Senin, 17 November 2008

Air Mata Itu Tak Terbendung

Malam belum begitu larut. Air mata itu tak terbendung. Puluhan pasang mata anak-anak menangis sedih saat melihat seorang ibu yang membawa anaknya yang sedang sakit tidak ada biaya untuk berobat. Bersama anaknya dia datang ke tempat pengajian.

Istri saya mengatakan, "Mas, ini anak asuh yang sakit kemaren saya ceritakan. yang membutuhkan biaya untuk berobat." "oo.." saya mengangguk mengerti. Malam itu juga istri saya mengajak anak dan ibu nya itu untuk berobat ke DOkter Agung.

beberapa kali mengucapkan terima kasih pada saya dan mengucapkan salam untuk pamit. Terbayang betapa sungguh berat bagi seorang ibu yang ditinggal sang suami tercinta sementara mesti mengurus anaknya yang masih kecil sedang sakit.

Saya sampaikan kepada ibu tersebut bahwa bukan saya yang patut untuk mendapatkan ucapan terima kasih tapi teman-teman yang dalam program Ananda-lah yang berhak mendapatkan ucapan terima kasih. Dengan terbata-bata Ibu itu mengangguk mengerti. berkali-kali beliau mengucapkan syukur alhamdulillah.

"Siapa yang meringankan beban orang yang susah, niscaya Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. Alloh akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain.” (HR. Bukhari)

Kamis, 06 November 2008

Kebahagiaan

Kebahagiaan kami hadir ketika persiapan acara “Smile Gathering With Anak Yatim” sudah mendekati hari pelaksanaan. “Alhamdulillah ya mas semua persiapan berjalan dengan baik, Insya Alloh semuanya lancar.”kata Mbak Meidy.

Begitu banyak cobaan dan rintangan yang kami hadapi, ketulusan hati teman-teman panitia mempersiapkan semua bukanlah hal yang mudah sebab selain bekerja dengan ikhlas juga dibutuhkan kerja ekstra keras. Mbak Tien yang pontang-panting menyiapkan acara, Mbak Nani dengan semangatnya membantu tranportasi, Mbak Listi & Mbak Mimin yang berkenan menyediakan konsumsi, Mas Budi yang selalu menyediakan waktu dan pikiran, Teh Dedah yang menyiapkan hadiah buat lomba, Mas Erry yang selalu direpotin, Mbak Meidy dah jungkir balik (Mbak, Meisya sudah sembuhkah dari sakitnya?)

Itulah sebabnya kebahagiaan kami hanyalah ingin membahagiakan anak-anak yatim. Senyum kami hanyalah ingin melihat senyuman mereka.

Pagi itu saya bertemu ibunya dini dan mengatakan, “Kak agus, makasih ya...hari minggu mau diajak ke Ragunan. Udah lama dini pengen ke Ragunan tapi ibu mah nggak punya uang.” Sayapun tersenyum mendengar penuturan ibundanya dini. Kebahagiaan itu terasa hangat dijiwa.

Terima kasih buat teman2 semua yang sudah berkenan berpartisipasi pada acara kami “Smile Gathering With Anak Yatim”, semoga Alloh SWT melimpahkan kesehatan selalu dan rizki yang banyak..amin..

Rabu, 05 November 2008

Menemukan Emas di Kotoran Anjing

Malam itu saya kedatangan seorang pemuda, dia menumpahkan semua kekesalannya karena temannya telah menipunya. Padahal temannya itu adalah orang kepercayaan. Saya katakan padanya bahwa itu pelajaran yang berharga yang tidak boleh disia-siakan.



“Maksudnya bagaimana mas?” tanya pemuda itu.



“Hidup ini bukanlah sekolah yang mengajarkan kita untuk membuang emas yang sudah berada ditangan kita.” Lanjut saya. Saya memandangi pemuda itu nampak mulai mengerti. “Maaf mas, apa kaitannya dengan yang saya sampaikan tadi?”katanya.



“Carilah emas sekalipun ada di kotoran anjing.” Jawab saya. “Apakah mungkin?”

“Ya mungkin saja, belajarlah memproses diri! Dirimu akan betapa bahagianya hidup ini jika bisa menemukan emas yang ada di kotoran anjing.” Kata saya.



“Wis mumet aku mas. Pamit dulu” Jawab pemuda itu pamit pulang. Entah kemana perginya pemuda itu setelah ditelan kegelapan malam.



-------------------

“Alloh menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS al-Baqoroh 269)

Perpisahan Yang Indah

Begitu mendengar kabar ada seorang teman yang meninggal saya menyempatkan untuk takziyah. Saya sempat bertemu dengan istri almarhum dan anak-anaknya. Istrinya bertutur, sebelum suami tercinta meninggal sudah pesan agar semuanya libur hari ini sebab besok bakal ada banyak tamu.

Setelah sholat Isya’ istrinya mengira suaminya tertidur pulas namun setelah dibangunkan baru tersadar jika suaminya meninggal. Sepertinya sang suami sudah mengetahui bahwa ajalnya sudah tiba karena dimeja meninggalkan surat wasiat membagi hak waris untuk keluarga dan anak-anak yatim yang diasuhnya. Kata istrinya, “Bapak membuat perpisahan begitu indah…”

Saya mengenal teman ini juga sebagai sosok yang indah secara pribadi. Dia adalah seorang yang gemar menyantuni anak yatim dan gemar bersodaqoh sehingga diakhir hidupnya sudah menangkap getaran-getaran akan dipanggil oleh Alloh SWT, maka dia bisa mempersiapkan diri dengan baik, dengan meninggalkan kesan dan pesan yang indah bahkan sudah menunaikan sholat Isya’ terakhirnya.

-----------------

“Orang yang sering melakukan perbuatan baik, menyantuni anak yatim dapat mencegah kejadian buruk. Bersedekah meredam murka Alloh dan menolak mati dalam keadaan buruk (su’ul khatimah). (Ali Bin Abi Thalib).

Selasa, 04 November 2008

Ikhlas

Beberapa waktu lalu saya bertakziyah. Ada anak seorang teman meninggal karena kecelakaan dijalan. Yang menabrak tidak bertanggungjawab, pengemudinya melarikan diri bersama mobilnya.

Saya bertanya padanya bagaimana dia bisa begitu tabah menjalani semua itu. Dia menjawabnya bahwa tidak ada yang membuat dirinya resah sebab ikhlas itu adanya dihati bukan dipikiran.

-----------
"Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas di antara mereka." (QS. Shaad: 82-83).

Kemuliaan Seorang Anak

Kejaiban itu hadir dalam bentuk apapun, bahkan keajaiban juga hadir dalam bentuk rasa sakit. Ketika rasa sakit itu menghampiri yang begitu luar biasa napas menjadi terasa berharga. Begitu yang saya bisa rasakan pada diri jaka. Bahkan seolah saya berada waktu yang sempit untuk menggapai sebuah impian. Impian untuk impian untuk membantu anak-anak yatim, impian untuk membantu banyak anak memiliki sebuah harapan agar tidak mudah putus asa dalam hidupnya.

Sore itu saya melihat berlarian Jaka. Sudah dua hari Jaka tidak sekolah karena paru-parunya sakit. Kata ibunya paru-paru sakit sudah sejak lahir. Saya melihat wajahnya begitu tegar. Ayahnya meninggal sewaktu Jaka masih kecil. “Jaka, tidak boleh lari-larian nanti terlalu kecapekan ya..”kata saya padanya. “Iya kak.”jawab Jaka. Badannya kurus namun selalu bersemangat dalam hidupnya. Senyum itu terurai dengan sebuah harapan akan masa depannya.

“Besok gede Jaka mau jadi apa?” tanya saya padanya. “pengen bisa bantu ibu biar tidak menderita kak..” jawab Jaka. Mata istri saya berkaca-kaca mendengarnya.


---------------------
Rasulullah SAW bersabda, “Rumah tangga yang paling dicintai oleh Alloh SAW yaitu rumah tangga yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan.” (HR. Ath-Thabarani dan Asbahani).

Senin, 03 November 2008

Bukan Hamba Pancingannya

Setiap sore Sadeli selalu saja pulang dari empang lewat depan rumah dengan membawa pancingannya. Kadang membawa ikan, kadang juga tidak. Kebanyakan orang bilang Sadeli “agak kurang waras.” Pekerjaannya hanya memancing ikan. Bahkan mungkin seumur hidupnya dia habiskan untuk memancing. Konon ada kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya saat Sadeli lahir sudah membawa pancingan dari dalam perut ibunya.

Sore itu saya dan istri melihat Sadeli sedang mematah-matahkan pancingannya. “loh, kok pancingannya dipatah-patahin ya..Sadeli jadi nggak bisa memancing lagi dong..”kata saya. Istri saya menjawabnya, “itu Sadeli bertanda orang yang lebih beriman daripada kita mas..” “Kok bisa, kenapa begitu?”

“Iya, karena Sadeli itu ingin menjadi hamba Alloh sepenuhnya, tidak ingin menjadi hamba pancingannya..” “lah, kalau pancingannya dia hancurkan, dia cari makannya pake apa? Terus makannya bagaimana?” Pertanyaan saya dalam mencerna kata-kata istri saya.

Tiba-tiba terdengar suara agak keras dari istri saya, “Mas, rizki yang atur Alloh, bukan pancingan, tau..”