Senin, 04 Oktober 2010

Upaya Menghindarkan Diri Dari Menggunjing Dan Mengumpat


Menurut Riwayat Abud-Dunya yang bersumberkan dari Aisyah disebutkan bahwa suatu hari saat ia berada di rumah nabi SAW, ia mempergunjingkan wanita dengan mengatakan :"Sesungguhnya wanita ini benar-benar kebesaran bajunya" . Maka Nabi SAW bersabda :" Muntahkanlah! Muntahkanlah! "

Iapun muntah dan mengeluarkan sepotong daging. (demikianlah riwayat yang disebutkan dalam kitab Targhib 4/284)

Mari kita renungkan keburukan yang terkandung dalam perbuatan mengumpat ini dan celaan yang tertujukan kepadanya, sehingga kita melihatnya benar-benar buruk, tercela, dan sangat menjijikkan.

Ironisnya banyak pertemuan kita yang dipenuhi dengan pergunjingan dan umpatan. Hampir boleh dikata, tidak pernah suatu pertemuan pun, secara sengaja atau tidak sengaja terbebas dari perbuatan ini. Terkadang laki-laki dan perempuan yang asyik bercengkrama dan bersenda gurau melakukan pergunjingan tanpa mereka sadari keburukan dan kejelekan gambarannya, Yaitu memakan daging laki-laki dan perempuan yang kita umpat.

Tidak kita pungkiri kuatnya pengaruh pekerti ini dan kesulitan melepaskan diri darinya.

Dibawah ini ada beberapa Upaya menghindarkan diri dari menggunjing dan mengumpat.

1. Jika anda duduk dipertemuan manapun, mohonlah perlindungan pada Allah dalam hati kita dari godaan syetan yang terkutuk dan mohonlah pertolongan kepada-Nya agar lidah ini tidak tergelincir, yang mengakibatkan kita mengumpat seseorang

2. Mintalah kepada rekan-rekan yang ada dalam pertemuan itu pada awal pembicaran untuk berjanji bahwa dalam pembicaraan nanti tidak akan mempergunjingkan seseorang pun. Awasilah pembicaraan dalam pertemuan itu dengan ketat. Apabila seseorang diantara mereka tergelincir lidahnya karena mulai masuk kedalam pergunjingan , mohonlah kepadanya untuk menghentikan bicaranya. Jika ternyata dia tidak juga mau menghentikan pergunjingannya, tidak ada jalan lain, kecuali harus meninggalkan pertemuan tersebut.

3. Bayangkanlah bila diri tergelincir karena mengumpat seseorang wanita bahwa anda sedang memakan dagingnya mentah-mentah yang sudah barang tentu akan membuat diri ini merasa jijik bila mulut ini dipenuhi dengan daging mentah. Mudah-mudahan cara ini dapat menghentikan diri dari berkelanjutan dalam ghibah dan menodong diri untuk menghentikannya.

4. Mohonlah kepada Allah setiap usai mengerjakan shalat agar Dia memelihara lisan kita dari setiap ucapan yang tidak di rhidhainya seperti ghibah, dusta, munafiq dan menebarkan hasut

5. Biasakanlah lisan kita untuk sedikit bicara. Kecuali berkenaan dengan hal bijak atau mendamaikan diantara orang-orang yang bersengketa, atau ucapan nasehat dan sebagainya yang di rhidai oleh Allah SWT bila kita melakukannya.

6. Ingatlah selalu Firmannya yang mengatakan ; "Hai orang-orang yang beriman , janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka ( yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita ( mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita ( yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan)"

(QS Al-Hujarat : 11)

Demikian pula Firman Allah yang mengatakan :

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah diantara kamu memakan daging saudarannya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya (QS Al-Hujarat :12)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah : Ma'iz datang kepada Rasulullah , lalu berkata wahai Rasulullah , sesungguhnya saya telah berbuat zina. Beliau berpaling darinya hingga Ma'iz mengucapkan kata-katanya sebanyak empat kali. Ketika Ma'iz mengucapkan yang kelima kalinya , Rasulullah baru bersabda : "Kamu telah berzina ?". Ma'iz menjawab "Ya, saya mendatanginya secara haram sebagaimana seorang lelaki mendatangi istrinya yang halal"

Rasul bertanya : "Apa maksudmu dengan ucapanmu itu? "

Ma'iz menjawab :" Saya bermaksud agar engkau membersihkan diriku dari dosa ini"

Rasulullah bersabda:"Apakah engkau telah memasukkan bagian dari tubuhmu kedalam bagian dari tubuhnya sebagaimana tangkai untuk bercelak dimasukkan kedalam botol celak dan sebagaimana timba dimasukkan kedalam lubang sumur?"

Ma'iz menjawab:"Ya !"

Rasulullah pun memerintahkan agar Ma'iz dirajam.

Akhirnya dihukum rajamlah dia.

Sesudah itu nabi mendengar dua orang lelaki yang salah satunya mengatakan kepada temannya:"Tidakkah engkau lihat apa yang dilakukan oleh orang ini, padahal Allah telah menutupi perbuatannya , tetapi dia tidak membiarkan dirinya begitu hingga dia dirajam seperti anjing dirajam.

Nabi melanjutkan perjalanannya hingga ditengah jalan beliau melihat bangkai keledai , lalu beliau bersabda: " Dimanakah si Anu dan si Fulan? Turunlah kalian berdua dan makanlah bangkai ini!"

Keduanya menjawab:"Wahai Rasulullah, semoga Allah mengampunimu, apakah bangkai ini boleh dimakan?"

Rasulullah menjawab :"Pergunjingan yang telah kalian lakukan terhadap saudara kalian lebih buruk daripada makan bangkai keledai ini. Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya dia sekarang benar-benar berada didalam sungai-sungai surga sembari (mandi) menyelaminya"

(Sanad Hadis berpredikat shahih)

Diriwayatkan dari Jabir Yang telah menceritakan :"Ketika kami bersama dengan Nabi SAW tiba-tiba terciumlah bau bangkai yang telah membusuk, lalu Rasulullah bersabda "

"Tahukah kalian , bau apakah ini?" Sesungguhnya ini bau yang berasal dari orang-orang yang suka mengumpat orang lain"

Sehubungan dengan masalah ini, jumhur ulama mengatakan bahwa cara bertaubat bagi orang yang telah mengumpat orang lain ialah hendaknya si pelaku bertekad untuk tidak megulangi perbuatannya. Akan tetapi apakah disyaratkan menyesali perbuatannya yang telah lalu ini masih diperselisihkan masalahnya dikalangan para ulama. Selanjutnya si pelaku harus meminta maaf kepada orang yang telah diumpatnya.

Ulama yang lain mengatakan bahwa tidak di syaratkan meminta maaf kepada orang yang diumpatnya, karena sesungguhnya bila diberitahukan hal itu kepadanya, barangkali dia merasa lebih sakit hati, lain halnya jika hal tersebut tidak diberitahukan kepadanya. Sebagai solusinya adalah hendaknya si pelaku ghibah berbalik memuji nya ditempat yang sama sewaktu dia mengumpatnya. Selanjutnya , hendaknya dia membela orang yang telah diumpatnya terhadap tuduhan semisal yang pernah digunjingkannya dengan sekuat tenaga, agar pembelaannya itu menjasi tebusan dari umpatan yang telah dilakukannya

Wallahualam
(Sumber : Muhammad Rasyid Al-Uwaid "Jangan terperdaya (kembalilah pada Fitrahmu)"
*BC*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar