Kamis, 30 Desember 2010

<<<< DOSA - DOSA YANG DIREMEHKAN ( BAG. 3 ) >>>>

9. Zina
      Karena diantara tujuan syariat adalah menjaga kehormatan dan menjaga keturunan, maka dari itulah syariat turun dengan kandungan pengharaman zina. Firman Allah SWT :

"Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk ".
( Al-Isra : 32 ).

Bahkan syariat segala perantara dan jalan yang mengarah kepada perbuatan zina, dengan perintah untuk berhijab, menundukkan pandangan, pengharaman berkhalwat dengan lain mahram, dan lain-lainnya.

      Pezina yang muhshan (sudah bersuami) diberi ganjaran hukuman yang paling keji dan pedih, yakni merajamnya dengan bebatuan hingga menemui kematian, agar dia merasakan kepedihan amalan yang telah dia lakukan, dan agar setiap anggota tubuhnya tersiksa sebagaimana ketika dia menikmati perbuatan haram. Sementara itu, pezina yang sebelumnya belum pernah melakukan hubungan sex dalam pernikahan yang sah, maka diganjar hukuman cambuk dengan lebih dari sejumlah cambukan, yang ditentukan syariat yaitu 100 kali cambukan. Pelaksanaan hukuman ini harus disaksikan sekelompok kaum mukmin lalu disusul dengan hukuman buang pengucilan selama 1 tahun utuh, sebagai hukuman dan kehinaan bagi dirinya.
Azab bagi para pezina pria dan wanita di alam barzakh adalah mereka diletakkan di dalam tungku yang tertanam di dalam tanah, bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya luas, yang dari bawahnya dinyalakan api, dan pada waktu itu mereka telanjang bulat. Bila dinyalakan api untuk mereka, mereka berteriak dan semakin keras, berloncatan sampai2 hendak keluar. Namun bila dikecilkan kobaran apinya, mereka kembali kepadanya. Demikianlah mereka diperlakukan hingga hari kiamat.

Hadits marfu' dari Abu Hurairah, dia berkata :
"Tiga orang yang tidak disapa Allah, tidak dibersihkan, tidak dilihat kelak pada hari kiamat dan mereka mendapat adzab yang paling pedih, yakni orang tua yang berzina, seorang raja yang dusta dan seorang yang miskin namun takabur         ( HR. Muslim ).

10. Homoseksual
      Penyakit kaum Luth adalah menjalin keintiman seksual di antara sesama lelaki. Firman Allah SWT :

"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya : 'Sesungguhnya kalian benar2 melakukan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat2 sebelum kalian. Apakah sesungguhnya kalian patut mendatangi laki2, menyamun dan mengerjakan kemunkaran di tempa2 pertemuanmu " ( Al-Ankabut : 28 - 29 )

      Dalam syariat Islam, dibunuh dengan pedang menurut pendapat yang kuat adalah hukuman bagi pelaku dan korbannya, bila didasari saling suka. Hadits marfu' dari Ibnu Abbas, dia berkata :
" Barang siapa yang engkau dapati melkakukan perilaku kaum Lut, maka bunuhlah pelaku dan korbannya " (HR Ahmad)

11. Keengganan Istri Melakukan Senggama dengan Suaminya Tanpa Alasan Syar'i

      Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW. Beliau bersabda :
" Bila seorang laki2 memanggil istrinya ke ranjangnya, namun sang istri menolaknya sehingga sang suami melewatkan malamnya dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari.

Ironisnya, banyak kaum wanita bila terjadi perselisihan antara dia dan suaminya, meski hanya prasaangka saja, justru ditindaklanjuti dengan keengganan memenuhi hak2 suami di atas ranjang. Ini aka menyulut kerusakan2 yang lebih besar, diantaranya menyeret suami kepada hal haram, dan terkadang permasalahan2 yang muncul berikutnya mengimbas kepadanya, yang selanjutnya mendorong suami untuk menikahi wanita lain.

Maka dianjurkan kepada istri agar secepatnya memenuhi ajakan suami, yang didasarkan kepada sabda Nabi :
" Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjangnya, maka hendaklah memenuhinya, meski dia berada di atas sekedup unta ".

    Sebaliknya, suaminya harus merawat istrina bila sedang sakit, mengandung atau mendapat kesulitan lain, sehingga keserasian terus berlanjut dan tidak terjadi keretakan.

12. Istri Menuntut Talak kepada Suami Tanpa Alasan Syar'i

       Kebanyakan kaum wanita terlalu gampang mengajukan tuntuta talak kepada suaminya hanya karena sebuah perbedaan yang sangat sepele, atau mendesaknya untuk menalaknya karena suami tidak memberi sejumlah uang yang dimintanya. Sebagaimana yang sering dlihat, talak akan membawa keretakan pada keluarga, anak2 terlantar yang sekaligus merupakan sebuah kehancuran besar.

Dari Tsauban ra, hadits marfu' :
" Siapa pun wanita yang meminta talak kepada suaminya tanpa suatu sebab kekerasan, maka diharamkan baginya bau surga "  ( HR. Ahmad ).

Dar 'Uqbah bin Amir ra, hadits marfu :
"Sesungguhnya wanita2 yang berusaha melepaskan dan memisahkan dari ikatan suaminya, mereka adalah wanita2 munafik " (HR. Ath-Thabrani )

       Namun, bila ada alasan syar'i, misalnya meninggalkan shalat, mengkonsumsi barang2 yang memabukkan yang dilakukan suami, memaksa istri untuk melaksanakan urusan2 yang diharamkan, mendzalimi dengan menyakitinya atau melarangnya untuk melaksanakan hak2 syar'iyah  sang istri, sementara nasehat sudah tidak mempan lagi dan upaya perdamaian sia2 belaka, maka waktu itu tidak ada dosa lagi bagi sang istri untuk meminta tala, agar jiwa dan agamanya terjaga.

13. Zhihar (Menyerupakan Istri dengan Ibu)
      Dia natara ungkapan jahiliyah periode pertama yang masih berkembang di tengah umat pada masa sekarang adalah ucapan yang menjurus kepada zhihar. Contohnya, seorang suami mengatakan kepada istrinya : " Engkau bagiku laksana punggung ibuku" atau, " Engkau haram bagiku, seperti haramnya saudara perempuanku"

Allah menyifati masalah ini dengan firman-Nya :
"Orang2 yang menzhihari istrinya di antara kalian (menganggap istrinya sebagai ibunya), padahal tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu2 mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh2 mengucapkan suatu perkataan yang   munkar dan dusta. Dan sesungguhna Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun " ( Al-Mujadalah : 2 ).

     Syariat sengaja menetapkan kafarat yang berat atau perlakuan yan demikian itu, menyamai kafarat membunuh tanpa sengaja.

Firman Allah SWT :
" Orang2 yang menzhihari istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya)  memerdekakan seorang budak sebelum ke 2 suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan padamu, da Allah Maha Mengetahui apa yaang kalian kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa 2 bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa wajib atasnya) memberi makan 60 orang miskin. Demikianlah suapaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan tulah hukum2 Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih ". ( Al-Mujadalah : 3 - 4 ).
Maka sebagai suami, hati-hatilah menjaga mulut kalian.

14. Menggauli Istri yang Sedang Haid

Firman Allah :
" Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah, 'haid itu suatu kotoran'. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Dan jaganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci "                      ( Al-Baqarah : 222 ).

Kekejian kedurhakaan ini ditunjukkan dngan sabda Nabi SAW :

"Barangsiapa menyetubuhi wanita haid, atau seorang wanita dari duburnya, atau mendatangi seorang dukun maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. (HR. At-Tirmizi ).

Barang siapa melakukannya di luar kehendaknya tanpa sengaja karena tidak tahu, maka dia tidak terbebankan hukuma apa pun. Bila mendatanginya pada permulaan haid yaitu ketika masih memancarnya darah, maka diwajibkan atasnya 1 dinar, tetapi bila mendatanginya di akhir haid tatkala darah tidak memancar deras lagi, atau sebelumm mandi haid,maka diwajibkan atasnya  setengah dinar sebagai sedekah.
( 1 dinar senilai 4.25 gr emas) atau dengan mata uang yang senilai 1 dinar tersebut.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

to be continued ....Menggauli  Istri  dari  Duburnya

***  

<<<<< DOSA - DOSA YANG DIREMEHKAN ( BAG. 2 ) >>>>>

2. Riya' Dalam Ibadah
      Diantara syarat terciptanya amal shaleh adalah kemurnia dari Riya' dan terikat erat dengan sunnah. Dengan demikian, orang yg mengerjakan suatu ibadah agar dilihat oang di sekitarnya, maka dia telah terjebak syirik kecil, dan amalannya akan dicabut. Misalnya, seorang yang mengerjakan shalat agar dilihat orang lain.

Firman Allah :
"Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka beridiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud Riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan, tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali " ( An-Nisa' ayat 142 ).

      Termasuk dalam topik ini juga, bila orang mengerjakan suatu amalan agar dibicarakan orang lain, maka dia pun tak lepas dari jebakan syirik, seperti yang termuat dalam Hadits Ibnu Abbas ra secara marfu' :

"Barang siapa berupaya agar didengar niscaya Allah akan meperdengarkan kejelekannya. Dan barang siapa berbuat riya', niscaya Allah juga akan membalasnya dengan perlakuan riya' ".

Orang yang mengerjakan suatu ibadah karena Allah dan manusia maka amalannya itu aka dicabut, seperti dikatakan dalam Hadits Qudsi berikut :

"Akulah yang paling tidak butuh persekutuan, Barang siapa melakukan amalan, sedang di dalamnya dia meyekutukan-Ku dengan selain ku, maka Aku tinggalkan dia bersama persekutuannya  ( HR. Muslim ).

Orang yang memulai suatu amalan karenaAllah, kemudian terjangkiti riya', bila dia menyikapinya dengan kebencian dan berupaya memeranginya, maka amalannya menjadi benar. Sebaliknya jika dia justru merasa senang, maka mayoritas ulama menetapkan bahwa amalannya akan sia-sia belaka.

3. Meramal dengan Suatu Keburukan

       Allah Berfirman :
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, ' Ini karena (usaha) kami'. Dan jika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang2 yang bersamanya" (QS Al-A'raaf : 131)

Hal2 lain yang dikatagorikan dalam keyakinan haam lagi menghambat kesempurnaan tauhid, adalah berpantang kepada beberapa hari dan bulan tertentu. Misalnya tidak mau menyelenggarakan pernikahan pada bulan Shafar,terpantang kepada hal2 tertentu, menatruh anggapan bahwa hari Rabu pada akhir setiap bulan merupakan hari nahas, angka 13 dll.

Dari Imran vin Hushain, Hadits marfu' :
"Bukan termasuk golongan kami orang yang meramal suatu keburukan dan minta diramal, orang yang melakukan perdukunan dan yang  minta perdukunan, atau orang yang mengaamalkan sihir atau minta bantuan sihir  

 ( HR Ath-Thabrani ).
Siapa yang terjerat di dalam perbuatan ini maka kafaratnya adalah seperti terkandung di dalam Hadits Abdullah bin 'Amru, dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang terseret amalan dengan suatu keburukan karena suatu keperluan, maka dia telah syirik'. Mereka bertanya, 'Apa Kafaratnya ' ? Beliau menjawab : " Seseorang diantara mereka hendaknya mengucapkan., 'Waai Allah. Tiada kebaikan selain kebaikan-Mu, tiada ramalan dengan hal yang buruk kecuali ramalan-Mu, dan tiada Ilah selain-Mu  ( HR. Abu Daud ).

4. Bersumpah dengan Selain Allah
      Allah mempunyai hak untuk bersumpah dengan makhluk2-Nya menurut yang Dia kehendaki. Namun sebaliknya para makhluk tidak diperkenankan bersumpah dengan selain Allah. Bersumpah adalah jenis pengagungan yang hanya pantas untuk Allah.

"Ingatlah, bahwa Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak2 kalian. Barangsiapa yang hendak bersumpah, hendaklah bersumpah dengan Allah atau justru diam".  ( HR. Al-Bukhari ).

Hadits Marfu' dari Ibnu 'Umar :
"Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah berarti telah syirik ". ( HR. Ahmad )
"Barangsiapa bersumpah dengan suatu amanah, maka dia bukan termasuk golongan kami". (HR. Abu Daud ).

Barangsiapa terjerat dalam perbuatan ini, maka kafaratnya adalah mengucapkan Laa ilaha illallah sebagaimana tertera dalam hadits Shah8ih berikut :

"Barang siapa bersumpah, kemudian mengatakan dalam sumpahnya tersebut, '  Demi Latta dan Uzza', maka hendaklah mengucapkan Laa ilaha illallah".  ( HR. Al-Bukhari ).

5. Tidak Thumakninah dalam Shalat
      Mencuri shalat merupakan salah satu dosa mencuri yang terhitung paling besar. Rasulullah SAW bersabda ;
"Sejelek-jelek orang yang mencuri adalah mencuri dari shalatnya".  Mereka bertanya : "Rasulullah, bagaimana dia mencuri dari shalanya (sendiri) ?". Beliau menjawab, "Karena dia tidak menyempurnakan ruku dan sujud shalatnya".

Tidak thumakninah, tidak beresnya posisi punggung ketika rukuk dan sujud, tidak meluruskannya setelah bangkit dari rukuk dan meluruskannya ketika duduk di antara dua sujud, sangat umum dan terlihat acapkali dilakukan orang2 yang sedang mendirikan shalat. Padahal Thumakninah adalah rukun, sehingga shalat tanpa thumakninah tidak sah.Rasulullah SAW bersabda :

"Shalat seseorang tidak mendapat balasan sehingga dia meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud".

6. Main-main dan Banyak bergerak dalam salat
      Inilah penyakit yang hampir2 tidak erpisahkan dari sejumlah orang yang sedang shalat, karena mereka tidak mentaati perintah Allah. "Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu dengan khusu')"  (Al-Baqarah : 238 ).

Mereka juga tidak mencerna firman Allah :
"Sesungguhnya beruntunglah orang2 yang beriman, (yaitu) orang2 yang khusu' dalam shalatnya". ( AlMukmin : 1-2 )

Ketika Nabi ditana ditanya tentang meratakan debu ketika sujud, Nabi menjawab :
"Janganlah engkau hapus, tatkala engkau sedang shalat. Namun jika terpaksa engkau bisa melakukannya hanya sekali meratakan kerikil  ( HR. Abu Daud ).

7. Makmum sengaja Mendahului Imam ketika Shalat

      Diantara tabiat manusia adalah tergesa-gesa. Firman-Nya :
"Dan manusia bersifat tergesa-gesa".  ( Al-Isra' : 11 ).
Nabi SAW bersabda : "Berhati-hati adalah dari Allah dan tergesa-gesa dari setan ( HR. Al-Baihaqi ).

Banyak orang melihat, tatkala dia sedang berada dalam jamaah, sejumlah orang yang shalat  di kanan kirinya, bahkan dirinya sendiri yang mendahului imam ketika rukuk, sujud dalam beberapa takbir perpindahan secara umum sampai salamnya. Perbuatan yang sekilas remeh  sebenarnya telah diancam dengan keras oleh Nabi, dengan sabdanya :

"Apakah orang yang mengangkat kealanya seblum imam, tidak merasa takut jika Allah mengganti kepalanya dengan kepala khimar ?" ( HR. Muslim ).

Lebih lanjut, dianjurkan bagi imam untuk mempraktekan sunnah bertakbir dalam shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits AbuHrairah ra, dia berkata : " Bila Rasulullah hendak berdiri untuk shalat, beliau bertakbir manakala berdiri, kemudian bertakbir manakala rukuk, kemudian bertakbir tatkala menunduk, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian Beliau lakukan yang demikian itu dalam setiap shalat hingga menyelesaikan shalatnya. Dan beliau bertakbir ketika berdiri dan dua (rakaat) setelah duduk (tahyatul awal)".   ( HR. Al-Bukhari ).

8. Mendatangi Masjid Setelah Makan Bawang Putih, Bawang Merah atau Makanan yang Menimbulkan           Bau Tak Sedap.

Firman Allah :
"Hai anak Adam, pakailah pakaian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alla tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan".  (QS Al-A'raf : 31 ).

Dari Jabir, dia berkata : " Rasulullah SAW bersabda" :
Barang siapa makan bawang putih atau bawang merah  hendaknya menyingkir dari kami, atau berkata, " agar menyingkir dari masjid kami dan duduk di rumahnya".  (HR. Al-Bukhari )

Dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan :
"Barang siapa makan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami. sesungguhnya para malaikat merasa ersiksa ebagaimana anak Adam tersiksa karenanya". (HR. Muslim  )

 Yang juga termasuk dalam pembahasan ini adalah orang2 yang langsung masuk masjid setelah menyelesaikan pekerjaannya, sementara bebauan yang mengganggu menyembul dari lipatan ketiaknya atau kaus kakinya. 
 Dan yang lebih parah lagi adalah orang2 yang menghisap rokok yang diharamkan itu, kemudian masuk masjid hanya akan menyiksa para hamba Allah, malakat dan orang2 yang shalat. 

 To Be Continued  .............. Z I N A 

Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua

 *** 

Tanda-tanda Hari Kiamat (bag. 11); Menjelang Kemunculan Dajjal di Akhir Zaman

 
oleh David Muhammad 
Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Bismillahirrahmaanirrahiim..

Maha Suci Allah yang telah berfirman:
“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)”. (QS. An-Nazi’at (79): 42-44)

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa“. (QS. Thaha (20): 15-16)

Pada bagian ke-11 dari catatan ini, kita akan membahas beberapa tanda-tanda menjelang kedatangan Dajjal (al-Masih ad-Dajjal, Dajjal terbesar yang akan muncul di akhir zaman). Diantaranya hewan yang bisa bicara, banyaknya jumlah bangsa Rum (Eropa), jatuhnya Konstantinoipel, hingga peperangan besar dengan kaum Yahudi.


58. Banyaknya Jumlah Bangsa Rum (Eropa) dan Peperangan Mereka dengan Kaum Muslimin

Al Mustaurid Al Quraisyi pernah berkata di sisi Amir bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu., ”Saya pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ’Kelak akan datang hari kiamat sedangkan Bangsa Rum (Bangsa Eropa, keturunan Al Aish bin Ishaq bin Ibrahim) paling banyak jumlahnya.’ Lalu ‘Amr berkata kepadanya, ”Jelaskanlah apa yang engkau katakan itu”. Dia menjawab, ”Saya mengatakan apa yang saya dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam” (HR. Muslim)

Dan diriwayatkan dari Abu Malik Al Asya’i radhiyallahu ‘anhu., ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Saya menghitung enam perkataan yang akan terjadi menjelang datangnya hari kiamat…”. Lalu Beliau menyebutkan antara lain: ”Kemudian akan terjadi perdamaian antara kamu (kaum muslimin) dan Bani Ashfar (Bangsa Rum), tetapi kemudian mereka mencederai janji (perdamaian itu) dan datang kepadamu dengan membawa 80 bendera dan tiap-tiap bendera diikuti sebanyak 12 ribu orang.” (HR. Bukhari).

Dari Jabir bin Samurah dari Nafi’ bin Utbah, ia berkata: Kami pernah bersama-sama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam…lalu saya hafal 4 kalimat dari Beliau yang saya hitung dengan jari saya, Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kamu akan memerangi Jazirah Arab, lalu Allah membukakannya untuk kamu, lalu Bangsa Persi (Iran) dan Allah membukakannya untuk kamu, kemudian Bangsa Rum dan Allah pun membukakannya untuk kamu, lalu kamu akan memerangi Dajjal, dan Allah membukakan (memberi kemenangan) untuk kamu.”
Jabir berkata: Lalu Nafi’ berkata,” Wahai Jabir, kita tidak akan melihat Dajjal keluar sehingga Negeri Rum ditaklukkan.” (HR. Muslim)

Dan mengenai sifat peperangan yang terjadi antara Kaum Muslimin dan Bangsa Rum ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Yasir bin Jabir, ia berkata, ”Akankah angin merah (panas) berhembus di Kuffah, lalu datang seorang laki-laki yang tidak mengigau, wahai Abdullah bin Mas’ud, melainkan datanglah hari kiamat.”

Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu yang sedang duduk sambil bersandar lantas berkata, ”Sesungguhnya kiamat itu tidak akan datang sehingga warisan tidak dibagikan dan rampasan perang tidak dibanggakan..” Lalu beliau berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah Syam, lantas berkata, ”Musuh akan berkumpul untuk memerangi orang-orang Islam, dan orang-orang Islam pun berkumpul untuk memerangi mereka.”
Saya bertanya, ”Apakah tentara Rum yang engkau maksudkan (dengan musuh itu)?”
Beliau menjawab, ”Ya, dan pada waktu perang itu ada perasaan yang kuat, lalu Kaum Muslimin mengirim satu jamaah berani mati ke garis depan, yang mereka ini tidak pulang kecuali dengan meraih kemenangan (mati syahid pun itu suatu kemenangan). Kemudian mereka berperang hingga mereka terhalang karena malam tiba, lalu kedua pasukan kembali pulang dengan tidak ada yang menang tetapi akhirnya pasukan garis depan Pihak Muslimin yang pertama itu binasa/syahid. Kemudian Kaum Muslimin mengirimkan lagi pasukan berani mati ke garis depan sampai tiga kali (note: redaksinya tidak seperti ini, untuk meringkas). Maka pada hari ke-4, bangkit dan majulah sisa-sisa pasukan Kaum Muslimin, yang mana mereka berperang dengan amat sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya lalu Allah menjadikan kekalahan atas mereka, sehingga tatkala banyak burung-burung melewati mereka kecuali (mendapatkan sebagian besar mereka telah menjadi) mayat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kiamat tidak akan terjadi sebelum orang-orang Rum memasuki jebakan (yaitu dua tempat yang ada di Syam/Siria, dekat dengan Halb), lalu mereka dikejar oleh pasukan dari Madinah, yaitu orang-orang yang terbaik pada saat itu. Ketika mereka berbaris, orang-orang Rum mengatakan, ‘Lepaskan kemari orang-orang yang pernah menawan sebagian kami untuk kami perangi sekarang!’. Pasukan Muslim menjawab, ‘Tidak, Demi Allah! Kami tidak akan melepaskan saudara-saudara kami kepada kalian.’
Pasukan Muslimin memerangi mereka, lalu sepertiga pasukan muslimin mundur melarikan diri dan mereka ini selamanya tidak akan diampuni oleh Allah. Sepertiga yang lainnya terbunuh. Mereka adalah para syuhada yang paling utama di sisi Allah. Sepertiga lainnya tetap bertempur. Mereka pantang menyerah sehingga berhasil menaklukkan Konstantin”.
(HR. Muslim)


59. Penaklukan Qanstantiniyah (Konstantinopel)

Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat lagi ialah ditaklukkannya kota Konstantinopel -- sebelum keluarnya Dajjal -- oleh kaum Muslimin. Menurut beberapa hadits, penaklukan besar ini terjadi setelah peperangan yang sengit dan amat dahsyat antara kaum Muslimin dengan Bangsa Rum yang dimenangkan Pihak Muslimin, kemudian mereka menuju ke kota Konstantinopel, lalu Allah membukakannya untuk Kaum Muslimin tanpa peperangan. Senjata mereka pada waktu itu hanya takbir dan tahlil.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Pernahkah kamu mendengar sebuah kota yang salah satu dindingnya di darat dan yang satunya di laut?".
Para sahabat menjawab, "Benar, wahai Rasulullah."
Lalu beliau bersabda, "Tidak akan datang hari kiamat sehingga kota ini diperangi oleh tujuh puluh ribu anak cucu Ishaq. Bila mereka telah datang, maka mereka dapat memasukinya dengan tidak melakukan perang bersenjata dan tidak pula menggunakan panah. Mereka berkata ( mengucapkan ) kalimat Laa ilaah illallah wallahu akbar, lalu robohlah salah satu dinding kota itu."
Tsaur (bin Zaid Ad-Daili - salah seorang perawi hadits ini) berkata, "Saya tidak mengetahuinya melainkan beliau bersabda: '(Dinding  yang ada di laut).'"
Kemudian pada kali yang kedua mereka mengucapkan Laa illaha illallah wallahu akbar, lalu runtuhlah dinding yang lain. Kemudian pada kali yang ketiga mereka mengucapkan Laa illaha illallah wallahu akbar, lantas pintu gerbangnya terbuka, lalu mereka memasukinya dan mengambil harta rampasan. Ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan, tiba-tiba datanglah kepada mereka seseorang yang meminta tolong sambil berteriak, 'Sesungguhnya Dajjal telah keluar!!' Lalu mereka tinggalkan segala sesuatunya, kemudian mereka kembali pulang."
(HR. Muslim, Kitab Al-Fijan wa Asyroth As-Sa'ah 75: 43-44 ).

Sekilas ada yang janggal dalam teks hadits di atas, yaitu bagian sabda Rasul yang bunyinya,” … (kota ini) akan diperangi oleh 70.000 (tujuh puluh ribu) orang anak cucu (keturunan) Ishaq (Izaac) bin Ibrahim Al Khalil ‘Alayhissalam (Lihat Kitab An Nihayah fil Fitan wal Malahim 1:58 dengan tahqiq Dr Thaha Zaini). Maka bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa penaklukan kota Konstantinopel ini dilakukan oleh mereka yang notabene hari ini mayoritas mereka beragama Kristen (Baik Katholik, Protestan, Anglikan tapi bukan Nasrani. Beda) ?

Al Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan kejanggalan ini sebagai berikut,” Demikianlah yang tersebut dalam Shahih Muslim bahwa silsilah mereka berasal dari Bani Ishaq (Izaac).” Lalu beliau melanjutkan, ”Sebagian ulama mengatakan, ’Yang terkenal dan yang terpelihara bahwa mereka berasal dari Bani Isma’il (keturunan Isma’il), dan inilah yang ditunjuki oleh konteks hadits sebab yang dimaksudkan adalah Bangsa Arab (Bani Isma’il). (Syarah Muslim 18: 43-44 ).

Barangkali yang lebih tepat adalah penjelasan dari Al Hafizh Ibnu Katsir yaitu bahwa Bangsa Rum (Eropa) pada akhir zaman akan masuk Islam, sehingga penaklukan Konstantinopel ini dilakukan oleh sekelompok dari kalangan mereka sendiri. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits terdahulu bahwa kota tersebut akan ditaklukan oleh 70 ribu orang anak cucu Ishaq.

Dalam mengemukakan pendapatnya ini, Ibnu Katsir mengambil kesaksian (dukungan) dari hadits Al Mustaurid Al Quraisy bahwa mereka adalah orang-orang terpuji. Al Mustaurid berkata,” Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 “Hari Kiamat akan terjadi, sedang Bangsa Rum merupakan orang yang paling banyak jumlahnya.”
Lalu Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, ”Jelaskanlah apa yang engkau katakan itu!”
Dia menjawab, ”Saya mengucapkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”
Amr berkata, ”Kalau engkau berkata demikian, maka terdapat 4 macam karakter pada mereka, yaitu mereka adalah orang-orang yang (1) paling sabar ketika terjadi fitnah, (2) paling cepat sadar setelah tertimpa musibah, (3) paling cepat kembali setelah berlari dan (4) paling baik terhadap orang miskin, anak yatim dan orang lemah. Dan sebagai tambahan mereka adalah orang yang paling bagus dan indah serta paling semangat mencegah kezhaliman para raja.” (Shahih Muslim, Kitab Al Fitan wa Asyroth As Sa’ah 18:22 ).

Yusuf bin ‘Abdullah mengatakan bahwa masuk Islamnya Bangsa Rum pada akhir zaman ditunjukkan oleh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengenai peperangan dengan mereka di mana pada saat itu orang-orang Rum mengatakan, ”Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang mencela kami!” Kemudian Kaum Muslimin menjawab, “Tidak! Demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami!”

Maka Bangsa Rum meminta Kaum Muslimin agar membiarkan mereka memerangi orang-orang yang mencela mereka yang berasal dari golongan mereka sendiri, karena mereka telah masuk Islam (Maksudnya sebagian dari pasukan kaum muslimin adalah Bangsa Rum yang telah masuk Islam, wallahu ’alam).

Kemudian Kaum Muslimin menolak permintaan mereka serta menjelaskan kepada mereka (Bangsa Rum yang masih kafir) bahwa orang yang telah masuk Islam adalah saudara Kaum Muslimin yang tidak mungkin diserahkannya kepada orang lain. Dan keberadaan pasukan Muslimin yang berasal dari orang-orang kafir yang ditawan bukanlah suatu yang aneh.
Mengenai masalah bahwa pasukan yang menaklukkan Kota Konstantinnopel itu berasal dari anak cucu Ishaq ini diperkuat lagi oleh kondisi bahwa pasukan Rum jumlahnya hampir mencapai 1 juta orang, di mana sebagian mati terbunuh dan sebagian yang hidup masuk Islam. Dan kelompok yang masuk Islam inilah yang bersama-sama dengan kaum muslimin menaklukkan Konstantinnopel. Wallahu ‘alam.

Dan penaklukan Kota Konstantinopel tanpa dengan perang fisik ini belum pernah terjadi sampai sekarang. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ”Penaklukan Kota Konstantinopel itu hampir bersamaan dengan datangnya hari kiamat.”
Kemudian Tirmidzi berkata: Mahmud Ibnu Ghailan (Syaikh/Guru Imam Tirmidzi) berkata, ”Ini adalah hadits yang gharib (aneh). Kota Konstantinopel adalah kota di Negeri Rum yang akan ditaklukan pada waktu keluarnya Dajjal, padahal Kota itu sudah pernah ditaklukan di zaman Shahabat Nabi.” (Jami’ At Tirmidzi, Bab Maa Jaa-a Fi ‘Alaamaati Khuruji Ad Dajjal 6: 498).

Memang bahwa Konstantinopel pernah ditaklukan di zaman Shahabat, yaitu pada saat Khalifah Mu’awiyah radhiyallhu ‘anhu. mengutus putranya yaitu Yazid, dengan pasukannya (di antara jamaah ini terdapat shahabat Abu Ayyub Al Anshari radhiyallhu ‘anhu) ke sana. Tetapi penaklukan tersebut dilalui dengan peperangan fisik. Selain itu, Konstantinopel juga pernah dikepung oleh jamaah Maslamah bin Abdul Malik. Ia bahkan lalu mengadakan perjanjian damai dengan penduduknya dan membangun masjid di sana.


60. Munculnya Orang (Tokoh) Dari Qahthan

Pada akhir zaman akan muncul seorang laki-laki dari Qahthan. Orang-orang tunduk dan patuh kepadanya serta bersatu padu membelanya. Hal ini terjadi ketika zaman sudah berubah, karena itulah Imam Bukhari menyebutkannya dalam bab Taghayyuruz-Zaman.

Imam Ahmad dan Asy-Syaikhani (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Tidak akan datang hari kiamat sehingga muncul seorang laki-laki dari Qahthan yang menggiring manusia dengan tongkatnya." (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

Laki-laki yang disebutkan dalam hadist ini akan menjadi raja Qahtan. Bukhari meriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ia akan menjadi raja dari Qahtan”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menambahkan bahwa Qahtan merujuk pada wilayah seluruh Yaman.

Al-Qurthubi berkata, "Sabda beliau menggiring manusia dengan tongkatnya itu adalah kiasan tentang komitmen, kepatuhan, dan ketundukan manusia kepadanya, bukan tongkat yang sebenarnya. Beliau membuat perumpamaan dengan tongkat itu adalah untuk menunjukkan betapa patuhnya mereka kepadanya dan betapa berkuasanya dia atas mereka, dan penyebutannya ini juga menunjukkan kekejaman dan kebengisannya atas mereka. Kemungkinan dia adalah al-Jahjah yang disebutkan dalam hadist lain. Makna ‘al-Jahjah’ sendiri adalah ‘teriakan’ yang merupakan sebuah deskripsi yang selaras dengan arti sebuah tongkat”.  (At-Tadzkirah: 635).

Riwayat lain yang dimaksud dalam komentar al-Qurthubi diatas adalah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Siang dan malam tidak akan menghilang sampai seorang pria yang disebut al-Jahjah memimpin” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Ibnu Hajar menolak kemungkinan bahwa Raja Qahtan adalah dan al-Jahjah adalah satu orang. Karena pria yang berasal dari Qahtan tentunya seorang yang merdeka, sedangkan al-Jahjah adalah seorang budak (atau setidaknya tadinya seorang budak). Ibnu Hajar menerangkan secara panjang lebar tentang pria dari Qahtan ini dalam kitabnya: al-Fath.

Dan lagi diperkuat oleh riwayat yang diriwayatkannya dengan sanad yang bagus dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata mengenai lelaki Qahthan itu demikian, "Dan laki-laki dari Qahthan, semuanya orang shalih." (Fathul-Bari 6: 535).


61. Fitnah Pelana dan Fitnah Duhaima (Pagi Beriman, Sore Kafir...)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kesengsaraan-kesengsaraan, hingga beliau membahas fitnah pelana (Sebagaimana pelana yang mengikuti / menempel pada kuda tunggangan, begitu juga fitnah ini akan mengikuti manusia. Ini adalah satu kemungkinan mengapa fitnah ini disebut fitnah pelana; kemungkinan yang lain adalah karena pelana ini biasanya hitam, dan fitnah yang sedang dibahas ini hitam, gelap, dan suram).
Seseorang berkata, “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud fitnah pelana?”.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Adalah perampas harta dan melarikan diri. Kemudian terjadi fitnah as-sarra’ (banyak harta dan keselamatan) – adalah dakhal,  yaitu curang dan korupsi. Di bawah kakiku ada seorang pria dari kaumku yang menyatakan dia dari keturunanku, tetapi dia bukan keturunanku; sungguh waliku hanya mereka orang-orang yang takwa. Kemudian orang akan berkumpul dan setuju atas seorang pria, (tetapi ini akan menjadi persetujuan yang) seperti tulang pinggul di atas tulang iga (Pinggul tidak menempel pada tulang iga. Dan jika menempel padanya, pinggul tidak akan tegak; demikian pula mengenai persetujuan yang dimaksud: lemah dan tidak kokoh atau tegak). Dan akan ada fitnah duhaima (hitam, gelap, yang merupakan bencana besar). Fitnah ini akan menghantam setiap orang dari bangsa ini. Dan ketika dikatakan bahwa fitnah ini telah berakhir, sejatinya tetap berlanjut; selama masa itu, seorang akan beriman dipagi hari dan menjadi kafir di malam hari. (Hal ini akan terus berlangsung) hingga orang menuju ke dua fustat (fustat berarti sebuah kelompok atau sebuah kota) – kelompok orang beriman, didalamnya tidak ada kemunafikan. Dan kelompok orang munafik, didalamnya tidak ada orang beriman. Dan ketika masa itu datang kepadamu, maka tunggulah Dajjal pada hari itu atau esok harinya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim. Al-Hakim mengatakan bahwa urutannya shahih, dan disetujui oleh adh-Dhahabi. Al-Albani juga menyatakan shahih dalam ash-Shahihah).

Fitnah Pelana dan Fitnah Duhaima adalah merupakan salah satu tanda-tanda menjelang kedatangan al-Masih ad-Dajjal.

Dimana pada saat itu keadaan benar-benar kacau, gelap, dan suram. Kekacauan yang membuat terpecahnya manusia menjadi dua golongan: Kaum beriman dan kaum munafik.

Lebih jelas lagi kondisi zaman pada saat itu seperti digambarkan dalam riwayat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya akan terjadi bermacam-macam huru-hara menjelang hari Kiamat bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, dimana seseorang di pagi hari mukmin, lalu sore harinya menjadi kafir. Di sore hari mukmin, lalu pagi harinya kafir. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Maka dari itu, patahkan busur-busurmu, potong-potonglah tali-talinya, dan hantamlah pedang-pedangmu dengan batu. Lalu, kalau salah seorang dari kamu sekalian dimasuki (rumahnya), maka tirulah yang terbaik diantara kedua putra Adam” (HR. Abu Dawud).

Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar terhindar dari fitnah-fitnah itu. Dan kita memohon kepada-Nya agar keimanan kita tetap terjaga dan selalu berada di jalan yang lurus. Aamiin...


62. Binatang Buas dan Benda-benda Mati Berbicara Kepada Manusia

Di antara tanda telah dekatnya hari kiamat lagi ialah berbicaranya binatang buas dan benda-benda mati kepada manusia, dan mengkhabarkan kepadanya mengenai peristiwa yang terjadi ketika ia sedang bepergian, dan berbicaranya sebagian organ tubuh manusia, seperti paha, yang memberitahukan kepadanya mengenai apa yang diperbuat keluarganya sepeninggalnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Seekor serigala datang kepada penggembala kambing, lalu ia menerkam seekor kambing, lantas penggembala itu merebutnya hingga lepas darinya. Kemudian serigala itu duduk atas pantatnya dan memasukkan ekornya di antara kedua pahanya hingga menempel di perutnya, seraya ber¬kata, 'Engkau sengaja merebut rejeki yang diberikan Allah kepadaku hingga terlepas dariku.'
Kemudian laki-laki itu berkata, 'Demi Allah, saya tidak pernah melihat peristiwa seperti pada hari ini, yaitu ada serigala yang dapat berbicara.'
Serigala itu menimpali. 'Yang lebih mengherankan lagi daripada ini ialah ada seorang laki-laki di tengah-tengah pepohonan kurma yang berada di antara dua bidang tanah yang tak berpasir, yang memberitahukan kepadamu tentang sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi sesudahmu, padahal dia itu seorang Yahudi.'
Lalu lelaki itu datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. kemudian beliau membenarkannya seraya bersabda:
“Sesungguhnya itu salah satu tanda di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat. Sesungguhnya akan ada seseorang yang keluar dari rumah, kemudian ia tidak kembali pulang sehingga kedua sandal dan cemetinya memberitahukan kepadanya mengenai apa yang diperbuat keluarganya sesudah ia pergi." (HR. Ahmad, dalam al-Musnad Imam Ahmad 15: 202-203, hadits nomor 8049 dengan tahqiq dan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata, "Isnadnya shahih." )

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisah itu hingga ia berkata:
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Benar (peristiwa itu). Demi Allah yang diriku di dalam kekuasaan-Nya, tidak akan datang hari kiamat sehingga ada binatang buas yang berkata kepada manusia, dan tali gantungan cemeti dan tali sandal seseorang berkata kepadanya, dan pahanya memberitahukan kepadanya apa yang diperbuat keluarganya sesudah kepergiannya." (HR. Ahmad, dalam al-Musnad Imam Ahmad 3:83-84 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzui 'Umal. Al-Albani berkata, "Ini adalah sanad yang shahih. Perawi-perawinya kepercayaan, perawi-perawi Muslim kecuali juga meriwayatkan darinya di dalam Muqaddimahnya." Lihat: Silsilah Al-Ahadits Ash-Sha-hihah. 21: 31, nomor 122. Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Abwab Al-Fitan, Bab Maa Jaa-a Fi Kalam As-Siba' 6: 409. Dan beliau berkata, "Ini adalah hadits hasan shahih yang tidak kami ketahui kecuali dari hadits Al-Qasim bin Al-Fadhl, seorang yang dapat dipercaya menurut para ahli hadits, dan dia juga dianggap kepercayaan oleh Yahya bin Sa'id dan Abdur-Rahman bin Mahdi).


63. Kota Madinah Menyingkirkan Orang-orang Jahat Kemudian Hancur Berantakan Pada Akhir Zaman

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan penduduk Madinah agar tetap tinggal di kota Madinah, dan beliau memberitahukan bahwa tidak ada seorang pun yang keluar (pindah) dari kota Madinah melainkan Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik daripada dia. Beliau juga memberitahukan bahwa di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat nanti, kota Madinah akan menyingkirkan orang-orangnya (penduduknya)  yang jelek sebagaimana halnya ububan pandai besi menghembus kotoran-kotoran besi.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Akan datang suatu zaman pada manusia yang waktu itu seseorang memanggil anak pamannya dan kerabatnya: 'Marilah kita pergi mencari kelapangan dan kemewahan, marilah kita pergi mencari kelapangan dan kemewahan!" padahal kota Madinah lebih baik bagi mereka kalau mereka mengetahui. Demi Allah yang diriku ditangan-Nya, tidak seorang pun dari mereka yang keluar meninggalkan Madinah karena merasa tidak suka melainkan Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik daripada dia. Ketahuilah, sesungguhnya kota Madinah itu bagaikan ububan pandai besi yang mengeluarkan (membuang) kotorannya. Tidak akan datang hari kiamat sehingga kota Madinah menyingkirkan warganya yang jahat sebagaimana ububan pandai besi menyingkirkan (membuang) kotoran-kotoran besi." (HR. Muslim)

Al-Qadhi 'Iyadh berpendapat bahwa kota Madinah menyingkirkan kotorannya itu terjadi pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam karena tidak ada yang sabar dan tabah melakukan hijrah dan berdomisili di Madinah kecuali orang yang mantap imannya. Adapun orang-orang munafik dan orang-orang Arab yang jahil, maka mereka tidak sabar menghadapi kekerasan dan kondisi kota Madinah yang memilukan saat ini, apalagi dalam hal itu mereka tidak berniat mencari keridhaan Allah.

Sementara itu Imam Nawawi berpendapat bahwa hal ini akan terjadi pada zaman Dajjal, dan beliau menganggap jauh pendapat yang dikemukakan oleh Al-Qadhi 'Iyadh. Kemudian beliau juga mengatakan bahwa hal itu mungkin terjadi pada waktu-waktu yang berbeda-beda (tidak sekali waktu). (Syarah Ahahih Muslim 9: 154).

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hal itu bisa jadi terwujud pada dua zaman, yaitu pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri dengan alasan kisah seorang Arab kampung sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Jabir radhiyallahu ‘anhu: "Ada seorang Arab kampung datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk berbaiat masuk Islam. Kemudian pada keesokan harinya ia datang lagi dengan hati yang gelisah, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda 'Akuilah aku!'. Tetapi ia enggan. - Hal ini terjadi tiga kali (diusapkan lantas dijawab lagi hingga tiga kali) - Kemudian beliau bersabda:
"Madinah itu bagaikan ububan pandai besi, ia menyingkirkan kotorannya dan memelihara yang baik." (HR. Bukhari)

Dan zaman yang kedua ialah zaman Dajjal sebagaimana tersebut dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pernah menyebut Dajjal, lalu bersabda:
"Kemudian kota Madinah menggoncang warganya tiga kali, lalu Allah mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik." (HR. Bukhari)

Adapun masa-masa di antara keduanya itu tidak termasuk yang disinyalir dalam hadits-hadits tersebut, karena banyak sahabat utama yang keluar (pindah). dari Madinah sesudah zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, seperti Mu'adz bin Jabal, Abu Ubaidah, Ibnu Mas'ud, Ah, Thalhah, Zubeir, Ammar dan lain-lainnya, padahal mereka adalah orang-orang terbaik. Semua ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan hadits di atas adalah manusia tertentu pada waktu yang tertentu pula, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
"Di antara orang-orang Arab Badawi yang di sekelilingmu itu ada orang-orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya." (At-Taubah: 101).
Sedangkan orang munafik itu tak diragukan lagi adalah orang yang jelek, jahat. (Fathul-Bari 4: 88).

Adapun keluarnya manusia secara keseluruhan dari kota Madinah, maka hal itu terjadi pada akhir zaman, ketika hari kiamat telah dekat.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Kamu akan meninggalkan Madinah dalam keadaan yang baik, tidak ada yang mendatanginya kecuali binatang buas dan burung- burung. Dan orang yang paling akhir dikumpulkan ialah dua orang penggembala dari Muzayanah. Mereka datang ke Madinah sambil berteriak teriak mencari kambing mereka, tetapi tiba-tiba didapatinya kambingnya telah menjadi liar, sehingga ketika keduanya sampai di Tsaniyyatul Wada', keduanya jatuh tersungkur." (HR. Bukhari)


64. Peperangan Antara Kaum Muslimin Dan Kaum Yahudi

Di antara tanda akan datangnya hari kiamat lainnya ialah peperangan yang terjadi antara kaum muslimin dan bangsa Yahudi pada akhir zaman. Hal ini disebabkan kaum Yahudi merupakan tentara Dajjal, lantas diperangi oleh kaum muslimin yang merupakan tentara Isa ‘alaihissalam. Hingga pohon-pohon dan batu berkata, "Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!'
Kaum muslimin sebenarnya telah berperang dengan kaum Yahudi sejak zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam; mereka dapat mengalahkan kaum Yahudi itu dan mengusir mereka dari Jazirah Arab, sebagai pelaksanaan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
"Sungguh saya akan mengeluarkan kaum Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, hingga tidak ada yang saya biarkan kecuali beragama Islam. " (HR. Muslim).

Tetapi peperangan ini bukan peperangan yang merupakan tanda telah dekatnya hari kiamat itu. Dan disebutkan dalam beberapa hadits shahih sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang memberitahukan bahwa kaum muslimin akan memerangi mereka pada waktu al-Masih ad-Dajjal telah muncul dan Nabi Isa ‘alaihissalam telah turun.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu sebuah hadits yang panjang yang diucapkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam khutbah beliau pada waktu terjadi gerhana matahari. Dalam khutbah tersebut beliau menyebut-nyebut Dajjal seraya bersabda:
"Sesungguhnya Dajjal akan mengepung kaum mukminin di Baitul-Maqdis lantas menggoncangkannya dengan keras, kemudian Allah Subhanahu wata’ala membinasakan dia bersama tentaranya, sehingga pangkal dinding... Hasan Al-Asyyab (Abu Ali-Al-Hasan bin Musa Al-Asyyab Al-Baghdadi) berkata: Dan pangkal pohon-berseru atau berkata: "Wahai si mukmin . . atau wahai si muslim ini ada orang Yahudi... "Atau ia berkata, "Ini ada orang kafir, kemarilah dan bunuhlah!" Beliau berkata, "Dan hal itu tidak akan terjadi sehingga kalian melihat perkara-perkara yang menyesatkan hati kalian, dan kalian saling bertanya satu sama lain, "Apakah Nabi kalian pernah mengingatkan kepada kalian tentang hal itu?!" (HR. Ahmad, dalam Musnad Imam Ahmad 5: 16 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul 'Ummal. Ibnu Hajar berkata, "Isnadnya hasan. " (Fathul-Bari 6: 610)

Imam Asy-Syaikhani (Bukhari-Muslim) meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:
"Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka, sehingga bersembunyilah orang-orang yahudi di belakang batu atau kayu, lantas batu atau kayu itu berkata, 'Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia, kecuali pohon Al-Gharqad (yang tidak berbuat demikian), karena ia termasuk pohon Yahudi." (HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadz ini adalah lafadz Muslim)

Menurut zhahir hadits di atas bahwa berbicaranya batu dan pohon serta lainnya itu adalah hakiki (sebenarnya). Hal ini disebabkan karena peristiwa berbicaranya benda-benda mati itu telah sah riwayatnya dalam beberapa hadits selain hadits peperangan dengan kaum Yahudi ini, dan hal ini telah kita bahas tersendiri karena termasuk salah satu tanda telah dekatnya hari kiamat.

Kalau benda-benda mati dapat berbicara pada waktu itu, maka tidaklah perlu mengartikan pembicaraan pohon dan batu itu sebagai majaz, sebagaimana pendapat sebagian ulama. Karena tidak ada dalil yang mengharuskan mengartikan lafadz tersebut kepada yang bukan hakiki.
Wallahu’alam...


Alhamdulillah, demikianlah tanda-tanda kecil (Sughra) menjelang hari Kiamat seperti yang telah disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada kita ummatnya agar kita mewaspadai dan bersiap dengan bekal amal sholeh untuk menghadapinya. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan Hari Kiamat itu akan terjadi, karena ia adalah salah satu rahasia milik Allah azza wa jalla.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Luqman (31) : 34)

Setelah tanda-tanda Hari Kiamat (Sughra) yang telah dijelaskan pada catatan ini (bag-1 s/d 11) maka selanjutnya adalah tanda-tanda (peristiwa-peristiwa besar) menjelang terjadinya Hari yang telah ditentukan itu.

Imam Muslim dalam kitab shahiihnya (2901) meriwayatkan, dari Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami saat kami sedang membicarakan sesuatu. Ketika melihat kami, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ”Apa yang sedang kalian perbincangkan?”. Jawab mereka, “Tentang hari Kiamat”. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari Kiamat tidak akan datang hingga kalian menyaksikan – sebelum itu – sepuluh tanda-tanda kedatangannya. Maka Beliau menyebutkannya, yaitu: adanya asap, munculnya Dajjal, keluarnya hewan melata, terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, turunnya Nabi Isa as, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terjadinya tiga gerhana: gerhana di belahan bumi timur, gerhana di belahan bumi barat, dan gerhana di Jazirah Arab. Adapun tanda yang terakhir adalah munculnya api di Yaman yang menggiring manusia menuju tempat berhimpun, al-Mahsyar. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan dalam sabdanya:
“Segeralah kamu berbuat baik sebelum datang enam hal: (1). Dajjal, (2). Asap (menjelang Kiamat), (3). Makhluk yang melata di bumi, (4). Terbitnya matahari dari Barat, (5). Kehancuran total (Kiamat), dan (6). Kematianmu pribadi”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dan juga menjelang Hari Kiamat, Ka’bah di Mekkah akan dihancurkan oleh orang-orang dari Habasyah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Orang-orang berbetis kecil dari Habasyah akan menghancurkan Ka’bah” (HR. Muslim)

Penjelasan mengenai masing-masing tanda-tanda (peristiwa-peristiwa besar) sebelum hari Kiamat, mudah-mudahan dapat kita bahas pada catatan-catatan selanjutnya. Insya Allah, bila saya dimampukan-Nya...

Saya berharap, dengan kita mengetahui tanda-tanda menjelang hari Kiamat ini maka kita dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan adanya tulisan/catatan tentang ini, semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Tentulah ada kekurangan disana-sini, dan mungkin saja terdapat kesalahan dan kekhilafan; dan itu semua berasal dari saya dan kebenaran hanya milik Allah semata. Dan saya terbuka atas segala kritik, saran, dan masukan dari sahabat-sahabat semua.

Demikian, semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan para sahabat sekalian.

Wallahu alam bishshawwab...

Billahi taufiq wal hidayah
Wasalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Note:
[1]. Catatan (Tulisan) ini dibuat dari berbagai sumber, diantaranya:
a. Tanda-Tanda Hari Kiyamat Besar dan Kecil, karya Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah. Terjemah oleh : Muh. Khairuddin Rendusara, Islamhouse.com. 2009.
b. Tanda-tanda Kecil Hari Kiamat, dari buku ‘Smaller Signs of The Day’, karya Muhammad bin Bayyumi. Terjemah oleh: Aish. Terdapat dalam buku ‘Semalam Saja di Neraka’, karya Nurul Mubin. DIVA Press, Jogjakarta. 2008.
c. An-Nihayah Fitanun wa Ahwalun Akhir az-Zaman, karya Ibnu Katsir. Dalam edisi Indonesia, ‘Huru-hara Hari Kiamat’, terjemah oleh: H. Anshori Umar Sitanggal dan H. Imron Hasan S.Ag. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2010.
d. Ringkasan Shahih Muslim, karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, terjemah oleh: Elly Lathifah, SPd. Gema Insani Press. Jakarta. 2007. Bab Kitab Fitnah.
e. Sumber-sumber lainnya yang dapat dipercaya (Insya Allah)

***

Tanda-tanda Hari Kiamat (bag. 10); Bulan Sabit, Mati Mendadak, Perang, Hingga Lenyapnya Tauhid...

oleh : David Muhammad 
Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Maha Suci Allah yang telah berfirman:

“Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah): “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?”. Mereka (yang disembah itu) menjawab:” Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kamu mengambil selain Engkau (untuk jadi) pelindung (zzzz), akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa.”. Maka sesungguhnya mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kamu tentang apa yang kamu katakan maka kamu tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu), dan barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar”. (QS. Al-Furqaan (25): 17-19)

“Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku”. (QS. Al-Mursalat (77): 35-39)

Pada bagian ke-10 ini akan kita bahas secara lebih mendalam tentang fenomena ‘wanita berpakaian tapi telanjang’, dan beberapa kekacauan yang terjadi menjelang terjadinya peristiwa-peristiwa besar sebelum Hari Kiamat.

51. Wanita-wanita Yang Berpakaian Tetapi Telanjang

Pembahasan tentang ini merupakan kelanjutan dari yang sudah kita bahas pada catatan bag. 7, point 41 (Tirani dan Aniaya).

Tanda-tanda kiamat berikutnya adalah akan munculnya sikap kaum wanita yang keluar atau menyimpang dari adab syari’at, yaitu dengan mengenakan pakaian yang tidak menutup auratnya, menampakkan perhiasan dan rambutnya, dan menampakkan bagian-bagian tubuhnya yang wajib ditutup.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Pada generasi belakangan ummat ini akan ada orang-orang laki-laki yang naik pelana kuda yang menyerupai pelana unta (ditafsirkan oleh sebagian ulama: kendaraan-kendaraan masa kini seperti mobil), lantas turun di pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka berpakaian tetapi telanjang, rambut kepala mereka bagaikan kelasa unta yang tinggi. Laknatlah mereka, karena mereka adalah wanita-wanita terlaknat. Kalau di belakangmu (sesudahmu) nanti masih ada umat-umat lain, niscaya wanita-wanita kamu akan melayani wanita-wanita mereka, sebagaimana kamu dahulu dilayani oleh wanita-wanita bangsa-bangsa sebelum kamu.” (HR. Ahmad –dalam al-Musnad Imam Ahmad 12:36, hadits nomor 7083 dengan tahqiq Ahmad Syakir. Beliau berkata: ,” isnadnya shahih.” ).

Dan di dalam riwayat Al Hakim dengan lafadz sebagai berikut:
“Pada generasi akhir umat ini akan ada orang-orang yang naik kendaraan yang empuk hingga datang ke depan pintu-pintu masjid mereka, dan wanita-wanita mereka berpakaian seperti telanjang.” (HR. Al-Hakim, dalam Mustadrak Al Hakim 4:436. Beliau berkata, ”Ini adalah hadits shahih menurut kriteria Imam Syaikhani (Bukhari dan Muslim), hanya saja mereka tidak meriwayatkannya.” Imam Adz Dzahabi berkata, ”‘Abdullah (yakni Al Fatani), meskipun dijadikan hujjah oleh Imam Muslim, tetapi dia di-dhaifkan oleh Abu Dawud dan Nasai. Dan Abu Hatim berkata, ”Dia hampir sama dengan Ibnu Luhai’ah”)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ada 2 golongan ahli neraka yang belum saya lihat sekarang, yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan miring rambutnya seperti kelasa unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan bahkan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (HR. Muslim)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallhu ‘anhu juga, dia berkata:
“Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah……akan bermunculan pakaian-pakaian wanita (mode, fashion) dan jika mereka kenakan, kondisinya seperti telanjang.” (Al Haitsami berkata, ”Sebagian isinya diriwayatkan dalam kitab-kitab shahih, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih kecuali Muhammad bin Al Harits bin Sufyan, dan itu kepercayaan.” Lihat: Majma’uz Zawaid 7:327 )

Hadits-hadits ini merupakan sebagian dari mukjizat Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam. Apa yang beliau sabdakan itu telah terjadi pada masa sebelum kita ini dan masa sekarang lebih banyak dan lebih dahsyat lagi.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menamakan kelompok wanita seperti ini sebagai wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Karena mereka mengenakan pakaian tetapi pakaian mereka tidak berfungsi untuk menutup aurat lantaran tipisnya seperti kebanyakan wanita sekarang. (Al Halal wa Al Haram Fi Al Islam, Hal 83, Dr Yusuf Al Qaradhawi, cet 12 thn 1398 H, Al Maktab Beirut & Damascus)

Dan ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al Kaasiyaat Al ‘Aariyaat (berpakaian tetapi telanjang) ialah mereka yang mengenakan pakaian pada tubuhnya tetapi kerudungnya diikatnya (tidak dipakai) lagipula pakaiannya sangat sempit dan ketat sehingga menampakkan bentuk dan lekuk-lekuk tubuhnya dan tampak menonjol payudara dan pantatnya, atau sengaja dibukanya sebagian tubuhnya. Karena itu, kelak mereka akan mendapatkan siksaan di akhirat. (Syarah Muslim 19:190).

Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan, bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
“Sepeninggalku aku tidak meninggalkan ujian bagi laki-laki yang lebih berbahaya darupada wanita (yakni wanita sebagai gidaan yang paling berbahaya bagi laki-laki)”. (HR. Muslim dari Usamah bin Zaid bin Haritsah dan dari Zaid bin Amru bin Nufail radhiyallahu ‘anhum).

Dan dari Abu Sa’id al-Kudhri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya dunia ini manis dan menghijau (sangat memikat) dan dengannya Allah menguji kalian. Lalu Allah akan melihat bagaimana perbuatan kalian. Karena itu jagalah diri kalian dari godaan dunia dan wanita, karena sesungguhnya godaan Bani Israil yang pertama adalah wanita”. (HR. Muslim) 


52. Bulan Sabit Terlihat Lebih Besar

Salah satu dari pertanda yang menunjukkan dekatnya Hari Kiamat adalah bulan baru (bulan sabit) terlihat lebih besar dari biasanya. Orang yang pertama kali melihatnya akan mengatakan bahwa bulan itu telah berusia dua atau tiga malam.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Diantara tanda-tanda kian dekatnya Hari Kiamat ialah menggelembungnya (membesarnya) bulan sabit (bulan baru). Bulan sabit akan terlihat di malam pertama ia muncul, dan akan dikatakan: ‘Bulan itu berumur dua atau tiga malam’” (HR. At-Thabrani, al-Albani menyatakan bahwa “Mata rantainya adalah hasan”)

Anas radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
“Jika bulan baru (bulan sabit) terlihat dan dikatakan bahwa bulan itu berumur dua malam, masjid akan dijadikan jalan, dan kematian secara mendadak atau tiba-tiba semakin sering terjadi dan menjadi fenomena yang menyebar luas – semua itu merupakan pertanda semakin dekatnya kiamat”. (HR. At-Thabrani, dinilai hasan oleh al-Albani)

Sudahkah itu terjadi? Wallahu’alam...
Mari coba kita perhatikan bulan sabit pada saat ia muncul, apakah ia terlihat lebih besar dari biasanya atau tidak...


53. Banyaknya Kematian Mendadak

Diriwayatkan secara marfu' dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah... banyak terjadi kematian secara mendadak." (Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir dan Al-Ausath dari gurunya Al-Haitsam bin Khalid Al-Mashishi, sedangkan dia itu dha'if." Majma'uz-Zawaid 7: 325. Al-Albani berkata, "Hasan." Dan beliau menyebutkan orang-orang yang meriwayatkannya, yaitu Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Adh- Dhiya' Al-Muqaddasi. Lihat: Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 5: 214, hadits nomor 5775 ).

Ini merupakan kejadian yang sudah dapat disaksikan pada masa sekarang di mana banyak terjadi kematian mendadak pada manusia. Maka Anda dapat menyaksikan seseorang yang tadinya sehat dan segar bugar, tiba-tiba ia mati secara mendadak, yang sekarang diistilahkan dengan kemandegan jantung atau serangan jantung. Karena itu bagi orang yang berakal sehat, hendaklah ia sadar dan kembali serta bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum datangnya kematian secara mendadak.

Imam Bukhari rahimahullah pernah berkata:
"Peliharalah keutamaan rukukmu pada waktu senggang. Sebab, boleh jadi kematianmu akan datang secara tiba-tiba. Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba. "

Ibnu Hajar berkata, "Sungguh ajaib, bahwa kematian secara mendadak ini juga menimpa beliau -Imam Bukhari- sendiri." (Hadyus-Sari Muqaddimah Fathul-Bari, halaman 481, oleh Al-Hafizh Ahmad Ibnu Hajar Al-'Asqalani, dengan ikhraj dan tashhih oleh Muhibbuddin Al-Khatib, dicetak oleh Qushay Muhibbuddin Al-Khathib, dipublikasikan dan dibagi-bagikan oleh Riasah Idaratil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta' , Riyadh ).


54. Tidak Berlakunya Lagi Mata Uang Irak, Syam (Syria), dan Mesir dan Tidak Diakui Lagi Takaran-takaran Mereka.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Irak akan ditolak dirham dan qafiznya. Syam (Syria dan sekitarnya) akan ditolak mudd dan dinarnya. Dan, Mesir akan ditolak irdah dan dinarnya. Kau akan dikembalikan ke tempat dimana kau berasal, kau akan dikembalikan ke tempat dimana kau berasal” (HR. Muslim)

Qafiz, mudd, dan Irdah adalah ukuran yang digunakan oleh penduduk di wilayah-wilayah tersebut. Dirham dan dinar adalah mata uang yang digunakan oleh negara-negara itu.

Al-Albani menjelaskan hadist ini sebagai berikut:
Qafiiz artinya timbangan yang dipakai oleh penduduk Irak yaitu 8 pintalan, sedangkan Mudd (al-makuuk) artinya setengah sha’ yaitu sama dengan 5 kg. Irdah (Irdaabun) adalah timbangan yang diapakai penduduk Mesir dengan ukuran 24 sha’.
Makna hadist ini adalah bahwa orang Ajam dan orang Rum di akhir zaman memperebutkan negara dan menghalangi keberhasilan orang-orang Muslim. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah di akhir zaman orang-orang kafir mempersoalkan pajak untuk memperkokoh kekuasaan, kemudian mereka mempersulit untuk membayar pajak (upeti) dan lainnya. Kebudayaan dan peradaban orang-orang Rum dan Ajam itu akhirnya menyebabkan mata uang dan takaran di negeri Irak, Syam, dan Mesir itu jadi tidak digunakan lagi. Pada akhirnya, Allah memberi ketenangan dalam negara tersebut terhadap orang-orang yang berperilaku sesuai dengan syari’at dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan dari al-Jurairi bahwa Abu Nadhrah berkata, “Kami berada disisi Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, lalu dia berkata, ‘Sebentar lagi takaran dan mata uang Irak tidak diakui’.
Lalu kami bertanya, ‘Apa penyebabnya?’.
Dia (Jabir) menjawab, ‘Dari orang non-Arab yang menolak itu’.
Lalu dia berkata lagi, ‘Sebentar lagi mata uang dan takaran orang Syam tidak diakui’.
Kami bertanya, ‘Darimana penyebabnya?’.
Dia menjawab, ‘Dari orang Rum’.
Lalu dia diam sejenak kemudian berkata, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Nanti pada ummatku yang belakangan ada khalifah yang mebagi-bagikan harta tanpa dihitungnya’.
Al-Jurairi berkata, “Saya tanyakan kepada Abu Nadhrah dan Abu A’la, ‘Apakah kahlifah tersebut adalah Umar bin Abdul Azis?’
Keduanya menjawab, “Bukan!”
(HR. Muslim)

Perang Teluk, infasi Amerika terhadap Irak melemahkan perekonomian di Irak. Mungkin saja lama-kelamaan mata uang yang berlaku kini akan diganti dengan yang lain. Begitu juga takaran-takaran yang biasa mereka gunakan akan dirubah dengan bentuk ukuran/takaran yang lain. Demikian pula yang akan terjadi di Syam dan Mesir. Dan itu sudah mulai terjadi ketika dunia lebih mengakui mata uang global (US Dollar, Euro atau bahkan Yuan Cina) dan takaran-takaran sudah mengacu pada takaran-takaran yang berlaku global seperti kilogram dan lain sebagainya. Wallahu’alam...

**Orang-orang Rum bisa berarti Orang-orang Eropa/Amerika, sedangkan orang Ajam yang bermata sipit mungkin saja orang-orang Cina, Korea atau Jepang. Wallahu’alam....


55. Kaum Muslim akan Memerangi Kaum Turk

Para ulama setuju bahwa kata ‘Turk’ yang digunakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merujuk kepada kaum Tartar yang berperang melawan kaum muslimin berabad-abad yang lalu.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslim memerangi kaum ‘Turk’ (Tartar), kaum yang wajahnya (licin dan lebar) seperti perisai. Mereka akan mengenakan pakaian (yang terbuat) dari bulu, dan mereka berjalan mengenakan (sepatu yang terbuat) dari bulu”. (HR. Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Menurut penjelasan lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak akan tiba Kiamat hingga kalian memerangi kaum yang alas kakinya terbuat dari bulu. Dan kiamat tidak akan tiba sampai kalian memerangi kaum yang bermata kecil dan berhidung mancung” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Imam Nawawi mengatakan, “Mereka – Kaum Tartar – ada disekitar kita saat ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meberitahukan kepada kita deskripsi lengkap tentang mereka. Mereka memiliki mata yang kecil, berwajah merah, hidung mancung, bermuka lebar dan licin, serta menggunakan pakaian dan alas kaki dari bulu. Hingga kini mereka masih hidup”. Pada saat itu (pada saat Imam Nawawi berkata tentang hal ini) terjadi perang antara kaum Muslimin dengan bangsa Tartar.

Apakah kaum muslimin kembali akan berperang dengan Kaum Turk? Hanya Allah-lah Yang Lebih Mengetahui...


56. Kaum Muslim Berperang Dengan Orang Ajam ( Non Arab )

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak akan datang kiamat sehingga kamu memerangi suku Khuz dan Karman dari kalangan orang Ajam (non Arab), yang wajahnya kemerah-merahan, pendek (pesek) hidungnya, sipit matanya, dan mukanya seperti perisai yang lengkung." (HR. Bukhari)

Dalam pembicaraan yang lalu mengenai peperangan dengan bangsa Turk telah disebutkan ciri-ciri mereka sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits. Dan dalam hadits ini dibicarakan peperangan dengan suku atau bangsa Khuz dan Karman yang tidak termasuk negara Turk, tetapi sama-sama Ajam (non Arab). Dengan demikian maka sifat atau ciri-ciri mereka sama dengan sifat-sifat bangsa Turk.

Ibnu Hajar berkata, "Dapat dikemukakan jawaban bahwa hadits ini berbeda dengan hadits yang membicarakan peperangan dengan bangsa Turk, dan kedua hadits tersebut dapat dikompromikan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan umat beliau terhadap dua golongan manusia tersebut." (Fathul-Bari 6: 607)

Ini diperkuat oleh riwayat Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Kelak Allah akan memenuhi tangan kamu dengan orang-orang Ajam, kemu¬dian mereka menjadi singa-singa yang tidak mau berlari darimu, lalu mereka memerangi kamu dan memakan rampasanmu." (Musnad Ahmad 5:11 dengan catatan pinggir Muktakhab Kanzul 'Ummal. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani. Dan perawi-perawi Ahmad adalah perawi-perawi shahih." Majma'uz-Zawaid 7: 310).

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, katanya: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Di tengah-tengah kamu akan banyak singa dari kalangan Ajam. Mereka tidak mau berlari meninggalkanmu, bahkan mereka akan memerangi kamu dan memakan rampasanmu." (HR. Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih. Majma'uz-Zawaid 7: 311).

Dengan demikian, maka peperangan dengan orang Ajam ini merupakan tanda telah dekatnya hari kiamat.


57. Lenyapnya Tauhid

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kiamat tidak akan terjadi sehingga di muka bumi tidak terdengar lagi ucapan: ‘Laa ilaa ha illallaah’”. (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain:
“Kiamat tidak akan terjadi sehingga di muka bumi tidak terdengar lagi ucapan: ‘Allah... Allah...’” (HR. Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata, “Ada dua pendapat dalam mengartikan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut diatas:
Pertama, bahwa maksudnya tidak ada lagi orang yang mengingkari kemungkaran, dalam artian seseorang tidak lagi mencegah temannya berbuat mungkar sekalipun dia mengetahuinya. Makna ini beliau shalallahu ‘alaihi wasallam ungkapkan dengan: “Sehingga tidak ada lagi yang mengucapkan Allah, Allah...”, sebagaimana yang diungkapkan dalam hadist sebelumnya riwayat dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
“Kiamat tidak akan terjadi sebelum Allah mencabut syari’at-syari’at-Nya dari penduduk bumi, maka tinggallah orang-orang bodoh yang ada disana. Mereka tidak mengenal perkara makruf dan tidak mengingkari perkara mungkar” (HR. Ahmad)
Kedua, bahwa maksudnya sehingga di muka bumi tidak ada lagi orang-orang yang mengingat Allah dan tidak ada yang mengenal nama-Nya lagi, yaitu ketika zaman sudah sedemikian rusaknya. Kekafiran, kefasikan, dan maksiat merajalela dimana-mana, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist tersebut: “Kiamat tidak akan terjadi sehingga di muka bumi tidak terdengar lagi ucapan: ‘Laa ilaa ha illallaah’”. (HR. Ahmad)

Hilangnya ketauhidan seseorang sesungguhnya terjadi ketika amanat dicabut dari dalam hatinya, sehingga tidak tertinggal sedikitpun keimanan.

Dalam sebuah hadist, diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan dua hal kepada kami; yang satu masih saya hafal dan yang satunya lagi masih saya ingat-ingat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberitahu kami, ‘Sesungguhnya amanat telah turun ke dalam lubuk hati sebagian orang, lalu al-Qur’an turun, sehingga mereka bisa tahu melalui al-Qur’an dan Hadist’.”
Setelah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberitahu kami tentang hilangnya amanat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Nanti akan ada tidur, lalu amanat dicabut dari hatinya, sehingga ada bekas seperti memar-memar. Lalu dia tidur lagi, kemudian amanat dicabut dari hatinya, sehingga ada bekas seperti kulit yang melepuh berisi cairan, sehingga tampak rusak dan jelek, tidak bernilai (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperagakannya dengan mengambil kerikil, lalu beliau gulirkan pada kaki beliau).
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kemudian banyak orang yang menyatakan sumpah setia, tetapi hampir tak ada seorangpun yang melaksanakan amanat, sehingga ada orang yang berkata, ‘Sesungguhnya di Bani Fulan ada seorang yang melaksanakan amanat, sehingga dia disebut-sebut. Betapa kuat dia, betapa baik dia, dan betapa bijak dia! Padahal sebenarnya di dalam hati orang yang disebut-sebut itu tidak ada iman seberat biji sawi sama sekali”.
“Telah datang kepadaku suatu masa dimana aku tidak mempedulikan siapapun yang aku terima sumpah setianya (baiatnya). Jika dia masuk Islam, maka agamanya akan menjadi penolak dari seranganku; dan jika dia Nashrani atau Yahudi, maka upetinya akan menjadi penolak dari seranganku. Adapun sekarang, yang aku terima baiatnya hanyalah si Fulan dan si Fulan”. (HR. Muslim)


Demikianlah catatan bagian ke-10 dari Tanda-tanda menjelang Hari Kiamat. Setelah catatan ini, kita akan membahas tanda-tanda kiamat yang merupakan tanda-tanda (peristiwa-peristiwa) sebelum kemunculan Dajjal di akhir zaman. Pembahasan mengenai itu akan kita sampaikan pada catatan bag-11 yang merupakan bagian terakhir dari catatan/tulisan mengenai Tanda-tanda Kiamat Sughra.

Saya berharap dengan kita mengetahui tanda-tanda Hari Kiamat kita akan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita serta bersegera memperbanyak amal sholeh dan berbuat baik kepada orang lain sebagai bekal kita untuk menghadap kepada-Nya.

Demikian, semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan para sahabat sekalian.

Wallahu alam bishshawwab...

Billahi taufiq wal hidayah
Wasalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insya Allah Bersambung...

Note:
[1]. Catatan (Tulisan) ini dibuat dari berbagai sumber, diantaranya:
a. Tanda-Tanda Hari Kiyamat Besar dan Kecil, karya Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah. Terjemah oleh : Muh. Khairuddin Rendusara, Islamhouse.com. 2009.
b. Tanda-tanda Kecil Hari Kiamat, dari buku ‘Smaller Signs of The Day’, karya Muhammad bin Bayyumi. Terjemah oleh: Aish. Terdapat dalam buku ‘Semalam Saja di Neraka’, karya Nurul Mubin. DIVA Press, Jogjakarta. 2008.
c. An-Nihayah Fitanun wa Ahwalun Akhir az-Zaman, karya Ibnu Katsir. Dalam edisi Indonesia, ‘Huru-hara Hari Kiamat’, terjemah oleh: H. Anshori Umar Sitanggal dan H. Imron Hasan S.Ag. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. 2010.
d. Ringkasan Shahih Muslim, karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, terjemah oleh: Elly Lathifah, SPd. Gema Insani Press. Jakarta. 2007. Bab Kitab Fitnah.
e. Sumber-sumber lainnya yang dapat dipercaya (Insya Allah)

***