Sabtu, 02 Oktober 2010

ORANG-ORANG PILIHAN


Suatu hari ketika  diskusi dengan seorang teman. Tiba –tiba lewat seorang  teman lainnya dan pembicaraanpun berkembang , tentang kebahagiaan dan  kehidupan .  Timbul pertanyaan, “Kenapa ada orang yang hidupnya sudah berlebihan tetapi masih merasa serba kekurangan . Disisi lain seseorang yang hidupnya biasa saja dengan gaji yang standar hidup penuh kenyamanan dan kebahagiaan.”

Sesuatu  yang sudah lama berlansung.  Sebutlah namanya Bapak Budi. Bapak Budi orang  yang tidak pernah kelihatan resah dan gelisah. Kehidupannya sederhana.Ibadahnya pun tidak berlebihan, Orangnya juga tidak fanatik. (yang kelihatan di luar, tapi didalamnya hanya Allah yang tahu) .Gajinya standar sebagai seorang PNS. Dalam usia muda dia telah memiliki segalanya, Rumah, mobil , umrah dan hidup tenang.InsyaAllah sebentar lagi  Naik haji.   Dari perilakunya dia tidak pernah kelihatan menceritakan kejelekan orang lain. Tidak iri pada kelebihan dan jabatan orang lain. Tapi kasih sayang nya kepada orang tua patut di tiru. Setiap tahun dia melakukan Qurban untuk orang tuanya. Terkadang tidak selalu ada uang , tetapi dia tetap melakukan nya  walaupun diam-diam meminjam uang.  Subhanallah .... Karena dia yakin saat ini mungkin dia tidak punya uang tapi dia yakin Allah pasti memberinya rezeki.  Qurban tertentu waktunya ,  mungkin sekarang ga ada uang tapi besok mungkin ada , begitu katanya.

Sungguh luar biasa, biasanya orang yang sudah pantas ber-Qurban  pun mencari –cari alasan agar tidak melakukan Qurban. Apakah dengan mengatakan hidupnya sendiri masih kurang atau merasa masih punya banyak utang.  Ketika ditanya dia hanya tersenyum dan dengan sederhana dia menjawab tanpa terlihat ujub dan bangga. Dia melakukan itu sejak masih muda  ,  Dia berusaha melakukan Qurban untuk orang tuanya tiap Tahun. Biarlah saya nanti saja sekarang untuk orangtua saja dulu.

Lalu pada teman diskusi ini saya bertanya, (karena kami sahabat dekat, jadi sudah saling terbuka), bu kenapa ibu tidak mencoba meminjam  uang ke Bank  untuk uang muka rumah, daripada ngontrak terus, kan kita punya gaji, jadi bisa menyicilnya,  sebagai PNS kita mungkin ga akan diberi kesempatan  untuk lansung membeli rumah yang kita idamkan dengan harga Cash. (Dan pasti bisa bila Allah berkehendak) . Dengan tenang dia menjawab,  Kita kan tidak tahu umur kita sampai kapan, bila dipaksakan bisa  saja tapi saya tidak mau meninggalkan hutang buat suami  dan anak-anak saya.
Rumah itu kewajiban suami tapi saya tidak mau memberatkan pikiran suami saya.
Benar sech  itu bisa aja, tapi ya itu tadi hati saya tidak menerima.  Saya hanya berdoa pada Allah , meminta pada Allah seandainya saya tidak diberi kesempatan memiliki rumah  didunia saya minta Allah memberi saya rumah di Surga. Subhanallah.... Rumah yang diinginkannya jauh lebih mahal dan lebih sulit untuk menjangkaunya, perlu perjuangan yang benar-benar ikhlas.  

Dan apakah memang sebenarnya seperti itu? Benarkah dia tidak sanggup membeli rumah yang dibutuhkannya saat ini (menurut kita). Jabatannya sebagai bendahara banyak memberi peluang mendapatkan kemudahan bila dia mau. Namun kesempatan itu tidak dimanfaatkannya. Karena dia bukanlah  tipe orang yang memanfaatkan kesempatan. Bukan orang yang aji mumpung.   Jabatan yang memberi banyak kemudahan padanya dia gunakan untuk membantu banyak orang. Membantu orang-orang yang kesulitan dengan memberikan kemudahan. Bila ada yang mengeluhkan kesulitan keuangan padanya, InsyaAllah  mereka  tidak akan kembali dengan tangan kosong...

Disamping itu dengan gajinya , dia melakukan jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Setiap bulannya secara rutin dia membantu rumah  Yatim  Piatu dan anak-anak dhuafa.  Menjadi orang tua asuh anak-anak tidak mampu, membiayai sekolah  anak-anak orang yang  miskin secara materi ,  yang  telah lama dia lakukan.  Dan dengan nada rendah dia berujar saya tidak akan kuat bila Allah mengambil yang ada ditangan saya dengan  terpaksa ( maksudnya  bila dia tidak mengeluarkan sendiri mungkin Allah akan merenggutnya apakah dalam bentuk bencana, kesusahan dll) 

Kemudian dia berujar, Mungkin saya belum diberi rumah dan  hidup berlebihan   karena   dulu ketika menerima gaji pertama saya pernah berdoa , “Ya Allah  cukuplah Engkau beri hamba rezeki secukupnya saja sekedar memenuhi kebutuhanku, berilah aku kesempatan berbuat banyak untuk bisa membantu banyak orang,  Jangan sampai rezeki yang engkau berikan  membelengguku”

Subhanallah saya benar-benar  tersadarkan oleh orang yang kelihatannya sederhana dalam penampilan  tapi berpikiran cerdas.  Ketika  dia melakukan  perbuatan membantu banyak  orang  ,sementara buat dia sendiri tidak dia lakukan (menurut orang awam) ternyata dia telah melakukan Investasi besar yang sungguh  orang-orang besar yang sanggup memahaminya. Bukankah sebenarnya apa yang milik kita  adalah apa yang kita keluarkan buat orang lain? Apa-apa yang kita sedekahkan? Apa-apa yang kita  tabungkan dalam bentuk kebaikan? Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Pada pembicaraan selanjutnya  kami diskusi lagi. Sekarang  apa yang akan ibu lakukan ?  Dia menjawab , “Saya pengen naik haji. Tapi  ga tau  uangnya darimana”. Besoknya dia sudah datang dengan membawa beberapa formulir  tabungan Haji. Seorang teman yang tidak mengetahui pembicaraan sebelumnya sampai   matanya berkaca-kaca “Jadi kalian mau naik Haji?”. Sambil tersenyum teman saya menjawab, “ Ya saya sudah lama ingin naik Haji tapi belum tau uangnya darimana, terserah Allah sajalah, yang jelas usaha saya buka tabungan dulu”  . Dan teman baru itupun bercerita tentang masalahnya, kesempitan-kesempitan yang dialaminya. Sampai terlontar pertanyaan bagaimana caranya  bisa menabung, bagaimana caranya  memanage keuangan sedangkan dia juga sama-sama bekerja suami  istri tetapi selalu merasa kesempitan, selalu  merasa kekurangan, Saya melihatmu   ko enjoy banget padahal gaji kita sebagai PNS kan ga jauh beda?

Dengan nada datar  teman saya bertanya kepada teman yang baru datang tersebut, ‘ apakah ibu  selama ini telah mengeluarkan zakat penghasilan?  Sudah mulai belajar berkurban?’
Dia menjawab ,  ‘Ya saya belum  mengeluarkannya karena buat sendiri juga masih kurang. Berkurban juga belum karena berkurban kan hanya untuk orang yang telah   cukup kebutuhannya. Kadang saya tengah bulan juga gaji sudah habis’. 

Dengan sabar teman saya berkata, kalau menunggu kaya , kapan kita  akan kaya? Menunggu cukup kapan  kita akan merasa cukup?  Sedangkan waktu terus berlalu, usia semakin bertambah, Biaya pendidikan anak semakin  besar,   apakah saat itu kita masih mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat?  Subhanallah  orang yang selama ini mengira dia  sederhana ternyata memiliki kekayaan yang  tidak semua orang bisa memilikinya. Dia tidak memiliki kekayaan yang berlimpah, tapi dia memilik “Kaya Hati”. Dia tidak berinvestasi dalam bentuk  rumah mewah, mobil bagus  , emas yang berlebihan, Tapi dia mempunyai investasi yang jauh lebih besar “ Investasi Akhirat”.  Dia memang  belum  mempunyai rumah di dunia ini, tapi dia mempunyai rumah-rumah Yatim yang  dengannya dia  berbagi kasih,  membagi penghasilannya untuk orang-orang dhuafa. Dan yang lebih besar lagi Dia meminta Rumah di surga. Hanya orang-orang yang Yakin Dengan Tuhan-nya lah yang mampu berbuat demikian....

Bagi saya  merekalah  orang-orang sederhana  yang sebenarnya  cerdas,  Merekalah  orang-orang pilihan yang tidak banyak berkata-kata tapi  lansung menerapkan dalam perbuatan.  Merekalah  orang –orang  yang sebenarnya  kaya, karena mereka memiliki ‘Kaya Hati’. Banyak orang-orang kaya harta tapi tidak diberi kesempatan untuk  berbuat banyak  karena selalu merasa kurang.  Banyak orang kaya  yang sebenarnya sudah mampu untuk malaksanakan  haji  tapi belum merasa terpanggil. Banyak orang yang  rezekinya sudah lebih dari cukup tapi belum sanggup untuk melaksanakan Qurban. Banyak orang yang gajinya besar tapi merasa belum saatnya untuk mengeluarkan zakat . ***

“Ya Allah Ya  Tuhan-ku  , Aku berlindung kepada-MU dari Godaan syetan Yang Menggelincirkan”

Wallahua’lam bisshawwab
BC02102010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar