Tampilkan postingan dengan label Amal Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amal Ibadah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Agustus 2012

::: 10 Pintu Rezeki :::

10 Pintu rezeki adalah :

1. MEMPERBANYAK ISTIGHFAR.


Allah swt berfirman: “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Robb mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membany
ak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Qs. Nuh: 10-12)

Al-Qurtubi berkata, “Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu cara diturunkan rezeki dan hujan.


Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (memohon ampun pada Allah), nescaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” ( Abu Daud)



2. BERTAKWA KEPADA ALLAH


Allah berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3).


Ibnu Katsir berkata, “Maknanya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan Nya dan meninggalkan apa yang dilarang Nya, nescaya Allah akan memberinya jalan keluar, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam fikirannya.”



3. BERTAWAKAL KEPADA ALLAH


Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh, seandainya kalian betawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung, mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang di petang hari dalam keadaan kenyang.” (Ahmad dan Tirmizi)



4. RAJIN BERIBADAH


Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada Ku, nescaya Aku penuhi (hatimu) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi keperluanmu. Jika kalian tidak lakukan yang sedemikian, nescaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi keperluanmu (kepada manusia).” ( Tirmizi, Ahmad, dan Ibnu Majah).



5. HAJI DAN UMRAH


Firman Allah swt, “Lakukanlah haji dan umrah, kerana sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur kecuali syurga.” (Ahmad, Tirmizi, dan An-Nasa`i).



6. MENJAGA SILATURAHIM


Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturahim.” (Bukhari).



7. BANYAK BERSEDEKAH


Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Robb ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki Nya di antara hamba-hamba Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki Nya)’, dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba`: 39).


Rasulullah saw bersabda dalam hadis Qudsi, “Wahai anak Adam, bersedekahlah, nescaya Aku memberi rezeki kepadamu.” (Abu Daud).


8. MEMBANTU PENUNTUT ILMU

Disebutkan sebuah kisah, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah saw. Salah seorang daripadanya mendatangi nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu pada nabi, maka Baginda saw bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia.” (Tirmizi, Hakim).

9. MEMBANTU ORANG LEMAH

Rasulullah saw bersabda, “Bantulah orang-orang lemah, kerana kalian diberi rezeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian.” (Muslim dan An-Nasa`i).

10. BERHIJRAH

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, nescaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (Qs. An-Nisa`: 100).

Moga kita sama-sama mengambil manfaat dan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melakukannya dengan istiqamah…

Jagalah hati…
Wassalam.
(Hen Hen Koto )

Sabtu, 04 Agustus 2012

::: Berkah Subuh :::

Di antara waktu waktu istimewa yang diciptakan Allah SWT untuk Muslim adalah saat Subuh. Di dalamnya terkandung banyak kebaikan. Begitu mulianya waktu Subuh, Rasulullah SAW secara khusus berdoa, “Ya Allah berkahilah umatku selama mereka sengan bangun Subuh.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah SAW mengungkapkan, bila umatnya bangun dan melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka Allah SWT akan melindunginya seharian penuh. Seperti dikatakan Jundab bin Sufyan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka, jangan coba-coba membuat Allah membuktikan jaminanNya.” (HR Muslim).

Berkah ada pada waktu pagi (albarakatu fi bukuriha), begitu ungkapan orang Arab. Benar, pagi memang memiliki banyak berkah.
Salah satunya ketika berzikir pagi, yang begitu dianjurkan untuk memperoleh rahmatNya. “Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang untuk mengharapkan keridhaanNya.” (QS Al Kahfi[18]:28).

Rasulullah Saw juga menjelaskan keberkahan zikir pagi antara shalat Subuh hingga terbitnya matahari, yang ditutup dengan shalat Dhuha. “Barangsiapa yang ikut shalat Fajar berjamaah di masjid, kemudian duduk berzikir mengingat Allah SWT sampai matahari terbit, lalu mengerjakan shalat dua rakaat, maka baginya pahala bagaikan orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR Tirmidzi)

Keberkahan subuh juga membuka pintu pintu rezekiNya yang telah dihamparkan di hari itu. Sebab itu, Allah SWT menyerukan Muslim untuk menyambut rezekiNya dengan bersegera bangun pagi.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Baihaqi, diceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW pulang dari shalat subuh di Masjid Nabawi, beliau mendapati putrinya Siti Fatimah masih tidur tiduran. Dengan penuh kasih sayang lantas beliau menggerakkan badan putrinya itu sembari berkata, “Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezeki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezeki kepada hambaNya, antara terbit fajar dengan terbit matahari.”

Bersegeralah bangun saat subuh, ketika suasana pagi masih tampak sunyi, banyak keberkahan yang akan dilimpahkan Allah SWT kepada hambaNya. Allah SWT akan melindunginya seharian penuh, mengucurkan rahmat, memberi pahala yang banyak, membuka pintu-pintu rezeki, melimpahkan kesegaran pikiran dan ketenangan, dan menyehatkan badan ketika bergerak bangun tidur lalu melakukan wudhu dan melangkahkan kaki shalat Subuh berjamaah ke masjid 
Cyber Halaqoh

Minggu, 22 Juli 2012

::: Menuju Thibah Dengan Qiyamullail :::

Thibah adalah hati dan jiwa yang bersih sekaligus lembut.
Secara bahasa THoyyiib artinya suci, bersih , bagus , mudah dan lunak, Sesuatu yang aman mengandung banyak kebajikan serta tidak mengandung kotoran dan penipuan.

Barangsiapa yang memiliki keadaan seperti ini, bagaimana hati manusia tidak akan mencintainya, sedangkan ia sangat dekat dengan setiap kebaikan dan kebajikan

Thibah adalah akhlak yang terbentuk dari pembersihan jiwa

"Syetan mengikat 3 buhul dipangkal kepala belakang salah seorang dari kalian ketika tidur.
Pada setiap buhul ia memasang mantera, "malam masih panjang, tidurlah !" .. Apabila ia bangun , lantas berzikir kepada Allah, terlepaslah satu buhul"
Apabila ia berwuduk , maka terlepaslah lagi 1 buhul.
Apabila ia shalat maka terlepaslah seluruh buhulnya. Maka ia bangun pagi dalam keadaan
bergairah dan jiwa yang 'Thoyyib'. Jika tidak demikian , maka ia bangun pagi dalam keadaan jiwa 'khobits' malas.(HR Abu Hurairah)


'Jiwa yang Thoyyib' karena ia bergembira atas taufik yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya untuk menjalankan ketaatan, atas pahala yang dijanjikan nya atas hilangnya buhul-buhul syetan dari dirinya.

Namun yang jelas didalam Qiyamullail terdapat rahasia yang mempengaruhi terwujudnya jiwa yang thoyyib.

Kataku kepada malam, "Adakah rahasia di dadamu.Wahai penyimpan misteri berbagai peristiwa dan rahasia?
Jawabnya, "Dalam hidupku, tah pernah kutemukan rahasia setara dengan cengkrama para kekasih diakhir malam".

Seorang yang memiliki jiwa yang Thoyyib , akan lebih lapang dada dan tampak ceria dalam banyak kesempatan dan semua itu terdapat pada diri Rosulullah saw

Sabda Rasulullah
"Kekayaan bukanlah masalah bagi siapa yang bertakwa. Sedangkan kesehatan, bagi orang yang bertakwa, lebih baik daripada kekayaan sedangkan jiwa yang Thoyyib (senang) merupakan sebagian kenikmatan.

Mereka berbudi luhur sehingga menjadi bintang-bintang dalam jiwa dan anak panah yang lurus.
Darah di hati bergolak mencintai mereka. Tempat mereka dilubuk paling dalam semua hati memaafkan.

Memaafkan merupakan salah satu sarana paling besar untuk menaklukkan hati dan memperoleh kasih sayang dan cinta sesama hamba. Ia juga merupakan sarana meraih kedudukan yang tinggi dan terhormat. Seseorang tidak akan menjadi mulia sehingga ia memiliki akhlak memaafkan.

Memaafkan bila dilakukan secara proforsional, pada situasi yang tepat, maka akan menjadikan pelakunya seorang yang dihormati.

"Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba lantaran perbuatan memaafkan selain kemuliaan"
(HR. Abu harairoh)

Bahkan memaafkan merupakan sarana untuk meraih ampunan dari Allah.

"Hendaklah kalian mengasihi, niscaya kalian dikasihi, hendaklah kalian memaafkan niscaya kalian diampuni.

Alangkah indahnya syair berikut:
Kuharuskan diri tuk memaafkan semua yang bersalah
Meski banyak perlakuan jahatnya kepadaku
Tiadalah manusia selain satu dari tiga
Mulia, rendah atau setara sama.
Yang mulia diatasku, kuakui keutamaannya.
Dan kuikuti kebenarannya, karena kebenaran itu wajib diikuti.
Yang lebih rendah dariku, jika berbicara kujaga diri
Menghindar dari menjawabnya, meski orang mencela.
Adapun yang setara, jika ia tergelincir atau bersalah kumaafkan,
Karena memaafkan itu membawa kepada kemuliaan.

(Tip meraih cinta. Abu Abdillah faishol H)
(EZ042009)

Senin, 02 Juli 2012

::: Agar Kita Bershalat dan Shalat Kita Diterima :::

Assalamualaikum wr wb
Sahabatku rahimakumullah.
Shalat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Setiap hari sedikitnya 5X kita diserukan untuk melakukan Shalat wajib. Shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar pada diri kita.

Allah Swt berfirman, "Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar". (QS. Al-Ankabut : 45)

Tapi dalam praktek sering kita lihat, orang yang kelihatan rajin Shalat justru berbuat keji, membuat kerusakan, mengebom orang yang tidak berdosa, menganiaya orang, merampas hak orang, korupsi, melakukan perzinahan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.

Apanya yang salah?.

Yang salah pastilah bukan ayatnya, karena ayat Allah pastilah mutlak kebenarannya, tapi yang sdalah adalah orang-orang yang diseru oleh ayat tersebut, yaitu kita, manusianya.



Karena memang ternyata Allah Swt berfirman dalam Hadits Qudsi bahwa Tidak semua orang yang Shalat itu Bershalat dan diterima Shalatnya.

Rasulullah Saw bersabda, Allah 'Azza wajalla berfirman :

"Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak terus-menerus bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku." (HR. Ad-Dailami)

Dari Hadits Qudsi di atas jelaslah bahwa Shalat yang diterima Allah adalah Shalat bagi :
1) orang-orang yang orang yang merendahkan diri kepada kebesaran dan keagungan Allah Swt;
2) orang-orang yang menahan syahwatnya dari perbuatan haram yang dilarang Allah Swt;
3) orang-orang yang tidak terus-menerus bermaksiat terhadap Allah Swt;
4) orang-orang dermawan yang memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang;
5) orang-orang yang mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing (yang bukan keluarganya) yang memerlukan pertolongan.
6) Dan semua itu dilakukan bukan karena riya’, melainkan ikhlas karena Allah Swt semata.

Sebaliknya dari hadits di atas, jika ada orang yang Shalat tapi masih punya sifat sombong, yang merasa dirinya lebih besar dari pada orang lain, memandang enteng orang lain yang boleh jadi karena ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak-buah dan kecantikannya dll; yang tidak mampu menahan syahwatnya, rajin bermaksiat, bakhil (pelit), tidak membantu orang yang tertimpa musibah, atau riya’ dengan amal-amalnya yang dilakukan bukan karena Allah, maka Shalatnya akan sia-sia dan tidak diterima Allah Swt.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa ada 10 orang yang shalatnya tidak diterima oleh Allah Swt, antara lain : orang yang mengerjakan shalat tetapi tidak mengeluarkan zakat; orang yang suka minuman keras tanpa mau meninggalkannya (bertaubat); Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim dan suka menganiaya rakyatnya; orang yang suka makan riba dan orang yang shalatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.

Orang yang Shalat tapi melakukan perbuatan keji dan mungkar, dalam hadits yang lain dikecam oleh Rasulullah Saw melalui sabdanya : "Barang siapa yang shalatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya shalatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah Swt dan jauh dari Allah.

Masih terkait orang yang Shalat tapi melakukan perbuatan keji dan mungkar, Imam Hassan Bin Abi Thalib ra memberi nasehat bijak,: "Kalau Shalatmu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan shalat. Dan pada hari kiamat nanti shalatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk." Naudzubillah mindzalik.

Nah, sebaliknya bagi orang-orang yang diterima Shalatnya, Allah Swt menjanjikan akan memberikan cahaya pada wajahnya, mengabulkannya permohonan doanya, Allah akan melindunginya dan menyuruh para MalaikatNya untuk menjaganya serta dijanjikan Surga Firdaus.

Dalam Hadits Qudsi ,Rasulullah Saw bersabda, Allah Swt berfirman: "Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajahnya lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. BagiKu dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya." (HR. Ad-Dailami)

Semoga Allah Swt senantiasa menerima Shalat kita dan anak2 keturunan kita semua dan melipatgandakan pahalanya, dan semoga Allah Swt memberikan cahaya pada wajah kita dan anak2 keturunan kita, mengabulkannya permohonan doa yang kita panjatkan, melindungi kita dan anak keturunan kita dan Allah menyuruh para MalaikatNya untuk menjaga kita dan anak2 keturunan kita dan kelak mendapatkan ganjaran berupa Surga Firdaus, serta semoga Allah Swt menjauhkan kita dan anak2 keturunan kita dari perbuatan keji dan mungkar dan juga riya’. Aamiin.

Semangat Pagi sahabatku, Selamat beraktifitas menjemput rezeki dan jangan lupa untuk saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran.

Untuk Anda yg sedang dilanda musibah/sakit, Semoga Allah segera mengangkat musibah/ penyakitnya dan menggantinya dgn kesehatan dan kebahagiaan. Amin YRA

Semoga tulisan sederhana ini membawa manfaat bagi diri saya, keluarga dan kita semua. Amin YRA

Allahumma shali ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

Terima kasih banyak, thank you n matur Syukran atas waktunya.

Bâraka Allâh fîkum. Amiin
Wassalamualaikum wr wb
Imam Puji Hartono (IPH)

::: Agar Doa dan Ibadah Kita Diterima Allah SWT (bag 1) :::

Assalamualaikum wr wb
Sahabatku rahimakumullah,
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Musa as melihat seseorang yang tengah menangis dan memohon kepada Tuhan. Dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit seraya berdoa dengan penuh khusyu’.
Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as, “Meskipun dia berdoa dengan sungguh-sungguh, maka doanya tidak akan pernah terkabul. Karena, di dalam perutnya terdapat barang haram, di atas pundaknya terdapat barang haram, dan di dalam rumahnya terdapat barang haram.”

Dalam hadits diriwayatkan, Sa’ad bin Abi Waqash datang menemui Rasul Saw. Ia berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya (HR. At-Thabrani) (Lihat Ad-durar Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur Juz: II hal. 403).

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang penghidupannya dari harta yang haram, maka Allah tidak menerima sedekahnya, tidak menerima amal memerdekakan budaknya, tidak juga menerima hajjinya dan umrahnya dan Allah mencatatnya amalnya yang banyak dengan kebatilan dan tiada tersisa amalnya setelah kematiannya sehingga akhirnya ia digiring ke neraka. Tetapi jika ia meninggalkan usaha haramnya itu karena takut kepada Allah, maka (Allah) masukkan ia ke dalam cinta-Nya dan rahmat-Nya dan diperintahkan kepadanya untuk masuk ke surga”

Sahabatku, dari ketiga riwayat di atas, salah satu sebab doa kita dan Ibadah kita tidak diterima Allah adalah disebabkan oleh makanan haram yang ada di perut kita.

Mengkonsumsi makanan yang haram dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh, dan masyarakat, secara politik dan ekonomi. Bahaya paling besar lantaran makanan haram, dari sisi individu dan sosial, adalah kehancuran dan kemerosotan akhlak.

Al-Qur’an menerangkan, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 188)

Diperbolehkannya makanan yang halal adalah karena bermanfaat bagi badan dan akal. Dan Allah Swt memerintahkan kepada para hambaNya agar meninggalkan makanan yang kotor dan haram karena akan berpengaruh negatif terhadap hati, akhlak dan menghalangi hubungan dirinya dengan Allah Swt, serta menyebabkan tidak terkabulnya do’a.

Dalam hadits lain diriwayatkan, Rasul Saw bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman, seperti Dia perintahkan kepada para rasulNya dengan firmanNya, yang artinya:
“Wahai para Rasul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Dan firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.”

Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Ya Tuhanku .. Ya Tuhanku ..” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim).

Sahabatku,
Makanan haram bisa disebabkan memang dzatnya yang haram, seperti: bangkai, daging babi, darah dan sebagainya. Atau karena haram cara mendapatkannya, seperti dengan cara mencuri, riba, curang dalam jual beli, korupsi, suap dan lain sebagainya. Praktek-praktek mendapatkan harta dengan cara yang haram dapat dengan mudah kita saksikan di zaman ini. Perampokan, penipuan, riba, korupsi, kolusi dan yang lainnya hampir-hampir selalu diekspos tiap hari oleh koran-koran dan televisi atau media lainnya. Seolah-olah hal ini sudah merupakan masalah yang biasa. Segala macam cara akan digunakan manusia dalam rangka untuk mendapatkan harta yang sebanyak-banyaknya.

Rasulullah Saw padahal telah menginngatkan kita semua melalui sabdanya: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari).

Makanan yang haram itu selain berdampak tidak terkabulnya do’a dan ditolaknya amal, ia juga merupakan sebab mendapatkan adzab Allah di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan. (untuk matan lengkapnya lihat Sunan At-Tirmidzi, hadits no.2417).

Maka hendaknya kita bermuhasabah, introspeksi diri. Berapa banyak do’a yang telah kita panjatkan kepada Allah, berapa banyak istighotsah digelar dalam rangka mengatasi berbagai krisis yang mendera bangsa kita, dan berbagai bencana yang menimpa negeri kita. Namun pada kenyataannya bencana demi bencana tetap melanda, berbagai krisis tidak teratasi dan berbagai kesulitan tak kunjung usai. Mungkinkah ini karena bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan praktik-praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram? Sudah terbiasa mengkon-sumsi barang-barang haram, sehingga Allah tidak mengabulkan do’a-do’a kita? Wallahu A’lam bish Shawab.

Semoga kita dan anak2 keturunan kita senantiasa dijaga oleh Allah Swt dengan makanan dan harta yang halal dan dijauhkan dari makanan dan harta yang diharamkan Allah Swt, dan semoga Allah Swt senantiasa mengijabah doa kita dan anak2 keturunan kita. Aamiin

Allahumma shali ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

Bâraka Allâh fîkum. Aamiin
(Imam Puji Hartono (IPH) )

Minggu, 25 Maret 2012

::: The Miracle of Shalat : Sujud Itu Bikin Cerdas :::

Maha Suci Allah .. Memang, segala macam perintah Allah Subhana wa Ta'ala itu ternyata kembali untuk kebaikan kita juga baik sewaktu di dunia maupun di akhirat nanti … , Dalam seminar internasional tentang ‘The Miracles of Qur’an’ , berbagai makalah ilmiah yang berhubungan dengan keajaiban Al-Qur’an dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu dipresentasikan . Dari mulai pandangan seorang biologist, archeologist, geologist, neurologist, ahli bahasa dan lain sebagainya.
Mari sabahat kita simak manfaat gerakan shalat dibawah ini : 

1. SUJUD BIKIN CERDAS
Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh)
seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit.
Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya?

2. TAKBIRATUL IHRAM
Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada Bagian bawah.
Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

3. RUKUK
Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.
Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

4. I’TIDAL
Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.
Manfaat: i’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

5. SUJUD
Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.
Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

6. DUDUK
Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens.
Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

7. SALAM
Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.
BERIBADAH secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar dalam.

8. PACU KECERDASAN
Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.
Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry , AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

9. PERINDAH POSTUR TUBUH
Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching) . Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, Bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya. !

10. MUDAHKAN PERSALINAN
Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut Untuk mengejan lebih dalam dan lama.Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

11. PERBAIKI KESUBURAN
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.
Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

12. AWET MUDA
Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada kekencangan. Kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Serta menghindarkan diri dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya
Subhanallah, Maha Besar dan Kuasanya Engkau ya Allah..
Dalam setiap penciptaan dan perintah NYA, sungguh tidaklah ada yang sia-sia ..(BK)

Minggu, 29 Januari 2012

::: Nikmat Wudhu' :::

- Ketika berkumur.. berniatlah dengan..
Ya Allah..ampunilah dosa mulut dan lidahku ..
- Ini karena kita sehari hari kadang membicarakan benda-benda yang tak bermanfaat/berfaedah..

- Ketika membasuh muka..berniatlah dengan..
Ya Allah..putihkanlah muka ku di akhirat kelak..Janganlah Kau hitamkan muka ku ini...
- ini karena Ahli SYURGA mukanya putih berseri-seri...

- Ketika membasuh tangan kanan..berniatlah dengan..
Ya Allah..berikanlah hisab-hisab ku ditangan kanan ku ini...
- ini karena Ahli SYURGA diberikan hisab hisabnya di tangan kanan...

- Ketika membasuh tangan kiri..berniatlah dengan..
Ya Allah..janganlah Kau berikan hisab- hisab di tangan kiri ku ini..
- ini karena Ahli NERAKA diberikan hisab- hisabnya di tangan kiri .

- Ketika membasuh rambut/kepala.. berniatlah dengan..
Ya Allah..lindunganlah aku dari terik matahari di padang Masyar dengan Arasy Mu...
- ini karena Panas di Padang Masyar seperti matahari sejengkal di atas kepala kita..

- Ketika membasuh telinga..berniatlah dengan..
Ya Allah..ampunilah dosa telinga ku ini..
- ini karena terkadang kita mendengar kata kata yang buruk..orang mengumpat..memfitnah dll...

- Ketika membasuh kaki kanan..berniatlah dengan..
Ya Allah..permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim'...
- ini karena Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali..

- Ketika membasuh kaki kiri..berniatlah dengan..
Ya Allah..jauhkan aku dari mendekati tempat- tempat maksiat..
- ini karena Qada' dan Qadar kita di tangan Allah...


banyak di antara kita yang tidak sadar akan hakekat bahwa setiap yang dituntut dalam Islam mempunyai hikmah tersendiri...

Dalil untuk kita berwudhu'...:

"Hai orang-orang yg beriman..apabila kamu akan mendirikan shalat..maka basuhlah muka mu dan tangan-tangan mu hingga siku-siku mu..
dan sapulah kepala mu serta (basuhlah) kaki- kaki mu hingga ke dua mata kaki..." (Al Maaidah, ayat 6)

Sabda Rasulullah SAW ..:

Barangsiapa yang berwudhuk dgn baik kemudian menghadapkan pandangannya ke langit sambil berdoa..maka 8 pintu SYURGA dibukakn untuknya dan dia dapat memasukinya dari pintu manapun yang dia mau...

SEMOGA BERMANFAAT.

Jumat, 15 Juli 2011

::: Menembus Tujuh Lapis Langit :::

Sahabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu menyampaikan bahwa ketika beliau sedang bersama Rosululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam, Rosululloh sollalloh ‘alahi wa sallam menyampaikan sebuah hadis yang sangat ditekankan untuk diperhatikan sehingga beliau sampai bersabda, “Aku sampaikan sebuah hadis yang apabila kamu pelihara - apabila kamu perhatikan, maka bermanfaat bagimu dan apabila kamu sia-siakan - apabila kamu sepelekan, maka kamu tidak akan punya hujjah - tidak akan punya alasan, di hadapan Allah ‘azza wa jalla”

Rosululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa Allah menciptakan tujuh Malaikat dan tujuh langit, satu Malaikat menjadi penjaga pintu dari satu langit. Malaikat tersebut akan memeriksa setiap orang yang amalnya diangkat ke langit oleh Malaikat Hafazoh.

LANGIT PERTAMA

Ada amal yang bersinar bagaikan matahari dan Malaikat Hafazoh yang membawanya memuji banyak dan bersihnya amal tersebut, Malaikat penjaga pintu langit pertama menghentikannya seraya berkata, “Tamparkan amal ini pada wajah pelakunya, aku pemeriksa gibah, aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal para pelaku gibah untuk melewatiku - aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain untuk melewatiku”

LANGIT KEDUA

Ada amal lain yang berkilauan cahayanya, banyak dan dipuji oleh Malaikat Hafazoh yang membawanya. Amal ini berhasil melewati langit pertama karena pelakunya tidak pernah menceritakan keburukan orang lain. Tetapi ketika sampai di pintu langit kedua, penjaga langit kedua menghentikan seraya berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, sesungguhnya ia punya maksud duniawi dengan amalnya - ia mengejar kekayaan, ia mengejar kekuasan dengan amalnya - aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku”

Dilaknatlah pelakunya oleh para Malaikat sampai sore hari.

LANGIT KETIGA

Ada lagi Malaikat Hafazoh yang naik ke langit dengan membawa amal yang sangat memuaskan, penuh oleh sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang Malaikat Hafazoh memuji dan menganggap sedemikian banyaknya. Langit pertama dan kedua terlewati, tapi begitu sampai ke langit ketiga, Malaikat Penjaga pintu langit ketiga berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, saya Malaikat pemeriksa kibr (kesombongan), aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku, karena ia seorang yang takabbur – seorang yang sombong pada orang lain di lingkungannya - ia merasa dirinya lebih dari yang lain”.

LANGIT KEEMPAT

Ada lagi amal yang dibawa naik oleh Malaikat Hafazoh. Amal itu bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, dengan puasa, shalat, hajji dan umroh. Begitu sampai ke langit yang keempat, Malaikat Penjaga pintu langit keempat itu berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, saya Malaikat pemeriksa ujub – pemeriksa rasa bangga diri, yeuh aing, aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat, sebab jika dia beramal, dia selalu ujub.”

LANGIT KELIMA

Ada lagi Malaikat Hafazoh naik dengan membawa amal seorang hamba yang diiring, diantar seperti pengantin. Amalnya begitu bagus, seperti jihad, ibadah hajji dan umroh, cahayanya pun berkilauan bagaikan matahari. Ketika sampai di langit kelima, Malaikat Penjaga pintu langit kelima berkata, “Saya Malaikat pemeriksa hasud (iri / dengki), dia suka hasud kepada orang lain yang mendapat nikmat Allah – ia iri, ia dengki pada orang lain, dia itu benci pada yang membuat Allah rido. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat”.

LANGIT KEENAM

Ada Malaikat Hafazoh yang naik dengan membawa amal yang lain, membawa wudu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, hajji, umroh. Namun, ketika sampai ke langit yang keenam, Malaikat Penjaga pintu langit keenam berkat, “Saya Malaikat pemeriksa rahmat – pemeriksa kasih sayang, tamparkan amal yang nampaknya bagus ini ke wajah pelakunya, ia tidak pernah mengasihi orang lain, apabila ada orang yang mendapatkan musibah, maka dia merasa senang. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat”.

LANGIT KETUJUH

Ada pula Malaikat Hafazoh yang naik ke langit dengan membawa amal hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan waro’. Suara amal itu bergemuruh bagaikan guntur, cahayanya pun bagaikan petir. Ketika sampai ke langit yang ketujuh, Malaikat Penjaga pintu langit ketujuh berkata, “Saya pemeriksa sum’ah – pemeriksa rasa ingin mashur dan populer, sesungguhnya pemilik amal ini ingin termashur dalam kumpulan-kumpulan, selalu ingin tinggi diantara kawan-kawannya dan ingin mendapat pengaruh di hadapan para tokoh. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amal itu lewat. Tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah, maka itulah riya. Allah tidak menerima dantidak mengabulkan amal orang-orang riya”.

DI HADHRATULLAH

Ada pula Malaikat Hafazoh yang naik dengan membawa amal hamba, yakni shalat, zakat, puasa, hajji, umroh, akhlak terpuji dan pendiam tidak banyak omong serta penuh zikir kepada Allah Yang Maha Tinggi, lolos melewati ketujuh langit. Kemudian diiring oleh Malaikat ketujuh langit sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampai ke hadirat Allah Yang Maha Suci. Para Malaikat berdiri di hadapan Allah jalla jalaluh. Semua bersaksi bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan diikhlaskan karena Allah.

Tapi, Allah Yang Maha Tinggi berfirman, “Kalian Hafazoh, pencatat amal hamba-Ku, sedang Akulah yang mengawasi hatinya. Amal ini tidak karena Aku, yang dimaksudkan olehnya adalah selain dari-Ku, tidak diikhlaskan kepada-Ku. Aku lebih mengetahui apa yang dimaksud olehnya dengan amal itu. Aku laknat ia, ia menipu manusia dan menipu kalian, tapi Aku tak tertipu olehnya. Akulah Yang tahu akan segala yang gaib. Akulah yang melihat isi hatinya. Tidak samar bagi-Ku apapun yang samar. Tidak tersembunyi bagi-Ku apapun yang tersembunyi. Ilmu-Ku terhadap yang terjadi sebagaimana ilmu-Ku terhadap yang akan terjadi. Ilmu-Ku terhadap yang lalu se-bagaimana ilmu-Ku terhadap yang akan datang. Ilmu-Ku terhadap mereka yang terdahulu sebagaimana ilmu-Ku terhadap mereka yang kemudian. Aku mengetahui yang rahasia dan yang samar. Bagaimana hamba-Ku dapat menipu-Ku dengan amalnya ? Dia hanyalah bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku Yang mengetahui segala yang gaib. Laknat-Ku tetap baginya.”

Berkata Malaikat ketujuh langit dan 3000 Malaikat yang mengiringinya, “Ya Tuhan kami tetap baginya laknat-Mu dan laknat kami semua.”

Berkata pula penghuni langit, “Tetap baginya laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat.”

MENYELAMATKAN DIRI

Ketika mendengar hadis ini Sohabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu menangis terisak-isak dan berkata, “Ya Rosulalloh, bagaimana aku bisa selamat dari yang barusan diceritakan ?”

Rosululloh bersabda, “Hai Mu’az, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan !”

Sahabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu bertanya kembali, “Engkau adalah Rosululloh, sedangkan saya ini hanya si Mu’az bin Jabal. Bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana bisa terlepas dari bahaya tersebut ?”

Rosululloh menjawab, “Begitulah wahai Mu’az. Seandainya dalam amalmu ada kelengahan dan kekurangan, maka :

§ Tahanlah lisanmu dari menjelekkan orang lain, terutama menjelekkan para ulama – para ahli Al-Quran.

§ Tolaklah keinginan menjelekkan orang lain dengan mengingat kejelekan dirimu sendiri.

§ Jangan membersihkan dirimu sendiri dengan menjelekkan orang lain.

§ Jangan mengangkat dirimu dengan merendahkan, menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan pamerkan amalmu agar diketahui orang lain.

§ Jangan mengurusi dunia sehingga melupakan urusan akhirat.

§ Jangan berbisik dengan seseorang ketika ada orang lain.

§ Jangan takabbur kepada orang lain, nanti luputlah kebaikanmu di dunia dan akhirat.

§ Jangan berkata kasar di majlis sehingga orang takut terhadap keburukan akhlakmu.

§ Jangan mengungkit-ungkit kebaikan pada orang lain.

§ Jangan merobek-robek orang lain dengan lisanmu, nanti kamu dirobek-robek anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman Allah ta’ala : “wan nasyitoti nasyto” ( di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia), yaitu mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya.

Sohabat Mu’az bin Jabal bertanya kembali, “Ya Rosulalloh, siapa yang yang kuat menanggung penderitaan seperti ini ?

Rasululloh menjawab, “Wahai Mu’az, yang aku ceritakan tadi padamu itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah ta’ala. Cukuplah bagimu mencintai orang lain sebagaimana mencintaimu sendiri dan bencilah untuk orang lain apa yang kamu benci untuk dirimu sendiri. Bila engkau demikian niscaya dirimu akan selamat dan terhindar.”

sumber tulisan :http://tafakkurcinta.blogspot.com/

by : Vicky Robianto

::: Pembahasan Sekitar Malam Nisfu Syaban (Bagian I)

by : Imam Puji Hartono 

Assalamualaikum wr.wb

Sahabatku Rahimakumullah,
Hari ini tanggal 12 Sya’ban dan Insya Allah Jum'at tanggal 15 Juli 2011 sore lusa hingga subuh merupakan malam Nisfu Sya'ban. Di kalangan Nahdliyin (NU) malam Nisfu sya’ban ini selalu menjadi malam yang istimewa diantara malam2 di bulan Sya’ban Berkenaan dengan malam Nisfu (pertengahan) Sya’ban ada beberapa hal yang patut diketahui bersama, karena malam Nisfu Sya’ban ini sejak lama menjadi perdebatan di kalangan Ulama dan para ahli hadist dan menjadi mahallun-khilaf nyaris sepajang zaman.

Tidak akan ada penyelesaiannya, karena masing-masing pihak berangkat dengan ijtihad dan dalil masing-masing. Sebagian Ulama menganggapnya sebagai sunnah dan sebagian Ulama menganggapnya sebagai bi’dah hasanah mamduhah (bid’ah yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji ) dan sebagian lain menganggap sebagai amalan bid’ah yang tidak pernah dijalankan oleh Nabi SAW.

Sehubungan dengan hal tersebut, terlampir saya sajikan beberapa tulisan berseri, terkait Nisfu Sya’ban. Tentu saja saya menerima perbedaan pendapat dan pandangan, namun demikian tetap dengan azas saling menghormati terhadap pemahaman masing2 dan tidak menuduhnya sebagai suatu kesesatan dan mengangggap pendapatnya sebagai yang paling benar.

Para Imam Mazhab saja hampir dalam setiap bab pembahasan kitabnya selalu menyandarkan kebenarannya hanya pada Allah semata, dengan kalimat Wallahualam bissawab.

Semoga Bermanfaat.
Wassalam, Gus Im/IPH
==========================​==========

Malam Nisfu Sya’ban (Bagian I)
--------------------------​-----------
Nisfu Sya'ban adalah hari peringatan Islam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya'ban. Dalam kalangan Islam, Nisfu Sya'ban diperingati menjelang bulan Ramadhan. Pada malam ini biasanya diisi dengan pembacaan Surat Yaasiin tiga kali berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barokah, serta ditetapkan imannya.

Peringatan Nisfu Sya'ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malam nisfu Sya'ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.

HADIST KEUTAMAAN NISFU SYA’BAN

Tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban ini, dimana kita dianjurkan untuk melakukan ibadah terutama untuk memohon ampun, memohon rezeki dan umur yang bermanfaat, terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih. Diantaranya

Hadist Pertama
--------------------
Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :”“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .

Hadits Kedua
------------------
Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis Ketiga
-------------
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Hadis Keempat

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban yang Insya Allah akan jatuh pada hari Jum’at sore tanggal 15 Juli 2011 (malam Sabtu) hingga subuh sore hingga subuh . Marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon ampunan dan berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. SWT

Ibnu Taimiyyah menghidupkan Nishfu Sya’ban dengan amalan khusus.
Ibnu Taimiyah, (syeikh rujukannya wahabi/salafy) mengkhususkan amalan sholat pada nishfu Sya’ban dan memujinya: Berkata Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa pada jilid 24 halaman 131 mengenai amalan Nishfu Sya'ban sebagai berikut:

Artinya: "Apabila seorang itu menunaikan sholat pada malam Nishfu Sya'ban secara individu atau berjamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebilangan masyarakat Islam maka hal itu adalah Baik".

Lihat bagaimana Ibnu Taimiyah sendiri memuji siapa yang menghidupkan amalan khusus pada malam Nishfu Sya'ban yaitu dengan menunaikan sholat sunnah pada waktu itu baik secara perseorangan maupun secara berjama’ah, Ibnu Taimiyah menyifatkan amalan khusus itu sebagai Hasan/ Baik.

Pada halaman 132 dikitab yang sama itu, Ibnu Taimiyyah mengakui adanya hadits yang mengkhususkan untuk ibadah sholat malam Nishfu Sya’ban!!!
Artinya: "(Berkenaan malam Nishfu Sya'ban) maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya'ban dengan hadits-hadits dan atsar, di nukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan sholat khusus pada malam Nishfu Sya'ban, sholatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnya telah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah/dalil maka jangan di-ingkari, manakala sholat secara jama’ah (pada malam nishfu sya'ban) adalah dibina atas hujah/ dalil kaedah pada berkumpulnya manusia dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadat".

Dalam kitabnya Iqtido' As-sirot Al-Mustaqim pada halaman 266 beliau mengatakan yang artinya:

Artinya: "(Malam Nishfu Sya'ban) telah diriwayatkan mengenai kemuliaannya dari hadits-hadits Nabi dan pada kenyataan para sahabat telah menjelaskan bahwa itu adalah malam yang mulia dan dikalangan ulama As-Salaf yang meng- khususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan sholat khusus padanya dan berpuasa bulan Sya'ban, ada pula hadits yang shohih. Ada dikalangan Salaf (orang yang terdahulu), sebagian dari ahli Madinah dan selain mereka sebagian dikalangan Khalaf (orang belakangan) yang mengingkari kemuliannya dan menyanggah hadits-hadits yang diriwayatkan padanya seperti hadits: 'Sesungguhnya Allah swt. mengampuni padanya lebih banyak dari bilangan bulu kambing bani kalb'. Akan tetapi disisi kebanyakan ulama ahli Ilmu atau kebanyakan ulama Madzhab kami dan ulama lain adalah memuliakan malam Nishfu Sya’ban, dan yang demikian adalah kenyataan Imam Ahmad bin Hanbal dari ulama Salaf, karena cukup banyak hadits yang menyatakan mengenai kemuliaan Nishfu Sya'ban, begitu juga hal ini benar dari kenyataan dan kesan-kesan ulama As-Salaf, dan telah dinyatakan kemuliaan Nishfu Sya'ban dalam banyak kitab hadits Musnad dan Sunan".

Demikianlah pendapat Ibnu Taimiyyah mengenai bulan dan malam Nishfu Sya'ban.

Jelas sebagai bukti bahwa Ibnu Taimiyah sendiri mengakui dan tidak mengingkari kebaikan amalan khusus pada nishfu Sya’ban termasuk didalamnya sholat sunnah. Belliau juga mengatakan bahwa amalan ibadah pada malam nishfu Sya’ban dikerjakan oleh para Salaf. Tetapi sayangnya golongan peng- ingkar yang mengaku sebagai penerus akidah Ibnu Taimiyyah ini telah meng haramkan dan membid’ahkan mungkar amalan dalam bulan dan nishfu Sya’ban ini? Mereka hanya menyebutkan kata-kata Ibnu Taimiyyah yang sepaham dengan mereka tetapi kata-kata Ibnu Taimiyyah yang tidak sepaham, mereka kesampingkan! Apakah mereka ini juga berani membid’ahkan mungkar Ibnu Taimiyyah? Apakah mereka ini akan merubah atau mengarti kan kata-kata Ibnu Taimiyah yang sudah jelas tersebut –sebagaimana kebiasaan mereka– sampai sesuai dengan paham mereka?

Al-Qasthalani dalam kitabnya, Al-Mawahib Alladunniyah jilid 2 halaman 59, menuliskan bahwa para tabi’in di negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan dan Makhul telah berjuhud (mengkhususkan beribadah) pada malam nishfu sya’ban. Maka dari mereka berdua orang-orang mengambil panutan. Selanjutnya Al-Qasthalany berkata perbedaan pendapat para ulama Syam hanya dalam bentuk cara ibadah pada malam nishfu Sya’ban. Ada yang mengamalkan dimasjid secara berjama’ah yaitu pendapat Khalid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir dan disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Ada lagi yang mengamalkan sendiri-sendiri dirumah atau ditempat lainnya, pendapat ini disetujui oleh Al-Auza’i dan para ulama Syam umumnya!!

Masih banyak lagi pendapat para ulama yang membolehkan amalan ibadah khusus pada malam nishfu Sya’ban karena merupakan amalan kebaikan yang taqarrub/ mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan demikian para ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman sekarang telah mengakui adanya amalan-amalan ibadah pada malam nishfu Sya’ban. Wallahu A’lam

KESIMPULAN
----------------
Dari paparan di atas, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.

Meski menurut para ahli hadist masih berbeda tentang malam nisfu sya'ban ini, namun demikian menurut saya sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, memperbanyak bacaan zikir, memperbanyak baca'an shalawat, membaca al-Qur’an, bersedekah, berdo’a dan mengerjakan amal-amal salih lainnya.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Amiin.

Wallahualam bissawab

Bârakallâhu lî wa lakum, Matur syukran n Terima kasih.
Semoga Bermanfaat ya

Jakarta, 12 Juli 201
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb

Imam Puji Hartono/IPH(Gus Im)

"Utamakan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK dan SHALAT untuk akhiratmu"

Kamis, 02 Juni 2011

::: Persiapan Umat Muslim Sebelum ke Akhirat :::

** Pesan indah dari Ustad Arifin Ilham **:

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap untuk hidup yang panjang....

Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.

Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal
cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:
Pertama,

Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Kedua,

membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

Ketiga,

Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Keempat,

jaga shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.

Kelima,

jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Keenam

jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya
Allah”.

Ketujuh,

amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.

Semoga bermanfaat Ya..
Al Faqir : Nadia Saleh Alatas

Jumat, 25 Maret 2011

Tradisi Do'a Bersama Yang Dianggap Bid'ah

Oleh : Ust. Muhammad Idrus Ramli 
Ada seorang teman yang sekarang tinggal di Bandung sebagai kiai muda, curhat kepada saya melalui SMS, bahwa ada sekelompok aliran di daerahnya, ketika selesai shalat, mereka tidak mau berdoa bersama, dengan dipandu seorang imam. Alasan mereka, hal itu tidak ada haditsnya dan termasuk bid’ah. Hal yang sama juga terjadi pada saya.

Dalam sebuah diskusi tentang bid’ah dan tradisi, di Mushalla Nurul Hikmah, Perum Dalung Permai Denpasar, pada 22 Juli 2010 yang lalu, ada seorang Salafi yang berpendapat bahwa doa bersama itu bid’ah. Ketika salah seorang teman kami berdoa sebagai penutup acara, jamaah yang hadir semuanya mengucapkan aamiin sambil mengangkat kedua tangan mereka. Sementara laki-laki Salafi yang menolak doa bersama tersebut, tidak ikut aamiin dan tidak mengangkat kedua tangannya.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh kaum Salafi itu tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Justru tradisi doa bersama, di mana salah seorang dari jamaah mengucapkan doa, sedangkan anggota jamaah lainnya membaca amin, merupakan tradisi Islami yang benar dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits hasan Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ يَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني في الكبير و الحاكم في المستدرك

“Dari Habib bin Maslamah al-Fihri RA –beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan aamiin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”

Dalam hadits lain diterangkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اَلدَّاعِيْ وَالْمُؤَمِّنُ فِي اْلأَجْرِ شَرِيْكَانِ. رواه الديلمي في مسند الفردوس بسند ضعيف.

“Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berdoa dan orang yang membaca aamiin sama-sama memperoleh pahala.” (HR. al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

Menurut al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dalam kitabnya al-Mudawi li-’Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi (juz 4 hal. 43), kelemahan hadits al-Dailami di atas dapat diperkuat dengan ayat al-Qur’an. Allah SWT berfirman tentang kisah Nabi Musa AS:

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا. (يونس : ٨٩).

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus : 89).

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa AS, sedangkan Nabi Harun AS hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa AS yang berdoa dan Nabi Harun AS yang mengucapkan aamiin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan berdoa. Hal ini pada dasarnya menguatkan substansi hadits di atas, bahwa orang yang berdoa dan yang mengucapkan amin sama-sama mendapatkan pahala doa. Mengenai doa Nabi Musa AS tersebut, telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya, yaitu ayat berikut ini:

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ، (يونس : ٨٨).

“Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasankalah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus : 88).

Dalam hadits lain diterangkan:

عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادٍ قَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ حَاضِرٌ يُصَدِّقُهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: هَلْ فِيْكُمْ غَرِيْبٌ؟ يَعْنِيْ أَهْلَ الْكِتَابِ، فَقُلْنَا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ: اِرْفَعُوْا أَيْدِيَكُمْ وَقُوْلُوْا لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ أَنْتَ بَعَثْتَنِيْ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهَا الْجَنَّةَ وَأَنْتَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ، ثُمَّ قَالَ: أَبْشِرُوْا فَقَدْ غُفِرَ لَكُمْ. رواه الإمام أحمد بسند حسنه الحافظ المنذري، والطبراني في الكبير وغيرهما.

“Ya’la bin Syaddad berkata: “Ayahku bercerita kepadaku, sedangkan Ubadah bin al-Shamit hadir membenarkannya: “Suatu ketika kami bersama Nabi SAW. Beliau berkata: “Apakah di antara kamu ada orang asing? (Maksudnya ahlul-kitab).” Kami menjawab: “Tidak ada, ya Rasulullah.” Lalu Rasul SAW memerintahkan agar mengunci pintu. Kemudian bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan ucapkan la ilaha illlallah.” Maka kami mengangkat tangan kami beberapa saat. Kemudian Rasul SAW berkata: “Ya Allah, Engkau telah mengutus aku membawa kalimat ini, dan Engkau janjukan surga padaku dengan kalimat tersebut, sedangkan Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian Rasul SAW bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah mengampuni kalian.” (HR. al-Imam Ahmad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Mundziri, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan lain-lain.

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat membaca kalimat tauhid (la ilaha illallah) bersama-sama. Lalu para sahabat pun mengucapkannya bersama-sama sambil mengangkat tangan mereka. Kemudian Rasulullah SAW membacakan doa. Dengan demikian, dzikir bersama sebenarnya memiliki tuntunan dari hadits shahih ini.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi doa bersama, di mana salah seorang di antara jamaah memimpin doa, sedangkan jamaah yang lain mengucapkan amin, baik hal tersebut didahului dengan dzikir bersama maupun tidak, pada dasarnya memiliki dasar hadits yang kuat, dan bahkan merupakan tuntunan al-Qur’an al-Karim sebagaimana yang terdapat dalam kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Wallahu a’lam.
by : Luqman Firmansyah