Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

::: Jangan Mengeluh , Kita Selalu Bertanya dan Al-Quran Jawabannya :

JANGAN MENGELUH
Kita selalu Bertanya dan Al-Quran jawabannya

KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," ("I am full of faith to Allah") sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta."
-Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA : KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB
"Bisa jadi kamu membenci sesua tu padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."


- Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?


QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
- Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA : KENAPA ADA RASA FRUST?
QURAN MENJAWAB
"Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling tinggi darjatnya, jika kamu org2 yg beriman."
- Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA : BAGAIMANA CARA MENGHADAPI MASALAH?
QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah (be fearfull of Allah The Almighty) kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)."

KITA BERTANYA : BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk"
- Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari org2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk mereka... ?
- Surah At-Taubah ayat 111

KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
- Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA : AKU TIDAK KUAT MENGHADAPINYA
QURAN MENJAWAB
"... ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir." - Surah Yusuf ayat 12
-Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan Surat Al – Insyirah (94):5

Jumat, 15 Juli 2011

::: Benteng Dunia :::

Seorang pertapa turun dari gunung berkelana melewati beberapa desa. di desa pertama dia melihat rumah kosong yang penuh dengan emas. Kemudian iblis menggodanya,"Ayo curi! Itulah yang akan membuatmu kaya!" Tapi si petapa menjawab ,"Tidak sebab rumahku ssangat dekat!"

Didesa kedua , petapa itu melihat seorang wanita penghibur sedang duduk diatas sebuah batu sambil tersenyum menggoda. Iblis lalu membujuk, "Ayo dekati! Itulah yang akan menyenangkan tubuhmu!"
Tapi, sipetapa menjawab, "Tidak sebab rumahku sangat dekat!"

Didesa ketiga , petapa itu melihat perselisihan antara dua kelompok.
Kemudian petapa itu diminta untuk menjadi saksi atas mereka.
Iblis kembali menggodanya, "Ayo dusta! Tidak ada kerugian bagimu kalaupun engkau berdusta atas mereka!"
Tapi si petapa menjawab, "Tidak, sebab rumahku sudah dekat!"

Begitu seterusnya sampai desa keseratus hingga membuat iblis heran, katanya, "Engkau selalu menolak godaanku dan mengatakan kalau rumahmu sudah dekat. Tapi aku sudah mengikutimu sampai desa yang keseratus dan engkau masih juga berkelana. Sesungguhnya dimana rumahmu?"
Lalu petapa itu menjawab, "Ketahuilah, rumahku adalah kubur dan gerbangnya adalah kematian. Aku katakan dia sangat dekat karena aaaku tidak pernah tahu kapan aku akan masuk kedalam rumahku itu. Boleh jadi saat aku berbuat dosa, kematian datang menjemput. Oleh karena itu, aku selalu ingat pada kematian dan takut untuk mengikuti godaanmu."


Iman Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya, "Apakah yang paling dekat dalam hidup ini? Ternyata jawabnya adalah kematian karena kita tidak pernah tahu kapan kematian itu datang.
Tidak ada yang bisa menjamin kalau diri kita masih hidup besok pagi, atau bahkan 5 menit kedepan.
Kematian datangnya tiba-tiba tanpa permisi. Tidak sedikit orang meninggal diatas perut wanita penghibur saat sedang berzina , meninggal saat minum minuman keras dan saat mengkonsumsi narkoba.
Naudzubillahi minzalik.

Rasulullah SAW bersabda, "Orang paling cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian. "mengapa?"
Karena ingat pada kematian inilah yang akan membuat seseorang takut melakukan perbuatan dosa.
Inilah benteng didunia dari berbuat dosa karena takut jika kematian ternyata datang menjemput dirinya saat dia sedang berbuat dosa.
Seperti cerita petapa tersebut yang enggan mengikuti godaan iblis karena dia tahu bahwa malaikat izrail (malaikat maut) senantiasa mengintai dirinya, diapun senantiasa menjaga dirinya dari berbuat dosa.

(Hikmah dibalik fenomena kehidupan)
*EZ/26/04/09*

by : Elvi Zuhailina

::: Alif :::

Seorang kakek berusia 70 tahun baru saja pulang dari tanah suci melaksanakan ibadah haji.
Rupanya iman si kakek begitu tergugah dengan kekhusyukan ibadah ditanah suci.
Awalnya selama ini ia tidak bisa membaca AlQuran dan malas untuk belajar.
Sepulang dari tanah suci, kakek bertekad untuk belajar membaca Alquran kepada seorang ustaz disebuah mesjid. Namun, karena usianya , kakek mengalamai kesulitan dalam menghafal huruf-huruf hijaiyah.
Baru saja beralih ke huruf Ba, huruf alif sudah lupa bagaimana bentuknya.

Diulang lagi ke huruf alif huruf Ba udah lupa lagi.

Akhirnya sang ustaz yang hampir putus asa berkata, "Kakek pokoknya ingat saja, Alif itu lurus berdiri tegak. Jadi kalau kakek menemukan bentuk lurus berdiri tegak itu alif.
"Ingat ya kek, lurus berdiri tegak itu alif".
"lurus berdiri tegak , alif. Ingat ya kek, jangan lupa... lurus berdiri tegak!"

Kakek yang bersemangat ini manggut-manggut tanda mengerti.
Sambil melangkah pulang, kakek dengan khusuk terus menghafal dalam hatinya.

"Lurus berdiri tegak... Alif...lurus berdiri tegak... Alif.... lurus berdiri tegak... Aduh....!!!"
Kakek tiba-tiba mengaduh. Rupanya karena tengah konsentrasi, kakek ini tidak melihat ada tiang listrik didepannya yang lurus berdiri tegak hingga lansung ditabrak dan membuatnya kaget.
Dalam kesakitan sambil memegang kepalanya yang benjol kakek inipun beristigfar.
"Ya Allah , siapa ini yang masang Alif sembarangan?!".....
.......................

Saudaraku.... semangat belajar hendaklah dimulai sejak kecil. Karena jika usia sudah menginjak tua, otak akan menurun kemampuannya hingga sulit untuk mengingat.
Bahkan boleh jadi, belajar diusia tua ibarat melukis diatas air, sungguh pekerjaan yang sangat berat.
Apalagi Rasulullah SAW bersabda ;" Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya. "Oleh karena itu, mulailah kita mempelajari Al-quran sejak dini. Jangan ditunda-tunda lagi.
Tumbuhkan semangat belajar terhadap apapun juga yang bermanfaat karena jika memiliki ilmu, ilmu itulah yang akan menjaga kita...


(Hikmah dibalik fenomena kehidupan)
*EZ/24/04/09*

by : Elvi Zuhailina

Rabu, 27 April 2011

::: Surga Allah Untukmu :::

Dadaku menjadi sesak karena kesusahan sebuah peristiwa
Namun mungkin saja kesusahan itu akan menjadi kebaikan
Banyak hari yang diawali oleh kesuntukan
Dan pada akhirnya menjadi keindahan dan ketentraman
Tak pernah aku sempit karena kesuntukan
Kecuali akan datang sendiri jalan keluar untukku

Mungkin saja cobaan yang menimpamu
Akan lebih baik ujungnya
Tidak ada pilihan bagiku kiranya
Selain kudatangi pintu MU, Tuhan
Tak rubuh tak ada yang patah
Aku pasrah menyerah....


Amboi, betapakah
Harus kulafalkan keindahanmu
Ketinggian sungaimu yang serasi dengan intan
Udaranya yang tak pernah kuhirup sesejuk ini
Mata mereka akan menyorot
Ketika dilihatnya sinar-sinar surya
Seperti mata rusa yang merah, seperti mata elang yang tajam

Aku ingin mencintaimu dengan indah
Seperti indahnya taman surga
Aku ingin mencintaimu dengan lembut
Selembut sutra dan tetesan airmata
Aku ingin melihatmu dengan tenang
Setenang mentari dan sinar pagi
Aku masih menyayangimu
Seperti sayang nya engkau terhadapku

Ingatlah ....
Kesedihan dan tangisan telah membuat kita lemah!
Tangisan telah membuatmu gelisah
Kesedihan telah membuatmu gundah
Bangkitlah...
Karena ada saat-saat terindah dalam hidup kita

Tersenyumlah ....
Karena senyuman akan membuatmu indah
Tersenyumlah..
Karena senyuman akan menciptakan suasana yang cerah
Berhentilah dari kesedihan
Berhentilah dari tangisan, kegundahan dan kecemasan
Berhentilah dari penyesalan masa lalu
Berhentilah dari rasa ketakutan dan bayang-bayang kosong
Mari tersenyum
Dan mudah-mudahan Allah melapangkan hati kita
Mencerahkan jiwa kita
Serta menanamkan kebahagiaan dan ketenangan dalam batin kita

Betapapun kulukiskan keagunganMU dengan deretan huruf
KekudusanMU tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap yang Maha Agung
Sedang semua makna akan lebur
Ditengah keagungan MU wahai Rabb-ku
Allah lah sinar penerang kegelapan
Petunjuk jalan dari kesesatan
Obor bagi sebuah kemenangan
Sedang Cahaya NYA meliputi langit dan bumi

Diatas tanah yang sepetak ini ,mari kita bangun sebuah rumah sederhana saja...
Cukup pintunya terbuat dari emas, beratap cukim yang lantainya dari pualam...
Tak usah megah-megah...
Biarkan dindingnya tegak dari intan dan berlian
Bahkan kalau perlu kita pasang gentingnya dari ratna mutu manikam....

Surga Allah untukmu Sahabat..!
Mari kita raih kemenangan.... InsyaAllah

~ Violet Senja ~

Minggu, 20 Februari 2011

APAKAH ALLAH MENCIPTAKAN KEJAHATAN ???

Suatu hari, Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Lalu Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".

"Tentu saja," jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda SALAH, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu pun terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Mari sahabat, jadilah manusia yang positif dan Raihlah kasih sayang Allah untuk hidup lebih berkah. Tetaplah bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki. Allah selalu bersama kita, Belajarlah bersandar pada-Nya.

Anonymous

Jumat, 14 Januari 2011

Kisah si Mantel Merah dan Biru

SEBUAH KISAH DARI AFRIKA
Alkisah ada dua orang sahabat sejak kecil dan mereka bertekad untuk tetap menjaga persahabatan mereka selamanya. Ketika mereka tumbuh dewasa dan menikah, mereka membangun rumah-rumah mereka saling berhadapan hanya sebuah jalan kecil yang membentuk perbatasan antara ladang-ladang mereka.

Suatu hari, seorang penipu dari desa memutuskan untuk memainkan triknya.
Ia mengenakan mantel dari dua warna yang dibagi menjadi dua. Jadi, satu sisi mantel merah dan sisi lain biru…

Sang penipu mengenakan mantel ini dan berjalan sepanjang jalan sempit di antara rumah-rumah kedua sahabat tersebut. Mereka sedang bekerja di ladang mereka masing-masing. Sang penipu sengaja membuat suara yang cukup berisik untuk memastikan bahwa masing-masing dari mereka bisa mendengar dan melihat dia lewat.

Ketika sore hari seorang teman berkata kepada yang lain,

"Bukankah itu pria yang tadi siang mengenakan mantel merah ?"

"Bukan", jawab si B.

"Itu adalah mantel biru. Saya melihatnya dengan jelas ketika ia berjalan di antara kita !

" Kata si A, tidak, tadi dia mengenakan mantel merah."

" Kau salah ! " Si B berkata, "Aku melihatnya juga, dan warnanya biru."

"Aku tahu apa yang kulihat ! " Si B bersikeras.

"Mantel merah ! , jawab si A dengan penuh kemarahan…Kau tidak tahu apa-apa,"

" Tidak, itu mantel biru !

" Mereka terus berdebat tentang hal itu berulang-ulang, menghina satu sama lain dan akhirnya mereka mulai memukul dan menyakiti satu sama lain dan berguling-guling di atas tanah.

Tak lama berselang sang penipu kembali melewati kedua sahabat yang sedang bertengkar, saling memukul dan menendang satu sama lain dan berteriak-teriak, "Persahabatan kita telah berakhir ! "

Sang penipu berjalan langsung di depan mereka dan menunjukkan kepada mereka mantelnya. Dia tertawa terbahak-bahak melihat mereka berkelahi.

Kedua sahabat melihat bahwa mantel tersebut berwarna merah di satu sisi dan biru di sisi lain dan menyadari bahwa mereka telah dipermainkan oleh sang penipu. Mereka kemudian berkata, "Kami telah hidup berdampingan seperti saudara sepanjang hidup kami dan Kau telah memulai sebuah peperangan di antara kami."

"Jangan salahkan aku untuk perkelahian kalian," kata sang penipu.
"Bukan saya yang membuat kalian bertengkar.

Kalian berdua sama-sama benar dan sama-sama salah sebab kalian hanya memandang sesuatu dari satu sisi, dari sudut pandangnya sendiri dan langsung merasa anda yang paling benar. Kalian tidak berusaha mempertimbangkan untuk melihatnya dari sudut pandang yang lain."

Itulah sepenggal kisah yang dapat kita petik sebuah hikmah yang terkandung di dalamnya…

Menurut saya pribadi, itulah salah satu sifat dan kelemahan manusia… merasa dirinya selalu yang paling benar tanpa berusaha untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain…dan terkadang mereka memaksakan kehendak dan pandangan mereka tanpa berusaha untuk bersikap lebih bijak.

Sedikit saja ada perbedaan dapat memecah satu hubungan baik yang telah terjalin selama ini..

Padahal yang namanya perbedaan itu adalah suatu yang biasa dalam hidup ini bila diterima dengan kedewasaan. Tidak mungkin ada manusia yang benar-benar sama/mirip, dan hal itu telah Allah SWT buktikan pada anak kembar… Walaupun mereka kembar identik, mereka tidak pernah sama 100%.

Seharusnya perbedaan itu dapat menjadi suatu bentuk kesempurnaan dan dapat melengkapi kekurangan satu sama lainnya yang ada pada diri masing-masing bila perbedaan diterima dengan keikhlasan dan kelapangan jiwa, tanpa diliputi oleh rasa iri dan keegoisan…

Kita seharusnya sadar bhw kita merupakan makhluk yang didesain oleh Allah SWT dengan sempurna, kita memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan.

Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal kita bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati kita bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani kita bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat kita dinamis mencari dan dengan hawa nafsu kita menjadi tertantang untuk mampu mengendalikan diri.

Be Wise and Emotionally Intelligent ! And always Have A Positive Thinking!

Semoga Allah selalu memberi kita taufik dan hidayah-Nya dalam hidup ini sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang tertipu dan terperdaya.
~ by : Salim Alatas~

Minggu, 02 Januari 2011

BUKU CATATAN AMAL



Maliki yaumid din, dialah pemilik hari pembalasan dan kiamat.

Hari kiamat adalah hari ketika setiap orang akan mengetahui catatan amal perbuatannya.
Di hari itu yang berlaku hanyalah hukum dan perintah Allah.
Meskipun Allah SWT adalah pemilik hakiki segala sesuatu disemua zaman, tetapi kepemilikan-Nya di hari kiamat dan hari kebangkitan memiliki manifestasi berbeda.

Salah seorang Shaleh berkata kepada anaknya, "Ayah ada perlu denganmu".

Si anak berkata, "Saya akan mematuhi apa saja yang ayah katakan"
Si Ayah berkata, "Ketika kau kembali kerumah, ceritakanlah kepadaku apa saja yang kau katakan dan lakukan, mulai ketika kau keluar rumah."
Si Anak menerimanya. Malam hari ketika si anak kembali kerumah, dia mulai menceritakan semua yang telah dilakukan dan diucapkannya.
Ketika sampai kepada ucapan-ucapan kotor yang dikatakannya serta perbuatan-perbuatan tak layak yang dikerjakannya, dia merasa malu menuturkannya dihadapan sang ayah."

Dia mencium tangan Ayahnya dan menangis, kemudian berkata, "Ayah, maaf, jangan memintaku untuk mengatakan itu; Apapun yang ayah kehendaki akan kupatuhi selain dari itu karena aku malu padamu."

Si Ayah berkata, "Putraku, engkau malu padaku yang hanya seorang hamba yang lemah tak berdaya, lantas bagaimana kelak dihari kiamat, dihadapan pemilik hari pembalasan dan kiamat, dihadapan Tuhan seru sekalian alam, Apa yang akan kau lakukan ketika buku catatan amal perbuatanmu diberikan padamu ".
Akhirnya sianak itu bertobat dan menjadi orang yang Shaleh.
***
Kalaupun dosa melampaui batas
Biarlah ampunanmu menghapus segalanya
Akulah hamba yang sakit dan perlu disembuhkan
Tuhan... sembuhkan aku dengan kebesaran hati_Mu
Aku takut mati dan sendiri dalam kubur
Carikan untukku jalan keluar dari kesempitannya
Tiada bekal apapun yang bisa kubawa keakhirat
Ya Rab... , ramaikanlah rumahku itu
Ya Allah... , apa yang harus kuperbuat di Mahsyar
Kasihanilah aku di hari pembalasan kelak...

(Mukaddam)
( Ali Mir Khalaf Zadeh , "Kisah surat Alfatihah)
*EZ*

Sabtu, 01 Januari 2011

Dosa dan Paku yang tertancap di Tiang


Dikisahkan pada suatu ketika, ada seorang bapak yang mempunyai anak laki-laki semata wayang, katakanlah bernama Rudi. Rudi kini sudah tumbuh dewasa, namun ia sering melalaikan perintah Agama. Meskipun telah berbuih nasehat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Rudi shalat, puasa dan melaksanakan amal kebaikan lainnya, namun dia tetap meninggalkannya. Malahan dosa dan maksiat yang menjadi kebiasaannya. 

Berjudi, mabuk-mabukan, dan seribu macam jenis kemaksiatan menjadi kebanggaan dan kebiasaannya. Suatu hari bapak tadi memanggil Rudi, anaknya dan berkata, “Anakku, kamu benar-benar telah lalai dan berbuat banyak kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku di tiang di Ruangan tengah rumah kita itu, setiap kali kamu berbuat dosa dan maksiat,jujurlah kepadaku dan tolong ceritakan, maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Namun sebaliknya, setiap kali kamu berbuat satu kebaikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini.”

Setiap malam Rudi menulis di atas kertas dan ditaruh di meja Bapaknya setiap dosa dan maksiat yang ia lakukan. Bapaknya kemudian melakukan seperti apa yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang rumahnya tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Namun kadang-kadang ia mencabut beberapa paku, sesuai kebaikan yang anaknya telah lakukan. Akan tetapi kalau dihitung-hitung, jarang sekali dia mencabut paku dari tiang.

Hari berganti, beberapa bulan berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun belalu.Tiang yang berdiri megah di ruangan tengah rumah tersebut kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas.

Setelah melihat keadaan tiang yang bersusun dengan paku-paku yang merusak pandangan mata, kemudian timbulah rasa malu pada diri Rudi. Maka dia pun berjanji untuk memperbaiki dirinya sejak saat itu.

Mulai detik itu, Rudi berjanji akan meninggalkan dosa dan maksiat dan akan mulai melaksanakan shalat. Hari itu saja lima batang paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya shalat lagi ditambah dengan shalat- shalat sunat. Lebih banyak lagi paku tercabut dari tiangnya.

Hari berikutnya Rudi tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Ia pun mulai rajin bersedekah, dan yang terpenting ia mulai mematuhi perintah orang tuanya. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Rudi lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggal, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Kemudian ayahnyapun memanggil anaknya dan berkata: “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabut sekarang. Tidakkah kamu gembira?”

Rudi merenung pada tiang tersebut, tapi dibalik rasa gembira sebagai yang diduga oleh ayahnya, dia mula menangis terisak-isak.

“Kenapa anakku?” tanya ayahnya,
“ku sangka engkau gembira karena semua paku-paku telah tiada.”

Dalam nada yang sayu Rudi mengeluh, “Wahai ayahku, sungguh benar kata bapak, paku-paku itu sudah tidak ada, tapi aku sedih sebab bekas-bekas lubang dari paku itu tetap ada di tiang, bersama dengan karatnya. Tidak pernah bisa hilang”

"Hiiks...hiiks", kali ini Rudi menangis dengan sungguh-sungguh
-----------------------------------------------------

Sahabatku rahimakumullah,
Kisah yang sangat sarat lambang ini saya bagikan kepada anda untuk kita sama-sama renungi makna di balik kisah ini sebagai berikut:

Tanpa kita sadari, sejak muda kita sudah tancapkan paku-paku di tiang rumah kita sendiri dan kini paku-paku tersebut pasti sudah semakin banyak, seiring dengan tambahnya umur kita. Tak ada lagi waktu yang lebih tepat untuk mencabut paku-paku dari tiang rumah kita kita itu selain lakukanlah sekarang juga. Esok hari, paku-paku itu akan semakin banyak sementara tenaga kita akan semakin lemah untuk mencabutinya. Boleh jadi tidak seperti yang dilakukan Rudi yang berhasil mencabut habis pakunya, kita barangkali tidak ada daya lagi untuk mencabutnya hingga habis.

Sahabatku, sesungguhnya jumlah paku yang kita tancapkan bisa kita kurangi sejak dini bila kita sadar tentang kehadirannya. Paku-paku tersebut banyak sekali, yang kita tancapkan, diantaranya yang paling nyata di antaranya ialah paku akibat meninggalkan perintah-perintahNya seperti shalat, puasa dan zakat. Lebih parah lagi jika kita tambah dengan dosa serta maksiat yang menambah paku-paku itu seperti : minum-minuman keras, zina, mencuri atau jika kita suka menyakiti hati teman kita, suka mengumbar marah, hasad (dengki), ujub (sombong), riya’, ghibah, buruk lisan dan lain-lain.

Bilamana mulai timbul tanda-tanda paku-paku akan kita tancapkan di tiang kita, maka wajiblah kita berusaha sungguh-sungguh untuk mengurungkannya atau jika sudah terlanjur mencabutnya dengan segera melalui Taubat Nasuha dan Istighfar serta memohon maaf kepada yang menjadi korban akibat dosa dan maksiat yang kita lakukan. Jika kita terlanjur korupsi, maka tidak cukup hanya dengan taubat nasuha dan istighfar, tapi kita juga wajib mengembalikannya hasil korupsi yang telah kita curi itu dan meminta maaf.

Jangan pernah ditunda mencabutnya sampai esok hari. Jangan tunda segera mencabut paku-paku di tiang kita sampai banyak sementara kita terlalu tua dan tidak cukup waktu untuk mencabutnya kembali.

Sahabatku, tanpa kita sadari, dengan dosa-dosa dan kemaksiatan yang berulang kali dilakukan hingga menjadi suatu kebiasaan, boleh jadi pada saat yang sama kita bisa mengatasinya, atau secara berangsur-angsur menghapuskannya. Akan tetapi ingatlah bahawa bekas-bekasnya akan abadi.

Dari itu, hendaklah kita menyadari diri ini untuk setiap kita akan mulai melakukan suatu kemungkaran, dosa dan maksiat, maka bersegeralah untuk membatalkannya. Sebab setiap kali kita bergelimang dalam dosa dan kemungkaran, maka kita telah menanamkan paku-paku lagi yang akan meninggalkan bekas pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut di kemudian hari. Apalagi kalau kita biarkan paku berkarat dalam diri ini lambat untuk mencabutnya. Lebih parah lagi kalau dibiarkan berkarat dan tidak pernah kita cabut, hingga Allah mendahului dengan mencabut terlebih dahulu nyawa kita. Naudzubillah min dzalik.

Wallahualam bissawab
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat

By : Imam P Hartono

Rabu, 29 Desember 2010

~ *** Kisah seuntai kalung ***~


Diceritakan seorang pemuda ahli ibadah yang tengah kehabisan bekal dan kelaparan di kota Mekah. Tubuhnya limbung berjalan di sebuah gang di kota tersebut, tiba-tiba  matanya tertuju kepada seuntai kalung emas yang nampak sangat mahal, di ambilnya kalung tersebut dan disimpannya  dalam saku bajunya lalu ia pergi ke Masjidil Haram .
Tiba-tiba  seorang lelaki paruh baya mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan seuntai kalung emas, dan ciri-ciri  kalung tersebut sama persis dengan kalung yang ditemukan pemuda tadi.
Sahut pemuda: "aku yang menemukan kalung anda dan ini aku kembalikan." kalungpun di berikan oleh laki-laki  yang merasa memiliki kemudian ia berlalu begitu  saja tanpa sepatah kata pun apalagi untuk berharap imbalan sepeser uang dirham. Diantara rasa laparnya si pemuda itu berdoa:" Ya Rabb, aku biarkan semua itu untuk Mu, maka gantikanlah untukku sesuatu yg lbh baik darimu."

Alkisah
kemudian ia pergi kelaut menumpang sebuah perahu barang, ditengah perjalanan tiba-tiba  badai menerjang kapal yang ditumpanginya hingga kapal tersebut karam. Tak satupun penumpang yang selamat kecuali dia yang terkatung-katung diatas air dengan sebatang pohon terombang- ambing hingga terdampar di sebuah pulau. Dengan tertatih ia berjalan menuju daratan, didapatinya sebuah mesjid tua dan orang-orang  tengah melaksanakan shalat, dia pun ikut shalat.

Di dalam mesjid usai shalat ia menemukan lembaran-lembaran  kertas yang ternyata Alquran. Salah seorang jemaah berkata: "apakah anda bisa membaca Alquran? "Ya jawab pemuda, "bisakah kiranya tuan mengajarkan kepada anak-anak  kami membaca, dan menulis? Dan kami akan membayar anda." Pinta seorang dari mereka, dan langsung disetujui pemuda tersebut.
Al kisah mulailah pemuda tersebut mengajarkan cara membaca dan menulis Alquran dengan menerima bayaran guna menyambung hidup.

Hari-hari  dilewati si pemuda, suatu ketika orang-orang  pulau itu bercerita bahwa ditempat mereka ada seorang gadis yatim anak seorang yang sangat baik di pulau itu, orang tuanya telah tiada. Dan ditawarkanlah kepada si pemuda untuk menikahi gadis tersebut. Dan lantas di setujui oleh sipemuda.
Mereka pun akhirnya menikah. Saat malam pertamanya  matanya terbelalak dengan kecantikan istrinya yang yatim itu, tak hentinya mengucap syukur kepada Allah yang telah memberi karunia sebesar itu untuknya. Belum selesai rasa kagumnya  ia dikejutkan lagi oleh seuntai kalung di leher istrinya persis sama dengan kalung yang pernah ditemukannya di Mekah dulu.

Maka ia pun bertanya perihal kalung tersebut. Kemudian diceritakan oleh istrinya. Dalam cerita itu disebutkan kalau ayahnya pernah menghilangkannya di kota Mekah, kata si Ayah ketika itu kalung ini ditemukan seorang pemuda kemudian dikebalikannya  begitu saja tanpa pamrih. Dalam doanya ayahnya selalu berdoa agar anak gadisnya dikaruniai pemuda seperti pemuda yg mengembalikan kalung emas itu. Dan di akhir ceritanya , si suami berkata . " wahai istriku... sayalah laki-laki yang menemukan kalung itu."

Kini kalung itu berada di sisi pemuda tersebut dengan status halal, dia telah meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah menggantikannya dengan yang lebih baik." sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik."

Wallahu a’lam bishawwab
***

Sabtu, 16 Oktober 2010

Akibat Mengambil Uang Mama Rp 150,-


Sahabat Hikmah...
Ada satu kisah yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah kisahnya:

Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya. Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan sehingga setiap malam minum 3 galon air Aqua. Setelah dirawat  3 bulan  di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.

Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU.  Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta.  Badan istri saya –maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.

Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya, “Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak.”
“Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?”
“Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak.”
“Berapa harganya dok?”
“Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.”
“Satu hari berapa kali suntik dok?”
“Sehari 3 kali suntik.”
“Berarti sehari 36 juta dok?”
“Iya pak Jamil.”
“Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok.”
“Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.”
“Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari”
“Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya.” Kemudian dokter memeriksa lagi.
“Iya dok.”


Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka’at. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,

“Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.”

Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-.

Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,-. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, “JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ?” Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya menemukan ada uang Rp150,- di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.

Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu saya menelpon ibu saya,

“Assalamu’alaikum Ma…”
“Wa’alaikumus salam Mil….” Jawab ibu saya.
“Bagaimana kabarnya Ma ?”
“Ibu baik-baik saja Mil.”
“Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?”
“Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?” –dengan suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak tangisnya-.
“Belum sembuh Ma.”
“Yang sabar ya Mil.”


Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, “Ma…, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?”

“Yang mana Mil ?”

“Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?”

Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)

“Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya.” (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),

“Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama siapkan hilang. Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama Mil, padahal di situ banyak orang. ...rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT.... SAKIT... SAKIT rasanya.”

Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, “Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?”

“Tidak tahu Mil…Mama tidak tahu.”

Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,

“Ma, yang mengambil uang itu saya Ma….., maka melalui telphon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya….”

Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,
“Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim…..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah.”

“Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?”

“Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil.”

“Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?”

“Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu.”

“Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.”

“Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.”

Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari berkata,

“Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.”

“Apa dok?”

“Infeksi prankreas.”

Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan, “Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.”

Selesai memeluk, dokter itu berkata, “Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah.”

Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, “Terima kasih Ma…., terima kasih Ma.”

Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang meminta maaf. “Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.”


Sahabat Hikmah...
Maha benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi wa sallam :
"Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)

"Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka:  orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, 'Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Attirmidzi)

Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:

Bila kita seorang anak:
  • Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka  akan membuat murka Allah subhanau wa ta’ala. Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita ridlo kepada kita.
  • Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu terkabul.

Bila kita sebagai orang tua:

  • Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya.
  • Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak, berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka.

Semoga bermanfaat dan bisa mengambil HIKMAH..

Wassalam

 By : OFA di Kata-Kata Hikmah

Senin, 04 Oktober 2010

Tujuh kali Naik Haji Tidak Bisa Lihat Ka'bah (Kisah Nyata)


"Kubur adalah rumah akhirat pertama, Bila selamat dikubur, maka yang setelahnya menjadi lebih mudah, bila tidak selamat di kubur, maka yang setelahnya lebih sulit." (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

***************
Wanita ini luar biasa kejinya, ia mencari uang dengan berbagai cara, tukar menukar bayi, bahkan memasukkan jimat ke dalam mulut jenazah yang dimandikannya. Ketika ajalnya tiba, bumi tak mau menerimanya. Ia mati tergulung api.

***************
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini
akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).

Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya.

"Oh, bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama itu.

"Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
"Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka."
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.

"Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
"Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah.

"Cuma itu ?" tanya ulama terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama dengan nada tinggi.
"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
"Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati."
"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama
"Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir."
"Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti.
"Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."

"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan."
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan".

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda."

Bumi menolaknya
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?". tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita :

Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah !". kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allh SWT.

Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amien.

By :GUS IMAM PUJI HARTONO

Rabu, 22 September 2010

Kekuasaan Allah Pada Seekor Lalat


Semua kita pasti tahu, apa itu lalat!
Ya, ia seekor makhluk Allah subhanahu wata'aala yang dikenal suka hinggap di tempat-tempat yang jorok dan banyak membawa penyakit/kuman.
Sekalipun begitu, ia ada disebutkan di dalam al-Qur'an dan juga hadits nabawi.



Lantas, apa keistimewaannya, sehingga Allah subhanahu wata'aala menyebut dan menyinggungnya? Adakah hikmah di balik itu? Bagaimana kedudukannya di dalam hadits nabi shallallahu 'alahi wasallam? Adakah pernyataan ilmiah yang menunjukkan keistimewaannya? Melalui halaman yang singkat ini, Insya Allah subhanahu wata'aala kita akan menyinggung secara ringkas tema-tema tersebut.


Lalat di Dalam al-Qur'an
Lalat yang di dalam bahasa Arabnya, "adz-Dzubab" disinggung dalam satu ayat, yaitu ayat 73, surah al-Hajj.


Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun. Walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (QS.al-Hajj: 73)


Dalam ayat ini terdapat seruan agar bertauhid kepada Allah subhanahu wata'aala dan kecaman terhadap kesyirikan dan orang-orang Musyrik. Sebagaimana dinyatakan Ibn Katsir rahimahullah dalam ayat ini Allah subhanahu wata'aala mengingatkan betapa hina-dinanya berhala-berhala itu dan betapa piciknya akal para penyembahnya.


Apa yang disembah orang-orang jahil dan musyrik itu diberi perumpamaan dengan sesuatu yang hina, yaitu seekor lalat. Bahwa sekalipun semua sesembahan mereka yang berupa berhala-berhala dan patung-patung itu berkumpul untuk menciptakan seekor lalat saja, benda-benda mati itu tidak akan pernah mampu melakukannya. Padahal apalah arti seekor lalat; makhluk yang sangat hina dan jorok. Bahkan, jangankan menciptakan, bila ada seekor lalat merampas sesuatu dari tubuhnya, berhala-berhala itu tak mampu untuk melindungi diri sendiri. Jadi alangkah lemah dan hinanya berhala-berhala itu, bilamana seekor lalat yang dikenal lemah dan jorok justeru lebih kuat darinya. Karena itu, keduanya sama-sama lemah, baik lalat maupun berhala-berhala itu.


Syaikh Abu Bakar al-Jaza'iri mengatakan, "Dibuatnya permisalan dengan seekor lalat itu merupakan sesuatu yang baik dalam bahasa Arab, karena dapat lebih mendekatkan kepada pemahaman."


Allah subhanahu wata'aala menyebutkan sesuatu di dalam al-Qur'an bukan asal sebut. Pasti ada nilai lebih dari apa yang disebutkan itu. Contohnya, Allah subhanahu wata'aala banyak bersumpah dengan makhluk ciptaan-Nya seperti matahari, waktu Dhuha, dan seterusnya. Itu semua karena apa yang dijadikan objek sumpah itu memiliki nilai lebih di sisi Allah subhanahu wata'aala. Dan terbukti secara ilmiah kemanfaatannya bagi alam semesta ini, tak terkecuali penyebutan seekor lalat.


Lalat di Dalam Hadits Nabi shallallahu 'alahi wasallam
Bilamana di dalam al-Qur'an hanya disebutkan dalam satu ayat saja, maka di dalam hadits nabi shallallahu 'alahi wasallam penyebutannya lebih banyak. Salah satunya, terkait dengan adanya 'dualisme' dalam diri lalat itu. Artinya, di satu sisi pada dirinya itu terdapat racun, namun di sisi yang lain justru sebagai penawarnya alias pada kedua sayapnya.


Di antara hadits-hadits itu adalah sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Jika lalat terjatuh di minuman salah seorang di antara kamu, maka benamkanlah ia, kemudian lepaskanlah (buanglah), karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lainnya terdapat obat (penawar)." (HR. al-Bukhari)


Hadits mengenai hal ini cukup banyak dan dipaparkan dengan redaksi yang hampir mirip.


Sepintas, hadits ini bagi kelompok yang berlebihan dalam mengkultuskan akal, seperti kelompok Mu'tazilah dan para Orientalis, hadits ini dianggap irrasional (tidak masuk akal). Sebab menurut akal mereka, bagaimana mungkin dapat diterima kenyataan bahwa lalat yang menjijikkan itu memiliki penyakit (racun) sekaligus obat (penawar). Apalagi bila ia terjatuh pada minuman, maka harus dibenamkan semua badannya agar minuman tersebut dapat dikonsumsi lagi dan tidak membahayakan. Sungguh menjijikkan. !!


Tetapi realitasnya, hadits tersebut dari sisi kualitasnya adalah hadits yang shahih. Karena itu, tidak ada tempat dan alasan untuk menolaknya, sebab yang mengucapkannya adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wasallam yang tidak mengatakan sesuatu kecuali berdasarkan wahyu Allah subhanahu wata'aala (QS. an-Najm:3).


Bagi orang beriman, bilamana telah terbukti secara valid dan kuat keshahihan kualitas suatu hadits, maka terlebih dulu ia harus meyakini kebenarannya, terlepas apakah ada hikmah di balik itu ataukah tidak! Hadits ini termasuk mukjizat Nabi shallallahu 'alahi wasallam dari sisi ilmiah. Lalu, apakah memang terbukti secara ilmiah demikian.?


Pernyataan Ilmiah Tentang Lalat

Seiring dengan perkembangan zaman dan majunya dunia ilmu pengetahuan, tampak jelaslah kebenaran hadits Nabi shallallahu 'alahi wasallam tentang lalat. Dalam hal ini, dunia kedokteran berhasil membuktikan keilmiahan ucapan Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam itu.


Prof.DR.Amin Ridha menjelaskan beberapa poin tentang kenyataan tersebut, di antaranya, "...Ketiga, tidak benar kalau dikatakan bahwa dunia kedokteran belum pernah mengadakan pengobatan suatu penyakit dengan menggunakan lalat. Lalat pernah digunakan sebagai obat bagi penyakit borok menahun dan paru (Frambosia Tropica), yang terjadi pada 30 tahun pertama abad ke-20, sebelum struktur kimia sulfa ditemukan.


Untuk keperluan itu, lalat dipelihara secara khusus. Penemuan membuktikan bahwa lalat mengandung virus pembunuh kuman (bakterial). Dari penelitian itu ditemukan, bahwa lalat di samping membawa kuman-kuman penyakit, ia juga membawa bakterial yang membunuh kuman-kuman. Penelitian ini terhenti karena di saat yang bersamaan, ditemukan struktur kimia sulfa.


Keempat, Hadits tentang lalat menginformasikan adanya sejenis racun pada lalat. Kenyataan ini baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern dua abad belakangan. Sebelumnya, bisa jadi orang tidak mempercayai kebenaran hadits tentang lalat ini. Jika sudah ditemukan bahwa lalat selain membawa penyakit, ia juga mengandung bakterial pembunuh kuman, maka ada beberapa hal yang perlu diketahui:


Tidak benar, kuman yang dibawa lalat berbahaya dan menyebabkan berbagai penyakit.


Tidak benar, banyaknya kuman yang dibawa oleh lalat cukup untuk menimbulkan penyakit bagi orang yang menelan kuman itu.


Tidak benar, tubuh manusia dapat terhindar sama sekali dari semua kuman berbahaya. Kalau seandainya begitu, justeru itulah yang sangat berbahaya bagi manusia. Sebab jika tubuh manusia berulang-ulang kemasukan kuman yang berbahaya dalam jumlah sedikit, maka kuman akan menjadi daya tahan terhadap kuman-kuman sejenisnya. Hadits tersebut memberikan informasi penting adanya kuman pada lalat, yang berlawanan dengan racun yang dibawanya. Ini membuktikan bahwa bakteri, virus dan kuman sejenisnya saling berperang dan saling mematikan; yang satu membunuh yang lain dengan jalan mengeluarkan zat beracun. Zat beracun ini yang kemudian digunakan sebagai bahan pengobatan yang lazim disebut antibiotika, seperti: Penicilin dan Cloromicitin. Dan ini bukan saja ada pada lalat, hampir semua binatang berbisa ternyata bisanya itu malah menjadi penyembuh, jika dijadikan sebagai obat. Segala sesuatu yang belum ditemukan dan belum diteliti oleh ilmu pengetahuan jangan diramalkan. Tetapi penelitian harus dilakukan selengkap dan sesempurna mungkin dan tidak boleh dihentikan. Oleh karena itu, merupakan tindakan yang salah jika tergesa-gesa menilai ketidakrasionalan hadits tentang lalat ini tanpa bukti dari hasil penelitian ilmiah modern."


Perlu diketahui, lalat hinggap pada barang-barang yang dipenuhi kuman-kuman, yang dapat menim-bulkan berbagai macam penyakit. Sebagian kuman itu berpindah ke organ tubuh lalat, dan sebagian lainnya dimakan. Dari kuman-kuman ini terbentuk unsur toxine di dalam tubuhnya, yang menurut istilah medis disebut antibakteria. Dialah yang bertugas membunuh berbagai kuman penyakit. Kuman-kuman penyakit ini tidak mungkin bertahan hidup atau mempengaruhi tubuh manusia, selagi masih ada antibakteria, khususnya pada salah satu sayap lalat.


Karenanya, ia mampu mengarahkan bakteri ke arahnya, maka jika ada lalat yang jatuh pada makanan atau minuman, lalu kuman yang menempel pada sebagian organ tubuhnya berpindah ke makanan atau minuman, maka antibakteria yang juga dibawa lalat pada salah satu sayapnya akan bekerja membunuh kuman. Bila di sana ada penyakit, maka obatnya juga tidak akan jauh dari penyakit itu. Maka lalat tersebut dapat dibenamkan secara keseluruhan, baru kemudian dibuang. Hal ini sudah cukup untuk membunuh kuman yang dibawa lalat dan akan merusak kerja kuman tersebut. Selain itu, lalat bisa menyuburkan pembenihan kuman beberapa penyakit. Setelah beberapa saat kuman itu pun mati dan pengaruhnya tidak tampak. Kemudian dalam lalat itu terbentuk unsur yang membunuh kuman-kuman yang dinamakan anti-bakteria. Apabila inti lalat diletakkan pada larutan yang bersih, maka akan diketahui empat macam kuman yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, namun ada pula empat macam unsur yang mampu membunuh empat macam kuman itu, wallahu a'lam.


***
(Sumber: a. Tafsir Ibn Katsir, b. Aysar at-Tafasir karya Abu Bakar al-Jaza'iri, c. Majalah at-Tauhid,Vol. V, 1977; Musykilat al-Ahadits an-Nabawiyyah karya Abdullah Ibn Al Najdi al-Qushaimi [sasak].
By : Sugianto Parjan