Kamis, 14 Oktober 2010

warisan


Kematianmu memberi kekayaan pengajaran. Bukan hanya duka yang mendera luka, hanya sebuah ruang lubang tanpa dasar yang isinya semerbak keindahan tak pernah selesai. Tak pernah kupahami, selama ini. Kini aku berada di dalamnya. 


Berawal dari kekayaan bermilyar dalam lembaran dan barang. Dan aku hanya melipir ke pinggir, lalu kuterima sehelai sarung dan sehelai handuk. Dua helai yang waktu kugapit saat itu, aku tak pernah berpikir apa-apa, hanya sekitika saja. Walau dalam keadaan sepenuhnya sadar.



Waktu larut dan mulai berlalu satu persatu. Berpisah lebih dari tujuh musim haji. Namun semerbak dalam lubang keindahan itu terus menyadarkanku yang tak sadar-sadar pada pengertian dua helai warisan: sarung dan handuk, yang kini terkulai di pangkuanku, dalam lipatan rapih. Kenangan jelas terus membayang. Namun misteri memang membenturkan kepenasaranan. Hingga seorang sahabat datang dibawa angin malam. Katanya :




“Tahukah kamu, sarung adalah warisan budaya. Gaun yang tak pernah sempit kapan dan di mana pun. Kamu harus tetap pada akar budayamu. Jangan kendur dan lepaskan, itu akan menjadi aib. Kamu harus menutup auratmu, menjaga seluruh kehormatanmu. Kamu harus memiliki kebebasan, sehingga kamu dapat membebaskan. Berfikir dan berbuat.  


Tahukah kamu, handuk itu kelembutan. Handuk itu menyeka keringat. Kamu harus bersikap lembut dan tidak boleh menjadi lemah. Perjuangan adalah darahmu, yang membakar hidupmu hingga menetes keringat. Sampai airmata pun, itu tak mengapa. Itu kemuliaan. Keringat adalah kerja. Kerja adalah cinta. Cinta adalah ibadah. Keringat adalah air. Air adalah inti kehidupan. Yang selalu mengisi yang rendah, selalu rata permukaannya. Berbagilah dengan hasil keringatmu, tidak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Menyegarkan. Menyejukkan. Menyirami. Menghidupkan. Pengaharapan.”


Sahabatku ini memang gila. Gila segilanya. Warisan telah dibuatnya menjadi sebuah pelestarian nilai yang menghidupkan semangat. Misteri tetaplah misteri. Bersama sahabat, aku tidak hanya memangku warisan, tetapi menggunakannya menjadi sebilah pengertian hari ini dan seterusnya, mulai hari ini. Semoga sahabatku tetap gila. Dan aku tidak mewarisi kegilaannya dalam warisan sehelai sarung dan sehelai handuk.

(Kiriman dari seorang sahabat :Afzon Web )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar