. Padahal jika kita renungkan lebih dalam, sebenarnya selagi kita masih hidup, Allah berkenan memberikan kesempatan agar kita memperbaiki kesalahan yang kita lakukan. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak pernah memberikan siksaan melainkan 'sentilan kecil' bagi kita hambaNya yang lalai dan lupa diri untuk kembali ke jalan yang benar. 'Sesungguhnya Allah tidak pernah memberikan siksa kepada seseorang walaupun sebesar zarrah sekalipun dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar.' (QS. an-Nisaa' : 40).

Itulah yang terjadi pada seorang Ibu yang mengasuh anaknya seorang diri sampai kemudian putranya menginjak dewasa harus masuk rumah sakit karena penyakit kronis yang dideritanya. Setelah dilakukan pemeriksaan putranya dinyatakan oleh dokter bahwa sakit yang dideritanya harapan untuk sembuhnya sangatlah tipis. Menurut dokter agar memenuhi keinginan putranya dan berdoa, 'Siapa tahu ada harapan untuk sembuh, Allah Maha Menyembuhkan Ibu.' begitu tutur dokternya. Tentu saja hal itu membuat hati sang ibu menjadi sangat bersedih, apa yang dituturkan oleh dokter menjadi teringat bagaimana dulu ketika dirinya menjaga dan merawat suami nya dan akhirnya meninggal dunia justru ditengah kebahagiaan keluarga yang dirasakannya. Kesedihan yang dirasakan akan berpisah dengan putranya selama-lamanya. Seolah tiada lagi harapan yang tersisa orang yang dicintai menemani hidupnya.

Ia kemudian berisiatif shodaqoh untuk Rumah Amalia berharap keridhaan Allah untuk kesembuhan putranya. Dua pekan kemudian ada kabar yang cukup menggembirakan, dokter telah memberitahukan kepada sang ibu bahwa putranya memiliki harapan untuk disembuhkan dan keadaan sedikit demi sedikit telah membaik. Ahirnya putra beliau telah keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat walfiat. Semuanya sangat berbahagia dan bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas kesembuhannya yang penuh berkah.
Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi).

Kamis, 07 April 2011

Penyakit Yang Menghambat Terwujudnya Keluarga Sakinah

Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan, segala sesuatru mengandung unsur positif dan negatif. Dalam membangun keluarga sakinah juga ada faktor yang mendukung ada faktor yang menjadi kendala. Faktor-faktor yang menjadi kendala atau penyakit yang menghambat tumbuhnya sakinah dalam keluarga adalah,

1. Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, magis dan sejenisnya. Bimbingan dukun dan sejenisnya bukan saja membuat langkah hidup tidak rasional, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.


2. Makanan yang tidak halalan thayyiba. Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.

3. Kemewahan. Menurut al Qur’an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku manyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.

4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL). Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi berduaan dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis berduaan akan dapat menggiring pada perselingkuhan.

5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial. Akibat Kebodohan sosial & matematis sosial maka sering terjadi pertengkaran dalam keluarga.

6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.

7. Jauh dari agama. Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan menjanjikan padahal palsu.