Senin, 21 Juni 2010

BED OF ROSES

By : Abi Aulia

8 tahun yang lalu, penyakit berat membawa kekasihku pergi dan sangat sering aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya istriku yang sekarang berada di surga?. Dia tentu merasa sangat sedih karena meninggalkan seorang suami yang tidak mampu untuk mengurus rumah dan anak. 'Sebab itu adalah perasaan yang tepat yang kumiliki sekarang, karena aku merasa bahwa aku telah gagal untuk menyediakan kebutuhan fisik dan emosional anakku, dan gagal menjadi ayah dan ibu sekaligus untuk anakku.



Pada suatu saat, aku mendapat tugas mendadak dari tempat kerja. Oleh karena itu, aku harus meninggalkan rumah sementara anakku masih tidur. Aku teringat bahwa masih ada sisa nasi kemarin, dan aku lantas buru-buru memasak telur dadar untuk anakku dan pergi setelah membisikan anakku saat ia masih mengantuk.


Dengan peran ganda, aku sering lelah di tempat kerja maupun ketika aku pulang. Jadi setelah hari yang panjang itu, aku pulang, dengan tubuh yang benar-benar lelah…terkuras semua energiku. Saat tiba dirumah aku hanya memeluk dan memberikan ciuman singkat untuk anakku yang masih bermain dengan beberapa mainannya, aku langsung masuk ke kamar tidur dan melewatkan makan malamku. Namun, ketika aku melompat ke tempat tidur terdengar dan terasa ada piring pecah dengan siraman cairan hangat! Aku membuka selimut, dan ahhhh di sana terletak sumber 'masalah'nya ... mangkuk pecah dengan mie instan berantakan di seprai dan selimut!


Anak tak bisa diatur!!! Aku begitu marah dan aku ambil gantungan baju dari atas lemari, keluar kamar dan kupukul anakku yang sedang bermain dengan mainannya, aku memberinya pukulan yang telak! Dia hanya menangis tapi tidak meminta ampun, kecuali memberikan penjelasan singkat :

"Ayah, aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa-sisa beras di dapur. Tapi ayah belum kembali, maka aku ingin memasak mie instan. Tapi aku ingat ayah mengingatkan aku untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar kita, maka Aku menyalakan shower dan menggunakan air panas dari kamar mandi ayah untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satunya untuk Aku. Namun, Aku takut mie itu akan menjadi dingin ketika ayah pulang, sebab itu aku bersembunyi di bawah selimut untuk tetap menghangatkan mie sampai ayah kembali Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah sebab aku sedang bermain dengan mainanku. ...Aku minta maaf ayah ... "ujar anakku sambil terisak isak.


Pada saat itu, air mata mulai mengalir di pipiku ... tapi saya tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis , Aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyiramkan air diwajahku…. Menangis sesegukan. Setelah beberapa saat, aku hendak pergi ke kamar anakku untuk meminta maaf dan hendak memeluknya erat juga memberinya pengobatan pada lukanya akibat pukulanku di pahanya, dan tentu saja selanjutnya untuk membujuknya tidur.
Aku melongok kamar anakku, dan kulihat ia masih menangis, Namun aku pikir bukan dari rasa sakit di paha kecilnya…. Ahhhhh….kulihat ranjangnya tertata rapi dan sepertinya ia menaburkan bunga bunga mawar plastik diatasnya dengan sengaja-Bed of Roses! ..(bunga mawar adalah favorit almarhumah istriku)..kulihat anakku menangis sambil memandang foto Ibunya tercinta!.


Setahun telah berlalu sejak insiden itu, aku masuk lagi dalam periode kembali fokus pada satu hal, memberinya cinta ayah dan ibu sekaligus, juga memberinya sebagian besar kebutuhan2nya. Dia sudah berumur 9 tahun saat itu, Klas 4 dan akan ‘kenaikan’ di SDnya.Untungnya, insiden tersebut tidak meninggalkan kesan mendalam di kenangan masa kanak-kanaknya ia masih selalu gembira dan tumbuh kembang secara normal.


Namun, tidak lama kemudian, suatu hari aku memukul anakku lagi, dengan penuh amarah!. Kali ini, gurunya melaporkan kalau anakku bolos dari sekolah. Cepat cepat aku pulang awal dari tempat kerja dan pulang, berharap anakku menjelaskan apa sebabnya dia membolos. Tapi ia tidak ada dirumah, jadi aku putuskan mencarinya di sekitar rumah dan sekolahnya…setelah berputar putar tak tentu arah aku menemukannya di sebuah Warnet dekat rumah dan ia sedang bermain game!. Aku marah, membawanya pulang dan menderanya kuat kuat. Dia diam dan tidak membalas, kecuali satu kalimat, "Maafkan aku, Ayah '. Dia diam membisu dan tidak mengucapkan alasan apapun sebabnya ia membolos namun setelah aku selidiki, Aku baru tahu bahwa di sekolahnya sedang menyelenggarakan Hari Ibu itu dan undangannya kudapatkan masih tersimpan rapih di tas sekolahnya untuk Ibu dari setiap siswa!. Dan itulah alasan untuk ketidakhadirannya di acara tersebut saat ia tahu ia tidak memiliki Ibu! .....


Waktu berlalu dengan sangat cepat, dan segera setahun lagi telah berlalu. Anakku kini memiliki masalah lain. Ketika aku dirumah, tidak bekerja karena sakit, seorang tukang pos mengantar tumpukan amplop surat, kulihat dibelakangnya tulisan anakku namun di depannya tidak tertulis alamat yang dituju.
Walaupun aku telah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, aku tidak bisa menahan diri untuk memukulnya karena aku merasa bahwa anakku sudah benar-benar di luar kendali. Sekali lagi, seperti sebelumnya, ia meminta maaf, "Maafkan aku, Ayah 'dan tidak ada alasan tambahan untuk menjelaskan apa sebabnya ia mengirim surat surat tanpa alamat . Aku mendorongnya ke sudut kamar tamu dan menghukumnya untuk berdiri sampai ia mau menjelaskan alasannya apa hingga ia melakukan hal seperti itu, mempermainkan petugas petugas di kantor pos!.

Jawabannya, di tengah menangis, adalah: Itu surat-surat untuk Ibu, Ayah!


Mataku langsung berlinang tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya: "Tapi kenapa kamu membuat begitu banyak surat, pada satu waktu?" Jawaban anakku adalah: "aku telah menulis surat kepada Ibu dalam waktu yang lama, tapi setiap kali aku berusaha untuk menggapai kotak pos didepan kantor pos, itu terlalu tinggi letaknya bagiku, sehingga aku tidak bisa menulis huruf-huruf didepannya Tapi baru-baru ini., ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai itu dan aku kirim semuanya sekaligus ... " Setelah mendengar ini, aku terdiam kehilangan akal karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus dikatakan ....


Aku bilang anakku, "Anakku, Ibu sedang berada di surga, jadi jika kamu memiliki sesuatu untuk disampaikan kepada ibumu, bakarlah surat itu dan itu akan sampai kepada Ibumu,Nak….dan setelah kejadian tersebut ia jauh lebih tenang dan tenang, dan segera setelah itu, dia tidur nyenyak. Aku lantas membakar tumpukan surat itu mewaliki anakku, namun ada sepucuk surat yang tidak ikut terbakar, aku merenggutnya, membuka dan membacanya ... .


Ibuku Sayang,

Aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada acara Hari Ibu di sekolah, dan sekolah mengundang semua ibu untuk melihat pertunjukan yang telah kami persiapkan. Tapi Ibu tidak ada, jadi aku tidak ingin ikut serta juga. Aku tidak memberitahu Ayah tentang hal ini karena aku takut Ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Ayah pergi berkeliling mencari aku, tetapi untuk menyembunyikan kesedihanku, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu warnet. Ayah marah dan memukuli aku, tapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya saat itu.
Ibu, setiap hari aku melihat Ayah kehilanganmu dan setiap kali ia teringat padamu, dia sangat sedih dan sering menyembunyikan diri dan menangis di kamarnya. Aku pikir kami berdua merindukanmu, Ibu. Tapi Ibu, aku mulai melupakan wajahmu. Tolonglah muncul dalam mimpiku sehingga aku bisa melihat wajahmu dan mengingatmu kembali. Aku dengar bahwa jika kita tertidur dengan foto orang yang kita rindukan, kita akan melihat orang tersebut dalam mimpi kita. Tapi Ibu, mengapa engkau tidak muncul?...padahal telah aku tebarkan juga bunga bunga mawar kesayangan Ibu diatas tempat tidurku?


Setelah membaca surat itu, Aku tak henti hentinya menangis. Ternyata aku tidak pernah dapat menggantikan kedudukan Istriku dan aku tidak bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Anakku....

--------------------------
-

"Wahai Allah, ampunilah Istriku, naikkanlah derajatnya diantara orang-orang yang mendapat hidayah, dan lindungilah keluarga dan keturunannya yang masih hidup. Ampunilah dia dan kami, Yaa Rabb, Tuhan sekalian alam, luaskanlah kubur baginya dan berikanlah cahaya didalamnya"

---------------------------
AA | Sepenggal kisah nyata di Tahun 2002


Tidak ada komentar:

Posting Komentar