Minggu, 09 Januari 2011

Benarkah Manusia Adalah Makhluk Yang Paling Mulia ... ? .. (Mengenal Diri, Mengenal Allah dan Ruh Al-Quds) ..



Bismillahir-Rahmanir-Rahim....
[TANYA] Mengapa dahulu, pada saat penciptaan manusia, malaikat yang terbuat dari cahaya, bersujud pada Adam yang hanya terbuat dari tanah? Bukankah cahaya lebih mulia dari tanah?

[JAWAB] Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia sejati (insan kamil) terdapat secuil ‘unsur yang sangat mulia,’ yaitu yang dibahasakan dalam Al Qur’an sebagai‘Ruhul Quds’. Ruhul Quds bukanlah malaikat Jibril a.s
., Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruh Al-Quds. Ruh Al-Quds juga dikenal dengan sebutan Ruh min Amr, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab). Dalam agama saudara-saudara dari nasrani, disebut Roh Kudus.
Ruh-Nya atau Ruhul Quds ini bukan dalam pengertian bahwa Allah memiliki ruh yang menghidupkan-Nya seperti kita. Ruh ini merupakan ruh ciptaan-Nya, sebagaimana ruh yang menjadikan diri kita hidup sekarang, namun dalam martabat tertingginya, dalam tingkatannya yang paling agung dan paling dekat kepada Allah.

Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan(ruh hewani), bahkan benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya ‘hidup’ dan terus berputar, dan ruh bendawi inilah yang menjadikannya ‘hidup’. Karena itu pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai perbuatan kita di dunia ini. Namun demikian, ruh-ruh ini bukanlah ruh dalam martabat tertingginya seperti Ruh Al-Quds.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruh Al-Quds, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk manapun juga.

Perhatikan juga kata ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72, yang ditiupkan pada diri Adam saat penciptaannya:

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”. (Q.S. 38:72)

Secuil ‘ruh’-Nya itu hanya diturunkan Allah pada manusia yang telah ‘disempurnakan-Nya’, yang diizinkan-Nya untuk mencapai derajat manusia yang sempurna (insan kamil) saja dan tidak pada semua manusia.

Pada Adam as dan Isa as, dua manusia yang diciptakan-Nya langsung dengan ‘tangan-Nya’ tanpa melalui proses pembuahan, Ruh ilahiyah ‘penyempurna’ ini langsung ‘tertularkan’ ketika mereka diciptakan. Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam as, setelah ditiupkannya Ruh-Nya, para malaikat pun sujud kepada Beliau. Sedang pada kita manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperolehnya (tepatnya perangkat untuk ‘membuat’ Allah berkenan dan ‘percaya’ untuk menurunkannya pada kita), yaitu qalb, syariat lahir, dan syariat batin.

Dengan demikian, bagi manusia yang belum memiliki ‘unsur’ ini dalam dirinya, sangat wajar jika malaikat tidak akan tunduk padanya, dan dia memang belum layak untuk ‘disujudi’. Contoh saja, jika kita sekarang memerintahkan pada malaikat di samping kita untuk menampakkan dirinya, apakah mereka akan tunduk pada perintah kita itu?

Mengapa para malaikat tunduk pada para Nabi dan orang-orang suci? Karena lewat proses perjuangan penyucian qalb dan diri mereka masing-masing, Allah berkenan menganugerahkan Ruh-Nya tadi kepada orang-orang itu. Bedanya dengan Adam a.s dan Isa a.s, mereka ‘tertular’ Ruh-Nya sejak lahir, karena diciptakan langsung dengan ‘tangan Allah’ (dalam tanda kutip); sedangkan manusia selain mereka, untuk dapat dianugerahi Ruh Al-Quds, harus melewati perjuangan diri. Mereka harus membuktikan pada Allah bahwa mereka layak untuk dianugerahi ‘unsur’ yang paling agung yang bisa didapatkan oleh makhluk ke dalam jiwanya.

Di sisi lain, ada beberapa malaikat yang tidak tunduk kepada mereka yang memiliki Ruh Al-Quds, namun memposisikan dirinya sejajar dengan para Insan Kamil. Mengapa? Karena beberapa malaikat ini juga dianugerahi Ruh Al-Quds oleh Allah. Sebagaimana manusia, tidak semua malaikat memiliki Ruh Al-Quds. Dari para malaikat yang memilikinya, diantaranya adalah para malaikat utama (Archangels): Jibril a.s. (Arch. Gabriel), Mikail a.s. (Arch. Michael), Izrail a.s. (Arch. Uriel), dan Israfil a.s. (Arch. Raphael). Kedudukan mereka diantara para malaikat kurang lebih sama seperti kedudukan para Nabi diantara manusia.
Dalam [2] : 253,

“Rasul-rasul (rasul: pembawa risalah—pen.) itu Kami lebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Quds.” (Q. S.[2]253)

Jadi kurang tepat jika kita mengatakan dengan terlalu mudah bahwa manusia, atau kita, adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta. Manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah diperangkati Allah dengan ‘unsur’ ini. Jika belum diperangkati dengan unsur ini, bahkan kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. 25:44).

Penganugerahan Ruh-Nya pada seorang manusia inilah yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah penganugerahan ‘Ruh-Nya’ atau Ruh Al-Quds kepada diri seseorang. Sebagai zat, Allah dan makhluk mustahil menyatu.

Ruh Al-Quds inilah yang membawa penjelasan kemisian seseorang, untuk apa seseorang diciptakan Allah, secara spesifik orang-per-orang. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds, seseorang menjadi mengerti misi hidupnya sendiri. Mereka-mereka yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds inilah yang disebut sebagai ‘ma’rifat’, dan telah mengenal diri sepenuhnya.

“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,” kata Rasulullah. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Rabb-nya. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya, seseorang menjadi mengenal dirinya, mengerti kemisian dirinya, dan mengenal Rabb-nya melalui kehadiran Ruh-Nya itu.

Dengan mengenal dirinya secara sejati, maka mulailah seseorang ber-agama secara sejati pula. “Awaluddiina ma’rifatullah,” kata Ali bin Abi Thalib kwh.Awalnya ad-diin (agama) adalah ma’rifatullah (mengenal Alah). Jadi berbeda dengan pengertian awam bahwa mencapai makrifat adalah tujuan beragama, justru sebaliknya: ma’rifat adalah awalnya beragama, ber-diin dengan sejati.

Saya pribadi percaya bahwa inilah ‘trinitas’ yang dikembalikan oleh Qur’an kepada hakikatnya semula: Allah, Ruh Al-Quds, dan jasad sang Insan Kamil. Pengertian trinitas ini, seiring dengan berjalannya waktu dan jauhnya aliran doktrin dari mata-airnya, perlahan berubah menjadi sesuatu yang abstrak: tiga tetapi satu dan satu tetapi tiga. Namun Rasulullah melaui Qur’an, secara halus mengembalikan khazanah tritunggal ini kepada esensinya: bukan zatnya yang satu sekaligus tiga, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah Allah dan Insan Kamil, melalui kehadiran Ruh Al-Quds, telah sepenuhnya selaras dan menjadi satu kehendak. Apapun perbuatan, perilaku dan kehendak seorang Insan Kamil akan sepenuhnya sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan Allah-nya sendiri, sebagai zat, tetap hanya satu. Inilah yang dikembalikan: Allah itu satu, tidak memiliki anak, dan anggota sistem ke-tiga-an itu terpisah, baik secara hakikat maupun zat. Wujudnya satu, bukan tiga.

Siapa saja Insan Kamil itu? Mereka adalah semua orang yang telah dianugerahi Allah Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya. Semua Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Isa as, dan para orang suci yang ber-maqam rahmaniyah dan rabbaniyah, adalah Insan Kamil.

Ada sebuah hadits dari Rasulullah, ketika Umar melihat dajjal dan bermaksud membunuhnya, Rasulullah mencegah beliau. Rasulullah mengatakan, Umar tidak akan mampu membunuhnya. Yang akan menghadapi dajjal kelak adalah Nabi Isa as di akhir zaman. Kenapa Nabi Isa as, bukan Umar atau bahkan bukan Rasulullah? Karena, walaupun semua orang yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds tidak bisa lagi disentuh iblis, hanya Nabi Isa-lah satu-satunya orang yang oleh Allah diberi kehormatan sebagai manusia yang memiliki Ruh Al-Quds sejak hari kelahirannya, bahkan sejak dalam kandungan. Kenapa bukan Adam a.s.? Karena Adam as tidak pernah dilahirkan. Beliau ‘diciptakan’, dijadikan. Menghadapi dajjal adalah hak Nabi Isa a.s.

“Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Quds, kamu dapat berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian dan ketika dewasa…”(Q. S. [5] : 110)

Kembali ke persoalan sebelumnya,

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir”. (QS. 2:34)

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan-Nya (Insan Kamil) ada yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72 tadi. Malaikat —bukan— sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapapun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruh Al-Quds) dalam jiwa seseorang. Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruh Al-Quds disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekedar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud (perhatikan kata yang dipakai dalam ayat tersebut: ‘kafir’: tertutup, tidak mampu melihat kebenaran).

Kembali pada ayat:

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”. (Q.S. 38:72)

Jangan ’sujud’ kepada siapapun yang belum dianugerahi Allah ‘Ruh-Nya’ ke dalam dirinya. Allah hanya memerintahkan ’sujud’ kepada mereka yang telah disempurnakan-Nya, dan telah dianugerahi Ruh Al-Quds kepada dirinya.
[]
P.S. :
(1) Mereka-mereka yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds mempunyai kemewahan yang tiada tara: bisa berdialog (bukan monolog maupun meminta secara sepihak saja) dengan Allah langsung tanpa melalui ‘birokrasi’ malaikati apapun (jelas, karena kedudukannya jadi lebih tinggi dari malaikat). Allah akan berkenan menjawabnya langsung (lihat [2] : 253 di atas). Ia menjadi sahabat-Nya,Kalimullah (orang yang diajak berbicara dengan Allah). Ia menjadi keluarga-Nya(Ahlullah). Demikian pula, karena mustahil ketika seseorang mengenal Allah tidak takjub kepada-Nya, maka Allah-pun akan menjadi sosok yang paling dicintai orang tersebut.
(2) Tahu asal kata ‘Hadits Qudsi’? Kenapa ada perkataan Allah yang bisa disampaikan Nabi, tapi tidak ada dalam Qur’an? Disebut ‘Hadits Qudsi’ karena ucapan-ucapan-Nya itu disampaikan Allah lewat Ruh Al-Quds yang telah dianugerahkan Allah ta’ala kepada orang tersebut.
(3) Plural dari ‘Ruh’ adalah ‘Arwah’. Karena semua Ruh langsung berasal dari Allah dan langsung pula kembali kepada-Nya, maka —TIDAK ADA— yang namanya ‘arwah gentayangan’. Tidak ada roh yang gentayangan, apalagi penasaran. Yang ‘gentayangan’ itu jin, atau bisa juga iblis, mungkin.

_______
Catatan: Tulisan ini bukan karya saya sepenuhnya. Lebih tepat jika dikatakan bahwa saya hanya menuliskan kembali secara ringkas apa-apa yang saya pahami, sebagaimana telah diajarkan oleh guru-guru saya. Semoga Allah menambah hikmah dan menganugerahkan rahmat-Nya pada mereka semua.

Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....

Marilah Setiap detak-detik jantung..,
selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

by : Vicky Robiyanto
 Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ....

Jumat, 07 Januari 2011

Air Mata Untuk Ayah

Setiap anak selalu merasakan kasih sayang seorang ayah dan ayah selalu memiliki cara bagaimana mengungkapkan rasa sayang kepada anaknya. Ada salah seorang anak Amalia menuturkan bagaimana kasih sayang ayahnya sampai membuat saya meneteskan air mata membaca tulisannya merasakan kepedihan hatinya.

'Sewaktu aku masih kecil sekolah taman kanak-kanak, ayah sangat memanjakanku dengan memberi perhatian lebih. Mengantar dan menjemput sekolah dengan sepeda, membelikan aku es krim, uang jajan yang lebih. Kemudian aku SD, ayah nggak lagi mengantar dan menjemput aku sekolah, aku berjalan kaki setiap hari dipanas yang terik dan kalo hujan turun aku basah kuyup, ayah tidak peduli padaku, aku marah padamu ayah! aku menangis, ayah hanya diam, duduk membisu. Ayah tidak menyayangku lagi. Apa salahku ayah?'

Sampai disiang hari aku disekolah, datang ibu mejemputku pulang, memberitahukan bahwa ayah sedang sakit keras. Ibu menangis disepanjang jalan, aku juga ikut menangis begitu melihat ayah yang terbaring lemah dan aku baru mengerti ayah sangat menyayangiku, aku mengerti kenapa ayah selalu menyuruhku pulang sendiri karena ayah ingin aku menjadi kuat terkena terik panas dan hujan, ayah ingin agar aku tabah sekalipun ayah tidak ada disampingku tapi aku terus menangis setiap kali teringat ayah. Siapa yang menghapus airmataku ayah? Aku rindu ayah..air mata ini untuk ayah.

Kamis, 06 Januari 2011

Datangnya Kemudahan

Ada banyak orang yang berbahagia dalam kebahagiaan namun ada berapa orang yang mampu bahagia dalam penderitaan? Mensyukuri kebahagiaan dan penderitaan yang datang silih berganti. Keyakinan bahwa penderitaan dan kebahagiaan adalah sama2 sebuah nikmat yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Abu Dzuaib al-Huzali delapan anaknya meninggal dunia dalam waktu satu tahun. Ditengah derita, dirinya percaya, berserah diri hanya kepada Allah, dalam doa yang dipanjatkan, Ya Allah, Engkau ambil kedelapan anakku sebelumnya Engkau memberikannya kepadaku, maka berikanlah aku kekuatan dan ketabahan agar aku mampu mensyukuri setiap apapun yang Engkau berikan & Engkau ambil dariku.' Bagi dia hanya kehilangan sebagian kecil saja dari keseluruhan nikmat yang diterimanya maka tidak berapa lama Allah menggantikan dengan memberikan anak-anak yang sholeh untuknya.

Seringkali kita mengira apa yang telah terjadi adalah akhir dari segalanya? Namun ternyata pertolongan Allah telah tiba. Berapa kali anda merasakan jalan telah buntu? Namun ternyata kebahagiaan, kebaikan dan keberhasilan telah datang menghampiri. "Katakanlah Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan.' (QS. al-An'am : 64). Segala kemudahan datangnya dari Allah. Tidak ada daya dan upaya kita sebagai manusia kecuali hanyalah Allah yang menentukan segalanya. Ibnu Taimiyah, ' Dengan 'La haula wa la quwata ila billah' 'Tiada daya dan tiada upaya kecuali hanya Allah' semua beban bisa ditangguhkan, semua bencana bisa diatasi dan semua kesulitan mendapatkan kemudahan.

Disaat Namrud menjebloskan Nabi Ibrahim Alaihi Salam kedalam api yang berkobar tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim semua itu terjadi karena pertolongan Allah. 'Wahai Api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.' (QS. al-Anbiya' : 69). Oleh karena itu janganlah merasa terhimpit sedetikpun karena setiap keadaan akan selalu berubah. Sebaik-baiknya kemuliaan dalam hidup kita adalah bersabar menanti datangnya pertolongan Allah. Betapapun membutuhkan waktu untuk bersabar hari demi hari, malam demi malam, disetiap tetes air mata telah mengering. Yakinlah, Allah mengerti apa yang terbaik dalam hidup anda, setiap kesulitan akan datang kemudahan.

(Tasawuf): Abdal Pemimpin Kafilah Ruhani Menuju Allah

Assalamualaikum wr.wb
Sahabatku rahimakumullah,
Agar kita menjadi awliya’ (kekasih Allah) caranya melalui kedermawanan & An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yg tulus kpd sesama Muslim) dgn menjaga diri dari perbuatan yg merendahkan, menghinakan, mencemooh/memfitnah sesama Muslim. Di depan Ka’bah yg suci, Nabi Saw bersabda,“Engkau sangat mulia, tapi disisi Allah lebih mulia lagi kehormatan kaum Muslim. Haram kehormatan Muslim dirusakkan. Haram darahnya ditumpahkan”.

=======================

(Tasawuf): Abdal Pemimpin Kafilah Ruhani Menuju Allah
KH Jalaluddin Rakhmat

Dalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuan, ada sejumlah stasiun yang harus mereka lewati. Derajat mereka juga bergantung pada banyaknya stasiun yang sudah mereka singgahi. Pada setiap stasiun selalu ada pengalaman baru, keadaan baru, dan pemandangan baru. angat sulit menceritakan pengalaman pada stasiun tertentu kepada mereka yang belum mencapai stasiun itu.

Dalam literatur tasawuf, stasiun itu disebut manzilah atau maqam. Pengalaman ruhani yang mereka rasakan disebut hal. Ada segelintir orang yang sudah mendekati stasiun terakhir. Mereka sudah sangat dekat dengan Tuhan, tujuan terakhir perjalanan mereka. Maqam mereka sangat tinggi di sisi Tuhan. Kelompok mereka disebut awliya’, kekasih-kekasih Tuhan. Mereka telah dipenuhi cahaya Tuhan. Sekiranya kita menemukan mereka, kita akan berteriak seperti teriakan orang munafik pada Hari Akhir, “Tengoklah kami (sebentar saja) agar kami dapat memperoleh seberkas cahayamu” (QS 57:13).

Dalam kelompok awliya’ juga terdapat derajat yang bermacam- macam. Yang paling rendah di antara mereka (tentu saja di antara orang-orang yang tinggi) disebut awtad, tiang-tiang pancang. Disebut demikian karena merekalah tiang-tiang yang menyangga kesejahteraan manusia di bumi, kerena kehadiran merekalah Tuhan menahan murka-Nya; Tuhan tidak menjatuhkan azab yang membinasakan umat manusia. lbnu Umar meriwayatkan hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah menolak bencana –karena kehadiran Muslim yang saleh– dari seratus keluarga tetangganya.” Kemudian ia membaca firman Allah, “Sekiranya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya sudah hancurlah bumi ini” (QS 2: 251).

Penghulu para awliya’ adalah quthb rabbani. Di antara quthb dan awtad ada abdal (artinya, para pengganti). Disebut demikian, kerena bila salah seorang di antara mereka meningggal, Allah menggantikannya dengan yang baru. “Bumi tidak pernah sepi dari mereka,” ujar Rasulullah Saw., “Karena merekalah manusia mendapat curahan hujan, karena merekalah manusia ditolong” (Al-Durr Al-Mantsur, 1:765).

Abu Nu’aim dalam Hilyat Al-Awliya’ meriwayatkan sabda Nabi Saw., “Karena merekalah Allah menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan menolak bencana.” Sabda ini terdengar begitu berat sehingga lbnu Mas’ud bertanya, “Apa maksud karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?”‘ Rasulullah Saw. bersabda, “Karena mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena doa mereka, Allah menolakkan berbagai bencana.” Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terimakasih khusus kepada mereka.

Kata Rasulullah Saw., “Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak shalat atau banyak puasa.” Sangat mengherankan; bukanah untuk menjadi awliya’, kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya? Seperti kita semua, para sahabat heran. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, fima adrakuha?” Beliau bersabda, “Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin” (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim). Dalam hadis lain, Nabi berkata, “Bishidqil wara’, wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami’il muslimin” (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).

Jadi, yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. bukanlah frekuensi shalat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita?

Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan). Berjalan menuju Allah berarti meninggalkan rumah kita yang sempit –keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada “aku” sebagai pusat perhatian. Seluruh gerak kita ditujukan untuk “aku”. Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi “milikku.” Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan “aku.” Ia sudah bergeser ke falsafah “Untuk Dia”.

Karena itu Nabi Saw. bersabda, “Orang dermawan dekat dengan manusia, dekat dengan Tuhan dan dekat dengan surga. Orang bakhil jauh dari manusia, jauh dari Tuhan dan dekat dengan neraka”.

Dalam hadist tersebut jelas bahwa tanpa kedermawanan, maka ibadah shalat kita, shaum, haji dan ibadah apa pun tidak akan membawa orang dekat dengan Tuhan. Dengan kebakhilan (pelit), makin banyak orang melakukan ibadat makin jauh dia dari Tuhan. Orang dermawan sudah lama masuk dalam cahaya Tuhan, sebelum mereka masuk ke surganya. Kedermawanan telah membawanya dengan cepat ke stasiun-stasiun terakhir dalam perjalanannya menuju Tuhan.

Kedua, yang mengantarkan orang sampai kepada kedudukan abdal, adalah An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslimin) . Kesetiaan yang tulus tersebut ditampakkan pada upaya untuk menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan, menghinakan, mencemooh atau memfitnah sesama Muslim.

Diriwayatkan pada suatu ketika di depan Ka’bah yang suci, Nabi Saw. berkata, “Engkau sangat mulia. Tetapi disisi Allah lebih mulia lagi kehormatan kaum Muslim. Haram kehormatan Muslim dirusakkan. Haram darahnya ditumpahkan.”

Belum dinyatakan setia kepada Islam sebelum orang meninggalkan keakuannya. Banyak orang merasa berjuang untuk Islam, walaupun yang diperjuangkan adalah kepentingan akunya, kepentingan kelompoknya, kepentingan golongannya. Mereka memandang golongan yang lain harus disingkirkan, karena pahamnya tidak menyenangkan paham mereka. Mereka hanya mau menyumbang bila proyek itu dijalankan oleh golongannya. Mereka hanya mau mendengarkan pengajian bila pengajian itu diorganisasi atau dibimbing oleh orang-orang dari kelompoknya. Apa pun yang diperjuangkan tidak pernah bergeser dari keakuannya. Ia merasa Islam menang apabila kelompoknya menang. Ia merasa Islam terancam bila kepentingan golongannya terancam. Ia telah beragama, ia telah mukmin; tetapi agamanya masih berkutat dalam keakuannya.

An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yang tulus kepada kaum Muslim) melepaskan keakuan seorang mukmin. Ia memberinya kejujuran dalam ketaatan, ketulusan niat, dan kebersihan hati. Ia juga yang mengantarkannya kepada kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena kedermawanan dan kecintaan kepada kaum Muslim, Anda juga dapat menjadi kekasih Tuhan.

Wahai hamba-hamba Allah, berangkatlah kalian menuju Tuhanmu. Percepatlah perjalanan kalian dengan kedermawanan dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslimin .

____________

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat 

Billahit taufiq wal hidayah 
Wassalamualaikum wr.wb
IPH (Gus Im) 
"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK, SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"


1.000 TOPENG

Terlalu banyak yang bersembunyi dan mengenakan topeng, menukar ‘janji’ dengan ‘kata
***
Jangan terpedaya oleh saya.
Jangan terpedaya oleh topeng yang saya pakai.
Saya memakai 1.000 topeng.
Topeng yang saya (sendiri) takut untuk menanggalkannya.
Topeng yang tak satupun mencerminkan wajah saya yang sebenarnya.
Kepura-puraan adalah satu seni yang sudah sehati dengan diri saya, tetapi janganlah terpedaya.

Saya memberi kesan bahwa kedudukan saya dalam keadaan selamat.
Semua yang bersama saya bercahaya dan tenteram, baik lahir maupun batin.
Rahasia adalah nama saya dan ketenangan adalah permainan saya.
Air semuanya tenang dan saya merasa berkuasa dan tidak memerlukan bantuan siapapun.
Tapi jangan percaya itu, tolong... jangan!



Penampilan luar saya kelihatan halus.
Tapi itu adalah topeng saya, topeng yang selalu berubah dan menutupi wajah saya yang sebenarnya.
Di bawah topeng itu ialah ketidakpuasan hati, ketidaktenteraman, dan kegelisahan.
Yang dibalik topeng itu adalah diri saya yang sebenarnya, yang dalam kebingungan, ketakutan, dan kesunyian.
Tapi saya sembunyikan di diri saya.
Saya tidak mau siapapun mengetahuinya.
Saya panik memikirkan kelemahan saya akan terbongkar.


Itulah sebabnya saya secara gila menciptakan topeng untuk berlindung, satu pencarian yang rumit untuk membantu saya berpura-pura dan berlindung dari pandangan mereka yang dapat mengenal saya.
Tapi pandangan seperti itu sebenarnya adalah pandangan penyelamat saya.
Itulah satu-satunya yang dapat membebaskan saya daripada saya yang terpenjara oleh dinding penjara buatan sendiri, dari dinding pemisah yang bersusah payah saya bina.
Tapi saya tidak menyatakan perkara ini kepada kamu, saya tak berani, saya takut.


Saya takut pada pandangan kamu yang tidak di ikuti dengan kasih sayang dan penerimaan.
Saya takut kamu memperkecilkan saya.
Kamu akan menertawakan saya dan ketawa kamu akan membunuh saya.
Saya takut bahwa jauh dalam diri saya, saya bukan apa-apa, saya tak berguna dan kamu akan melihatnya dan menolak saya.
Oleh karena itu, saya akan bergelimang dengan permainan kesukaan saya, kepura-puraan, dan berputus asa.
Dengan kepastian palsu di luar dan seorang kanak-kanak menggigil di dalamnya.


Saya sangat ingin menjadi manusia tulen, bersahaja, dan diri sendiri, tapi kamu harus menolong saya.
Bantulah saya dengan mengulurkan kedua belah tangan kamu.
Walaupun itulah yang terakhir yang saya ingin dan perlukan.
Setiap kamu bersikap baik, lembut, dan memberikan dorongan.
Setiap kali kamu mencoba memahami saya karena kamu benar-benar memperhatikan diri saya, hati saya mulai tumbuhkan sayap.
Sayap yang sangat kecil dan lemah, tapi benar-benar sayap.
Dengan kepekaan dan simpati kamu dan upaya kamu untuk memahami saya, saya dapat melakukannya, saya dapat memperbaiki.
Kamu menghidupkan kembali jiwa saya yang telah lama terkubur.
Memang tidak mudah bagi kamu untuk melakukannya.


Keyakinan yang lama pada sesuatu yang tak berarti, berupaya membina dinding yang teguh.
Tetapi kasih sayang lebih teguh daripada dinding, dan disitulah harapan saya.
Tolong jangan robohkan dinding itu dengan tangan yang kukuh, tapi dengan tangan yang lembut karena di dalamnya ada seorang kanak-kanak yang sensitif dan saya adalah seorang kanak-kanak.


(sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.5) by Alv vin




Pengecut adalah kerusakan
Hawa nafsu adalah kerusakan bagi akal
Rusaknya keyakinan karena keraguan
Rusaknya nikmat karena pengingkaran


Rusaknya ketaatan karena maksiat
Rusaknya kemuliaan karena kesombongan
Rusaknya kecerdikan karena tipudaya
Rusaknya kemampuan karena kesombongan dan keangkuhan


Pangkal berbagai kerusakan adalah cinta pada kelezatan
Kerusakan yang paling jelek pada akal adalah kesombongan


Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang di ikuti
Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut


Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan ALLAH menjaga kekasih-kekasih-NYA
Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka ALLAH
Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan ALLAH, maka ALLAH akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu


by Alv vin

Rabu, 05 Januari 2011

Perih Itu Akhirnya Bahagia

Pengakuan seorang laki-laki yang terpaksa bercerai dari istrinya, kerepotan mengurus anak yang masih balita dan kesibukan mencari nafkah membuat hidupnya menjadi tidak terurus dan terbengkalai. Rasa bersalah dan kesepian serta kekacauan hidupnya setelah kehilangan, membuat ia melupakan harga dirinya, berkali-kali ia memohon kepada istri dan anaknya untuk kembali namun semua sudah tidak sanggup lagi bisa disatukan. Janji dan niat baik untuk memperbaiki diri tidak dapat dilaksanakan, apa lagi keadaan lebih parah dari sebelumnya. Akhirnya mereka berpisah dan hidupnya menjadi hancur, hatinya perih terluka. Airmata mengalir begitu saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia bersama kakaknya hadir ke Rumah Amalia. Kami berdoa bersama dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sejak itu ia mendapat ketenangan dan hidupnya menjadi lebih teratur karena merasakan bahwa perih luka dihatinya adalah wujud kasih sayang Allah kepada dirinya. Perjalanan hidup terus berlanjut sampai mengenal seorang gadis yang kemudian menjadi istri dan ibu dari sang buah hatinya. Ia menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang kedua karena pengalaman masa lalu telah membuatnya lebih dewasa dan bijak setiap menghadapi masalah dan perbedaan. Istrinya juga merawat dan menyayangi anak tirinya sebagaimana anaknya sendiri, keduanya saling mencintai dan saling mengerti dan menerima apa adanya.

Kenangan atas mantan istrinya terkadang masih menyisakan rasa perih dihati namun sama sekali tidak mengganggu dirinya dan keluarganya. Mantan istrinya masih sering datang meminta bantuan bagi anaknya yang ikut dengan dia. Istrinya sama sekali tidak marah ataupun cemburu bahkan malah menganjurkan agar memberikan sebagian rizkinya untuk diberikan kepada mantan istri & anaknya. Hubungan istri dan mantan istrinya juga anak2nya sangat baik, ketika diantara mereka ada yang sakit, mereka saling menjaga dan merawat. Mereka sudah menjadi seperti satu keluarga dengan kasih sayang yang berlimpah.

'Alhamdulillah. terima kasih Ya Allah atas karuniaMu kepada kami dan keluarga kami,' tuturnya malam itu di Rumah Amalia. Kehidupannya menjadi indah karena kebencian telah berubah menjadi saling mengasihi. Perih itu akhirnya bahagia.

--
'Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya pasti Kami akan memberikan tempat yang indah kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui, yaitu orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.' (QS. an-Nahl : 41-42).

Senin, 03 Januari 2011

Ya Allah, Mengapa Berat Cobaan Hidup Ini?

Ketika termenung memanjatkan doa kepada Allah, curhat kepadaNya. 'Ya Allah, begitu berat cobaan hidup ini. Air mata mengalir tanpa terasa. Dada terasa sesak, napas terasa berat. Pundak seolah tidak sanggup memikulnya. Kaki tidak sanggup untuk bertumpu. Berserah diri kepada Allah mampu menghilangkan segala keluh kesah dan akhirnya membuat jiwa kita menjadi tenang karena menyerahkan segala urusan kehidupan hanya kepada Allah yang membuat hati kita merasa merasa tenang dan tenteram. Hanya kepada Allahlah kita berharap dan hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.

Cobaan adalah latihan yang datangnya dari Allah. Setiap kali cobaan hadir menghampiri beruntunglah bila anda bersabar selama masa latihan dan bertahan sampai lulus melewati semuanya maka kita berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, Allah akan senantiasa melimpahkan kebahagiaan hakiki bagi siapapun yang mencintai dan taat kepadaNya. Orang yang sabar akan mendapat ketenangan hati. Orang yang sabar akan mendapatkan kebeningan hati. Juga mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.

Jalan keluar dan kelapangan hati ada dalam keimanan dan keridhaan, sementara keresahan dan kesedihan itu ada dalam keraguan dan kekecewaan sehingga Ali bin Abi Thalib menyebutkan 'Hanya orang yang bersabarlah akan mendapatkan yang terbaik dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.' Sikap sabar dan kebaikan pada diri seseorang muncul ketika dirinya tertimpa musibah sebab dia akan menjadikan sabar sebagai senjata menghadapi musibah, Kesabaran menjadi kekuatan dan harapan agar mampu melewati musibah. Karena kesabarannya dia melihat jalan keluar dan pertolongan Allah berada di depan matanya. Ketika anda berada dalam tingkatan ini, Allah memberikan semua yang diperlukan. Allah menghilangkan semua kesulitan anda. Allah mengabulkan semua permintaan anda dan Allah menyelamatkan anda dari segala kepedihan & derita di dalam hidup ini. Ingatlah, Pertolongan Allah hadir menyelesaikan masalah hidup anda dengan cara yang tidak pernah anda duga dan tidak pernah anda sangka sebelumnya. Mari kita berdoa, memohon kepada Allah.

'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami, bila kami lalai atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami dengan beban yang berat sebagaimana beban orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sangggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami maka tolonglah kami menghadapi orang-orang yang ingkar.' (QS. al-Baqarah : 286).