Minggu, 02 Januari 2011

Kedamaian Dalam Kepedihan

Setiap orang senantiasa memiliki cara bagaimana untuk bisa berdamai dalam derita. Untuk tidak mengeluh terhadap peristiwa yang sedang dihadapi namun mensyukuri disetiap perjalanan kehidupan. Itulah yang dituturkan oleh seorang perempuan muda kepada saya di Rumah Amalia. ketika rumah tangga sudah parah, pertengkaran demi pertengkaran yang tidak pernah terselesaikan sehingga tidak ada pilihan lain memaksanya untuk bercerai. Kesetiaannya dikhianati, kekerasan dalam rumah tangga tiap hari harus ditelannya sampai menimbulkan trauma. Kata-kata kasar mengiris dan membuat luka dihatinya. Sepanjang ingatannya tidak pernah ada kata cinta yang tulus dari suaminya bahkan 'rayuan gombal' tidak pernah didengarnya.

Perkawinannya tidak melalui proses pacaran, semuanya begitu singkat, tak terasa menikah dan sampai punya anak. hampir delapan tahun perkawinannya semua dilalui dengan air mata dan percekcokan. Dirinya seolah menjadi anak kecil yang selalu dihina. Pendidikan yang cukup tinggi dan pekerjaan yang lebih menjanjikan masa depan di perusahaan asing terpaksa ditinggalkan demi pengabdiannya sebagai seorang istri. terlebih sejak kelahiran anaknya yang kedua. Sejak perceraian itu dirinya dihinggapi rasa sepi dan sendiri, duka dan derita yang dirasakan bercampur baur menimbulkan kekelaman dalam hidupnya. Dirinya mencoba untuk bangkit dengan mencari kesibukan atau pekerjaan ternyata tidak mudah dilakukan. Merubah suasana hati tentunya tidaklah mudah. Paling tidak, keceriaan diwajahnya nampak berbinar.

Sampai kemudian mendapatkan pekerjaan baru sekalipun hanya menjadi staf kantor baginya telah cukup membahagiakan yang penting bisa mendapatkan penghasilan untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya. Meski sederhana ternyata dirinya masih banyak pemuda yang mendekati dirinya, bahkan teman-teman dikantornya tidak ada yang tahu bahwa dirinya sudah memiliki dua anak. Sanjungan yang tidak pernah didengar dari suaminya justru sering didengar dari teman-teman barunya. Tentunya saja trauma perkawinan masih membekas luka dihatinya. Membuat dirinya selalu menjaga jarak kepada siapapun yang mencoba mendekatinya. Luka dihati juga yang menyebabkan sinis terhadap laki-laki sekalipun diusia tiga puluh tahun yang relatif muda masih membutuhkan kasih sayang seorang suami membuat hatinya terasa pedih.

Sampai pada suatu hari dirinya datang ke Rumah Amalia. Dalam pertemuan itu saya menyarankan agar lebih bersyukur atas anugerah Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepadanya, terlebih memiliki dua anak yang masih membutuhkan cinta dan perhatian sebagai ibu sekaligus ayah. Perjuangan yang begitu hebat dilakukan adalah untuk mengubah rasa benci dan dendam terhadap bekas pasangan hidupnya dengan memaafkan dan mengasihi, telah mampu diwujudkan. Bahkan mengajarkan kepada anak-anak agar tetap senantiasa menyayangi dan menghormati ayah mereka. Semua yang telah dilakukan memberikan kedamaian dalam kepedihan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sejak itu hari-harinya menjadi indah dan penuh kebahagiaan bersama anak-anaknya.

'Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.' (QS. ali Imran : 173-174).

PENYESALAN



Betapa sering MATAMU MENYAKSIKAN hal-hal yang DIHARAMKAN, namun jarang sekali ia meneteskan AIR MATA PENYESALAN
Betapa sering kamu ABSEN dari SHALAT SUBUH hingga SIRNALAH CAHAYA DARI WAJAHMU
Betapa sering kamu MEMAKAN HARTA HARAM, hingga TERCERABUT KEBERKAHAN darinya.
Betapa sering kamu MENIKMATI SUARA MUSIK sehingga kamu LUPA MEMBACA AYAT-AYAT SUCI AL-QUR'AN
Betapa hatimu dipenuhi dengan KECINTAAN TERHADAP DUNIA hingga ia MENGABAIKAN AKHIRAT . Ketahuilah bahwa akhirat TIDAK DAPAT DIDUAKAN dengan hal lain.

Ibrahim bin Adham berkata : "BANYAK MELIHAT HAL-HAL YANG BATIL (DIHARAMKAN) MENGAKIBATKAN PENGETAHUAN TERHADAP KEBENARAN LENYAP DARI DALAM HATI "


***
Duhai orang yang bertobat , bicaralah dengan bahasa airmata  dan ungkapkanlah tangisanmu , Semoga dengan demikian dapat menjadikan TOBATMU DITERIMA DAN DI RIDHAI OLEH-NYA.
Duhai orang yang bertobat , jika TELAH HILANG darimu sumber-sumber untuk melakukan KETAATAN DAN KASHALEHAN, maka JANGANLAH sampai hilang tongkat perlombaan menuju TOBAT

Duhai orang yang bertobat, janganlah kamu mengikuti BURUNG GAGAK dalam bertobat.
Burung gagak mabuk karena minum terlalu banyak, kemudian dia berkeliling diantara bangkai- bangkai namun ketika sadar dari mabuknya IA MENYESAL karena ia telah sadar dari mabuknya.

Duhai orang yang bertobat ,ketika di tetapkan dari MULUTMU TANPA ADA KETETAPAN dari HATIMU, maka tobatmu TIDAKLAH BERARTI. Dan jika dari HATIMU tidak benar- benar MENGGAMBARKAN PENYESALAN, maka TIDAK AKAN berpengaruh pada UCAPAN LISANMU karena benci untuk melakukan perjanjian berarti tidak terjadi kontrak perjanjiannya .

Maka wahai ORANG-ORANG YANG BERTOBAT dengan ucapan yang tidak diketahui apa dibalik ucapannya, ketahuilah TIDAK AKAN DITERIMA TOBATMU sampai kamu MENGETAHUI APA YANG KAMU UCAPKAN

Jika orang yang berakal tidak menangis dengan sisa usianya kecuali karena hilangnya ketaatan yang telah lewat darinya, yang mana ia menyesalinya sampai mati.
Lalu bagaimana dengan orang yang menanti masa depan usianya seperti yang telah ia lalui dengan maksiat?

Maka BANGUNLAH karena orang yang berdosa dapat DIAMPUNI dan bukankah ia berarti telah kehilangan pahala orang-orang yang berlaku baik?
Wahai orang yang bertobat, Panggillah di tengah malam yang sunyi ,
Panggillah diwaktu sepertiga malam. Angkatlah suaramu untuk memohon ampunan atas dosa - dosa....

TETESKANLAH AIRMATA PENYESALAN....
MINUMLAH CAWAN KESEDIHAN...
TABURKANLAH DEBU DIATAS KEPALAMU,
NYARINGKAN TANGISAN MU DI DEPAN SANG KEKASIH,
SERTA BERMUNAJATLAH KEPADA ALLAH DI KEHENINGAN MALAM, LALU UCAPKAN, "WAHAI TUHAN, PINDAHKAN AKU DARI HINANYA MAKSIAT KEPADA KEMULIAAN TA'AT !"

*EZ* 

BUKU CATATAN AMAL



Maliki yaumid din, dialah pemilik hari pembalasan dan kiamat.

Hari kiamat adalah hari ketika setiap orang akan mengetahui catatan amal perbuatannya.
Di hari itu yang berlaku hanyalah hukum dan perintah Allah.
Meskipun Allah SWT adalah pemilik hakiki segala sesuatu disemua zaman, tetapi kepemilikan-Nya di hari kiamat dan hari kebangkitan memiliki manifestasi berbeda.

Salah seorang Shaleh berkata kepada anaknya, "Ayah ada perlu denganmu".

Si anak berkata, "Saya akan mematuhi apa saja yang ayah katakan"
Si Ayah berkata, "Ketika kau kembali kerumah, ceritakanlah kepadaku apa saja yang kau katakan dan lakukan, mulai ketika kau keluar rumah."
Si Anak menerimanya. Malam hari ketika si anak kembali kerumah, dia mulai menceritakan semua yang telah dilakukan dan diucapkannya.
Ketika sampai kepada ucapan-ucapan kotor yang dikatakannya serta perbuatan-perbuatan tak layak yang dikerjakannya, dia merasa malu menuturkannya dihadapan sang ayah."

Dia mencium tangan Ayahnya dan menangis, kemudian berkata, "Ayah, maaf, jangan memintaku untuk mengatakan itu; Apapun yang ayah kehendaki akan kupatuhi selain dari itu karena aku malu padamu."

Si Ayah berkata, "Putraku, engkau malu padaku yang hanya seorang hamba yang lemah tak berdaya, lantas bagaimana kelak dihari kiamat, dihadapan pemilik hari pembalasan dan kiamat, dihadapan Tuhan seru sekalian alam, Apa yang akan kau lakukan ketika buku catatan amal perbuatanmu diberikan padamu ".
Akhirnya sianak itu bertobat dan menjadi orang yang Shaleh.
***
Kalaupun dosa melampaui batas
Biarlah ampunanmu menghapus segalanya
Akulah hamba yang sakit dan perlu disembuhkan
Tuhan... sembuhkan aku dengan kebesaran hati_Mu
Aku takut mati dan sendiri dalam kubur
Carikan untukku jalan keluar dari kesempitannya
Tiada bekal apapun yang bisa kubawa keakhirat
Ya Rab... , ramaikanlah rumahku itu
Ya Allah... , apa yang harus kuperbuat di Mahsyar
Kasihanilah aku di hari pembalasan kelak...

(Mukaddam)
( Ali Mir Khalaf Zadeh , "Kisah surat Alfatihah)
*EZ*

MENGGAPAI HIDUP YANG HAKIKI



“ DUNIA INI BAGAIKAN SEORANG PENGEMBARA YANG BERTEDUH SEBENTAR DI BAWAH POHON KEMUDIAN BERISTIRAHAT DAN MENINGGALKANNYA”
Perumpamaan sebagai tempat berteduh sementara menyiratkan gambaran bahwa dunia bukanlah kehidupan yang kekal dan hakiki.
Ada kehidupan yang lebih abadi ketimbang sekedar tempat berteduh yaitu kehidupan akhirat.
Untuk itu agar kita tidak terperdaya dan terpesona oleh kehidupan hangar bingarnya dunia kita harus berpikir jauh kedepan untuk menggapai kehidupan yang lebih abadi.
Menikmati kebahagiaan tidak ada larangan namun jangan sampai menina bobokan manusia dan terperdaya hingga lupa pada kehidupan yang hakiki nanti akan dialami setelah kematian.

Dalam islam strategi yang bisa menyadarkan umatnya agar tidak berlebihan memandang dunia adalah sikap zuhud ( sederhana)
Secara Etimologi Zuhud adalah menjauhkan diri dari sesuatu karena menganggap hina dan tidak bernilai

Namun BUKAN BERARTI sama sekali lantas meninggalkan urusan duniawi, menerima kondisinya apa adanya, membiarkan dirinya apa adanya, membiarkan dirinya hidup dalam kemelaratan tanpa berusaha memperoleh rezeki yang halal, dengan alasan ingin lebih dekat kepada Allah SWT. Rasanya pemahaman seperti ini terlalu sempit.
Zuhud bukan sikap malas , bukan pula identik dengan kemiskinan, keterbelakangan dan berujung pada suatu keyakinan bahwa dunia adalah musuh manusia, menghalangi manusia dari Tuhannya hingga harus ditinggalkan demi kepuasan batin.

Melainkan zuhud bagi para sufi adalah meninggalkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup walaupun sudah jelas kehalalannya. Dengan kata lain zuhud adalah sikap orang yang mendapatkan kenikmatan dunia tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Ia tidak diperbudak dunia dengan segala kenikmatannya dan mampu menahan diri untuk tetap berada di jalan yang di ridhai Allah.

Rasulullah SAW dalam hadisnya; “BERLAKU ZUHUDLAH KAMU TERHADAP KENIKMATAN DUNIA NISCAYA KAMU AKAN DICINTAI ALLAH. DAN BERLAKU ZUHUDLAH KAMU DI TENGAH MANUSIA NISCAYA KAMU AKAN DICINTAI OLEH MEREKA”

Hal ini diperkuat oleh Imam Ghazali dalam ihya ulumuddinnya bahwa hakekat zuhud bukanlah meninggalkan harta benda dan mengorbankannya pada jalur social untuk menarik perhatian manusia, namun orang yang zuhud adalah orang yang mempunyai harta benda akan tetapi dia menyikapinya dengan lapang dada walaupun mampu untuk menikmati hartanya itu tanpa kekurangan apapun, melainkan lebih memilih sikap waspada, hatinya tidak terikat dengan harta, karena khawatir sikap keterikatannya itu akan membawanya cinta kepada selain Allah SWT.

BERSIKAP WAJAR PADA DUNIA

Memang tidak disangkal bahwa dunia dengan segala kenikmatan yang ada didalamnya cukup menggoda. Kenikmatan dan kesenangan ini sering menjebak manusia hingga melahirkan orang yang materialistis dan hedonis yang mengagungkan kenikmatan dunia adalah segalanya. Kecendrungan manusia yang materialistis dan nihilisme modern yang tujuan akhirnya hedon (kesenangan ) inilah yang melahirkan manusia yang jauh dari nilai dan moral agama.
Ketika hasrat duniawi tersebut mendominasi kesadaran dan menenggelamkan aspek spiritualitas, maka seseorang akan terdorong menjadi serakah, tidak mau berterimakasih, sombong, tidak sabar dan sangat mencintai nafsu duniawi yang materialistis dan individualistis.

Fir'aun dan Qarun misalnya tidak menyadari kalau harta kekayaannya dan kekuasaan yang diperolehnya berkat anugerah Allah sehingga menjadi sombong dan angkuh bahkan takabaur. Dunia dan isinya adalah sekedar sarana belaka untuk mencari bekal kehidupan kelah di akhirat. "Addunya mazra'atul akhirah" (dunia adalah ladangnya akhirat)
Kehati-hatian terhadap dunia tidak berarti mangabaikan sama sekali urusan (tanggung jawab) dunia. Bahkan konsep zuhud dengan pengertian terputus dari segala hal-hal keduniaan semata jelas bertentangan dengan konsep AlQuran itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda :" Zuhud terhadap dunia itu bukanlah mengharamkan apa-apa yang halal dan menghilangkan harta, tetapi zuhud adalah menjadikan apa-apa yang ada disisi Allah lebih kamu pegang daripada apa-apa yang ada di tangannya dan menjadikan pahala musibah itu tetap bagimu (HR Tirmidzi)

Dalam konteks ini agama justeru memotivasi umatnya untuk mencari rezeki yang halal sebanyak-banyaknya. Dengan harta yang banyak menjadi media penting untuk beramal, mengukuhkan solidaritas sosial, bersedekah. dsb. Yang muaranya bisa semakin mendekatkan kepada Allah.

Al-Ghazali mengatakan kesempurnaan batiniah seseorang muslim tidak mungkin dicapai tanpa melalui kesempurnaan lahiriah. Aspek batiniah dan lahiriah mesti berjalan beriringan.
Dalam Al-quran sendiri Allah SWT berfirman :

"DAN CARILAH PADA APA YANG TELAH DIANUGERAHKAN ALLAH KEPADAMU (KEBAHAGIAAN) NEGERI AKHIRAT DAN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAHAGIANMU ( KENIKMATAN) DUNIAWI DAN BERBUAT BAIKLAH (KEPADA ORANG LAIN) SEBAGAIMANA ALLAH TELAH BERBUAT BAIK KEPADA MU, DAN JANGANLAH KAMU BERBUAT KERUSAKAN DI (MUKA BUMI). SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KERUSAKAN" (Qs Al-qashash : 77)

Ayat di atas mengisyaratkan pentingnya mencari kebahagiaan duniawi, asal tidak berlebihan menilainya. artinya bersikap wajar dan selalu sadar bahwa kenikmatan itu tidak datang begitu saja tanpa intervensi Allah SWT, yang kemudian memanfaatkan untuk kepentingan akhirat. Sebaliknya jangan sampai kecintaan terhadap dunia mengalahkan segalanya sampai membutakan kecintaan terhadap Allah sang pemberi kenikmatan itu.

Sikap zuhud inilah yang diperlihatkan nabi Sulaeman A.s dan Ustman bin Affan. Betapapun banyak kekayaan yang mereka miliki, tidak menyebabkan mereka gandrung kepada nya hingga melalaikan diri dalam mengabdikan dirinya kepada Tuhan, sama sekali tidak terpengaruh oleh kekayaan yang melimpah yang dimilikinya, tidak menyebabkan mereka lupa kepada tujuan keberadaan dan misinya. Mereka tidak tenggelam dan terbius oleh fatamorgana dunia dan tidak terpesona oleh berbagai atribut duniawi.

Kesimpulannya. Inti zuhud terletak pada tidak terpengaruh atau tidak tergantungnya hati seseorang kepada hal-hal yang berkaitan dengan kenikmatan dan atribut duniawi.
Setiap muslim hendaknya mampu menanamkan zuhud dalam hidupnya agar mampu menyikapi kenikmatan dunia searif mungkin dan mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia

(Dari berbagai sumber)
*EZ*

BEGINILAH CARA SYETAN MENGGODA MANUSIA


Dalam sebuah kitab tafsir diceritakan bahwa suatu ketika nabi Zakaria didatangi Iblis yang menyerupai manusia , kemudian ditanya oleh nabi Zakaria siapa dia sebenarnya dan apa maksud kedatangannya? Iblis akhirnya mengaku kalau dia itulah iblis, dan dia datang menghadap Nabi Zakaria untuk meminta pertolongan karena dia ingin taubat kepada Allah dari dosa-dosanya, dia minta Nabi Zakaria berkenan menyampaikan maksudnya itu kepada Tuhan. Maka Nabi Zakarian menyanggupi untuk menyampaikan niat baik itu kepada Tuhan melalui malaikat Jibril.

Selang beberapa waktu malaikat Jibril menemui Nabi Zakaria lagi dan memberitahukan bahwa Allah bersedia menerima taubatnya iblis dengan cara agar dia mau sujud hormat kepada nabi Adam di kuburannya. Berita itu disampaikan kepada iblis, tetapi iblis marah dengan sikap arogan (sombong) dan berkata :”mana mungkin saya melakukannya, waktu Adam masih hidup saja saya tidak sudi sujud menghormatinya, apalagi sekarang sudah mati”.

Tetapi Iblis tau diri terhadap Nabi Zakaria yang sudah berbuat baik tadi dengan mengatakan :” Hai Nabi Zakaria , meskipun saya tidak jadi taubat, tetapi saya ingin membalas budi kepada Anda, lalu apa yang Anda Minta? “.

Nabi Zakaria menjawab:” Saya hanya ingin kamu memberitahu, bagaimana caramu menggoda dan merusak iman serta perilaku manusia?”

Iblis menjawab,: “Saya membagi manusia yang akan saya goda dan kemudian saya sesatkan itu dalam 3 golongan:

(1) Orang-orang yang sudah tidak perlu saya pikirkan lagi, karena setiap saat dia dapat saya permainkan semau saya , seperti bola yang dapat saya tendang kesana kemari setiap waktu saya menginginkan..

(2) Orang-orang yang tidak menjadi target saya karena saya tahu sulitnya menggoda mereka, seperti orang-orang semacam Anda ini, meskipun begitu saya tetap mencoba menggoda dan menyesatkannya .

(3) Orang-orang yang banyak mengecewakan saya , mereka itu adalah orang-orang yang beriman yang selalu saya goda siang malam dan seringkali mereka itu sudah jauh saya pengaruhi dan mau melakukan macam-macam perbuatan yang menyeleweng, tapi tiba-tiba dia ingat kepada Allah kemudian meminta ampun kepada-Nya (taubat), dan taubatnya diterima oleh Allah juga dosa-dosanya diampuni-Nya, Maka habislah hasil usaha saya berhari-hari dengan sia-sia, dan pengalaman ini terjadi berulangkali".

Cerita lain yang tidak jauh berbeda, seperti yang di paparkan Al Ghozali dalam ihya" tetapi yang ditemui iblis adalah nabi Musa , tujuannya juga sama , dia ingin dibantu untuk dapat bertaubat, namun hasilnya juga sama karena iblis tetap tidak mau kalau disuruh sujud hormat kepada nabi Adam, dengan alasan yang serupa. Tapi iblis juga memberi tip kepada nabi Musa , dengan membuka rahasianya, yaitu saat-saat yang selalu dia gunakan untuk menggoda dan menyesatkan manusia :

Iblis berkata : "ingatlah kepada ku ( apa yang saya rekayasa) ketika manusia berada dalam tiga situasi;

Pertama , ketika dia sedang marah, nyawaku akan merasuki hatinya, pandanganku akan mempengaruhi penglihatannya, dan saya akan memperngaruhi seluruh bagian anggota tubuhnya sebagaimana darah yang mengalir di situ, saya akan meniupkan kemarahan kepada orang yang sedang marah, sehingga dia akan sulit mengendalikan emosinya, dan berbuat diluar kesadarannya.

Kedua ingatlah rekayasaku, ketika seorang sedang berada di tengah medan perang, dia saya ingatkan kepada istrinya, anak-anaknya, keluarganya dan harta kekayaannya, sehingga ingin segera pulang (membolos) meninggalkan medan pertempuran tadi. ;

Ketiga , ingatlah kegiatan yang saya perankan, ketika seseorang sedang duduk-duduk dengan wanita yang bukan muhrimnya, saya akan menghampirinya dan menggodanya sampai saya dapat mendorongnya melakukan perbuatan yang terlarang dengan memanfaatkan gejolak dan selera syahwatnya".


Jadi ternyata syetan itu mempunyai model pendekatan dalam menggoda dan menyesatkan manusia , yaitu tahap awalnya, mempengaruhi pandangan manusia yang menjadi sasarannya melihat barang-barang yang terlarang itu menjadi indah, begitu menarik, dia berilusi yang jauh berbeda dengan kenyataannya. Ini tahap "tazyin" (memperindah) kemudian selanjutnya baru diajak melakukan perbuatan-perbuatan durhaka yang terlarang dan terkutuk, inilah tahap "ighwa"( penyesatan) dan apabila proses penyesatan telah berlansung sesuai dengan kemauan syetan, maka syetan melepaskan diri dari tanggung jawab, inilah tahap "tabarru" (pembebasan diri), karena syetan memang tidak pernah mau ikut bertanggungjawab terhadap semua rekayasa yang dilakukannya.

Aku berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk....

*EZ*

Harmoni Diri



Saat Syahadat-ku sebatas ucapan
Saat Shalat-ku sebatas gerakan
Saat Shaum-ku sebatas kewajiban
Saat Zakat-ku sebatas keharusan
Saat Haji-ku sebatas kebanggaan
Saat itu pula…
Kesia-siaan terbesar ada pada diriku…

Saat Islam-ku sebatas pakaian
Saat Iman-ku sebatas ucapan
Saat ihsan-ku sebatas pengetahuan
Saat itu pula…
Ada penipuan terbesar dalam diriku

Saat kematian dianggap hanya cerita
Saat neraka hanya dianggap hanya berita
Saat siksa hanya di anggap kata
Saat itu pula…
Kesombongan terbesar ada padaku

Saat takdir dianggap tak mungkin
Saat hidup kembali… dianggap mustahil
Saat Tuhan dianggap nihil
Saat itu pula…
Kedurhakaan terbesar ada pada diriku

Bukankah aku memiliki hati?
Bukankah aku memiliki jasmani?
Dan bukankah aku memiliki akal budi?
Maka harmoniskanlah semuanya.. Ya Robbi…
Semua Hanya Untuk-MU….

***
Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”. Para sahabat menjawab , “Orang yang bangkrut adalah orang yang kehilangan harta benda miliknya.”
Rasulullah berkata, Bukan, Orang yang demikian bukanlah orang yang bangkrut.”

Lalu Rasulullah melanjutkan,
“"Orang yang bangkrut diantara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa dan zakatnya. Namun ia pernah mencela orang, mencaci orang, memakan harta orang, memukul dan menumpahkan darah orang. Maka ia pun harus memberikan pahala amal baiknya kepada orang-orang itu. Jika amal baiknya sudah habis sebelum dibayar semua, diambillah dosa mereka untuk diberikan kepadanya.
Maka ia pun dilemparkan keneraka".

Rasulullah melanjutkan, “Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.”

“DAN ORANG-ORANG KAFIR AMAL-AMAL MEREKA ADALAH LAKSANA FATAMORGANA DITANAH YANG DATAR, YANG DISANGKA AIR OLEH ORANG-ORANG YANG DAHAGA, TETAPI BILA DIDATANGINYA AIR ITU DIA TIDAK MENDAPATINYA SESUATU APAPUN. DAN DIDAPATINYA ALLAH DI SISINYA , LALU ALLAH MEMBERIKAN KEPADANYA PERHITUNGAN AMAL-AMAL DENGAN CUKUP DAN ALLAH SANGAT CEPAT PERHITUNGAN-NYA”
(Qs An-nur :39)

Kita bukan orang kafir , tetapi kita harus waspada, karena siapa tahu amal- amal yang telah kita kerjakan ternyata seperti amalan-amalan orang kafir sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas.
Nauzubillahiminzalik…

***

HIDUPLAH HARMONIS DENGAN TETANGGAMU
HIDUPLAH BERSAHABAT DENGAN SAUDARAMU(Confusius)

*EZ*

 

Sabtu, 01 Januari 2011

Dosa dan Paku yang tertancap di Tiang


Dikisahkan pada suatu ketika, ada seorang bapak yang mempunyai anak laki-laki semata wayang, katakanlah bernama Rudi. Rudi kini sudah tumbuh dewasa, namun ia sering melalaikan perintah Agama. Meskipun telah berbuih nasehat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Rudi shalat, puasa dan melaksanakan amal kebaikan lainnya, namun dia tetap meninggalkannya. Malahan dosa dan maksiat yang menjadi kebiasaannya. 

Berjudi, mabuk-mabukan, dan seribu macam jenis kemaksiatan menjadi kebanggaan dan kebiasaannya. Suatu hari bapak tadi memanggil Rudi, anaknya dan berkata, “Anakku, kamu benar-benar telah lalai dan berbuat banyak kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku di tiang di Ruangan tengah rumah kita itu, setiap kali kamu berbuat dosa dan maksiat,jujurlah kepadaku dan tolong ceritakan, maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Namun sebaliknya, setiap kali kamu berbuat satu kebaikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini.”

Setiap malam Rudi menulis di atas kertas dan ditaruh di meja Bapaknya setiap dosa dan maksiat yang ia lakukan. Bapaknya kemudian melakukan seperti apa yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang rumahnya tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Namun kadang-kadang ia mencabut beberapa paku, sesuai kebaikan yang anaknya telah lakukan. Akan tetapi kalau dihitung-hitung, jarang sekali dia mencabut paku dari tiang.

Hari berganti, beberapa bulan berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun belalu.Tiang yang berdiri megah di ruangan tengah rumah tersebut kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas.

Setelah melihat keadaan tiang yang bersusun dengan paku-paku yang merusak pandangan mata, kemudian timbulah rasa malu pada diri Rudi. Maka dia pun berjanji untuk memperbaiki dirinya sejak saat itu.

Mulai detik itu, Rudi berjanji akan meninggalkan dosa dan maksiat dan akan mulai melaksanakan shalat. Hari itu saja lima batang paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya shalat lagi ditambah dengan shalat- shalat sunat. Lebih banyak lagi paku tercabut dari tiangnya.

Hari berikutnya Rudi tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Ia pun mulai rajin bersedekah, dan yang terpenting ia mulai mematuhi perintah orang tuanya. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Rudi lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggal, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Kemudian ayahnyapun memanggil anaknya dan berkata: “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabut sekarang. Tidakkah kamu gembira?”

Rudi merenung pada tiang tersebut, tapi dibalik rasa gembira sebagai yang diduga oleh ayahnya, dia mula menangis terisak-isak.

“Kenapa anakku?” tanya ayahnya,
“ku sangka engkau gembira karena semua paku-paku telah tiada.”

Dalam nada yang sayu Rudi mengeluh, “Wahai ayahku, sungguh benar kata bapak, paku-paku itu sudah tidak ada, tapi aku sedih sebab bekas-bekas lubang dari paku itu tetap ada di tiang, bersama dengan karatnya. Tidak pernah bisa hilang”

"Hiiks...hiiks", kali ini Rudi menangis dengan sungguh-sungguh
-----------------------------------------------------

Sahabatku rahimakumullah,
Kisah yang sangat sarat lambang ini saya bagikan kepada anda untuk kita sama-sama renungi makna di balik kisah ini sebagai berikut:

Tanpa kita sadari, sejak muda kita sudah tancapkan paku-paku di tiang rumah kita sendiri dan kini paku-paku tersebut pasti sudah semakin banyak, seiring dengan tambahnya umur kita. Tak ada lagi waktu yang lebih tepat untuk mencabut paku-paku dari tiang rumah kita kita itu selain lakukanlah sekarang juga. Esok hari, paku-paku itu akan semakin banyak sementara tenaga kita akan semakin lemah untuk mencabutinya. Boleh jadi tidak seperti yang dilakukan Rudi yang berhasil mencabut habis pakunya, kita barangkali tidak ada daya lagi untuk mencabutnya hingga habis.

Sahabatku, sesungguhnya jumlah paku yang kita tancapkan bisa kita kurangi sejak dini bila kita sadar tentang kehadirannya. Paku-paku tersebut banyak sekali, yang kita tancapkan, diantaranya yang paling nyata di antaranya ialah paku akibat meninggalkan perintah-perintahNya seperti shalat, puasa dan zakat. Lebih parah lagi jika kita tambah dengan dosa serta maksiat yang menambah paku-paku itu seperti : minum-minuman keras, zina, mencuri atau jika kita suka menyakiti hati teman kita, suka mengumbar marah, hasad (dengki), ujub (sombong), riya’, ghibah, buruk lisan dan lain-lain.

Bilamana mulai timbul tanda-tanda paku-paku akan kita tancapkan di tiang kita, maka wajiblah kita berusaha sungguh-sungguh untuk mengurungkannya atau jika sudah terlanjur mencabutnya dengan segera melalui Taubat Nasuha dan Istighfar serta memohon maaf kepada yang menjadi korban akibat dosa dan maksiat yang kita lakukan. Jika kita terlanjur korupsi, maka tidak cukup hanya dengan taubat nasuha dan istighfar, tapi kita juga wajib mengembalikannya hasil korupsi yang telah kita curi itu dan meminta maaf.

Jangan pernah ditunda mencabutnya sampai esok hari. Jangan tunda segera mencabut paku-paku di tiang kita sampai banyak sementara kita terlalu tua dan tidak cukup waktu untuk mencabutnya kembali.

Sahabatku, tanpa kita sadari, dengan dosa-dosa dan kemaksiatan yang berulang kali dilakukan hingga menjadi suatu kebiasaan, boleh jadi pada saat yang sama kita bisa mengatasinya, atau secara berangsur-angsur menghapuskannya. Akan tetapi ingatlah bahawa bekas-bekasnya akan abadi.

Dari itu, hendaklah kita menyadari diri ini untuk setiap kita akan mulai melakukan suatu kemungkaran, dosa dan maksiat, maka bersegeralah untuk membatalkannya. Sebab setiap kali kita bergelimang dalam dosa dan kemungkaran, maka kita telah menanamkan paku-paku lagi yang akan meninggalkan bekas pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut di kemudian hari. Apalagi kalau kita biarkan paku berkarat dalam diri ini lambat untuk mencabutnya. Lebih parah lagi kalau dibiarkan berkarat dan tidak pernah kita cabut, hingga Allah mendahului dengan mencabut terlebih dahulu nyawa kita. Naudzubillah min dzalik.

Wallahualam bissawab
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat

By : Imam P Hartono