Kamis, 20 Januari 2011

~ Penyucian Jiwa ~



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Jiwa manusia diibaratkan sebagai istri pertama manusia sendiri, yang sering kita lupakan. Karena sudah tidak terawat dengan baik, sang jiwa menjadi keriput dan  tidak menyenangkan. Akhirnya kebanyakan dari kita akan mencari istri kedua, ketiga , bahkan keempat. Pertanyaan kita adalah  kenapa jiwa yang dulunya suci, bersih , indah dan hebat  berubah menjadi kotor , busuk dan tidak terawat?
Mengapa kita beruaha  mencari kebahagiaan lain dan buta terhadap kebahagiaan yang sejati?

Jawabnya adalah karena kekurangan 3P , yaitu  ; Perrhatian (p1); Perhatian (p2) , Perhatian (p3).
Padahal istri pertama inilah yang paling setia, karena  dialah sesungguhnya yang akan pergi menemani kematian kita, ikut mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang  pernah kita lakukan.

Kurangnya perhatian terhadap jiwa kita sendiri membuat jiwa kita menjadi lemah, malas , takut,cemas , curiga dan pemarah.
Selalu berusaha menipu diri sendiri di balik topeng-topeng  kebahagiaan. Terkadang bersembunyi dibalik selimut kasih sayang dan kebaikan, padahal jiwanya rakus dan munafik. Selama dirinya bersembunyi  di balik topeng kebohongan , jiwanya tidak pernah bahagia.

Beningnya suasana batin adalah  usaha (tugas) kita yang harus dibuktikan secara sungguh-sungguh membersihkannya. Karena untuk mencapai jiwa yang sempurna , seseorang membutuhkan  usaha yang tidak main-main.  Kita membutuhklan kesadaran paripurna .
Terdapat Tiga rahasia untuk menjacapai jiwa yang sempurna dan di ridhai Allah , namun dari tiga itu berasal dari  “ satu kata kunci “  yang kita sebut , JAHADA (bersungguh-sungguh)


Kesadaran menggapai jiwa Paripurna :

          1.Jihad

Makna jihad disini tidak hanya semata-mata berperang dijalan Allah saja, namun secara filosofis yakni upaya manusia untuk mengalahkan  dorongan-dorongan dari dalam dirinya untuk berbuat maksiat (negatif) serta mampu memenangkan kebaikan diatas kebatilan.  Peperangan ini tidak terlihat , namun  sangat terasa dalam hati dan jiwa manusia. Celakanya bila sang badan dipimpin oleh nafsu kebatilan ,  raga ini dengan mudah akan terjerumus dalam dosa yang tiada akhir.

Keberhasilan  para  tokoh dunia selalu diawali dengan keberhasilan atas penguasaan dirinya sendiri. Kita bisa bayangkan bagaimana seorang Einstein  bisa menjadi pemikir hebat kalau dengan dirinya sendiri saja dia sudah terkalahkan.
Newton tentu akan malas membaca rahasia alam melalui  sebuah apel , tapi karena dia telah berhasil menaklukkan dirinya sendiri  , rasa malas, negatif, pesimis itu hilang entah kemana .

Ibnu sina, Ibnu Khaldun, Al-Farabi , Al Ghazali , Al-Kindi , Harun Al Rasyid dan masih banyak filosof muslim lainnya , mereka tidak akan menghasilkan karya yang agung seandainya belum bisa menemukan rahasia kehidupan yang sesungguhnya.  Ketika mereka telah berdamai dengan dirinya  sendiri, seluruh alam semesta akan ikut larut dalam perdamaian sejati.

           2.Ijtihad 
Orang-orang yang  pada awalnya tidak memiliki  modal dalam menggapai kesuksesan pelan namun pasti menggapai kesuksesan , ini dikarenakan mereka bersungguh-sungguh dalam berijtihad .

Dalam unsur ijtihad ada   tiga semangat yang tidak bisa dipisahkan , yaitu kreatif, inovatif, dan pionir.
Kreatif tidak hanya taklik (mengikuti secara buta), tapi juga ikut  dengan mengerti atau membuat karya baru yang justru saling melengkapi.

Dalam pencapaian jiwa yang tercerahkan tidak hanya  berakhir pada kreatif , tapi hasil yang telah jadi dikemas terus hingga menjadi inovasi-inovasi baru tiada henti . begitu juga bila dikaitkan dengan masalah jiwa. Siapapun yang  terus  meningkatkan kualitas jiwanya  dia akan lebih cepat mencapainya bila dibandingkan dengan orang yang merasa suci sendiri, padahal jiwanya terkadang naik terkadang turun.
Unsur Ijtihad dapat berfungsi sebagai pembersih jiwa  kelak, pada saat kita menghadap Allah, jiwa kita pada kondisi yang suci, bersih dan bahagia.

Pionir . Ijtihad itu sendiri  sebenarnya adalah usaha yang  bersungguh-sungguh   dalam pikiran untuk  menyucikan jiwa , yaitu bagaimana kita menjaga pikiran agar selalu jernih dan cerdas, bukan tumpul  dan bodoh.

Pada saat jiwa kita jernih  dalam berpikir , kita akan membuang ilalang (pikiran negatif) agar  tidak bersemayam dengan  pikiran positif yang kita miliki . Seorang  pencari kebenaran sejati selalu bisa menjaga pikirannya dari hal-hal yang merendahkan dirinya, Kalau ini dapat kita miliki  semoga bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain.

3 . Mujahadah

Bila kita  telah bersungguh-sungguh dalam jihad dan ijtihad, kita harus melengkapinya dengan mujahadah. Karena mujahadah adalah selimut bagi kekosongan hati dan jiwa.  Hanya kepada Allah lah kita memohon ampunan dan hanya kepada NYA segala masalah  kita akan terjawab . Allah  mengabulkan doa hamba _Nya , meskipun tidak semuanya lansung terkabulkan.
Mujahadah adalah semangat bersungguh-sungguh  untuk berdoa kepada Allah agar memudahkan segala usaha dan meluruskan segala niat.

Dalam mujahadah itulah kita menemukan diri ini sangat kecil di hadapan Allah. Dan hanya Allah –lah Yang maha Besar. Segala masalah dan jawaban muaranya selalu bersumber  kepada NYA....

“ Dan Tuhan kamu (Allah)  berfirman : “Berdoalah  kepada-KU  , niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang  takabbur dari menyembah-KU  , mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan  terhina “ (QS Al- Mumin (40) : 60)

Pepatah Arab mengatakan “man  Jadda wajada” ( “barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya”).
Usaha itu harus dilakukan secara menyeluruh, tidak  terpisahkan satu sama lain, jihad, ijtihad dan mujahadah.

Jika kita bermujahadah dengan sungguh-sungguh tapi  tanpa jihad (ikhtiar) kebahagiaan masih sangat jauh dari kita. Sebaliknya Jika kita bersungguh – sungguh dalam bekerja , namun malas dalam berdoa tentunya kebahagiaan dan  kesuksesan menjadi impian kosong belaka.  Begitu juga  mungkin kita bersungguh-sungguh berusaha dan berdoa tapi pikiran malas dan gampang menyerah , itupun hanya akan menjadi siksaan badan saja. Itulah yang disebuat  “Dynamic Interply” , sesuatu yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya, semua saling ketergantungan.

Wallahu a’lam bishawwab 
BC21012011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar