Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

::: Jangan Mengeluh , Kita Selalu Bertanya dan Al-Quran Jawabannya :

JANGAN MENGELUH
Kita selalu Bertanya dan Al-Quran jawabannya

KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," ("I am full of faith to Allah") sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta."
-Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA : KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB
"Bisa jadi kamu membenci sesua tu padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."


- Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?


QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
- Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA : KENAPA ADA RASA FRUST?
QURAN MENJAWAB
"Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org2 yg beriman."
- Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA : BAGAIMANA CARA MENGHADAPI MASALAH?
QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah (be fearfull of Allah The Almighty) kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)."

KITA BERTANYA : BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk"
- Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari org2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk mereka... ?
- Surah At-Taubah ayat 111

KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
- Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA : AKU TIDAK KUAT MENGHADAPINYA
QURAN MENJAWAB
"... ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir." - Surah Yusuf ayat 12
-Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan Surat Al – Insyirah (94):5

Senin, 06 Desember 2010

Meluruskan kekeliruan: 1 Muharram bukan tanggal Rasulullah saw Hijrah ke Madinah


Oleh : Imam Puji Hartono (IPH)
Sahabatku, Senin sore ini atawa besok Selasa, 7 Desember, kita memasuki 1 Muharram 1432 Hijriyah. Selamat Tahun Baru, semooga di Tahun 1432 Hijriyah, Allah memberikan kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan kesejahteraan kepada kita semua. Amiin

Sahabatku, sebagaimana dimaklumi, di Indonesia dan di beberapa negara Islam, setiap tanggal 1 Muharram diperingati sebagai tahun baru Islam. Tiap tahunnya Umat Islam merayakannya dengan penuh semangat yang tersalurkan dalam kegiatan-kegiatan seperti mengaji, mendengar ceramah di tabligh akbar, do’a bersama, dll.

Dahulu saya sering salah persepsi bahwa 1 Muharram adalah tanggal Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Dan para ustadz juga sering menginformasikan hal tersebut dalam setiap ceramahnya. Belakangan saya baru tahu, bahwa tanggal Hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah) ternyata terjadi pada bulan Rabiul awal, dan Rasulullah tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul awal Tahun 1 Hijriyah.

Saya kemudian berpikir, sejarah Islam seperti hijrah Nabi Muhammad harus segera diluruskan agar tidak terjadi salah kaprah dan anggapan salah mengenai sejarah hijrah ini. Kalau Anda mengira peringatan 1 Muharam sebagai awal Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Yatsrib (Madinah), maka keyakinan itu salah besar.

Kemudian saya membuka kembali Kitab Tarikh (Biografi Sejarah) Rasulullah dari beberapa buku yang saya miliki, ternyata Nabi Muhammad yang ditemani sahabat Abu Bakar hijrah ke Yatsrib (Madinah) pada 2 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam sebagai tanda dimulainya tahun hijriah dan tiba di Yatsrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal.
Keterangan dan Referensi bahwa Rasulullah saw Hijrah di bulan rabiul Awal, saya temui di 6 Buku / Kitab Tarikh (nanti silakan di cek sendiri) dan 1 tulisan yaitu sbb :

1.    Buku “Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw”, tulisan Desertasi  Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthy, judul asli “Fiqhus Sirah-Dirasat Manhajiah Ilmiyah Siratil Mustafa Alaihish Shalatu wa salam” ,  Penerbit Robbani Press, tahun 2006, halaman 171 :  Dalam buku ini  ditulis bahwa Rasulullah berangkat  Hijrah pada tanggal 2 Rabiul awal , 13 tahun setelah bitsah ,  atau bertepatan dengan tanggal 20 September 622 Masehi dan tiba di Yatsrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul Awal.;

2.    Buku “Sirah Nabaiwyah”, tulisan Syaikh Shafiyyurahman bAl Mubarakfury”, judul asli : “Ar-Rahiqul Maqthum, Bahtsum Fis Sirah an Nabawiyah, Ala Shahibihah Afdhalist Shalati was Salam”, Penerbit Pustaka Al Kautsar Tahun 1997, halaman 226. Dalam buku ini  ditulis bahwa Rasulullah berangkat  Hijrah pada tanggal  1 Rabiul awal , 13 tahun setelah bitsah ,  atau bertepatan dengan tanggal 16 September 622 Masehi;

3.    Buku “Sirah Nabawiyah, Muhammad For The Global Village”, tulisan DR. Muhammad al Hasyimi al Hamidi, Judul asli : Muhammad li al  Quryah al Alamiyah, Penerbit Rabitah Pers, 2006, halaman 143; Dalam buku ini  ditulis bahwa Rasulullah tiba di Yatsrib (Madinah) pada Senin tanggal 16 September 622 Masehi;

4.    Buku “Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik”; tulisan  DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, Judul asli : “As Shirah an Nabawiyahli Dhau’I al Mashadir, al ashiliyah, Dirasah Tahliyyah”, Penerbit Qithi Press, 2006 halaman 342; Dalam buku ini  ditulis bahwa Rasulullah berangkat  Hijrah pada 12 Rabiual awal tahun 14 kenabian bertepatan tanggal 23 September 622 M;

5.    Buku “History of the Arabs, from the earliest time to the present”, Philip K. Hitti, Penerbit Serambi, tahun 2008, halaman 145, Bagian 11; Dalam buku ini  ditulis bahwa Rasulullah berangkat  Hijrah padabulan  Rabiul awal , 13 tahun setelah bitsah ,  tahun  622 Masehi;

6.    Buku “Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad”, tulisan Muhammad al Ghazali, judul asli : “Fih U –Sheerah : Understanding The life of Prohet Muhammad”, Penerbit Mira Pustaka, April 2006,  halaman 213; Dalam buku ini  ditulis bahwa Rasulullah berangkat  Hijrah pada Rabiul awal , 13 tahun setelah bitsah ,  tahun 622 Masehi;

7.    Makalah/Tulisan berjudul” Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriyah” oleh T. Djamaluddin (Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung), menulis bahwa  : Peristiwa Hijrah Rasulullah SAW terjadi pada bulan Rabi'ulawal tahun 13 Bi'tsah (13 tahun setelah pengangkatan sebagai Rasul). Berangkat pada 2 Rabi'ilawal dan tiba pada 12 Rabi'ulawal. Saat tiba di Yatsrib (Madinah) 12 Rabi'ulawal 0 H bertepatan dengan hari Senin, 5 Oktober 621. Ini sesuai dengan pendapat Jabir dan Ibnu Abbas bahwa hainya Senin.
Dalam buku SEJARAH HIDUP MUHAMMAD - Muhammad Husain Haekal , maupun dalam Buku Tarikh tulisan Haekal yang lain, yaitu Abu Bakar dan Umar Bin Khattab, tidak disebutkan tanggal dan tahun Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah).

Sahabatku, salah satu keistimewaan dari Rasulullah, sebagian ahli Tarikh sepakat, bahwa ada 3 peristiwa yang jatuh pada tanggal 12 rabiul awal, yaitu Tanggal kelahiran Rasulullah, Tanggal Hijrah (tibanya) Rasul di Yatsrib (Madinah) dan wafatnya Rasulullah, semuanya terjadi pada tanggal 12 Rabiul awal.

Dalam tarikh, Rasulullah saw, ayat terakhir Al Qur’an itu turun saat wukuf di Arafat pada tanggal 9 Dzulhijjah 10 H yang bertepatan dengan hari Jumat 6 Maret 632. Mungkin ini berkaitan dengan sebutan haji akbar bila wukufnya jatuh pada hari Jumat. Dan tiga bulan setelah turunnya ayat terakhir dalam Al Qur’an surat 5 ayat 3, “Alyauma akmaltu lakum dinakum wa-atmamtu 'alaikum ni'mati wa-radhitu lakumul islama dina (Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”, Rasulullah wafat pada 12 Rabi'ulawal 11 H.

Menurut ahli Astronomi dalam analisis astronomis menyatakan 12 Rabi'ulawal mestinya jatuh pada hari Sabtu 6 Juni 632. Namun banyak yang berpendapat Rasulullah wafat pada hari Senin, itu berarti tanggal 8 Juni 632. Perbedaan dua hari tidak dapat dijelaskan akibat terjadinya istikmal (penggenapan menjadi 30 hari) bulan Shafar. Mungkin yang terjadi adalah 'kelalaian' masal dalam penentuan awal bulan akibat kesedihan ummat yang mendalam menghadapi Rasul yang dicintainya menderita sakit sejak bulan Shafar.

Penentuan Kalender Hijriyah Dalam wikipedia dituliskan bahwa penentuan kapan dimulainya tahun Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, yaitu pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab. Namun demikian, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad. Hingga akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 Masehi, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622 Masehi. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H..

Sahabat, demikian sekedar sharing pemikiran dari saya, barangkali ada di antara anda yang memiliki Referensi lain mengenai tanggal Hijrahnya Rasulullah ternyata juga di bulan Muharram, mohon tanggapannya dengan mencantumkan secara detail referensinya. Karena boleh jadi konklusi saya di atas keliru. Wallahua’lam bi as-shawab

Tulisan ini sekedar sharing dan afwan kalau ada yang kurang berkenan.

Syukran Jazakallah n Semoga Bermanfaat

SELAMAT TAHUN BARU 1 Muharram 1432 H, Semoga tahun depan semuanya lebih baik buat kita sekalian. Amiin

Bârakallâhu lî wa lakum,
Matur syukran n Terima kasih.
Semoga Bermanfaat ya

Jakarta, 6 Desember 2010
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb

Imam Puji Hartono/IPH(Gus Im)

Kekeliruan Dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah


Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
by : Usep Kertarajasa

Sebentar lagi kita akan memasuki tanggal 1 Muharram 1432 H. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram?
Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram
Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”[1]

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[2]

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah
(1) Dzulqo’dah;
(2) Dzulhijjah;
(3) Muharram; dan
(4) Rajab.  
Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

Di Balik Bulan Haram
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullahmengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[3]

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[4]

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[5]

Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazhjalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.[6]

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”
Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).[8]

Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah
Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?
Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”[9]

Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[10]
Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah
Amalan Pertama: Do’a awal dan akhir tahun
Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.
Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.[11]

Amalan kedua: Puasa awal dan akhir tahun
Sebagian orang ada yang mengkhususkan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”

Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:
  1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
  2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
  3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]
Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Amalan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah
Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau  membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]

Penutup
Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.
Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.”[14]

Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”[15]
Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Artikel -> http://rumaysho.com/
______________
  1. Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 217, Tahqiq: Yasin Muhammad As  Sawas, Dar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H.
  2. HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679
  3. Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir.
  4. Kedua perkataan ini dinukil dari Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali.
  5. HR. Muslim no. 2812
  6. Lihat Tuhfatul  Ahwadzi, Al Mubarakfuri, 3/368, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
  7. Lihat Faidul Qodir, Al Munawi, 2/53, Mawqi’ Ya’sub.
  8. Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H.
  9. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof: 11, 7/278-279, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
  10. Idem
  11. Lihat Majalah Qiblati edisi 4/III.
  12. Hasil penelusuran di http://dorar.net/
  13. HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269
  14. HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi
  15. Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi.

Selasa, 21 September 2010

Luruskan Hati Kami Ya ALLOH....

Ya Allah...
Dengan berkat Nabi-MU
Dengan berkat guru kami
Luruskanlah hati kami
Agar kami ikhlas selalu
Tetapkanlah hati kami
Agar kami tidak tergugat
Dengan ujian yang menimpa


Ya Allah...
Tuhan yang mencipta hati
Bersihkanlah hati kami
Agar mazmumah kami
Tidak merosakkan agama kami
Dan juga tidak merosakkan
Kehidupan orang lain

Wahai Tuhan…
yang membolak-balikkan hati
Kuatkanlah hati kami
Agar keyakinan kami tidak berubah
Supaya kami sentiasa tabah

Tuhan...
ENGKAU rasalah hati kami
Sentiasa bersama-MU
Supaya kami rasa
Ada kawan yang sentiasa melindungi kami
Agar kami tidak merasa sepi
Di dalam hidup kami
Kami merasa malu
Melanggar perintahMU

Ya Allah..
Tuhan yang menjaga hati..
Luruskan hati kami
Agar seluruh hidup kami menjadi baik..
Supaya tidak khianat
atau tidak hasad
dan tidak pendendam
sesama manusia..

Tuhan…
Limpahkanlah ke dalam hati kami
Iman dan nikmat
Hingga kami dapat menyuluh hati
Dan menyuluh kehidupan kami
Supaya lahir batin kami menjadi taat

Tuhan..
kami harap engkau
Memudahkan doa kami ini..


amin ya Robbal alamin

by Fiqah Islam

Salam Ukuwah Sahabat..... ^^

Sahabatku...

Aku mengenal kalian lewat jiwa…

Bukan lewat mata…

Aku menjadikan kalian saudara lewat hati…

Aku tak tahu,..

Seperti apa aku dalam pandangan kalian…

Selayak apa aku dalam ukhuwah kalian…

Tapi yang aku tahu,..

Meski dengan keterbatasanku berbalut kekuranganku…

Aku menulis nama kalian di hatiku…

Sejak awal dan takkan pernah terganti apalagi terhapus…



Sebagai ‘ SAUDARA ’ di hatiku…

Kemarin, hari ini ataupun nanti…

Insya Allah…

Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui…

Kami hanya memiliki satu hati yang mana di dalamnya ada cinta, kasih, dan sayang yang senantiasa bersemi indah…

Ya Muhaimin…

Hati itu kini tengah berjelajah di dunia fana ini…

Dunia indah penuh fatamorgana yang selalu dan selalu menawarkan keindahannya pada hati-hati kami yang sangat lemah…

Ya Rabbi…

Kini datang hati ini menghadap-Mu…

Menghadap Engkau sebagai satu-satunya Dzat yang berhak atasnya…

Yang membolak-balikkannya dan yang menjaga seutuhnya…

Ya Illahi…

Kami titipkan hati ini hanya kepada-Mu…

Untuk Engkau semaikan ia dalam cinta, kasih, dan sayang-Mu…

Untuk Engkau penuhi ia ketaatan demi ketaatan kepada-Mu…

Untuk Engkau sabarkan ia dari segala maksiat kepada-Mu…

Agar selamat ia kembali kepada-Mu…

Agar ridha-Mu bersamanya ketika malaikat maut menjemputnya…

Agar surga-Mu menjadi akhir hidupnya yang kekal…selamanya…seutuhnya...

Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik…

Amin Allahumma Amin…



العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء

" Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. " (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )



Pada kalian saudaraku seiman pilihan Allah..
Pada kalian teman seperjuangan yang selalu berkorban..
Pada kalian seorang muslim/ah yang selalu kuat dan tegar..

Aku kirimkan salam terindah

Aku lafadzkan senandung do'a

Aku hantarkan sebuah semangat

Semoga Allah senantiasa memberi Kekuatan..Ketegaran..Keikhlasan dan Keistiqomahan

dalam setiap hari-hari yang kalian jalani


Saudaraku,..
Jangan hidupkan diri ku dalam pikiran mu
yang akhirnya membuat kalian selalu ingat akan diri ku
Jangan pula kalian hidupkan diri ku dalam hati mu
karena hanya Allah yang berhak ada disana
Tapi Sahabat,..
Hidupkanlah diri ku dalam lantunan do'a-do'a yang kalian panjatkan
Insya Allah Ukhiwah Kita akan kekal selamanya disana
Insya Allah...



♥♥♥ Ana uhibbukum fillah... ♥♥♥

Rabu, 24 Maret 2010

Betapa..... (sebuah renungan)

Betapa besarnya nilai uang kertas
senilai Rp.100.000, apabila dibawa ke masjid
untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau
dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima
belas menit namun betapa singkatnya kalau
kita melihat film.




Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata
ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya
kalau mengobrol atau bergosip dengan teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan
basketball diperpanjang waktunya ekstra namun
kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih
lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar
Al-qur'an betapa mudahnya membaca 100
halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan
dalam pertandingan atau konser namun
lebih senang duduk di bangku paling belakang di
masjid

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi
memuaskan nafsu birahi semata, namun
alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama
30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu
untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya
menyesuaikan waktu dalam sekejap pada
saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang
terkandung di dalam al qur'an; namun
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip
yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa
yang dikatakan oleh koran namun betapa kita
meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga
seandainya tidak perlu untuk percaya atau
berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau
berbuat apa-apa.

Betapa kita dapat menyebarkan seribu
lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya
dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada
mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa
seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya
dan mensharingkannya, serta langsung klik pada
icon DELETE.

Betapa hina & munafiqnya hidup ini tatkala aku membutuhkanMU
aku memohon, setelah Engkau memberi, aku sengaja melupakanMU

Betapa beraninya hambamu ini pada saat berbuat DOSA,
padahal hambamu tau betapa perih SIKSA NERAKA yang tiada henti.
sungguh engkau tidak menyadari bahwa Azab & Mati sudah menunggumu


ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR...ATAUKAH ANDA ?
SENGAJA LUPA DAN ABAIKAN SAJA.????

Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada ALLAH,

Sabtu, 06 Maret 2010

Jalan Ibadah Amat Luas Untukmu, Ukhti


Wahai saudari-saudari muslimahku,
Cobalah kalian nilaikan berapa banyakkah ibadah-ibadah yang kalian boleh lakukan ketika haidh tetapi kalian masih tidak melakukannya. Bukaklah Hisnul Muslim, lihatlah doa-doa dan zikir-zikir yang Nabi Muhammad s.a.w amalkan, nilailah, cerminlah diri kita sudahkah kita amalkan semua zikir-zikir yang ada di dalamnya.
Jika masih belum puas, periksalah pula kitab al-Adzkar oleh Imam an-Nawawi. Lihat berapa banyak zikir-zikir dan doa-doa yang kalian belum amalkan. Jadi tiada alasan untuk kalian wahai-wahai srikandi tercinta untuk berkata bahwa apabila haidh maka kami kurang beribadah berbanding lelaki.

Wahai saudari-saudari seaqidahku,
Dalam bab membaca dan menyentuh al-Quran. Ulama-ulama umat masih berbeda pendapat tentang pengharamannya. Seandainya saudari berpegang kepada pendapat mengharamkannya, masih banyak ibadah yang saudari boleh lakukan bahkan tak akan habis untuk saudari lakukan di satu malam.

Wahai srikandiku,
Apabila kalian uzur, bukan alasan untuk kalian menghabiskan waktu dengan menonton televisi tatkala si suami sedang sholat. Bukanlah ia menjadi alasan untuk saudari menghabiskan hari siang dan malammu dengan tidur dan membiarkan si suami sholat malam sendirian. Bukan juga ia menjadi alasan untuk kalian membiarkan anak-anak terlupa untuk mempelajari al-Quran sendirian.

Wahai srikandiku,
Cuba kalian pikirkan, berapa menitkah untuk melakukan solat yang kalian lakukan apabila kalian berada dalam keadaan suci. Andai kata 5 menit. Kenapa tidak kalian gunakan 5 menit itu untuk membaca doa-doa dan zikir-zikir yang Rasulullah s.a.w amalkan. Jika kalian solat malam selama 1 jam di bulan Ramadhan ketika kalian suci. Kenapa tidak kalian gunakan sejam itu diwaktu kalian uzur untuk kalian membanyakkan istighfar, memohon keampunan daripada Tuhan. Biarkanlah air mata kalian keluar pada malam itu. Biarkan ia menjadi saksi ketundukan kalian kepada Allah yang Maha Pengampun.

Wahai saudariku,
Jika kalian tidak berpuasa, gunakanlah kelebihan kekuatan yang ada pada hari itu untuk membantu kawan-kawan kalian yang berpuasa. Saudari dapat menyediakan hidangan berbuka untuk mereka dan membiarkan mereka beristirahat. Saudari juga boleh membantu mereka melakukan pekerjaan rumah, dan mengurangi pekerjaan mereka. Bukankah ini semua ibadah wahai srikandiku.

Wahai saudariku,
Jika saudari berpegang kepada ulama yang menyatakan haram wanita uzur memasuki masjid, masjid banyak ibadah yang boleh saudari lakukan dirumah. Jika saudari berpegang kepada pendapat membenarkan saudari yang uzur ke masjid, banyak juga yang saudari boleh lakukan di masjid walaupun tidak solat.
Saudari boleh membantu menjaga anak-anak kecil yang sedang bermain tatkala ibu bapak mereka solat. Saudari boleh bacakan kepada mereka kisah-kisah nabi, saudari boleh mengajar mereka membaca Alif, Ba, Ta. Saudari boleh menenangkan mereka tatkala mereka menangis menanti si ibu yang sedang solat. Bukankah ini semua ibadah wahai srikandiku.

Ya ukhti,

Sungguh luas jalan ke syurga yang Allah bentangkan untuk saudari. Janganlah saudari sempitkan jalan yang luas itu. maukah saudari menempuh jalan mudah ke syurga? Bukankah jalan ke syurga dimudahkan untuk mereka yang menuntut ilmu.
Saudari boleh gunakan masa yang biasa saudari lakukan untuk solat dengan membaca buku-buku agama. Saya nasihatkan saudari untuk memulai dengan bahan bacaan agama. Saudari mulailah dengan membaca buku-buku berkaitan dengan akidah. Pilihlah buku yang mudah. Saudari boleh membaca Kitab at-Tauhid karangan Shaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sangat ringkas buku ini dan mudah untuk saudari pahami. Saudari juga boleh membaca buku saudara Hafiz Firdaus Abdullah tentang contoh-contoh hal yang dapat merusak akidah. Selepas itu saudari hendaklah membaca buku tentang bersuci.
Buku kecil Sifat Wudhu Rasulullah amatlah berguna buat saudari. Selepas itu bacalah buku Sifat Solat Nabi untuk saudari memperbaiki mutu solat saudari. Saudari juga tidak boleh melupakan hukum-hukum khas untuk gadis atau wanita seperti saudari. Bacalah buku-buku berkaitan hukum hukum haidh, istihadah dan lain-lain. Saudara boleh membaca buku karangan Shaikh Shalih al-Utsaimin berkaitan hal ini.

Wahai saudariku,

Saya kira jika ingin ditulis semua di sini akan hal-hal yang boleh dilakukan oleh wanita-wanita yang uzur, niscaya akan habislah dakwah pena, akan menjadi berhalaman-halaman tulisan ini. Dan saudari juga mungkin tidak akan mampu melaksanakan semuanya.

Ya ukhti,
Ingatlah Allah Maha Adil. Keuzuran pada wanita bukan penghalang mereka beribadah. Sematlah rasa cinta pada Tuhan, yakinlah pada keadilanNya, titiskanlah air mata memohon keampunanNya.
Wallahu’alam.

sumber iluvislam
Oleh : http://blog.ardi85.web.id

Surat Putus Dari Ukhti (Renungkan!)


Assalamu’alaikum

Ba’da tahmid dan shalawat Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbaharui taubat.

Akhi…

rasanya aq telah menemukan kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang tak pernah mengantuk & tak pernah tidur.

Yang siap terus menerus memperhatikan & mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap memberikan apapun yang ku pinta. Ia yg bertahta, berkuasa dan memiliki segalanya. Maaf akhi , tapi menurutku kau bukan apa-apa di banding Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil dihadapan-Nya. Ia berbuat apa saja sekehendak-Nya kepadamu. Dan akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuat-Nya cemburu. Aku takut hubungan kita selama ini membuat-Nya murka. Padahal Ia Maha Kuat Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras siksa-Nya.

Akhi,,,

belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan oleh-Nya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang pernah kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aq harus membonceng motormu. marah karena lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa marah….. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau memaafkan & mengampuni kita berdua. Akhi, Ia Maha Pengampun Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Tobat, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana. Akhi, jangan marah ya…. Aq sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku pada-Nya. Tidak pada selain-Nya. Tapi tidak cuma aku, akhi… kaupun bisa menjadi kekasih-Nya, kekasih yang amat dicintai & dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-larangan-Nya, termasuk dalam soal hubungan kita ini. Insya Allah, Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri diri hal-hal yang dibenci-Nya. kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita sholehah. Ya.. Wanita sholehah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari Ridho Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakan aq, akhi…

Akhi,

aq akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aq akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya.. saudara dijalan Allah Akhi ..Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang mu’min di dunia. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya lalu beliau pun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, & lebih sejuk dari krim beku. Maaf akhi, tak baik rasanya aq berlama-lama menulis surat ini. Aq takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan kita yang belum Halal. Insya Allah…

Subhanallah, Maha suci Allah yang telah menuntun penaku… Wassalamu’alaikum …

* From : Salim A. Fillah (Nikmatnya Pacaran setelah menikah)

7 Keajaiban Dunia

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari ‘Tujuh Keajaiban Dunia’.
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi sbb :

1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab, ‘Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya ‘keajaiban itu’. Sang guru berkata,’Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya’.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, ‘Saya pikir, ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ itu adalah :

1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya ‘keajaiban’. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai ‘biasa’.

“Banyak diantara kita yang melupakan nikmat dan kebesaran yang telah Allah tunjukkan pada kita. Namun yang lebih sering kita kagumi adalah kemewahan dunia ‘ciptaan’ manusia. “

Rabu, 24 Februari 2010

Malu Adalah Iman

Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki.

Malu adalah Iman

Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut hilang.” (HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)


Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”
Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.” (HR: Bukhari)


Cantik

Mengapa Allah tidak menciptakan seluruh wanita cantik sekali ?

Bukankah ia mampu berbuat seperti itu ? Benar.

Hendaklah kita ingat bahwa ini adalah dunia, bukan akhirat yang serba sempurna. Ini adalah tempat seluruh manusia dan jin diuji, dan bukan tempat kita untuk bersenang-senang atau menikmati segala sesuatu.

Saudariku,
Banyak manusia merasa bangga memiliki wajah yang tampan atau cantik, bodi yang aduhai serta kulit yang mulus. Dia merasa kehebatan-kehebatan itu adalah milik dirinya dan ia bangga di hadapan manusia.

Saudariku,
Apakah kita punya andil dalam menentukan jumlah mata kita? Letak hidung kita? Apakah manusia ikut andil dalam membentuk wajah mereka? kita semua ge-er dengan tubuh kita, padahal setitikpun kita tidak punya andil didalamnya.

Renungkanlah Saudariku,
Bahwa hidung mancung dan wajahmu yang cantik itu sama sekali belum merupakan tanda bahwa Allah memuliakanmu. Demikian pula mereka yang tidak cantik. Itu bukan pertanda bahwa Allah menghinakan mereka. Semua itu adalah ujian dari Allah untuk menguji siapa diantara hambaNya yang paling baik dalam mensyukuri nikmatNya, serta paling takwa dan sabar dalam menjalani hidup di dunia ini. Karena itu ingatlah selalu bahwa semua itu semata-mata adalah milikNya, dan kita sedikitpun tidak memiliki apa-apa, kecuali sekedar titipan.

Wajah yang menarik tidaklah semata-mata merupakan nikmat akan tetapi juga penyulut api fitnah.

Renungkanlah saudariku,
Siapa dengan kecantikannya itu akan menjerumuskan dirinya atau orang lain ke dalam dosa maka kecantikannyaitu tiada lain adalah musibah (naudzubilla), dan siapa dengan kecantikannya itu meraih ridha Allah SWT maka kecantkannya itua dalah suatu nikmat yang besar (semoga kita bagian darinya.amin).


Kamis, 18 Februari 2010

Cinta.... cinta... cinta....

Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.

Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).

Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.

Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?

Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.

Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.

Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.

Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?

Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)

Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.

Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?

Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره

“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:

كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ

Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).

Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102

“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)

Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain beliau bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.

“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.

Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…

Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.

***

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com

Footnote:

1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”


Syair Renungan: "Teruntuk Saudara Seimanku…"

1. Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia…. Allah tau betapa kau telah berjerih payah.

2. Jika kau telah menangis sekian lama dan hatimu terasa perih… Allah telah menghitung dentingan air matamu.

3. Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menanti sesuatu dan waktu serasa berlalu… Allah sedang menanti bersamamu.

4. Jika kau MERASA SENDIRIAN dan Saudara-Saudaramu SIBUK dengan banyak urusan… Allah senantiasa berada di dekatmu.

5. Ketika kau berpikir, kau sudah mencoba segalanya dan tak tau harus berbuat apa lagi… Allah selalu punya jawabnya.

6. Ketika segala sesuatu tidak masuk akal dan kau merasa sangat tertekan… Allah mampu menenangkanmu.

7. Jika kau merasa ada jejak-jejak harapan terbesit di hatimu… Allah sedang berbisik kepadamu.

8. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kamu merasa ingin mengucap syukur… Allah telah memberkahimu.

9. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mempunyai mimpi untuk digenapi… Allah telah membuka dan memanggilmu dengan namamu.

10. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan engkau dipenuhi ketakjuban… Allah telah tersenyum padamu.

Ingatlah Saudaraku…

Dimanapun engkau, kemanapun engkau dan kapanpun engkau menghadap… Allah TAU !!!

Mari mendekat pada Alloh lebih dekat. Agar tunduk kala yang lain angkuh. Agar teguh kala yang lain runtuh. Agar tegar kala yang lain terlempar. Rapatkan Shaf!, Bangkitkan Ghiroh-mu (semangat) demi Dien (Agama) kita Islam yang mulia serta jangan futur dan terlena dalam dunia yang penuh badai fitnah dan syahwat serta Kemusyrikan dan Kemaksiatan juga penuh dengan Fatamorgana ini, marilah kita mendekatkan diri kepada Allah Rabb kita yang menciptakan kita dan mematikan kita. ALLAHU’ AKBAR. Mari kita bersama berlomba-lomba meraih Shirathul Mustaqiem (Jalan yang lurus) yang membawa kita kepada jalan Allah Ta’ala jangan melalui jalan yang tidak diridhai Allah Azza Wa Jalla karena akan mendapatkan adzab-Nya yang sangat pedih.

Wallohu’ Ta’ala ’Alam Bish Showab

Wahai Hawa

Wahai Hawa….
Kenapa..
engkau tak menghargai nikmat Iman dan Islam itu ?
Kenapa..
mesti engkau kaku dalam mentaati ajaran-Nya ?
kenapa..
masih segan mengamalkan isi kandungan-nya ?
dan kenapa..
masih was-was dalam mematuhi perintah-Nya ?

Wahai Hawa….
Sadarlah..
Tangan yang mengoncang buaian..
boleh mengoncang dunia,
kau boleh mengoncang dunia
dengan melahirkan manusia yang hebat!!
yakni yang Shaleh dan Shalehah,
kau boleh menggegar dunia
dengan menjadi isteri yang taat
serta memberi dorongan dan
sokongan pada suami yang sejati
dalam menegakkan Islam di mata dunia.
Tapi hawa..
Jangan sesekali kau cuba menggoncang keimanan
lelaki dengan lembut tuturmu, dengan ayu wajahmu,
dengan lengguk tubuhmu.
Jangan kau menghentak-hentak kakimu untuk
menyatakan kehadiranmu.
Jangan Hawa …
Jangan sesekali cuba menarik perhatian kaum Adam yang bukan
Suamimu..kerana aku khuatir ia mengundang
kemurkaan dan kebencian ALLAH.
BAHAYA! Ia bisa memberi kegembiraan pada syaitan..
kerana wanita ialah jala syaitan,
Alat yang di eksploitasikan oleh syaitan dalam menyesatkan kaum Adam.

Hawa,
Andai engkau masih remaja..
Jadilah anak yang Shalehah Buat kedua ibu bapamu,
Andai engkau sudah bersuami..
Jadilah isteri yang meringankan beban suamimu,
Andai engkau seorang ibu..
Didiklah anakmu sehingga ia tak gentar memperjuangkan Ad-din ALLAH.

Hawa,
Andai engkau belum menikah,
Jangan kau risau akan jodohmu,
ingatlah hawa janji Rabb kita,
wanita yang baik adalah untuk
lelaki yang baik.
Jangan menggadaikan maruahmu..
hanya semata-mata kerana seorang lelaki,
jangan memakai pakaian yang menampakkan lekuk tubuhmu
hanya untuk menarik perhatian dan memikat kaum lelaki,
kerana kau bukan memancing hatinya..
tapi merangsang nafsunya.

Wahai Hawa…
Jangan sesekali dikau mulakan pertemuan dengan lelaki yang bukan muhrim kerana aku kuatir dari mata turun ke hati, dari senyuman membawa ke salam, dari salam cenderung kepada pertemuan dan dari pertemuaan… takut lahirnya nafsu kejahatan yang menguasai diri.

Hawa …
Lelaki yang Baik tidak melihat paras rupa,
Lelaki yang Shaleh tidak memilih wanita melalui
keseksiannya,
Lelaki yang Wara’ tidak menilai wanita melalui
keayuaannya,
kemanjaannya serta kemampuannya
menggoncang iman mereka.
Tetapi hawa …
Lelaki yang Baik akan menilai wanita melalui akhlaknya,
peribadinya dan ad-dinnya…
Lelaki yang Shaleh tidak menginginkan
sebuah pertemuan dengan wanita yang bukan muhrimnya kerana dia takut menberi kesempatan pada syaitan untuk mengodanya.
Lelaki yang Wara’ juga tak mahu bermain cinta sebabnya dia tahu apa matlamat dalam sebuah hubungan antara lelaki dan wanita yakni perkahwinan.
Oleh itu Hawa …
Jagalah pandanganmu,
Jagalah pakaianmu,
Jagalah akhlakmu,
Kuatkan pendirianmu…
Andai kata ditakdirkan tiada cinta dari Adam untukmu,
Cukuplah hanya cinta ALLAH menyinari dan
memenuhi jiwamu,
biarlah hanya cinta kedua ibu bapamu
yang memberi hangatan kebahagiaan buat dirimu, cukuplah sekadar cinta adik beradik serta keluarga yang akan membahagiakan dirimu.

Hawa …
Cintailah ALLAH..
Dikala susah dan senang kerana kau akan memperolehi cinta dari insan yang juga menyintai ALLAH.
Cintailah kedua ibu bapamu, kerana kau akan perolehi keridhaan ALLAH. TA”ALAA
Cintailah keluargamu.. kerana tiada cinta selain cinta keluarga.

Hawa …
Ingatanku yang terakhir, biarlah tangan yang menggoncang buaian ini dapat menggoncang dunia dalam menggapai keridhaan ILAHI.
Jangan sesekali.. tangan ini juga yang menggoncang keimanan kaum Adam, kerana aku sukar menerimanya dan aku benci mendengarnya.

***
Pesan cinta dari Ukhti Aisyatulhumaira